Versya Gadis Manis dengan Poni Lucu. Dia Cantik, Tapi ia adalah gadis Introvert. Dia tak ingin di kenal Oleh seluruh warga Sekolah.
Tapi, Karena Valent Leonardo. Semuanya berubah. Versya yang Pendiam dan Tak ingin di Kenal, Sekarang Menjadi gadis yang Ceria dan Di kenali oleh Warga Sekolah.
Dan Itu Semua Karena Satu Nama. Valent. Laki Laki yang Membuat Versya menjadi gadis yang periang. Versya menyukai Valent, Tapi Sayang Valent Tidak.
Wǒ ài nǐ Valent (878)
Wǒ ài nǐ Valent (879)
Wǒ ài nǐ Valent (880)
Versya Menutup Buku Diary nya Lalu memeluknya dengan Senyum merekah. Tulisan Nya sudah hampir 1000.
Ya. Versya berencana Menulis ungkapan hatinya 1000 Kali pada buku ini. Ia berharap Nanti Valent akan segera membaca nya.
"Valent!" Teriak Versya ketika Sosok yang di tunggu nya sedari tadi akhirnya Muncul. Lelaki itu menoleh lalu menatap Versya dengan mengangkat alisnya satu.
Versya bangkit lalu berlari riang ke Arah Valent yang memandangnya Bingung.
"Selamat Pagi!" Ucap Versya tersenyum tulus ke arah Valent.
"Hm." Balas Valent lalu melangkah kembali. Versya memutuskan untuk mengikuti dan berjalan di samping lelaki itu.
"Kamu udah Sarapan Belum? Mau Sarapan di kantin bareng, Ga?" Tawar Versya. Valent menggeleng cuek.
"Udah." Ucap Valent Singkat. Versya mengangguk. Mereka berpisah, Valent ke kiri dan Versya Ke kanan. Versya memandang sedih punggung Valent yang kian Menjauh.
"Yah .... Gapapa deh. Bentar juga ketemu lagi." gumam Versya lalu berjalan Menuju kelasnya. Versya duduk, Menyimpan tasnya lalu membuka kembali buku Diary nya.
Wǒ ài nǐ Valent (881)
Wǒ ài nǐ Valent (882)
Wǒ ài nǐ Valent (883)
Wǒ ài nǐ Valent (884)
Wǒ ài nǐ Valent (885)
Wǒ ài nǐ Valent (886)
"Selamat Pagi anak anak." Ucap Guru yang baru masuk ke kelas. Versya Menutup Buku Diary nya Lalu menyembunyikan nya di Laci.
****
"Valent!" Panggil Versya ketika melihat orang yang di Cari nya.
"Apa?" Ucap Valent.
"Mau Ke kantin ya? Bareng Boleh?" Ucap Versya. Valent, Lelaki itu mengangguk saja.
Versya tersenyum lalu melangkah mengikuti Valent yang berjalan terlebih dahulu menuju Kantin. Versya Menatap Punggung lelaki yang sudah 11 bulan ia cintai.
Baru sebentar memang. Tapi, Versya sangat mencintai lelaki di depan nya. Sayang sekali .... Versya tak bisa mendapatkan rasa yang sama dari lelaki itu.
Versya tersenyum kecut ketika mengingat itu. Versya membawa buku Diary nya kemana mana. Karena buku itu sangat penting untuknya.
Mereka sekarang telah berada di Kantin. Kegaduhan kegaduhan sudah biasa di tempat ini. Versya dan Valent berdiri di depan Gerobak batagor.
Valent reflek mengulurkan tangannya ketika adik kelas nya tersandung dan kuah bakso nya hampir mengenai Versya.
Versya Menatap Kaget tangan Valent yang kini terkena Kuah bakso. Versya memandang Valent khawatir dan penuh rasa bersalah.
"Maaf. Seharusnya aku yang kena, Ini pasti panas ya? Maafkan Aku." Ucap Versya lalu memegang Tangan Valent dan mendekatkan nya ke Mulut nya untuk Ia tiup.
Versya meniup pelan Tangan Valent yang memerah sembari membersihkan bekas bekas kuah bakso itu.
"Maaf Kak saya ga sengaja" Ucap Adik kelas itu. Versya beralih memandang Adik kelas nya,
"Iya Gapapa kok. Lain kali hati hati" Ucap Versya lalu kembali fokus pada tangan Valent. Adik kelas itu mengangguk lalu pergi dari sana.
"Ga sakit." Ucap Valent dan menarik tangan nya. Versya tersentak.
"Tapi, Tangan kamu memerah." Ucap Versya masih memandang ke arah Tangan Valent.
"Gapapa." Ucap Valent lalu memesan Batagor. Versya terdiam.
"Ohh." Ucap Versya lalu melakukan hal yang sama.
Versya dan Valent sekarang duduk berhadapan di meja yang tak terlalu pojok. Versya memakan Batagor nya pelan sembari melirik lirik Valent yang makan dengan tenang.
Versya menghembuskan nafas pelan lalu mengeluarkan Diary nya.
Wǒ ài nǐ Valent (887)
Wǒ ài nǐ Valent (888)
Wǒ ài nǐ Valent (889)
Wǒ ài nǐ Valent (890)
"Nulis apa?" Ucap Valent yang mengagetkan Versya. Versya Menutup Buku Diary nya. Ia tersenyum kikuk lalu menggeleng.
"Nggak kok." Ucap Versya. Valent mengangguk lalu makan kembali.
*****
Dengan Wajah cemberut, Versya memandang Hujan yang deras di depan nya ini. Bagaimana Cara nya Ia pulang Nanti? Huftt.
Senyum Versya mengembang ketika Lelaki yang sangat Ia kenali lewat di Hadapannya.
"Valent!" Panggil Versya. Lelaki itu terhenti menoleh menatap Versya.
"Mau pulang ya?" Tanya Versya. Valent mengangguk,
"Boleh bareng gak? Soalnya Hujan. Pasti angkutan umum ga ada yang Lewat jam segini. Boleh ya?" Ucap Versya Menatap penuh harap Valent.
"Gue ada Urusan." Ucap Valent lalu melanjutkan langkah nya dan Tak menoleh lagi menatap Versya. Senyuman Versya Luntur.
Tak Apa. Emang dia Siapa?
Versya berjalan lesu di bawah Hujan. Ada Urusan? Apa urusan nya itu penting ya? Urusan Apa yang membuat Valent sepertinya begitu terburu buru?
Sebuah Cipratan air mengenai Wajah dan pakaian Versya. Versya mencoba melihat Jelas sebuah mobil yang kini melaju dengan Cepat.
Valent? Itu Mobil Valent. Siapa Wanita yang ia lihat tadi?
