Gerimis di Manchester malam itu terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit. Aku berdiri di bawah lampu jalan yang temaram, memandang pantulan diriku di genangan air. Namaku Bayu. Di usiaku yang kedua puluh dua, aku merasa seperti kompas yang kehilangan jarum magnetnya. Kuliah pascasarjanaku di University of Manchester terasa hambar, kerinduan pada Ibu di tanah air mencekik, dan masa depanku tampak seperti kabut tebal di atas Sungai Irwell.
Aku butuh pelarian. Aku butuh sesuatu untuk membakar rasa sepi yang menggerogoti kewarasanku.
"Bay, jangan melamun terus. Hidup itu untuk dinikmati, bukan diratapi," suara itu mengejutkanku.
Itu suara Andre, teman satu flatku yang selalu terlihat ceria. Andre adalah sosok yang supel, berwajah manis, dan selalu punya cara untuk menghidupkan suasana. Malam itu, ia mengajakku pergi ke sebuah klub di kawasan Gay Village. Aku tahu reputasi tempat itu, tapi Andre meyakinkanku bahwa itu hanya tempat minum biasa dengan musik yang bagus. Lagipula, aku sedang hilang arah. Aku merasa tak punya siapa-siapa, dan tawaran Andre terasa seperti tali penyelamat.
"Ayo, kau butuh minum. Lihat dirimu, badanmu kekar, atletis, tapi wajahmu seperti orang yang mau kiamat. Kau harus bangga dengan tubuh atletismu itu, Bayu. Di sini, kau adalah incaran," canda Andre sambil menyikut lenganku.
Kami memasuki klub itu. Musik techno berdentum keras, lampu neon warna-warni membiaskan bayangan yang menari-nari di dinding. Bau alkohol, keringat, dan parfum mahal bercampur menjadi satu aroma yang memabukkan. Aku merasa asing, tapi perhatian orang-orang di sana mulai membuat egoku naik. Beberapa pasang mata memandangku dengan tatapan memuja.
Lalu, dia datang.
Seorang pria dengan wajah yang sangat ramah—terlalu ramah untuk tempat sekelam ini. Ia mendekati kami dengan senyum yang tampak tulus. Namanya tidak disebutkan secara jelas saat itu, tapi penampilannya begitu rapi, berkacamata, dan terlihat sangat intelek. Tidak ada tanda-tanda predator dalam dirinya.
"Hai, kalian terlihat baru di sini," sapa pria itu. Suaranya halus, menenangkan. "Aku melihatmu dari kejauhan," katanya sambil menatapku dalam-dalam. "Kau sangat tampan. Gagah. Tubuhmu sangat atletis, kau pasti rajin berolahraga, ya?"
Pujian itu masuk ke telingaku seperti madu. Di saat aku merasa hancur secara mental, pujian tentang fisikku adalah validasi yang sangat kubutuhkan. Kami mengobrol. Pria itu sangat pintar bicara, ia berbicara tentang studi, tentang Manchester, dan tentang kehidupan mahasiswa internasional.
"Kalian ingin minum sesuatu yang lebih spesial? Apartemenku dekat dari sini. Aku punya koleksi minuman yang tidak ada di bar ini," tawarnya dengan nada yang sangat sopan.
Instingku tiba-tiba berteriak. Ada sesuatu yang janggal dalam cara matanya tidak pernah lepas dariku, seolah-olah dia sedang menilai sebuah barang dagangan yang sangat berharga. Aku teringat pesan Ibu untuk selalu waspada terhadap orang yang terlalu baik dalam waktu singkat.
"Aku... aku rasa aku harus pulang, Andre. Kepalaku mulai pusing," bisikku pada Andre.
Namun, Andre sudah terlalu jauh. Ia tampak sangat menikmati perhatian pria itu. "Ah, kau ini membosankan, Bay! Sebentar lagi saja. Aku akan pergi dengannya, kau pulanglah kalau memang pengecut."
