Halo Wak! Balik lagi sama kisah misteri yang bakal bikin kalian geleng-geleng kepala sekaligus merinding sampai ke tulang. Kali ini kita bakal mundur ke tahun 90-an, zamannya Jakarta lagi gemerlap banget tapi simpan banyak rahasia kelam di balik lampu-lampu diskotik legendarisnya. Ini adalah kisah tentang Laras, seorang model muda yang nasibnya berakhir di sebuah vila tua yang sunyi. Langsung aja kita masuk ke ceritanya!
Jakarta tahun 1994. Kota ini adalah magnet bagi siapa saja yang haus akan kemewahan, termasuk Laras. Di usianya yang baru dua puluh tahun, Laras punya segalanya untuk jadi bintang: kaki jenjang, wajah simetris yang fotogenik, dan ambisi yang setinggi langit. Satu-satunya benda "murah" yang nempel di badannya cuma satu, Wak. Sebuah cincin perak ukiran bunga melati pemberian ibunya di kampung.
"Laras, dengerin Boni. Pak Surya itu bukan cuma sponsor, dia itu lubang hitam," kata Boni, sahabat Laras, suatu sore di sebuah kafe remang-remang di kawasan Blok M.
Laras cuma ketawa kecil sambil memoles gincu merahnya. "Bon, lubang hitam itu kalau aku tetap tinggal di kosan sempit dan makan mie instan setiap hari. Pak Surya kasih aku apartemen di Kuningan, Bon. Dia kasih aku mobil. Dia bilang, aku bakal jadi cover majalah mode bulan depan."
Boni cuma bisa menghela napas. Dia tahu, Pak Surya—seorang pengusaha properti kakap yang jarinya penuh batu akik—punya reputasi sebagai "pemelihara" model muda. Tapi yang Boni dengar, model-model itu nggak pernah bertahan lama. Mereka biasanya "pensiun dini" dan menghilang entah ke mana.
Seminggu kemudian, Laras resmi jadi simpanan Pak Surya. Hidupnya berubah drastis. Dia nggak lagi nongkrong bareng Boni. Pak Surya protektif banget, Wak. Laras dilarang bawa pager, dilarang angkat telepon kecuali dari Pak Surya, dan setiap keluar harus dikawal sopir.
Tapi, kemewahan itu mulai terasa hambar pas Laras mulai nemuin hal-hal aneh di apartemennya. Setiap pagi, dia ngerasa badannya lemes banget, kepalanya pusing, dan ada bekas suntikan kecil di lipatan lengannya. Pas dia tanya, Pak Surya cuma bilang, "Itu vitamin, Sayang. Biar kulitmu tetap kencang dan awet muda. Kamu mau kan cantik selamanya?"
Puncaknya adalah suatu malam di bulan Oktober. Pak Surya lagi pergi ke Singapura buat urusan bisnis. Laras yang merasa suntuk mencoba bongkar-bongkar lemari jati besar di ruang kerja Pak Surya yang biasanya terkunci. Entah gimana caranya, malam itu kuncinya tertinggal.
Laras nemuin sebuah kotak beludru merah besar. Pas dibuka... deg! Isinya bukan emas batangan, Wak. Isinya puluhan cincin wanita. Ada cincin emas, berlian, zamrud, sampai cincin perak biasa. Laras gemetar pas dia liat salah satu cincin emas dengan inisial 'M'. Dia ingat itu cincin milik Monica, model senior yang hilang dua tahun lalu.
Laras langsung lari ke telepon umum di bawah apartemen. Dengan tangan gemetar, dia hubungin Boni.
"Bon! Tolong aku! Pak Surya... dia kolektor, Bon! Tapi bukan kolektor barang antik. Dia koleksi kita! Aku nemuin cincin Monica di sini. Aku takut, Bon. Aku ngerasa badannya makin aneh, kayak kaku..."
Klik. Sambungan telepon terputus.
Boni panik luar biasa. Dia nggak bisa tidur. Dia tau dia harus bertindak. Dia akhirnya mutusin buat nemuin Bu Ratna, mantan asisten Pak Surya yang kabarnya dipecat karena "tahu terlalu banyak".
"Kalau kamu mau cari Laras, cari di Vila Kenanga di Puncak. Tapi bawa polisi, Boni. Dan jangan harap dia masih bisa bicara," kata Bu Ratna dengan suara parau dan mata yang penuh ketakutan.