*****
Tes
Tes
Tes
Air mata itu kian mengalir deras.
"Gue udah bilang, Gue gak suka sama sekali sama Lo!" Ucap Valent dengan Wajah tenang.
"Apa gue selama ini ga bisa sekali aja ada di Hati lo?" Ucap Versya memandang sakit Valent.
"Ngga." Ucap Valent datar tak ada nada apapun. Versya tersenyum kecut.
"Tapi, Boleh ngga? Setidaknya biarin Gue buat tetap bisa suka sama Lo." Ucap Versya.
"Gue ga suka kalau ada yang suka sama gue, Apalagi itu buat gue risih."
Versya Menatap Kecewa Laki laki yang membuat nya bahagia dan sekarang Ia juga yang buat ia sakit, Bahkan sakit sekali.
"Risih? Selama ini aku ga ada maksud buat kamu risih. Aku cuma pengen perhatian Kamu, Apa kamu ga ngerti?! Apa kamu ga ngerti bagaimana perasaan aku pas kamu bilang kayak gitu?! APA KAMU NGERTI?! AKU .... Sayang kamu, Valent." Ucap Versya.
Tak ada Respon apapun. Lelaki datar itu tetap diam dan tak mau memandang ke arah Versya yang mukanya memerah akibat menangis.
"Kamu tau? Aku bahkan setiap hari Khawatir kalau kamu nggak Makan. Aku khawatir kalau kamu sakit gimana? Aku selalu mikirin kamu, Kamu, Dan kamu. Miris ya, Lent? Mencintai seseorang yang bahkan liat wajah kita sendiri pun rasanya ogah banget. Apa sebegitu gak suka nya kamu sama aku? Salah satu Hal yang buat aku bahagia selama ini, Adalah ketemu kamu. Gapapa kok. Aku gapapa. Aku tetep seneng. Setidaknya kamu masih mau bicara sama aku. Aku gak tau diri ya?" Versya terkekeh di tengah tengah tangis nya yang kian mengeras tapi berusaha di tahannya.
"Aku juga gak mau kayak gini, Lent. Aku juga gak mau ganggu kamu setiap hari, jam, Bahkan detik. Aku juga gak pengen suka sama kamu. Aku bisa apa? Ini semua terjadi bukan sesuai mau aku, Lent."
"Kamu mau kan aku jaga jarak sama kamu? Oke. Aku akan jaga jarak supaya kamu gak ngerasa risih lagi. Izinin aku tetap kayak gini ya? Aku gak akan tuntut kamu balas semua yang aku lakuin kok. Aku cuma minta, Kamu jaga diri ya? Baik baik." Ucap Versya lalu bangkit dari Duduknya. Sebelum ia pergi ia menghapus air matanya lalu menatap Valent yang masih terdiam.
"Maafin Aku buat Kamu Risih. Aku bakal Berusaha supaya kamu gak Risih. Terima Kasih atas pengakuan nya." Ucap Versya mencoba tersenyum lalu pergi dari sana.
Tes. Versya cepat cepat menghapus Air mata nya yang mulai keluar lagi.
****
Wǒ ài nǐ Valent (891)
Wǒ ài nǐ Valent (892)
Wǒ ài nǐ Valent (893)
Wǒ ài nǐ Valent (894)
Wǒ ài nǐ Valent (895)
Wǒ ài nǐ Valent (896)
Wǒ ài nǐ Valent (897)
Wǒ ài nǐ Valent (898)
Wǒ ài nǐ Valent (899)
Wǒ ài nǐ Valent (900)
Versya memeluk buku Diary nya erat dengan Pandangan mengarah ke Langit malam yang hanya ada bulan.
Tak ada bintang Malam ini. Versya tersenyum mengingat kejadian di mana Valent, Mengingatkan nya Kembali bahwa ia hanya berjuang sendiri selama ini.
Boleh tidak, Kalau Versya terus berharap suatu hari nanti Valent akan membalas perasaan nya?
Versya menghembuskan Nafas lelah ia berbalik lalu masuk kembali ke dalam Kamarnya.
****
Hari ini Versya tersenyum ketika melihat dari jauh sosok Valent yang sedang berjalan tegap Dengan Wajah datar khas laki laki itu.
Versya tidak akan mendekat ke arah Valent lagi. Versya hanya akan memerhatikan dari jauh. Ia tidak ingin Valent merasa risih lagi.
Setelah punggung tegap Valent menghilang di Belokan, Versya berbalik masih dengan senyum di Wajahnya.
Ia berjalan menuju kelas dan Langsung duduk di bangku nya. Ia lagi lagi mengeluarkan buku Diary nya.
Wǒ ài nǐ Valent (901)
Wǒ ài nǐ Valent (902)
Wǒ ài nǐ Valent (903)
Wǒ ài nǐ Valent (904)
Wǒ ài nǐ Valent (905)
****
Deg!
Valent Kecelakaan?
Valent Kecelakaan ....
Valent?
Versya berlari cepat dengan memeluk buku Diary nya keluar sekolah. Valent Kecelakaan? Versya menggeleng.
Air mata nya lagi lagi mengalir. Versya tidak boleh memikirkan hal yang tidak tidak.
"Taksi!" Ucap nya Lalu sebuah taksi berhenti Tepat di Hadapan Versya. Versya langsung masuk.
"Pak, Ke Rumah Sakit ***" Ucap Versya. Sopir taksi itu mengangguk dan Melajukan Mobil dengan Cepat seolah mengerti bahwa ini Adalah keadaan genting.
Versya meremas buku Diary nya.
"Terima Kasih, Pak!" Ucap Versya membayar ongkos lalu turun dan berlari menuju Lantai 3, Kamar Indah.
Versya mengatur Napasnya yang tak beraturan. Di depan Ruangan ini tak ada siapapun. Valent sendirian?
Versya mengintip. Waktu seolah berhenti ketika Laki laki yang ia cintai tengah berbaring dengan berbagai peralatan di tubuhnya.
Versya Menutup mulutnya tak percaya. Valent? Valent baik baik saja kan? Luka nya tidak parah kan?
"Permisi, Apa anda keluarga pasien?" Ucap Suster yang merawat Valent.
Versya reflek menoleh lalu mengangguk cepat.
"Ya. Apa dia baik baik saja, Sus?" Ucap Versya khawatir. Suster itu terlihat menghela nafas lalu memberitahukan yang sebenarnya terjadi.
Kanker Jantung? Versya menggeleng tak percaya. Ia menatap suster itu tajam tetapi ada rasa sedih yang teramat sangat di balik itu.
"Kalian pasti salah kan?! Valent ga mungkin Kena Kanker Jantung! Dia selama ini baik baik saja. Kalian pasti bohong!"
