Tok… tok… tok…
Terdengar dari pintu rumahku.
“Siapa itu?” aku mengintip dari jendela.
Aku membelalakan mataku…
“Kamu?" ucapku lemah.
Aku jatuh terduduk.
“Kenapa ada di sana?" gumamku.
Aku berlari ke kamarku.
Aku langsung naik ke kasur dan menutup diriku dengan selimut.
“Tidak mungkin!" bisikku.
Tok… tok… tok…
"Berhenti!!” teriakku.
Nafasku memburu.
Jantungku berdegup kencang.
Tubuhku gemetar hebat.
Aku mengepalkan tanganku dan berlari keluar.
Aku langsung membuka pintu rumahku.
Dan.
Aku terdiam.
“Kemana orang itu?" gumamku gemetar.
Mataku bergerak dengan gelisah.
Angin malam terasa menusuk tulang.
Aku langsung menutup pintu dan berlari ke kamarku.
Nafasku memburu.
"Gak mungkin?!” batinku.
"Fix gue mimpi!” gumamku.
Aku mencubit pipiku, tapi.
Terasa sakit.
Aku mencoba memejamkan mataku. Bunyi ketukan pintu terus terdengar di telingaku.
Air mataku menetes.
Pagi hari.
Aku terbangun dalam kondisi lelah. Mataku terasa sangat berat. Seluruh persendian terasa kaku.
"Mimpi macam apa yang terasa nyata!” batinku
Aku langsung bergegas untuk mandi, setelah itu merapikan kamarku. Aku memakai make up dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Ah, tidak lupa aku sarapan, dan meminum obatku.
Di mobil aku menyalakan musik. Kondisi jalanan hari ini sangat macet.
"Ada untungnya juga aku bangun kepagian,” ucapku.
Aku mengikuti irama musik, dan mengetuk-ngetuk setir dengan jariku.
Tiba-tiba.
Aku melihat spion.
Di dalam mobil itu ada seseorang.
“Si… si… apa kamu?” ucapku gemetar.
Orang itu hanya tersenyum.
“Kenapa kamu mengetuk pintu rumahku setiap malam?" tanyaku.
Bibirku gemetar.
Orang itu hanya menatapku datar.
“Kenapa kamu mirip denganku?" tanyaku.
“Karena aku adalah kamu," jawabnya datar.
Aku membeku.
Jantungku terasa berhenti berdetak.
“Apa maksudnya?" gumamku lemas.
Aku berteriak keras.
Tiba-tiba.
Aku tertawa.
Air mataku mengalir bersamaan dengan tawa.
Aku tiba di parkiran kantor. Aku menatap kosong ke arah spion.
"Dia menghilang,” gumamku lemah.
Kakiku gemetar hingga tak sanggup untuk keluar dari mobil. Tanganku terasa lemas. Seluruh tubuhku seperti kehilangan energi.
Air mata terus mengalir.
Di sebuah ruangan asing.
"Apakah dia masih melihat dirinya sendiri?" tanya seseorang berjas putih.
Seorang dokter senior.
“Iya dok. Sepertinya dosisnya harus dinaikkan,” ucap dokter muda.
Dokter senior itu mengangguk setuju.
Aku tertawa melihat bayanganku di lantai jendela kamar.
Ruangan asing itu adalah kamar rumah sakit jiwa.
Menurut mereka aku sudah sembilan bulan berada di sini.
Aku baik-baik saja, tapi entah kenapa mereka malah membawaku kesini.
Aku di sini bersama saudara kembarku, Dara. Ia sangat lembut padaku. Hanya ia satu-satunya orang yang aku miliki.
Ah, namaku Dira.
Menurut mereka Dara sudah pergi dari dunia ini.
“Kata mereka itu semua karena aku," gumamku tertawa.
“Justru aku yang sudah menyelamatkannya!" ucapku tersenyum.
Dokter hanya mengangguk mendengar ceritaku.
“Bagaimana kamu menyelamatkannya?" tanya dokter.
“Aku mendorongnya ke sungai," jawabku sambil memainkan jari.
