Jombang tidak pernah sedingin ini. Udara malam di desa itu seperti lidah mayat yang menjilat tengkuk; lembap, amis, dan membawa aroma tanah yang baru digali. Di sebuah rumah sederhana dengan dinding yang mulai berlumut, seorang pria berdiri di depan cermin retak. Namanya Yanuar. Di mata para tetangga, ia adalah pria santun yang rajin beribadah, pandai memasak, dan memiliki tutur kata sehalus sutra. Namun, malam ini, di balik pantulan matanya yang kosong, ada sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang lapar.
Di atas meja dapur, sebuah kuali besar mengepulkan uap. Bau daging yang direbus memenuhi ruangan, namun aromanya terlalu tajam, terlalu pekat. Yanuar sedang menyiapkan "jamuan". Bukan untuk tamu yang masih bernapas, melainkan untuk "Bapak"—entitas hitam legam yang menghuni sudut gelap di bawah ubin rumahnya.
"Satu lagi, Yanuar... satu lagi maka kau akan dicintai selamanya," bisik suara parau dari kegelapan.
Guntur duduk di ruang tamu yang remang-remang. Sebagai seorang pemuda yang baru saja patah hati dan merasa dibuang oleh dunia, keramahan Yanuar adalah candu. Yanuar telah mengundangnya makan malam, menjanjikan ketenangan dan solusi bagi hidupnya yang berantakan.
"Minumlah, Guntur. Ini teh melati khusus dari kebun belakang," ujar Yanuar lembut. Tangannya yang putih bersih menyodorkan cangkir porselen.
Guntur meminumnya. Rasanya sedikit pahit, dengan aftertaste besi yang aneh. Ia tidak tahu bahwa di dalam teh itu, Yanuar telah mencampurkan serbuk tulang yang telah diritualkan selama empat puluh malam.
"Kau tahu, Guntur," Yanuar duduk di hadapannya, jemarinya bertautan dengan rapi. "Dunia ini kejam. Orang-orang hanya ingin memanfaatkanmu. Tapi di sini, bersamaku, kau akan menjadi bagian dari sesuatu yang abadi. Kau tidak akan pernah merasa kesepian lagi."
Guntur mencoba menjawab, tapi lidahnya mendadak mati rasa. Kepalanya berdenyut hebat. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Foto-foto teman-teman Yanuar terpampang di dinding. Ada sekitar sepuluh atau sebelas orang. Semuanya tersenyum. Namun, Guntur menyadari satu hal yang membuat perutnya mual: semua orang di foto itu adalah orang-orang yang dilaporkan hilang dalam dua tahun terakhir.
"Kenapa... mereka semua ada di sini?" bisik Guntur parau.
Yanuar tersenyum. Senyum itu melebar hingga sudut bibirnya seolah akan robek. "Mereka tidak pergi, Guntur. Mereka ada di bawah kita. Mereka sedang mendengarkan kita sekarang."
Guntur mencoba berdiri, namun kakinya terasa seperti jeli. Ia terjatuh, dagunya menghantam lantai ubin yang dingin. Saat wajahnya menempel di lantai, ia mencium sesuatu yang sangat busuk. Bau bangkai yang terperangkap di bawah semen. Ia melihat ke bawah lemari, dan di sana, ia melihat sepotong rambut manusia yang terjepit di sela-sela ubin yang retak.
"Jangan melihat ke bawah, itu tidak sopan," suara Yanuar kini berada tepat di atas telinganya.
Dengan tenaga terakhirnya, Guntur merangkak menuju dapur, berharap ada pintu keluar. Namun yang ia temukan justru adalah neraka yang lebih nyata. Di atas meja dapur, tergeletak sebuah benda yang dibungkus kain kafan kusam yang sudah menguning. Yanuar mengikutinya dengan langkah kaki yang tenang, menyeret sebuah linggis besar di atas lantai—suara sreet... sreet... sreet... yang memekakkan telinga.
"Kau beruntung, Guntur. Tanah di belakang sedang haus. Kemarin, saat aku mengubur pemuda dari Jakarta itu, tanahnya bersendawa. Dia suka daging yang segar, yang penuh dengan rasa sakit. Karena rasa sakit adalah bumbu yang paling nikmat untuk ritual ini."
Yanuar menarik kain kafan itu. Guntur ingin berteriak, tapi suaranya hanya menjadi erangan mual. Di dalam kain itu ada potongan tubuh manusia yang sudah menghitam, dikelilingi oleh bunga kantil dan kemenyan. Yanuar mengambil sebilah pisau bedah, lalu dengan tenang ia mulai mengiris bagian tersebut sambil merapal mantra dalam bahasa yang tidak dikenal manusia.