Versya berlari memasuki ruangan Valent. Ia mencari cari Orang tua Valent, Tapi tidak ada siapa siapa.
Versya berjalan pelan mendekat ke arah Valent yang terbaring pucat. Versya Menutup mulut nya berusaha membuat tangis nya tak terdengar oleh Siapapun.
Versya duduk meletakkan Buku Diary nya tepat di Dekat Valent berbaring. Versya mengulurkan tangan nya menyentuh tangan Valent yang terasa dingin.
Ia memegang erat tangan Itu. Valent Tidak akan pergi kan? Dia tidak Akan kemana mana, bukan? Tidak. Versya tidak akan membiarkan Valent pergi.
Mata datar itu. Ia tidak lagi bisa menatap Mata itu yang selalu membalasnya dengan tatapan datar. Versya rindu di mana Laki laki itu menatapnya dengan tatapan khas nya.
"Hey .... Valent? Kamu dengar Aku gak? Aku di sini jaga kamu. Kamu harus sembuh ya? Aku gak bakal ganggu kamu lagi. Kamu akan sembuh kan?" Ucap Versya pelan dengan Air Matanya yang mengalir deras. Versya sekuat mungkin menahan Isakan nya agar tak mengganggu Valent.
"Kamu kenapa gak bilang kalau kamu sakit? Aku mau kok nemenin kamu berobat. Kenapa kamu simpan penyakit kamu sendiri? Aku bakal dekat kamu terus kok. Aku gak akan ninggalin kamu sendiri. Kenapa kamu rahasiain semuanya, Hm?" Ucap Versya.
Kanker Jantung, Stadium 4.
Ck. Versya mulai sekarang akan membenci kata kata itu.
Ia mengelus pelan Tangan dingin Valent.
"Valent, Bangun ya? Aku di sini." Ucap Versya.
Tangan itu bergerak kecil. Versya spontan duduk tegak.
"Valent??"
Mata itu terbuka pelan menatap sekeliling dan terhenti ketika melihat Versya.
"Ngapain lo?" Ucap Valent lemah. Ia menarik tangan nya dari genggaman Versya.
"Gimana Gimana??? Ada yang sakit? Bagian mana? mau aku panggilkan Dokter?" Ucap Versya khawatir. Valent menggeleng.
"Haus" Ucap Valent hampir tak terdengar. Versya langsung saja memberi air yang untungnya ada di atas Nakas.
Versya menyodorkan Air itu tapi Valent masih diam.
"Kenapa?" Tanya Versya.
"Susah." Ucap Valent. Versya tersenyum.
"Yaudah aku bantu. Pelan Pelan aja." Ucap Versya.
"Kamu mau di panggilin dokter gak? Periksa dulu." Ucap Versya setelah membantu Valent minum.
"Terserah."
Versya bangkit lalu berjalan keluar ruangan untuk memanggil Dokter. Sementara Valent menutup mata nya Kembali.
"Jadi gimana dok?" Ucap Versya. Tapi dokter itu hanya tersenyum lalu melangkah keluar ruangan tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Dok?" Panggil Versya. Tapi, Dokter itu tetap melangkah.
"Valent? Kamu Baik baik aja kan? Ga ada yang sakit?" Ucap Versya khawatir. Valent menggeleng masih dalam keadaan menutup mata.
"Gue mau Tidur." Ucap Valent. Versya menghela nafas.
"Yaudah. Kamu istirahat dulu, Aku bakal jagain kamu." Ucap Versya lalu duduk kembali sembari menatap khawatir Valent yang mungkin telah tertidur.
Ia membuka buku Diary nya.
Wǒ ài nǐ Valent (906)
Wǒ ài nǐ Valent (907)
Wǒ ài nǐ Valent (908)
Wǒ ài nǐ Valent (909)
Wǒ ài nǐ Valent (910)
Wǒ ài nǐ Valent (911)
Wǒ ài nǐ Valent (912)
Wǒ ài nǐ Valent (913)
Wǒ ài nǐ Valent (914)
Wǒ ài nǐ Valent (915)
Wǒ ài nǐ Valent (916)
Wǒ ài nǐ Valent (917)
Wǒ ài nǐ Valent (918)
Wǒ ài nǐ Valent (919)
Wǒ ài nǐ Valent (920)
Ia menutup kembali buku Diary nya. Valent akan baik baik saja kan? Tapi .... Kenapa perasaan ini terus ada? Kenapa perasaan ini ada lagi? Perasaan yang sama Ketika Kakak nya Akan pergi meninggalkan nya selama lamanya. Kenapa ia merasakan perasaan ini lagi? Valent akan baik baik saja kan? Dia bakal sembuh bukan? Versya tidak akan merasakan Hal yang sama lagi bukan?
Mata Versya berkaca kaca. Ia menatap Valent. Tangan nya bergerak pelan menyentuh tangan yang masih terasa dingin.
"Hey .... Kamu udah tidur ya?" Tanya Versya. Tangan nya menggenggam erat tangan kekar yang dingin itu mencoba untuk menghangatkan nya.
"Valent? Kamu tau gak? Aku .... Sayang banget sama kamu. Aku sadar kok, Kamu gak akan pernah ngerasain Hal yang sama. Aku cuma berharap .... Semoga aku selalu bisa melihat kamu setiap waktu ya? Jangan pergi. Gapapa kalau kamu gak balas perasaan aku, Aku gapapa. Tapi, Aku mohon jangan pergi ya? Aku .... Aku udah cukup ngerasain kehilangan. Jadi, Aku ga akan kehilangan lagi kan? Kamu akan sembuh? Harus!" Ucap Versya serak.
Dada nya Sesak seiring tangis nya yang kembali deras.
"Valent? Jangan tinggalin aku ya? Aku pengen lihat kamu setiap waktu. Kehilangan kamu, Seperti kehilangan senyum dalam hidup aku. Aku berlebihan ya? Maaf. Tapi, Aku tulus sayang sama kamu. Kamu harus sembuh ya? Aku akan berusaha supaya kamu ga risih lagi."
Versya meletakkan kepala nya di atas ranjang dengan tangan yang masih menggenggam tangan Valent.
****
"Aku bawa Makanan. Kamu makan ya?" Ucap Versya dengan mangkuk berisi bubur di tangan nya. Valent memandang Datar bubur itu.
"Kenapa diam?" Heran Versya. Valent beralih menatap Versya datar.
"Ga suka." Ucap Valent lalu mengalihkan pandangan nya.
"Tapi ini kan makanan rumah sakit. Kamu sedang sakit jadi gak boleh makan sembarangan. Makan ya?" bujuk Versya. Lelaki itu masih terdiam.
