Gaza bukan sekadar titik koordinat di atas peta yang dikelilingi pagar kawat berduri dan menara pengintai. Jika kau menempelkan telingamu ke tanahnya yang retak, kau tidak akan mendengar suara pasir yang bergeser, melainkan detak jantung seorang raksasa yang sedang dicambuk. Gaza adalah sesosok lelaki tua dengan kulit sewarna tanah zaitun, yang punggungnya telah dipahat oleh ribuan garis api, namun lehernya tetap tegak, kaku, dan menolak untuk tunduk. Di pesisir Mediterania yang airnya kini terasa lebih asin karena bercampur air mata, Gaza sedang berdiri dengan luka yang menganga hebat. Ia tidak sedang sekadar berdarah; ia sedang dikuliti oleh mesin-mesin besi dingin yang dikendalikan oleh tangan-tangan tanpa nurani.
Pagi di sana tidak lagi diawali dengan kicau burung atau aroma kopi yang mengepul dari jendela dapur. Pagi dimulai dengan warna kelabu pekat, sebuah perkawinan gelap antara debu semen yang hancur dan sisa-sisa mesiu yang membakar paru-paru. Israel, dengan jemari besinya yang angkuh, kembali menghujamkan maut dari ketinggian yang tak terjangkau mata manusia. Setiap dentuman yang menggetarkan bumi bukan sekadar suara; itu adalah robekan baru pada daging Gaza. Lingkungan Al-Rimal yang dulunya merupakan urat nadi kehidupan, kini menyerupai rahang raksasa yang giginya telah dipatahkan secara paksa. Bangunan-bangunan tinggi tempat ribuan mimpi ditenun di atas meja makan kini telah rata dengan tanah, menindih boneka-boneka beruang yang kehilangan pelukannya dan buku-buku puisi yang halamannya hangus sebelum sempat selesai dibaca.
Namun, di tengah kepulan asap yang mencekik dan rintihan beton yang patah, Gaza tidak tersungkur. Meski kakinya tertanam di bawah ribuan ton reruntuhan, matanya tetap tengadah. Ia menatap langit bukan untuk bertanya "kapan semua ini berakhir?", melainkan untuk memberi tahu semesta bahwa keberadaannya tidak bisa dihapus hanya dengan bubuk peledak. Di pinggiran kota yang hancur, sebatang pohon zaitun tua yang telah berusia ratusan tahun berdiri gemetar. Akar-akarnya mencengkeram tanah lebih kuat dari biasanya, seolah-olah ia takut bumi Gaza akan diculik oleh ledakan berikutnya. Pohon itu adalah saksi bisu, memori hidup yang telah melihat kakek-buyut menanam harapan, dan kini ia terpaksa melihat cucu-cucu mereka memanen nisan.
"Mereka ingin memadamkan cahayamu," bisik angin yang membawa aroma anyir logam dan daging terbakar. Gaza menjawab melalui desis api yang melahap dahan-dahan zaitun itu, bahwa mereka mungkin bisa memadamkan lampu-lampu di rumah sakit, tapi mereka tidak akan pernah bisa mencuri matahari dari sepasang matanya. Kekejaman yang menimpanya sangatlah sistematis; air disumbat seolah haus bisa membunuh martabat, dan listrik diputus seolah kegelapan bisa membuat penduduknya lupa cara berdoa. Namun, Gaza justru menemukan jenis cahaya baru yang tak butuh kabel atau generator. Cahaya itu memancar dari lubang-lubang peluru di dinding bangsal perawatan, dari ketulusan para perawat yang bekerja dengan sisa-sisa napas, dan dari keberanian seorang ibu yang tetap menyanyikan nina bobo di bawah tenda pengungsian yang rapuh, menantang deru jet tempur di atas kepalanya.