“Kenapa kamu mendorongnya?" tanya dokter memperhatikan gerak gerikku.
“Karena Dara adalah seekor ikan," jawabku sambil melihat kesana dan kemari.
Dokter mengubah posisi duduknya.
“Kenapa kamu berpikir Dara adalah seekor ikan?" tanya dokter menatapku.
"Karena Dara bisa berenang dengan lincah,” jawabku memperagakan gaya renang.
Dokter mengangguk.
Dokter memberi kode pada dokter muda untuk membawaku ke kamar.
Setelah pintu tertutup, dokter menarik nafas panjang.
Aku dibawa menggunakan kursi roda, kakiku masih terlalu lemah untuk berjalan seorang diri.
Di kamar.
“Aku menceritakan semuanya. Kamu harus berterima kasih padaku karena aku telah menyelamatkanmu," ucapku pada dinding kosong.
Aku tersenyum bangga.
Flashback.
Aku dan Dara sedang berkemah di dekat sungai.
"Kayanya seger berenang di sungai itu,” ucap Dara melihat jauh ke sungai.
"Kamu mau berenang di sana?” tanyaku semangat.
"Ah… engga. Airnya terlalu besar,” ucap Dara sambil menyalakan kompor.
Aku melihat Dara dan sungai.
"Anterin aku bersihin sepatu di sungai yuk!,” ucapku gembira.
"Hah? Sepatu kamu bersih banget loh itu,” ucap Dara melihat sepatuku.
"Tapi sepatu kamu kotor,” jawabku.
Dara menatap sepatunya. Ia bingung. Kotoran itu hanya setitik.
Akhirnya kami berdua berjalan menuju sungai.
Dara berdiri di tepi sungai. Ia menarik nafas lega. Kepalanya menengadah ke atas langit. Wajahnya bersinar. Tersenyum.
"Dia merindukan air,” batinku.
Aku berjalan mendekatinya.
Dan.
Aku mendorongnya keras hingga ia terjatuh ke sungai.
Dara menatapku.
Tangannya mencoba meraihku.
Aku menatapnya datar.
Dara terkejut.
Ia pun terjatuh.
Ia mencoba berenang ke tepi, tetapi air sungai sangat deras.
"To….," suaranya terputus.
Tangannya seperti berusaha menggapai sesuatu.
Memohon.
Tubuhnya timbul tenggelam.
Aku terdiam menatapnya.
Senyum tipis terlihat di wajahku.
Hingga akhirnya…
Ia tak terlihat lagi.
“Dia sudah menyelam dan bertemu keluarganya," ucapku bangga.
Aku langsung berjalan menjauh dari sungai. Wajahku berseri-seri.
Saat ini di kamar rumah sakit jiwa.
“Kalau dia manusia, pasti dia akan ditemukan. Tapi sampai saat ini tidak ada yang menemukannya. Itu artinya dia adalah ikan, dan sudah bertemu dengan keluarganya," gumamku.
Aku mengetuk-ngetuk pintu kamarku.
Menurut mereka aku selalu mengetuk pintu kamarku setiap malam.
Padahal kenyataannya, bukan aku yang mengetuk pintu itu.
Tetapi.
Dara.
“Dia datang untuk berterima kasih padaku," ucapku bangga.
“Tetapi…," tiba-tiba wajahku murung.
“Kenapa wujudnya menyeramkan," bibirku bergetar.
Mataku gelisah. Aku menggigiti jariku.
Tiba-tiba.
Aku berteriak.
Aku membenturkan kepalaku ke dinding.
Dokter dan perawat langsung masuk ke kamarku. Mereka langsung mengikat tubuhku di ranjang.
“Dara datang!" teriakku.
Dokter langsung menyuntikku.
Entah kenapa aku merasa lemas.
Lama kelamaan aku mengantuk.
“Dara datang," gumamku.
Air mataku menetes.
"Maafin aku,” bisikku.
Aku langsung memejamkan mataku.
Tapi.
Tok… tok… tok…
Dara datang ke rumahku.
Kali ini aku tersenyum.
“Kita akan tinggal bersama lagi," batinku.
Dara.