"Makan ya? Makan setengah dari bubur ini gapapa asal perut kamu ga kosong. Nanti malah sakit perut."
"Pahit." Ucap Valent. Versya mengerjap.
"Bukan nya Bubur biasanya emang kayak gitu ya?" Bingung Versya.
"Nggak smua. Bubur buatan lo ga Pahit." Ucap Valent datar.
"Jadi, Ga mau makan?" Tanya Versya. Valent menggeleng singkat.
"Trus kamu mau makan apa?" Ucap Versya meletakkan bubur itu di atas Nakas. Valent menoleh.
"Bubur buatan Lo." Ucap Valent.
"Gapapa emang?"
"Hm." Ucap Valent lalu kembali mengalihkan pandangan nya.
"Yaudah. Kamu tunggu bentar ya? Aku bakal cepet kok. Jangan kemana mana, Istirahat aja dulu." Ucap Versya lalu berlari keluar ruangan.
Dulu, Versya selalu membuatkan Valent bubur setiap Pagi. Setahu Versya, Valent jarang sarapan jadi Versya inisiatif untuk membuatkan Valent bubur setiap Pagi.
[44 Menit]
"Nih. Kamu makan sekarang, Mumpung Bubur nya masih hangat." Ucap Versya kemudian membantu Valent duduk.
"Bisa gak?" Tanya Versya ketika melihat tangan Valent gemetar memegang sendok. Lelaki itu menggeleng dan tetap kekeh dan akhirnya sendok itu terjatuh di atas selimut. Selimut itu kotor terkena bubur.
Versya terkekeh menggeleng kemudian mengambil alih bubur juga sendok itu.
"Nih, Buka mulut" Ucap Versya menyodorkan bubur ke arah Valent. Lelaki itu membuka mulutnya ragu ragu lalu menerima suapan Versya. Versya tersenyum.
Begitu seterusnya hingga suapan terakhir dan bubur pun habis tak tersisa. Versya menyodorkan Air dan Valent menerima air itu meminum nya perlahan.
Setelah di rasa Selesai, Versya membereskan alat makan bekas Valent kemudian mengambil tissu basah lalu membersihkan Selimut yang terkena bubur tadi.
"Udah. Kamu Sekarang Istirahat ya." Ucap Versya membantu Valent untuk berbaring kembali. Lelaki itu sedari tadi hanya diam.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Versya khawatir ketika menyadari bahwa Valent sedari tadi terdiam.
"Gak." Jawaban singkat itu tak mampu membuat rasa khawatir dalam benak Versya hilang.
Versya menghela nafas lalu duduk.
"Valent!" Panggil Versya. Valent berdehem.
"Kamu mau denger cerita gak?" Ucap Versya.
"Terserah."
"Aku cerita ya? Aku punya Kakak laki laki. Nama nya Vernand. Dia ganteng seperti kamu. Sifatnya juga persis seperti kamu. Setiap Lihat kamu, Aku selalu ingat sama Kak Vernand. Kak Vernand Kakak yang buat aku ngerasain gimana rasa nya di cintai dan di sayangi. Karena orang tua aku udah Pergi saat aku masih berumur belia. Aku bahkan ga inget sama sekali bagaimana senyum nya Mama, Bagaimana muka nya Papa. Kata Kak Vernand Mama itu Cantik banget kalau senyum. Kak Vernand juga bilang kalau Papa itu mukanya Galak tapi Aslinya Humoris. Kak Vernand yang rawat aku dari Kecil padahal Aku tahu kalau Kak Vernand sendiri pasti ngerasa sakit banget atas kepergian Mama dan Papa. Tapi, Kak Vernand selalu tersenyum untuk aku. Selalu Ada saat aku lagi butuh. Dari kecil, Kak Vernand juga udah Kerja mati matian buat penuhi keperluan kami. Kehilangan Kedua orangtua memang buat aku hampir hancur. Tapi, Kak Vernand yang buat aku bertahan sampai sekarang. Dia adalah sosok kuat yang selalu jaga aku. Kak Vernand Rawat aku dari Kecil, Dia nemenin aku masuk TK, SD, Dan SMP. Tapi, Aku kecewa. Kenapa ya dia gak temenin aku saat Aku masuk SMA? Kenapa dia malah pergi ninggalin aku sendiri?" Ucap Versya. Ia menunduk menyembunyikan air mata nya yang lagi lagi keluar. Ia menyeka air matanya mendongak kembali sembari berusaha tersenyum.
"Dia Pergi di saat aku .... Aku baru tamat dari Sekolah menengah Pertama. Di saat Aku baru aja pengen bilang kalau Aku berhasil mendapat peringkat 1 di Kelas. Itu adalah Hal yang paling Kak Vernand tunggu, Karena selama ini Aku gak pernah dapat peringkat. Tapi Kenapa di saat aku telah mendapatkan nya, Kak Vernand harus pergi? Kalau boleh Milih, Aku lebih baik gausah dapat peringkat daripada Harus kehilangan Kak Vernand. Aku .... Aku ga nangis saat itu. Kak Vernand ga suka Lihat aku Nangis. Aku ngerasa sepi. Sepi banget sampai Aku sendiri gak bisa ngerasain bagaimana lagi rasanya Hidup. Di Dalam kamar, Aku udah usahain buat gak nangis. Aku usahain gak nangis supaya Kak Vernand gak Marah. Kenyataan nya Aku Gagal. Aku gagal Netapin janji buat gak nangis lagi. Kak Vernand Pergi karena dia .... Dia punya penyakit persis penyakit yang kamu alamin sekarang dan Aku? Aku jahat banget sampai gak tau itu. Hidup aku udah ga ada warna nya lagi. Semua nya Hitam. Tapi, Aku ketemu kamu Valent. Kamu, orang yang udah buat aku ngerasa Hidup lagi." Ucap Versya lalu menunduk.
"Gausah nangis." Ucap Valent menatap datar Versya. Versya mendongak lalu tersenyum menghapus air mata nya yang sampai sekarang masih terus mengalir.
"Iya, Maaf. Aku malah Curhat ya? Kamu istirahat. Maaf udah ganggu kamu. Nih, Obatnya Minum dulu."
Versya terus menyeka air mata nya yang masih mengalir. Ia menatap Valent yang kini telah tertidur.
"Terima Kasih. Jangan Pergi ya?"