Setiap kali rudal membelah udara, bumi bergetar hebat layaknya sedang mengalami sakaratul maut. Dunia mungkin melihat Gaza sebagai tumpukan puing yang tak berdaya, sebuah tragedi yang hanya pantas ditonton di layar kaca. Namun, mereka salah besar. Gaza sedang melakukan sebuah perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling memekakkan telinga. Di sisa-sisa menara masjid yang puncaknya telah tumbang dihantam artileri, suara azan tetap mengangkasa. Suara itu tidak lagi keluar dari pengeras suara elektronik yang sudah hancur berkeping-keping, melainkan dari tenggorokan seorang pemuda yang seluruh tubuhnya tertutup debu putih. Ia berdiri di atas gundukan beton yang dulunya adalah rumahnya, tengadah ke arah langit, memanggil Tuhan dengan nada yang sama sekali tidak mengandung getar ketakutan.
Di sudut reruntuhan yang lain, seorang gadis kecil bernama Laila sedang duduk bersimpuh. Tangannya yang mungil memegang arang dari sisa kebakaran rumahnya, mencoba menggambar sekuntum bunga di atas aspal jalanan yang retak dan berlubang. Bagi Laila, setiap garis hitam yang ia torehkan adalah cara untuk berteriak bahwa keindahan tidak bisa dibunuh oleh tank-tank baja atau kebijakan isolasi. Ketika bayangan Gaza yang besar melintas dan bertanya mengapa ia masih repot-repot menggambar di tengah kiamat kecil ini, Laila hanya menjawab tanpa menoleh, bahwa langit di atas sana tetaplah luas, meskipun bumi di bawah kakinya terasa semakin sempit dan menyesakkan.
Israel mungkin memiliki teknologi yang mampu memetakan setiap jengkal tanah hingga ke dalam lubang terkecil, tapi mereka tidak akan pernah memiliki algoritma untuk memetakan kedalaman martabat manusia. Mereka menghujani Gaza dengan hujan baja, namun Gaza membalasnya dengan jenis kesabaran yang melampaui logika manusia manapun. Gaza terus tengadah karena di atas sana, ia melihat arwah-arwah yang terbang seperti burung-burung putih yang merdeka. Mereka bebas dari blokade, bebas dari pemeriksaan pos militer yang menghina, dan bebas dari rasa takut akan dentuman di tengah malam. Ia melihat anak-anaknya yang gugur bukan sebagai statistik angka di berita televisi internasional, melainkan sebagai bintang-bintang baru yang menghiasi langit malam yang paling gelap.
Luka-luka yang diderita Gaza saat ini sangatlah berat. Dadanya sesak oleh gas air mata yang pedih, perutnya perih oleh lapar yang dipaksakan sebagai senjata perang, dan kakinya pincang karena infrastruktur yang telah lumat. Namun, selama masih ada satu orang yang berdiri tegap untuk salat di tengah reruntuhan, selama masih ada satu tangan yang berbagi sebutir kurma di tengah kepungan kelaparan, Gaza menganggap dirinya belum kalah. Ia adalah sebuah puisi panjang yang ditulis dengan tinta luka di atas kertas yang bernama sejarah. Dan sejarah kelak akan mencatat dengan tinta emas, bahwa ada sebuah negeri yang dikurung, dihancurkan, dan dikhianati oleh dunia, namun penduduknya tidak pernah belajar bagaimana cara merangkak atau menunduk kepada selain Sang Pencipta.
Malam kembali jatuh di Gaza dengan keheningan yang mencekam, hanya diinterupsi oleh dengung drone yang haus akan target baru. Gaza menutup matanya sejenak, merasakan dinginnya tanah yang telah meminum terlalu banyak darah suci para syuhada. Ia tidak meminta belas kasihan pada dunia yang sering kali memilih untuk berpura-pura buta dan tuli. Ia hanya terus tengadah, menembus lapisan awan hitam dan asap, karena ia tahu bahwa senyata-nyatanya kekejaman, ia selalu memiliki batas waktu dan tanggal kedaluwarsa. Sedangkan ketabahan, yang lahir dari iman yang menghujam ke dasar bumi, adalah sesuatu yang akan terus hidup, melampaui usia besi dan amunisi.
Gaza tetap tengadah, menantang badai dengan luka yang dipeluknya erat sebagai lencana kehormatan.