Suasana ruang sidang Pengadilan Negeri itu terasa seperti kotak es yang pengap. Bau pembersih lantai yang tajam gagal menutupi aroma busuk yang seolah berpindah dari lubang-lubang galian di Jombang ke dalam pori-pori dinding kayu mahoni di ruangan ini. Di kursi pesakitan, Yanuar duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang lentik berpangku rapi di atas lutut, persis seperti seorang pianis yang sedang menunggu aba-aba dirigen. Wajahnya bersih, matanya teduh, dan ia mengenakan kemeja putih yang disetrika sangat rapi—kontras yang mual dengan foto-foto barang bukti yang terserak di meja hakim.
Jaksa Penuntut Umum berdiri dengan tangan gemetar saat membacakan dakwaan. Suaranya pecah ketika ia mendeskripsikan kondisi lubang kedua belas, tempat Guntur ditemukan. Ia menceritakan bagaimana ubin dapur Yanuar dibongkar satu per satu, menyingkap lapisan-lapisan dosa yang telah membusuk selama bertahun-tahun. Penonton sidang, yang awalnya datang karena rasa penasaran, kini menutup hidung dan mulut; beberapa dari mereka lari keluar ruangan, tak kuat menahan bayangan tentang bagaimana potongan tubuh manusia disusun seperti puzzle di balik dinding rumah itu.
Namun, kengerian yang sesungguhnya tidak terletak pada kata-kata Jaksa. Kengerian itu ada pada apa yang tidak terlihat oleh mata awam, namun dirasakan oleh setiap saraf di ruangan itu. Di sudut-sudut plafon, di balik tirai hijau yang kusam, arwah-arwah itu hadir. Mereka tidak datang sebagai entitas cahaya, melainkan sebagai gumpalan trauma yang hitam dan lengket. Guntur ada di sana, berdiri tepat di belakang kursi Yanuar. Lehernya tampak bengkok dengan sudut yang tidak manusiawi, dan dari mulutnya yang terbuka lebar, tanah merah terus merembes keluar, jatuh ke lantai sidang tanpa suara, menguap menjadi bau amis yang membuat hakim beberapa kali terbatuk hebat.
Satu per satu saksi dipanggil. Seorang ahli forensik memberikan kesaksian dengan wajah pucat pasi. Ia menjelaskan bahwa beberapa korban tidak langsung mati saat dikubur. Ada tanda-tanda oksigen yang dipaksakan masuk ke paru-paru yang sudah penuh dengan tanah. Ia menyebutkan tentang "tanda cinta" yang ditinggalkan Yanuar pada setiap korbannya—sebuah sayatan berbentuk bunga melati di bagian ulu hati, tempat di mana Yanuar percaya jiwa manusia paling mudah untuk "dipanen". Saat penjelasan itu meluncur, Yanuar hanya mengangguk kecil, seolah-olah ia sedang mendengarkan ulasan masakannya yang dipuji oleh seorang kritikus ternama.
"Saya tidak membunuh mereka," ujar Yanuar saat tiba gilirannya bicara. Suaranya lembut, berwibawa, dan memiliki daya pikat yang mengerikan. "Saya hanya mengawetkan keindahan. Dunia ini kotor, penuh dengan pengkhianatan. Guntur, Andre, dan yang lainnya... mereka adalah jiwa-jiwa yang haus akan kasih sayang. Saya memberikan mereka rumah yang paling aman: bumi yang hangat. Saya menyatukan darah mereka dengan tanah agar mereka tidak pernah bisa pergi meninggalkan saya lagi. Bukankah itu bentuk cinta yang paling murni?"
Mendengar pengakuan yang begitu tenang, seorang ibu dari korban bernama Andre yang duduk di bangku depan mendadak histeris. Ia menjerit, mencaci maki Yanuar sebagai iblis. Namun, saat teriakan itu memuncak, lampu di ruang sidang mendadak berkedip-kedip. Suhu udara turun drastis hingga napas orang-orang di sana membentuk uap putih. Di mata Yanuar, ia tidak melihat ibu yang sedang berduka; ia melihat arwah Andre yang sedang merangkak di bawah kaki ibunya, dengan perut yang robek dan usus yang terseret di lantai, mencoba menggapai tangan Yanuar seolah-olah masih terikat kontrak mistis yang belum usai.
Arwah-arwah itu tidak sedang menuntut balas dalam arti yang biasa. Mereka telah dirusak sedemikian rupa oleh ritual kemusyrikan Yanuar hingga ingatan mereka tentang kemanusiaan telah hilang. Mereka adalah budak-budak gaib yang diciptakan dari rasa sakit dan mutilasi. Guntur, yang kepalanya terkulai ke samping, mulai membisikkan sesuatu ke telinga Yanuar. Bisikan itu bukan kata-kata, melainkan suara gesekan tulang yang patah. Yanuar tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca penuh haru, seolah-olah ia sedang mendengarkan simfoni yang indah.