Wǒ ài nǐ Valent (921)
Wǒ ài nǐ Valent (922)
Wǒ ài nǐ Valent (923)
Wǒ ài nǐ Valent (924)
Wǒ ài nǐ Valent (925)
Wǒ ài nǐ Valent (926)
Wǒ ài nǐ Valent (927)
Wǒ ài nǐ Valent (928)
Wǒ ài nǐ Valent (929)
Wǒ ài nǐ Valent (930)
Wǒ ài nǐ Valent (931)
Wǒ ài nǐ Valent (932)
****
"Seger ga udara nya?" Ucap Versya. Sekarang Mereka berdua sedang berada di taman Rumah Sakit. Valent seperti nya butuh udara segar, Jadi Versya memutuskan untuk membawanya ke taman.
Wǒ ài nǐ Valent (933)
Senyumnya terus terukir ketika melihat wajah Valent yang terlihat menikmati suasana sekitar.
Wǒ ài nǐ Valent (934)
Wǒ ài nǐ Valent (935)
Wǒ ài nǐ Valent (936)
Wǒ ài nǐ Valent (937)
Wǒ ài nǐ Valent (938)
Wǒ ài nǐ Valent (939)
Wǒ ài nǐ Valent (940)
"Versya." Panggil Valent dengan Nada khas nya. Versya Menutup Diary nya.
"Ada Apa?"
"Lo kenapa masih di sini? Sekolah." Ucap Valent.
"Aku Cuti." Ucap Versya ngasal padahal dirinya sedang bolos.
"Bolos?"
Versya tersenyum kikuk. Kenapa Valent tau?
"Iya." Ucap Versya jujur.
"Kenapa"
"Jaga kamu." Ucap Versya.
"Gue bukan anak Kecil."
"Yang bilang juga siapa?" Ucap Versya.
"Besok, Ga usah Bolos."
"Gak mau." Ucap Versya.
"Besok, Lo sekolah."
"Nggak." Ucap Versya.
"Mau jadi apa Lo kalau sering bolos?"
Versya menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Valent yang sedang duduk di kursi roda.
"Aku juga ga tau. Intinya, Aku cuma mau jaga Warna Aku supaya Warnanya gak pudar lalu menghilang." Ucap Versya tersenyum tipis.
"Gila."
"Udah serius juga, Rusak suasana" Ucap Versya lalu melangkah kembali menuju bangku rumah sakit.
Wǒ ài nǐ Valent (941)
Wǒ ài nǐ Valent (942)
Wǒ ài nǐ Valent (943)
Wǒ ài nǐ Valent (944)
Wǒ ài nǐ Valent (945)
Wǒ ài nǐ Valent (946)
Wǒ ài nǐ Valent (947)
Wǒ ài nǐ Valent (948)
Wǒ ài nǐ Valent (949)
Wǒ ài nǐ Valent (950)
Hufft. Versya tidak sabar menunggu tulisan ini menjadi 1000.
****
"Kenapa masih di Sini?" Ucap Valent dengan suara khas orang bangun tidur.
"Hah?"
"Lo ga sekolah?"
"Oh, Nggak" Ucap Versya santai. Valent perlahan lahan mengubah posisinya menjadi duduk. Versya membantu.
"Kalau lo emang pengen Bolos sekolah, Setidak nya jangan bolos ke sini." Ucap Valent datar.
"Orang tujuan bolos nya emang ke sini." Ucap Versya.
"Kenapa?"
"Ya Karna, Kamu kan Lagi sakit. Nanti yang jaga siapa? Lagian, Kok pas hari pertama cuman aku aja yang jenguk kamu? Bahkan sampai sekarang pun kayak gitu" Bingung Versya.
Lelaki itu terdiam. Versya mengerjap,
"Aku menyinggung sesuatu ya? Maaf. Aku gak tau," Ucap Versya.
"Ga. Lo mending ke sekolah, Buang buang waktu kalau di sini. Waktu itu berharga, Dan Lo harus manfaatin dengan baik." Ucap Valent. Versya tersenyum mengangguk.
"Iya, Makasih. Tapi Aku akan ke sekolah pas kamu masuk juga, Jadi kita ke sekolah bareng." Ucap Versya antusias.
"Gue ga bilang kayak gitu."
"Tau. Tapi, Aku kan yang Bilang kayak gitu." Ucap Versya. Terjadi keheningan.
"Valent?" Panggil Versya. Lelaki itu Menoleh,
"Kalau kamu ninggalin aku, Aku nanti seperti apa?"
.....
Wǒ ài nǐ Valent (951)
Wǒ ài nǐ Valent (952)
Wǒ ài nǐ Valent (953)
Wǒ ài nǐ Valent (954)
Wǒ ài nǐ Valent (955)
Wǒ ài nǐ Valent (956)
Wǒ ài nǐ Valent (957)
Wǒ ài nǐ Valent (958)
Wǒ ài nǐ Valent (959)
- Dan Lagi. Aku .... Merasakan perasaan itu lagi.
****
"Ngapain suruh bawa buku sekolah ke sini?" Heran Versya. Kemarin Valent memintanya untuk di bawakan buku sekolah.
"Pengen Belajar." Ucap Valent Singkat lalu mengambil satu buku dan membaca.
Versya mengangguk mengerti. Tak mau mengganggu Valent membaca, Ia memutuskan untuk Menulis Diary nya saja.
Wǒ ài nǐ Valent (961)
Wǒ ài nǐ Valent (962)
Wǒ ài nǐ Valent (963)
Wǒ ài nǐ Valent (964)
Wǒ ài nǐ Valent (965)
Wǒ ài nǐ Valent (966)
"Besok, Gue Keluar." Ucap Valent di sela sela membaca bukunya.
Versya Menutup Buku Diary nya berpangku tangan menatap Valent yang sangat tampan walau hanya memakai baju rumah sakit di tambah ia juga sedang membaca, Itu menambah ketampanan lelaki itu.
"Emang udah baikan?" Tanya Versya.
"Hm."
"Serius? Gausah keluar dulu. Nanti seminggu lagi baru keluar" Ucap Versya.
"Otak lo isinya apa kalau dua minggu ga ke Isi?" Ucap Valent Sarkas. Versya mencebik,
"Ga gitu juga. Aku gini gini Belajar." Ucap Versya memandang kesal Valent namun itu hanya sejenak.
"Masuk ke otak?"
"Ya .... Ya .... Kadang sih." Ucap Versya cengengesan. Valent melirik datar lalu kembali fokus membaca.
"Tapi, Kalau ada yang sakit bilang ke aku ya?" Ucap Versya.
"Buat apa?"
"Supaya langsung di tolong in." Ucap Versya.
"Gue udah baikan." Ucap Valent.
Versya memicing tak percaya.
"Beneran? Kok muka nya kayak bohong gitu? Valent, Kalau masih sakit gausah di paksain ke sekolah. Lagian pihak sekolah pasti ngerti kok." Jelas Versya.
"Gue udah baikan. Kalau ga mau ikut, Yaudah." Ucap Valent.
