Kota ini berisik, kotor, dan sama sekali tidak mengenal nama 'Serena'. Dan bagi Serena, itu adalah surga. Di sini, dia bukan lagi pion perjodohan ayahnya atau sekadar angka di atas surat kontrak bisnis. Dia sudah bersumpah untuk menutup hatinya, yakin bahwa semua pria punya motif tersembunyi jika melihat kilau kekayaannya. Namun, takdir punya selera humor yang unik. Sebuah insiden kecil membawanya ke depan meja kerja seorang sekretaris bertangan dingin namun berhati hangat. Pria itu menatapnya bukan sebagai 'putri konglomerat', melainkan sebagai wanita asing yang sedang kesulitan. Dan ini bukan untuk pertama kalinya mereka bertemu, Serena merasa jantungnya berkhianat pada logikanya sendiri.
Namun sebelum pertemuan ini kembali terjadi, mari kita lihat kebelakang tentang bagaimana cara Serena bertahan hidup. Awalnya dia mengira bahwa pergi keluar dari rumah tidaklah sulit, apalagi hanya untuk menghidupi dirinya sendiri. Namun karena insiden bodoh, dia seperti tikus yang harus bersembunyi kemana-mana agar tidak terlihat oleh pria yang sekarang ada dihadapannya itu. Kalau orang baru mengenalnya, mungkin mereka mengira bahwa dia adalah pria yang tidak berperasaan, dingin, atau bahkan kejam. Namun setelah menyeluruh lebih jelas tentang kehidupan sekretaris itu. Serena menarik kesimpulan, bahwa sampul buku tidak selalu sama dengan isinya.
Setelah pertemuan yang tak disangka di cafe pada beberapa Minggu yang lalu membawa Serena duduk diam sambil berhadapan dengan pria yang telah memporak-porandakan kehidupannya. Oh shit! Umpatnya dalam hati. Sepertinya dia dalam masalah besar.
Sebelum menjalani kehidupan yang jauh seperti sekarang ini. Tepatnya dua tahun yang lalu, Serena memutuskan pergi dari rumah tanpa membawa nama belakang ayahnya itu. Dia bahkan hanya memakai nama “Sera” saja untuk namanya yang simple itu. Dirinya hampir setiap hari frustasi karena keinginan ayahnya untuk segera dirinya menikah. Andaikan hanya sebatas keinginan, ya mungkin saja dia terima lapang dada. Tapi ini beda, ayahnya selalu welcome pada orang tua yang sedang berusaha mendekatkan putra mereka pada dirinya. Tentu saja Serena menolak. Kayak gak laku aja!—Baginya, semua pria sama saja, sama-sama mata duitan. Mereka mendekati Serena karena maksud dari kekayaan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Baginya tidak ada cinta yang tulus murni, bahkan dia menutup rapat-rapat hatinya serta berkeinginan untuk melajang seumur hidupnya. Tentu saja saat orangtua nya mendengar hal tersebut mereka jadi khawatir, itu lah kenapa ayahnya sibuk mencarikan jodoh untuk putri semata wayangnya itu. Dan tentunya bukan sembarang orang, kaya atau pun dibawah yang terpenting adalah memiliki latar belakang keluarga yang baik, dan tentunya mau menerima Serena dengan apa adanya. Namun sepertinya Serena salah pahami maksud dari tujuan ayahnya itu. Mereka bertengkar hebat, hingga akhirnya Serena mengalah lalu pergi dari rumah.
Sudah dua tahun semenjak kepergian putrinya itu. Tentu saja ayahnya tidak tinggal diam, dia mengirim satu orang kepercayaannya agar tetap mengawasi putrinya itu dari kejauhan.
Selama Serena berada dikota asing itu. Dengan kekuasaan ayahnya, dia hampir saja menyerah karena tak satupun perusahaan mau menerima dirinya. Tapi sepertinya masih ada keberuntungan sedikit untuknya, dia bekerja dibawah kantor fashion. Yang mana Bosnya adalah seorang wanita yang seumuran dengan dirinya memberikannya sebuah tugas yang sangat menggiurkan. Yakni, mengintili kehidupan seseorang sekertaris yang telah mencuri hati bosnya.