"Ini adalah persembahan untuk ilmu Langgeng Asmoro. Barangsiapa yang meminum sari pati dari mereka yang kukasihi, maka ia akan memiliki kharisma iblis. Aku membunuh mereka karena aku mencintai mereka, Guntur. Aku ingin mereka tetap bersamaku, di dalam tanahku, di dalam tubuhku!"
Yanuar mencengkeram rambut Guntur, menyeretnya ke kebun belakang yang gelap gulita. Di sana, di bawah rimbunnya pohon pisang yang melambai ditiup angin seperti tangan-tangan mayat, tanahnya tampak tidak rata. Ada gundukan-gundukan kecil yang ditutupi daun kering.
"Dengar, Guntur. Dengar suara mereka."
Guntur menempelkan telinganya ke tanah saat Yanuar menekan kepalanya ke bawah. Dari dalam bumi, terdengar suara garukan kuku di atas kayu. Suara isakan lirih yang teredam tanah padat. Mereka masih ada di sana. Jiwa-jiwa yang terperangkap dalam kemusyrikan Yanuar, tidak bisa pergi karena tubuh mereka telah dijadikan tumbal perjanjian gelap.
"Kau akan menjadi yang kedua belas. Angka yang sempurna," bisik Yanuar.
Ia mengangkat linggisnya. Guntur melihat bayangan hitam besar muncul di belakang Yanuar—sebuah entitas dengan mata merah menyala dan taring yang meneteskan cairan kental. Itulah "Bapak", iblis yang selama ini menuntun tangan Yanuar untuk memutilasi dan mengubur teman-temannya sendiri.
BRAK!
Linggis itu menghantam punggung Guntur. Suara tulang yang retak terdengar begitu renyah di tengah sunyinya malam. Guntur merasakan sensasi dingin yang luar biasa saat tubuhnya dilemparkan ke dalam lubang yang sudah digali sebelumnya. Lubang itu sempit, berbau kotoran dan kematian. Di sampingnya, ia melihat sebuah tengkorak yang masih menyisakan sedikit daging busuk.
"Tidur yang nyenyak, Sayang," ujar Yanuar sambil mulai menyendokkan tanah ke atas wajah Guntur.
Guntur hanya bisa melihat sedikit demi sedikit cahaya bulan tertutup oleh tanah merah. Setiap sekop tanah yang jatuh ke mulut dan matanya terasa seperti ribuan ulat yang merayap. Ia tidak bisa bernapas. Paru-parunya terisi debu tanah. Sebelum kegelapan total menjemput, ia melihat Yanuar berdiri di pinggir lubang, sedang menciumi jari tangan manusia yang baru saja ia potong, seolah-olah itu adalah permen yang manis.
Satu minggu kemudian.
Polisi mengepung rumah itu setelah ada laporan mengenai bau busuk yang tak tertahankan. Saat mereka membongkar ubin dapur, mereka menemukan pemandangan yang membuat para petugas paling senior sekalipun muntah di tempat. Mayat-mayat ditumpuk seperti sampah, beberapa dalam kondisi terpotong-potong, terikat dengan tali pocong yang sudah berulat.
Di kebun belakang, mereka menggali lebih dalam. Sebelas mayat ditemukan. Namun, saat mereka menggali lubang kedua belas, mereka menemukan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri.
Guntur ditemukan di sana. Ia sudah tidak bernapas, namun wajahnya tampak "segar" seolah baru saja meninggal beberapa detik lalu. Yang mengerikan adalah posisinya: kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri, dan mulutnya penuh dengan tanah merah yang telah mengeras.
Yanuar duduk di pojok ruangan saat ditangkap, mengenakan baju koko putih yang bersih. Ia tersenyum ke arah kamera wartawan, sebuah senyuman yang sangat tampan namun kosong.
"Aku hanya ingin mereka abadi," katanya tenang. "Dan sekarang, mereka semua ada di dalam kepalaku. Berbisik... menyanyi... memuji betapa hebatnya aku."
Malam itu, di seluruh penjuru Jombang, orang-orang mengunci pintu mereka rapat-rapat. Mereka tahu bahwa di balik keramahan seorang tetangga, atau di balik senyum seorang kawan, mungkin ada sebuah lubang yang sedang digali, dan sebuah kuali yang sedang mendidih, menunggu tumbal berikutnya untuk memuaskan tanah yang tak pernah kenyang.
Di dalam sel penjara, Yanuar mulai menggali lantai semen dengan kuku-kukunya yang patah dan berdarah. Ia berbisik pada bayangan di sudut sel, "Bapak... apakah Kau masih lapar?"
Dan dari kegelapan, terdengar jawaban berupa tawa yang sangat pelan, yang akan menghantui Nusantara selamanya.