"Eh, jangan! Aku ikut kok. Besok ya? Janji!" Ucap Versya menyodorkan Kelingkingnya. Valent menoleh menaikkan sebelah alisnya,
"Hm." Ucap Valent lalu melakukan hal yang sama seperti Versya. Versya tersenyum sementara Lelaki itu tetap dengan wajah Khasnya.
Wǒ ài nǐ Valent (967)
Wǒ ài nǐ Valent (968)
Wǒ ài nǐ Valent (969)
Wǒ ài nǐ Valent (970)
Wǒ ài nǐ Valent (971)
Wǒ ài nǐ Valent (972)
Wǒ ài nǐ Valent (973)
Wǒ ài nǐ Valent (974)
Wǒ ài nǐ Valent (975)
Wǒ ài nǐ Valent (976)
Wǒ ài nǐ Valent (977)
Wǒ ài nǐ Valent (978)
Wǒ ài nǐ Valent (979)
Wǒ ài nǐ Valent (980)
- Ya. Semua pasti Baik Baik saja.
****
"Eh? Kok kertas nya ada yang Ke Hektar sih? Perasaan aku ga Hektar kertasnya. Mana aku lupa udah sampai berapa. Duh" Gumam Versya ketika mendapati Kertas di Buku Diary nya ada yang Ke Hektar.
"Kenapa?" Tanya Valent. Versya Menutup cepat Buku Diary nya.
"Ngga kok. Kenapa ga tidur siang? Kan dokter nyuruh tidur." Ucap Versya mengalihkan pembicaraan.
"Iya." Ucap Valent. Mata Lelaki itu perlahan lahan tertutup.
Valent pasti sembuh. Buktinya besok mereka berdua akan ke sekolah bersama.
Versya menghela nafas. Pandangan nya Kembali ke arah Buku Diary nya. Ini kenapa bisa kayak gini? Apa Valent yang melakukan nya? Tapi, Ga mungkin.
Karna tidak mau terlalu memikirkan hal itu, Versya memutuskan untuk lanjut menulis saja. Walau ia juga tidak tahu ia sudah menulis sampai ke berapa.
Wǒ ài nǐ Valent (987)
Wǒ ài nǐ Valent (988)
Wǒ ài nǐ Valent (989)
Wǒ ài nǐ Valent (990)
Wǒ ài nǐ Valent (991)
Wǒ ài nǐ Valent (992)
Wǒ ài nǐ Valent (993)
Wǒ ài nǐ Valent (994)
Wǒ ài nǐ Valent (995)
****
"Valent kau baik baik saja? Kenapa kau terlihat sangat lemas? Ada yang sakit?" Tanya Versya khawatir.
Valent lelaki itu menggeleng pelan.
Brak!
Keduanya Reflek menoleh ketika Pintu ruangan di buka dengan tidak santai nya. Seorang Perempuan dengan rambut hitam panjang masuk dengan wajah Khawatirnya.
"Valent? Lo Baik baik aja? Ada yang sakit? Gimana Gimana?? Kata dokter Lo baik baik aja kan? Maafin ya Baru datang." Ucap Perempuan itu dengan mimik wajah khawatir.
"Hm. Gue Baik." Ucap Valent Singkat dengan senyum tipis. Perempuan itu mengelus rambut Valent pelan, Membuka laki laki itu menutup mata nya.
Versya terpaku melihat itu. Valent tersenyum? Senyum yang bahkan tidak pernah laki laki itu berikan untuknya. Sesak. Siapa perempuan ini? Kenapa Valent terlihat sangat nyaman? Apa .... Ia sebenarnya tidak bisa berharap lagi?
"Lo Siapa?" Ucap Perempuan itu ketika sadar akan keberadaan Versya. Valent membuka matanya menatap Versya yang masih terpaku.
Versya mengerjap tersadar.
"Aku Versya" Ucap Versya memberi senyum hangat nya walau Hatinya sedang sesak melihat Pemandangan di depan nya.
"Oh, Hai. Gue Bella." Ucap Bella menyodorkan tangan nya. Versya Menatap tangan itu lalu membalas nya Dengan lembut.
"Valent, Lo Istirahat aja. Ini juga udah jam tidur." Ucap Bella. Valent mengangguk patuh lalu memejamkan matanya kembali.
"Kita duduk yuk" Ucap Bella ramah. Versya tersenyum lalu melangkah menuju sofa bersama Bella.
"Jadi, Lo siapa nya Valent?" Ucap Bella.
"Aku? Hm .... Aku temen nya" Ucap Versya. Teman.
"Oh, Gitu. Gue Pacarnya." Ucap Bella dengan senyum yang Versya tidak tahu seperti apa.
Pacar? Jadi .... Valent udah punya Pacar ya? Haha.
"OhIya. Kamu masih sekolah?" Tanya Versya mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Aku sudah Kuliah semester 6." Ucap Bella.
"Maaf, Kak. Saya gak tahu." Ucap Versya. Bella menggeleng.
"Gausah kayak gitu. Biasa biasa aja." Ucap Bella.
"Tapi, Aku panggil Kak ya" Ucap Versya. Bella tersenyum mengangguk.
"Kakak udah lama kenal Valent?" Tanya Versya ragu. Bella terkekeh,
"Emang kenapa?"
Versya menggeleng keras.
"Ga kok. Cuma tanya" Ucap Versya menunduk. Seharusnya ia tidak lancang bukan?
"Ohh. Gue udah lama kenal sama Valent. Cuma kita jarang ketemu karena Gue sibuk kuliah." Jelas Bella.
"Ohh Gitu." Ucap Versya. Jadi Kak Bella benar benar Pacarnya Valent ya? Seharusnya ia tidak Usah berada di sini lagi bukan? Ya. Versya harusnya tahu diri.
"Sya" Panggil Bella. Versya mendongak,
"Lo suka Valent Ya?" Tebak Bella tersenyum menggoda. Versya mengerjap.
"Oh- Eng- Enggak Kak. Kita cuma Teman" Ucap Versya tersenyum kikuk.
"Yaudah, Gue boleh minta tolong boleh?" Ucap Bella.
"Minta tolong apa kak?"
"Jagain Valent, Untuk Gue ya? Kasihan dia sendiri. Gue juga sibuk banget akhir akhir ini."
"Kakak ga masalah? Kakak kan Pacarnya Valent" Ucap Versya dengan memelankan ucapan nya DI akhir.
Bella tersenyum.
"Ngga papa. Anggap aja pacar sendiri" Ucap Bella. Eh? Anggap aja pacar sendiri?
"Valent itu ga dingin dingin banget kok. Aslinya dia manja banget" Bisik Bella. Versya tertawa pelan.