Boni nekat. Dia nggak nunggu polisi karena dia tahu Pak Surya punya "orang" di kepolisian. Dia nyetir motornya menembus dinginnya jalur Puncak di tengah malam. Vila Kenanga itu letaknya tersembunyi banget, masuk ke jalan setapak yang kanan kirinya pohon pinus rapat.
Pas sampai, suaranya sunyi senyap. Cuma ada suara jangkrik. Boni menyelinap masuk lewat jendela dapur. Bau di dalam vila itu aneh banget, Wak. Bukan bau busuk bangkai, tapi bau bahan kimia, formalin, dan parfum melati yang menyengat banget sampai bikin mual.
Boni masuk ke sebuah ruangan besar di lantai dua. Dan di sana, dia bener-bener geleng-geleng kepala nggak percaya.
Di sekeliling ruangan itu berdiri manekin-manekin wanita. Tapi manekin itu beda. Kulitnya kelihatan nyata banget, pori-porinya masih ada. Mereka dipakaikan gaun-gaun malam yang mewah, gaya tahun 80-an sampai 90-an. Ada yang posisinya lagi duduk megang cangkir teh, ada yang lagi berdiri depan cermin.
Boni mendekat ke salah satu manekin yang paling baru. Manekin itu makai gaun satin putih yang indah banget. Pas Boni liat wajahnya... badannya langsung lemes.
Itu Laras.
Wajah Laras dipoles make-up tebal, matanya terbuka tapi kosong, terbuat dari kaca yang sangat indah. Kulitnya terasa dingin dan keras seperti lilin. Pak Surya ternyata nggak cuma "mengoleksi" cincin, dia mengawetkan simpanannya jadi manekin sejati supaya kecantikan mereka nggak pernah luntur dimakan usia. Inilah arti dari "vitamin" yang disuntikkan setiap malam—cairan pengawet yang perlahan-lahan menggantikan darah mereka.
Di jari manis Laras, cincin melati perak itu sudah nggak ada. Boni liat ke meja kerja Pak Surya di sudut ruangan. Di sana, di antara deretan batu akik miliknya, cincin melati Laras diletakkan di dalam kotak kaca kecil sebagai trofi terbaru.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari tangga. "Boni... kamu merusak koleksi kesayanganku," suara Pak Surya terdengar tenang, hampir seperti seorang ayah yang menegur anaknya. Dia berdiri di pintu dengan seringai lebar, sementara tangannya memegang alat suntik yang berisi cairan bening.
Boni nggak tinggal diam. Dia hantam Pak Surya pakai lampu meja, lalu lari keluar sambil bawa kotak berisi cincin melati Laras. Dia berhasil kabur meskipun Pak Surya teriak-teriak kayak orang gila.
Kasus ini akhirnya meledak. Polisi gerebek Vila Kenanga dan nemuin dua belas manekin manusia—semuanya adalah model dan aktris yang hilang selama sepuluh tahun terakhir. Jakarta geger. Pak Surya dinyatakan gila dan dijebloskan ke RSJ, meskipun banyak yang bilang dia pakai koneksinya buat sekadar dapet sel mewah.
Laras akhirnya dikuburkan secara layak di kampung halamannya. Boni meletakkan cincin melati perak itu di dalam peti jenazah Laras.
Tapi ceritanya nggak berhenti di situ, Wak. Seminggu setelah pemakaman, Boni dapet kabar dari RSJ. Pak Surya tewas di dalam selnya. Kondisinya aneh banget. Dia ditemuin kaku dalam posisi berdiri, kulitnya mengeras secara misterius seperti manekin, padahal nggak ada cairan pengawet di selnya.
Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala... di jari manis Pak Surya yang kaku itu, melingkar sebuah cincin perak dengan ukiran bunga melati yang sangat dikenal Boni. Padahal, Boni yakin banget cincin itu udah ikut dikubur bareng jasad Laras di dalam tanah.
Seolah-olah, Laras nggak mau cincinnya kembali. Dia pengen Pak Surya ngerasain gimana rasanya jadi "koleksi" yang abadi dalam kaku yang menyiksa.
Nah, itu dia kisahnya Wak! Gimana menurut kalian? Masih berani mau jadi simpanan demi kemewahan instan? Pikir-pikir lagi deh ya! Sampai ketemu di kisah misteri berikutnya. Bye-bye!