Bukannya mendapat keuntungan malah musibah yang ia dapat setelahnya. Andaikan waktu dapat diputar kembali, sepertinya dia akan menolak keras tawaran tersebut. Tapi entah kenapa, didalam hati kecilnya, dia tidak menyangkalnya—bahwasanya tidak ada penyesalan selama menguntit kehidupan pribadi pria dingin itu.
Dan kini dia berhadapan kembali setelah hampir dua tahun tak bertatap muka, apalagi sekedar mendengar suara satu sama lain.
“Maaf tuan,” Ucap Serena menunduk, dia tak sengaja menumpahkan minuman yang tengah ia bawah.
Ya, setelah dipecat secara tidak hormat. Dia kembali menata hidupnya sebagai pekerja di cafe pinggir pantai. Lumayan jauh, dari kota. Selama ini dia bekerja dengan baik, menghidupi dirinya dengan ketenangan jiwa yang tiada duanya. Hingga akhirnya, dia dikagetkan kembali oleh kenyataan, bahwa yang manis tidak selamanya bertahan.
“Wah, coba lihat ini. Ini siapa ya? Kok masih berani menampakkan batang hidungnya.” Suara itu membuatnya membulatkan matanya, tanpa melirikpun dia sudah tau itu suara siapa? Suara dari pria tampan yang telah mencuri hatinya.
Oh Tuhan, apakah inilah akhir dari hidupku?
Serena masih tertunduk lesu, dia tau betul pria yang ada dihadapannya itu tidak akan mudah melepaskannya begitu saja. Apalagi dia telah berani menyinggung kehidupan pria itu.
“Sera ... Lama tidak bertemu ya?” Ucapnya kembali namun penuh penekanan setiap katanya.
Mendongakkan kepala sambil tersenyum paksa. Bulu kuduknya berdiri, dia tau apa yang akan terjadi setelah ini.
“Aku akan datang kembali kesini menawarkan sesuatu, aku harap kamu tidak akan menolaknya!” Tekannya sekali lagi sebelum benar-benar pergi meninggal Serena yang masih mematung memandang punggung kokoh nan kekar itu, sebelum benar-benar hilang.
Tunggu dulu, menawarkan sesuatu? Tapi apa? Ujarnya dalam hati. Itu berarti pria itu akan datang kembali mengikatnya. Tamatlah sudah riwayat mu Serena. Haruskah dia pulang kerumahnya dan menerima lapang dada siapapun yang akan menikahinya? Tidak, dia tetap bersikeras bahwa dia bisa hidup tanpa bantuan ayahnya. Buktinya, dia baik-baik saja sampai sekarang ini.
Omongannya ternyata tepat, pria itu kembali. Nama pria itu adalah Eiser. Seorang Sekretaris yang selalu berdiri di balik punggung tuan mudanya. Bahkan ketika tuan muda itu hanya memanggil namanya saja, Eiser sudah langsung mengerti apa yang majikannya itu inginkan. Wah, benar-benar luar biasa.
Eiser datang kembali menawarkannya pekerjaan sebagai bodyguard istri daripada majikannya itu. Serena bahkan tidak diizinkan berpikir sedetikpun atau bahkan sekedar penolakan. Bagi Eiser, Serena harus menyetujui penawaran itu. Mau tidak mau harus mau.
***
Selama bekerja, rasanya aman-aman saja. Sebenarnya menjadi pengawal juga tidak buruk. Ditambah dia memang jago bela diri, menggunakan senjata api serta pandai menggunakan pisau. Hanya saja kemampuannya itu belum pernah ia tunjukkan, karena memang sekarang tidak ada musuh yang menyerangnya.
Mengawal Nona Jesslyn istri daripada tuan Albert ternyata tidak seburuk yang ada dipikirannya. Nona Jesslyn adalah orang baik yang hati lemah lembut. Mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu bersama layaknya sudah seperti saudara.
Panggilan telepon membuyarkan lamunannya. Daddy? Katanya dalam hati. Ada apa? Kenapa tumbeng sekali nomor yang tertera itu menghubungi.
“Ada apa?”
“Apakah kamu sudah melupakan kami sebagai orangtua mu?” Teriak ayahnya.
“Ish, gak usah berteriak gitu. Cepat katakan, ada apa dad?”
“Pulanglah, ada yang ingin Daddy bicarakan.”