"Iya Kak. Aku bakal Jaga Valent." Ucap Versya. Bella tersenyum mengelus Kepala Versya lembut.
"Terima Kasih. Btw, Gue harus pergi. Jagain ya" Ucap Bella lalu bangkit Dan keluar ruangan. Setelah Bella menghilang, Versya langsung membuang nafas lelah.
Pacar Ya?
Hufft. Versya membuka Diary nya.
Wǒ ài nǐ Valent (996)
Wǒ ài nǐ Valent (997)
Wǒ ài nǐ Valent (998)
Wǒ ài nǐ Valent (999)
Baru saja ingin menulis Kata yang Ke Seribu, Versya mendengar suara desisan.
"Ssshh ...."
Versya Menutup Diary nya cepat lalu berlari ke arah ranjang Valent. Lelaki itu terlihat kesakitan dengan Tangan yang memegang dada kiri, bibir pucat dan keringat dingin.
"Hey .... Valent? Kamu Baik baik aja?" Khawatir Versya memegang kepala Valent menghapus Pelan keringat dingin yang mengalir.
"Valent? Kamu Kenapa? Hey .... Sadar! Ada yang sakit?" Tanya Versya.
Valent terlihat mengatur Napasnya. Setelah teratur, Lelaki itu membuka matanya pelan menatap lemah ke arah Versya.
"Kenapa? Ada yang sakit? Kamu Kenapa?" Tanya Versya Karena Valent tak kunjung mengucap satu kata pun. Matanya juga berkaca kaca sekarang.
"Ga. Gue baik" Ucap Valent hampir tak terdengar.
"Hey .... Jangan Kayak gini. Bilang sama aku, Ada yang sakit? Kamu jangan gini. Aku takut" Ucap Versya. Air Matanya menetes.
"Gausah nangis, Gue baik." Ucap Valent. Versya menggeleng.
"Kamu ga Baik baik aja. Kamu pucat banget, Tau ga? Bilang sama aku. Ada yang sakit? Aku panggil dokter ya?" Ucap Versya. Baru saja ingin melangkah, Tangan nya telah di pegang dengan tangan dingin yang terasa tak bertenaga.
Langkah itu terhenti.
"Gue baik. Lo duduk aja" Ucap Valent. Versya Menutup matanya. Valent baik baik aja, Ya! Valent baik baik aja.
Ia menghapus air matanya lalu berbalik.
"Kamu Baik baik aja?" Tanya Versya menyentuh tangan dingin yang tadi memegang nya.
"Hm." Ucap Valent. Lelaki itu menatap Intens ke arah Versya. Versya duduk.
"Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Atau ada yang sakit? Mau di panggilin dokter? Atau Mau makan?" Tanya Versya.
Valent menggeleng.
"Gue butuh Lo" Ucap Valent. Versya mengerjap, Terdiam mencerna kata kata Valent.
"Tapi, Aku di sini. Kamu butuh apa?" Ucap Versya.
"Terima Kasih." Ucap Valent Tidak nyambung.
"Untuk Apa?"
"Makasih udah selalu ada buat Aku." Ucap Valent. A-Aku? Valent barusan menyebut aku bukan gue?
"A-Aku ...." Versya gugup.
"Diam dan dengerin Gue aja." Ucap Valent.
"Gue kaget saat lo cerita tentang Kisah Hidup lo. Ternyata, Bukan cuma Gue aja yang ngalamin hal sesakit itu. Gue sadar, Hargai selagi ada. Dulu, Saat orang tua Gue masih ada Gue selalu menghiraukan bahkan terlalu sibuk dengan dunia gue sendiri sampai sampai gue ga tau kalau Orang tua Gue ngidap penyakit yang sama seperti yang gue alamin sekarang. Dan, Saat gue tau, semuanya udah Terlambat."
"Lo hadir sebagai lampu yang buat gue ngerasa Hidup lagi, Sya. Munafik kalau gue ga suka sama Lo." Ucap Valent.
Versya terpaku.
"Aku minta Maaf, Karna aku sampai sekarang ga bisa ngasih kepastian buat kamu. Aku kadang bertanya kepada semesta. Kenapa di Saat Aku suka sama kamu, Penyakit Ini datang? Kenapa di saat aku ingin memulai semuanya, Penyakit Ini datang? Aku bisa apa, Sya kalau dokter sendiri udah bilang kalau Aku .... udah ga ada harapan lagi buat bertahan."
Deg!
"Wajar bukan kalau aku udah ga bisa di selamatkan lagi? Kanker Jantung Stadium 4. Aku udah ga bisa apa apa, Sya."
"Satu satunya Kenangan yang Indah di Hidup Aku itu Kamu, Versya. Maafin aku, Aku ga bisa gantiin posisi kakak kamu yang Hebat. Aku bahkan terlalu lemah untuk gantiin posisi itu. Buat Aku, Senyum kamu adalah Hal yang paling aku butuhkan selama ini. Selalu senyum, Oke? Gausah nangis. Gue benci cewe cengeng."
"Versya" Panggil Valent.
"I-iya?"
"Temenin Gue ya? Sampai malam Ini, Setelah itu Gue akan Pulang."
"Aku ga bakal kemana mana. Kamu ga usah pulang dulu besok," Ucap Versya. Valent menggeleng.
"Besok Udah waktunya pulang, Sya. Boleh Gue minta satu Hal?" Tanya Valent.
Perasaan Versya semakin tidak Enak.
"Boleh, Mau Apa?"
"Berhenti Suka Gue, Sya. Gue mohon, Mulai malam ini Hilangin Perasaan Lo ke Gue." Ucap Valent.
"Tapi .... Tapi, Kenapa?" Ucap Versya lirih. Valent menggeleng.
"Sya. Lo Cantik mirip Bunda. Gue jadi kangen sama bunda dan Papa. Besok, Anterin gue ke sana ya?" Ucap Valent.
"Valent, Kan kamu masih sakit. Kamu ga boleh ke mana mana dulu sebelum sembuh" Ucap Versya.
Tangan dingin Valent bergerak memegang Tangan Versya membawa nya tepat di atas dada nya.
"Sakit. Di sini sakit banget," Ucap Valent Pelan dengan kerutan di dahi nya.
"Valent?!" Panik Versya.
Tangan Valent memegang Erat tangan Versya yang masih berada tepat di atas dadanya saat rasa sakit yang perlahan semakin menjadi itu terasa.
"Hey .... Kamu kenapa?!" Khawatir Versya.
"A-Aku baik. Gausah khawatir." Ucap Valent lemah.
"Va-Valent? Kenapa sih? Bilang sama aku, Kamu kenapa? Aku panggil dokter"
Tapi, Lagi lagi tangan nya di tahan oleh tangan dingin itu.