Aku melihat Andre merangkul pundak pria itu. Pria itu kembali menatapku, tatapan yang kini terasa sangat lapar. "Yakin tidak mau ikut? Sayang sekali, tubuh sepertimu jarang kutemukan di sekitar sini."
Aku menggeleng. Rasa takut yang tak bisa kujelaskan membuat bulu kudukku berdiri. Aku berbalik, meninggalkan dentuman musik, meninggalkan Andre yang tertawa riang, dan berlari menembus udara dingin Manchester. Aku merasa seperti pecundang, kabur dari tawaran bersenang-senang. Aku pulang ke apartemen, mengunci pintu, dan tertidur dengan perasaan gelisah yang luar biasa.
Seminggu berlalu. Andre tidak pernah kembali ke apartemen. Ponselnya mati. Aku mulai panik dan berencana melapor ke pihak universitas dan polisi. Hingga pagi itu, aku menyalakan televisi di ruang tengah.
Wajah pria itu ada di sana. Wajah ramah berkacamata yang memujiku tampan di malam itu.
Berita utama di BBC menyambar kesadaranku seperti petir: "REYNARD SINAGA: PREDATOR SEKSUAL TERBESAR DALAM SEJARAH HUKUM INGGRIS DITANGKAP."
Duniaku runtuh saat itu juga. Layar televisi menampilkan apartemennya di Montana House—tempat yang hampir saja kudatangi. Pembawa berita menjelaskan dengan detail yang mengerikan: bagaimana dia membius korbannya dengan obat GHB, bagaimana dia memerkosa ratusan pria yang tak sadarkan diri, dan bagaimana dia merekam setiap aksinya.
Tanganku gemetar hebat. Aku teringat kata-katanya malam itu: "Kau tampan... tubuhmu atletis..."
Seandainya malam itu aku tidak mendengarkan instingku... seandainya aku mengikuti egoku yang ingin dipuja... maka yang berada di dalam rekaman video keji itu adalah aku. Aku membayangkan air minum yang dia tawarkan, air yang mungkin berisi racun tidur yang akan merenggut harga diriku selamanya.
Tapi kemudian, pikiranku terbang pada Andre. Andre yang pergi bersamanya. Andre yang menghilang.
Air mataku jatuh tak terbendung. Rasa bersalah yang amat dalam menghujam jantungku. Aku kabur dan menyelamatkan diriku sendiri, sementara temanku—yang hanya ingin bersenang-senang denganku—mungkin sekarang sedang menanggung penderitaan yang tak terbayangkan. Dia menjadi korban karena dia tidak sepertiku; dia terlalu percaya pada keramahan yang palsu.
Aku jatuh terduduk di lantai apartemen yang sepi. Di luar, hujan Manchester masih turun dengan setia, seolah ikut menangisi ribuan jiwa yang hancur di balik pintu apartemen Montana House. Aku memang selamat secara fisik, tapi jiwaku yang semula hilang arah, kini semakin hancur oleh bayang-bayang kegelapan yang hampir saja menelanku.
Kini, setiap kali aku melihat cermin dan melihat tubuhku yang "gagah dan atletis", aku tidak lagi merasa bangga. Aku hanya melihat seorang penyintas yang beruntung, yang lolos dari tangan iblis karena secercah insting terakhir. Sementara di luar sana, keadilan sedang diperjuangkan untuk Andre dan ratusan laki-laki lainnya yang suaranya dibungkam oleh bius dan kehinaan.
Pelajaran itu sangat mahal. Di kota yang asing ini, kegelapan terkadang tidak datang dengan wajah yang menyeramkan, melainkan dengan senyuman ramah dan segelas minuman dingin di bawah lampu neon yang membius.
Informasi :
Cerita ini adalah karya fiksi yang terinspirasi dari peristiwa nyata yang sangat tragis.