“Sudahlah, kalau bahas pernikahan mulu aku tidak akan pernah pulang!”
“Serena Williams?”
“Tapi Daddy, aku sedang bekerja. Jadi aku gak bisa janjikan pulangnya kapan. Aku akan mencoba bicara dulu pada atasanku.” kemudian percakapan itu selesai begitu saja. Menyebalkan, gerutunya.
Setelah mendapat izin dari nona Jesslyn, akhirnya Serena punya waktu untuk pulang. Dia sangat merindukan ibunya.
Malam itu, hanya suara dentuman sendok yang terdengar sebelum percakapan serius benar-benar dimulai.
“Katakan, apa yang istimewa darinya?” Tanya ayahnya disela-sela keheningan.
“Apa maksud Daddy?”
“Apa yang membuatmu terpikat padanya? Padahal dia hanyalah seorang sekretaris!” Perlu digaris bawahi kata sekretaris dengan penuh penekanan.
“Dad? Apa Daddy mencari tahu tentangku selama ini? Jangan bilang Daddy mengirim mata-mata untukku.” Ujarnya kesal.
“Tentu saja! Kamu itu anakku, putri satu-satuku. Walaupun kamu menyebalkan, tetap saja kamu itu anakku.”
“Katakan pada Daddy satu hal istimewa tentang dirinya!”
“Oh my God, apakah Daddy akan merestui kami?”
“Tentu saja, kalau kamu dapat membawanya kemari. Membuat dirinya mengambil keputusan untuk keluar dari bayang-bayang albert.”
“Dad?”
“Daddy harus peduli semua itu. Tentu saja jika kamu menikah dengannya, harus ada yang menjalankan perusahaan Daddy! Kamu mengertikan maksud Daddy? Jadi coba kejar dia semampumu. Tapi kalau tantangan dari Daddy ini gagal, mau tidak mau kamu harus kembali kerumah ini dan mendengarkan keinginan daddy.”
Serena menelan salivanya dengan kasar. Ini adalah tantangan besar. Ayahnya memberikan waktu satu bulan untuk menaklukkan hati seorang Eiser. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dia mampu?
Setelah pertemuan dengan ayah dan ibunya Minggu lalu membuat wajahnya selalu kusut. Nona Jesslyn yang melihat itupun bertanya tentang apa yang terjadi padanya. Serena mulai menceritakan tentang bagaimana rasa sukanya kepada sekertaris Eiser. Karena tambah penasaran, Jesslyn pun bertanya bagaimana bisa mereka saling mengenal satu sama lain.
Serena bercerita bahwa ada satu moment dimana tujuannya adalah untuk mencari informasi apapun tentang Eiser. Ini adalah permintaan konyol dari atasannya dulu di kantor fashion. Karena tawaran dengan gimik uang dan keuntungan yang menggiurkan. Tentu saja Serena akan lakukan. Tanpa disadari, dia melupakan tujuannya karena sepertinya Serena benar-benar tertarik pada kehidupan Eiser. Eiser pun begitu welcome padanya, ternyata kata orang-orang bahwa eiser adalah pria kaku dan dingin itu salah—ternyata dia adalah pria yang hangat. Namun semua berubah ketika atasannya itu cemburu, dan memberitahukan secara diam-diam kepada Eiser bahwa Serena punya tujuan lain mendekatinya. Tentu saja Eiser marah dan merasa dipermainkan.
Sebenarnya untuk apa sih marah? Apa karena dia sebenarnya juga nyaman dan tertarik pada gadis itu? Gadis dengan mata sayup sleep eyes, serta hidung bottomnya yang mungil. Dan postur tubuhnya yang pendek dan kecil. Pokoknya dia benar-benar marah karena Serena telah berani mempermainkan perasaannya. Akhirnya, Serena ditendang dari perusahaan itu secara tidak hormat, bahkan tidak mendapatkan gaji sepersen pun. Eiser bahkan mengatakan untuk jangan pernah muncul dihadapannya, kalau tidak—tamatlah sudah riwayatnya. Dan entah angin apa yang membawa Eiser kembali mengikat gadis itu.