"Gausah. Duduk sebelah aku." Ucap Valent. Versya menurut.
"Sya, Kamu pernah dengar ada Pelangi setelah Hujan?" Tanya Valent lemah.
Versya mengangguk.
"Yang kamu Alamin sekarang persis seperti itu. Kamu nangis tapi Ada Kebahagiaan yang akan terjadi setelah nya."
Valent kembali membawa tangan Versya menuju dada nya yang berdenyut sakit.
"Bertahun tahun, Sya Aku nahan semua sakit nya sendiri."
Genggaman tangan itu mengerat.
"Sakit banget, Sya. Di sini sakit banget. Jadi, Gini ya yang di rasain Bunda dan Papa dulu? Jahat banget aku yang ga tau apa apa."
"Ya makanya aku panggil dokter, Kamu tunggu sini" Ucap Versya. Hatinya tidak tenang sekarang.
"Ga. Kamu Ga boleh ninggalin aku."
"Aku ga ninggalin kamu, Aku mau panggil dokter oke? Kamu sakit kan? Yaudah aku panggil dokter supaya kamu ga ngerasa sakit lagi." Ucap Versya.
"Terima Kasih, Maafin Aku karena ga bisa buat kamu bahagia. Hapus perasaan kamu ya? Lupain Aku Mulai Malam ini dan Selamanya. Aku cuma Luka yang pernah ada dalam Hati kamu, Dan Nanti akan ada seseorang yang menghapus itu. Terima kasih untuk rasa tulus kamu, Versya. Aku .... Sayang Kamu."
"Valent, Aku mau panggil dokter. Sakit banget kan? Aku panggil dokter"
"Sya, Udah. Bentar lagi aku udah ga ngerasain sakit lagi, Kok. Kamu di sini aja, Temenin aku bentar aja. Setidaknya sampai hari esok, Setelah itu kamu boleh pergi dan mulai lah Hidup baru dengan Orang yang baru."
"Valent, Dada kamu sakit."
Valent menggeleng lemah. Bibir yang dulu nya Semerah Cery, Kini telah seputih kapur.
"Aku baik. Rasa sakitnya bentar lagi hilang, Boleh aku lihat senyum kamu?"
"Valent ...."
"Sekali Aja ...."
Versya tersenyum seiring Air mata nya yang menetes. Valent menyerngit tak suka. Tangan Valent terangkat menyentuh pipi Versya yang mulai basah karena Air mata.
Tangan dingin itu menghapus air mata yang tak kunjung terhenti.
"Cantik. Senyum kamu Mirip banget sama Bunda. Aku jadi rindu banget sama Bunda. Kamu Jaga diri baik baik ya? Lupain Aku. Kamu Kuat, Sya. Terima kasih udah jadi Kenangan Terindah di Hidup Aku. Maafin aku yang ga bisa buat kamu seneng. Aku Izin ya, Dada aku sakit banget." Ucap Valent. Suaranya Nyaris tak terdengar saat di akhir.
Versya menggeleng.
"Valent, Kamu Ngomong apasih? Gausah bilang yang nggak nggak. Kamu bakal sembuh" Ucap Versya.
"Sya, Anterin aku besok ya? Mulai besok, Aku udah ga ganggu hidup kamu lagi. Lupain Aku, Dan Bahagia lah. Makasih untuk Semua Hal tulus yang kamu lakukan untuk Aku. Aku sayang Kamu, Versya." Bibir pucat itu terangkat membentuk bulan sabit yang pertama kali Versya Lihat dan Senyum itu tertuju untuk nya.
Tapi .... Mata itu kenapa tertutup? Senyum itu kenapa memudar? Genggaman itu kenapa tidak lagi erat seperti tadi? dan .... Napas lemah itu .... Kenapa tidak lagi terasa?
"Valent? Kamu .... Hey! Kamu dengar Aku? Kamu Kenapa nutup mata kamu? Valent? Kamu mau bobo ya? Hey .... Jawab aku. Valent?"
Tak ada jawaban.
Deg!
Tangan Versya yang masih berada di dada Valent itu bergerak memegang pipi pucat dan dingin Valent.
"Kamu Baik baik aja kan? Hey! Valent? Kamu Baik kan?
Tak ada jawaban.
Dia .... Pergi?
Versya mendekatkan telinga nya ke arah dada Valent berharap mendengar detakan jantung dari lelaki itu.
Tapi .... Kenapa ia tidak merasakan apapun? Ini .... Tidak mungkin bukan?
****
"Valent, Kamu bilang kamu hari ini pengen ke sekolah kan bareng aku? Tapi, Kenapa kamu malah pergi? Kamu bilang, Kamu Baik baik aja tapi kenapa kamu pergi? Kamu bilang kamu pengen Pulang, Tapi kenapa pulang nya malah ke sini?"
"Jahat Banget sih? Kamu Bilang kamu pengen ketemu Bunda sama Papa Kamu, Tapi Kenapa ketemu nya Malah kaya gini? Kamu minta aku anterin kamu buat ketemu Bunda dan Papa kamu tapi kenapa Harus kayak gini?"
Versya Menatap langit berusaha menahan air matanya agar tak tumpah.
"Kamu rindu Bunda dan Papa kamu, Dan Sekarang kamu udah ketemu kan sama mereka? Kamu minta di anterin kan kemarin, Sekarang aku anterin kamu Valent."
"Valent, Dadanya masih sakit ga? Kamu bilang sakit nya bentar lagi hilang, Kenapa cara Hilang nya harus kayak gini?"
"Aku .... Aku hancur Valent. Kenapa harus pergi sih? Kenapa? Tapi, Aku harus Ikhlas bukan? Aku harus nya seneng karena kamu udah ga ngerasa Sakit lagi. Aku harusnya senang bukan karena kamu udah ketemu sama Bunda dan Papa kamu."
"Senyum kamu .... Terima kasih udah beri aku senyuman indah itu Valent. Aku dulu berharap banget bisa di senyumin sama kamu. Tapi, ternyata saat Harapan aku terkabul, Senyuman itu malah menjadi senyuman pertama dan terakhir untuk aku. Hati aku sakit banget, Valent. Tapi, Lihat kamu udah ga kesakitan lagi aku harus Ikhlas."
"Terima Kasih. Valent, Aku .... Sayang Kamu. Baik Baik ya, Di sana. Aku Pamit."
-Wǒ ài nǐ Valent {1000}
*****
T.A.M.A.T
Cerpen > Halaman Terakhir
Selesai > Sab, 12 Desember 2020
*****
Terima Kasih telah Membaca Cerita Saya.
Semoga Terhibur:)
Jangan Lupa Mampir Ke Novel Saya:)