Kengerian memuncak saat barang bukti berupa ceret listrik dan kuali besar dibawa ke tengah ruangan. Bau uap dari kuali itu seolah kembali menyeruak, membawa memori tentang air mendidih yang dipaksakan masuk ke kerongkongan, tentang daging yang dimasak hingga hancur untuk dijadikan tumbal "Bapak". Beberapa anggota polisi yang menjaga sidang mulai merasa mual yang tak tertahankan. Salah satu dari mereka jatuh pingsan setelah melihat bayangan hitam besar bertaring—entitas "Bapak"—berdiri di belakang hakim, menjilati udara dengan lidahnya yang panjang dan bercabang.
Hakim Ketua, dengan tangan yang memegang palu dengan sangat kencang, bertanya, "Apakah Anda menyesali perbuatan Anda, Terdakwa?"
Yanuar menatap Hakim dengan tatapan yang sangat jernih. "Menyesal? Bagaimanakah seseorang bisa menyesali sebuah pengabdian? Saya telah memberikan mereka keabadian. Di bawah ubin saya, mereka tidak akan pernah tua, tidak akan pernah sakit hati. Mereka bernyanyi untuk saya setiap malam. Bisakah Anda mendengar mereka sekarang, Pak Hakim? Mereka sedang menyanyi di bawah kursi Anda."
Seketika, suara garukan kuku di atas kayu terdengar sangat nyata dari arah bawah meja hakim. Sret... sret... sret... Suaranya konsisten, tajam, dan penuh kebencian. Hakim Ketua melonjak dari kursinya, wajahnya seputih kertas. Ia menunduk dan melihat ubin di bawah mejanya tampak seolah-olah berdenyut, seperti jantung yang sedang berdetak kencang di bawah lapisan semen. Tidak ada lagi logika Agatha Christie yang bisa menjelaskan ini; ini adalah horor murni yang lahir dari pemujaan terhadap kegelapan.
Sidang itu berakhir dengan kekacauan. Yanuar dijatuhi hukuman mati, namun saat vonis dibacakan, ia justru tertawa—sebuah tawa yang kering, serak, dan berujung pada muntah darah hitam yang kental di lantai sidang. Darah itu tidak mengalir, melainkan menggumpal dan bergerak sendiri menjauhi Yanuar, seolah-olah darah itu sendiri merasa muak berada di dalam tubuh monster tersebut. Di tengah genangan darah itu, terlihat potongan-potongan kecil kuku dan rambut korbannya yang selama ini ia telan sebagai bagian dari ritual keabadian.
Malam harinya di dalam sel isolasi, Yanuar ditemukan tidak lagi sendiri. Penjaga penjara melaporkan melalui interkom bahwa mereka mendengar suara banyak orang yang sedang berpesta di dalam sel yang seharusnya hanya berisi satu orang itu. Ada suara denting piring, tawa riang, dan suara Yanuar yang sedang menawarkan "minuman hangat". Namun, saat pintu besi itu dibuka, sel itu kosong. Hanya ada Yanuar yang sedang duduk bersila di pojok ruangan dengan posisi tangan seperti sedang memeluk seseorang.
Leher Yanuar tampak memar, dengan bekas cengkeraman tangan kecil yang membiru. Di dinding sel, tertulis dengan darahnya sendiri: "Tanahnya sudah penuh, tapi Bapak masih lapar."
Nasib arwah-arwah itu tetap terikat. Mereka tidak bisa kembali ke langit, juga tidak bisa menetap di bumi. Mereka menjadi bayangan yang menghuni setiap sudut rumah di Jombang itu, menunggu mangsa baru yang tersesat oleh keramahan palsu. Dan Guntur, yang terakhir kali masuk ke dalam lubang, kini menjadi penjaga pintu bagi entitas "Bapak". Ia berdiri di perbatasan antara dunia ini dan neraka, dengan mulut yang selamanya penuh dengan tanah, memastikan bahwa siapapun yang pernah bersentuhan dengan Yanuar akan merasakan mual yang abadi, rasa muak yang takkan pernah hilang hingga liang lahat mereka sendiri digali.
Keadilan mungkin telah diketuk lewat palu hakim, namun kegelapan yang ditanam Yanuar telah tumbuh menjadi pohon kematian yang akarnya merambat ke setiap mimpi buruk orang-orang yang mengetahui ceritanya. Di ruang sidang yang kini kosong itu, bau amis tetap tertinggal, menjadi pengingat bahwa di balik wajah paling santun sekalipun, mungkin ada seorang pria yang sedang menyiapkan liang lahat untukmu di bawah dapur rumahnya. Orkes bangkai itu belum berakhir; mereka hanya sedang menunggu konduktor baru untuk memulai nyanyian mual berikutnya.