Sore itu dia ingin bersantai, menikmati cuaca sore dipantai sambil menunggu sunset tiba. Lalu tiba-tiba, seorang pelayan tak sengaja menumpahkan minuman kearah bajunya. Dia ingin marah, namun detik berikutnya dia tersadar bahwa gadis yang selama ini dia rindukan sekarang berdiri dihadapannya. Namun dia tidak boleh menampakkan wajah kegembiraan karena setelah sekian tahun, akhirnya dia dapat bertemu dengan Sera-nya kembali.
Disela-sela bercerita, Jesslyn sepertinya tertarik ke cafe tempat dimana Serena pernah bekerja. Tapi Serena mengatakan, bahwa tujuan kesana cukup jauh. Namun Jesslyn tetap ngotot mau kesana. Dia juga mengatakan bahwa dia yang akan bertanggung jawab pada Albert jika dia kena marah. Mau tidak mau, dia hanya bawahan yang harus mengikuti perintah atasannya. Serena membawa nona Jesslyn ke cafe tersebut. Benar-benar indah dan menakjubkan. Tapi detik berikutnya terjadi peristiwa yang tidak mengenakkan.
Ada satu pengunjung yang mabuk dan tidak sengaja menjatuhkan tubuhnya ke Jesslyn. Jesslyn langsung panik dan takut. Tapi Serena langsung menendang orang tersebut dan terjadilah perkelahian disana. Karena takut, Jesslyn kembali kedalam mobil sambil menghubungi suaminya. Albert marah besar, untuk apa mereka datang jauh kesana. Eiser yang mengetahui itu langsung menemui Serena dikamarnya.
“Kamu dipecat! Cepat kemasi barang-barang mu dan angkat kaki segera dari rumah ini.” Ucapnya tertunduk.
“Lah? Apa salah saya? Kok dipecat sih! Kan nona Jesslyn sendiri yang mau kesana. Bahkan aku sudah berusaha melindunginya dengan baik.”
“SERA! Aku tidak suka mengulangi perkataan ku.” Pungkasnya sebelum ia benar-benar kembali keruangan tuan Albert yang sudah menunggunya disana.
Dengan perasaan kesal, Serena menatap kembali rumah besar nan mewah itu untuk terakhir kalinya. Sepertinya kali ini dia kalah dari tantangan ayahnya. Bahkan pria itu sepertinya akan menjadi budak dibalik punggung Albert selamanya.
Sedangkan didalam ruangan itu sudah ada Jesslyn, Eiser dan Albert.
“Sayang, aku itu tidak apa-apa. Sera benar-benar melindungi ku dengan baik!” Bela Jesslyn.
“Jesslyn? Kau tau bukan, kamu itu adalah separuh nyawaku, apalagi sekarang kamu tengah hamil besar. Bagaimana bisa Sera membawamu ketempat jauh!” Rahangnya mengeras dengan tatapan tajam yang siap menerkam siapa saja yang berani bermain-main.
“Aku! Aku yang mau, Sera sudah menolak. Tapi tetap saja aku yang mau!”
“Eiser, panggil gadis itu kemari!”
“Tuan muda, aku sudah memecatnya.” Kata Eiser.
“Apa? Siapa yang menyuruhmu memecatnya? Dia itu tidak salah tau!” Ujar Jesslyn yang mulai kesal.
“Kalian berdua ini benar-benar menyebalkan.” Jesslyn langsung menangis dan berlari keluar dari ruangan tersebut. Dia sengaja melakukan trik itu agar Sera tidak dimarahi lagi karena keinginannya sendiri. Sedangkan, Albert mengejarnya sampai ke kamar.
“Sayang ...” Lagi-lagi Jesslyn kembali menjelaskan, tapi Albert mengatakan bahwa dia tidak akan memarahi gadis itu. Dia hanya ingin berterimakasih karena telah menjagamu dengan baik. Benarkah? Itu hanya dusta belaka.
Setelah peristiwa itu. Serena benar-benar back to home. Tapi kali ini dia tidak bersemangat, wajahnya suram dan seperti manusia yang hidup tanpa tenaga. Ibunya juga sudah berusaha keras menasihati ayah Serena untuk berhenti menjodoh-jodohkan putrinya itu. Dan ya, ayahnya mau menerima semua itu.
Sedangkan Eiser berusaha mencari gadis pencuri hatinya. Padahal sebelum mengusir Serena keluar dari rumah. Dia sudah memberikan secarik kertas berisikan alamat, agar Serena menunggunya disana. Tapi ternyata Serena tidak datang kesana, bahwa kan dia membuang kertas itu. Dia capek, selama ini dia sudah sangat berusaha menarik perhatian pria dingin itu. Tapi tetap saja Eiser cuek dan tak memberikan kode. Karena merasa diabaikan, Serena berhenti berharap. Dia kembali ke kota dimana dia berasal. Menjalani kehidupan yang seharusnya ia jalani. Sampai dimana pertemuan tak terduga mereka kembali terjadi.
Hari ini Albert dan Eiser akan keluar kota untuk menawarkan kerjasama dengan perusahaan besar yang bergerak di segala sektor. Mereka tidak akan menyangka, bahwa pemimpin perusahaan tersebut adalah Sera. Betapa terkejutnya mereka berdua saat Sera memasuki ruang rapat. Tentu saja Serena juga ikut terkejut. Lebih lagi Eiser, setelah sekian lama akhirnya dia bertemu kembali dengan pujaan hatinya.
Pulang dengan perasaan kacau balau. Oh ternyata Serena Williams namanya gadis itu. Dan ternyata dia tinggal disana. Menarik nafas dalam-dalam sembari memejamkan matanya. Mengingat betapa jauh berbedanya—dirinya dengan Serena. Tadinya dia pikir gadis itu adalah orang biasa-biasa saja, ternyata dugaannya salah. Bahkan gadis itu derajatnya lebih diatas lagi dari tuan Albert, majikannya. Haruskah dia mengejar cintanya?
Hingga tiba dimana persalinan Jesslyn dan melahirkan anak perempuan cantik. Dan tentunya Albert menggelar acara pengambilan nama pada putri kesayangannya itu yang baru saja lahir beberapa Minggu lalu. Dan keluarga Serena menjadi salah satu tamu diantaranya.
“Albert, bagaimana jika sekretaris mu itu untukku saja?” Ucap pria paruh baya itu.
“Paman ini bicara apa? Kalau mau, ambil saja. Heheh” Ucapnya terkekeh.
“Albert, putriku sangat tergila-gila dengan sekretaris mu itu.”
“Oh ya? Wah, sepertinya kamu harus segera menikahinya Eiser!” Ucap Albert pada Eiser. Dan mereka pun sesekali tertawa dalam perbincangannya. Tanpa disadari bahwa Tuan Williams ini adalah ayah dari Serena sekaligus teman baik ayah Albert semasa hidupnya. Dulu sempat ada perjodohan diantara mereka sejak kecil. Namun karena pekerjaan, ayah Williams harus pergi ke kota lain untuk membangun bisnisnya disana. Dan dimulai sejak itu, mereka tidak lagi pernah ketemu. Bahkan Williams tidak mengetahui kabsr kematian sahabat baiknya.
Setelah perbincangannya hangat itu usai. Eiser melirik kearah yang berbeda. Ada yang menarik perhatiannya. Ya, gadis cantik itu adalah Serena yang tengah tertawa dihadapan Jesslyn. Dia mengisyaratkan dengan tatapan mata bahwa dia ingin berbicara dengan gadis tersebut. Serena mengikutinya. Setelah lama berdiam diri. Akhirnya Eiser mengutarakan perasaannya selama ini yang tertahan didalam tenggorokannya. Dia mengatakan bahwa dirinya sudah lama menyukai Serena, mungkin saja sejak pertemuan pertama mereka yang tak disengaja disebuah mini market. Eiser hanya kesal, karena Serena mendekatinya bukan karena pure keinginannya tapi karena suruhan orang lain. Setelah kesalahpahaman itu diselesaikan. Akhirnya mereka menjadi dekat dan memutuskan untuk menikah. Eiser juga mengikuti keinginan Serena untuk menetap di kota kelahirannya semata-mata untuk memimpin perusahaan ayahnya. Albert sebenarnya berat hati, tapi dia tidak boleh egois. Mengingat betapa telatennya Eiser bekerja selama bersama dirinya. Dia juga mulai memikirkan kebaikan untuk Eiser. Dan Eiser dan Serena pun hidup bahagia bersama serta dikaruniai anak laki-laki yang tampan.
Tamat. ~
Terimakasih hahah