Di kota ini ada cerita kecil yang jarang dibicarakan keras-keras. Katanya, setiap kamar punya sudut yang tidak benar-benar kosong.
Kalau kamu mematikan lampu, menutup pintu, dan tidak bergerak cukup lama sesuatu akan berdiri di sana.
Bukan muncul.
Bukan datang.
Dia memang sudah ada.
Hanya menunggu kamu berhenti memperhatikannya.
Nina pindah ke kamar kos itu di awal musim hujan.
Bangunan tua tiga lantai, lorongnya sempit dan selalu bau lembap. Cat dinding mengelupas di beberapa bagian, seperti kulit yang tidak sengaja dikupas terlalu dalam.
Kamarnya kecil. Cukup untuk satu ranjang, satu meja, dan lemari kayu tua yang engselnya berderit setiap dibuka. Ia tidak keberatan. Ia hanya butuh tempat tidur dan pintu yang bisa dikunci.
Malam pertama, ia tidur tanpa masalah.
Malam kedua, ia terbangun pukul 02.58.
Ia tidak tahu kenapa. Tidak ada suara.Tidak ada mimpi.
Hanya perasaan seperti baru saja dipanggil pelan.
“Nina…”
Ia membuka mata.
Gelap.
Hanya cahaya samar dari luar jendela yang tertutup tirai tipis. Ia berbalik dan melihat jam di ponsel.
02.58.
Ia mengernyit.
Mungkin cuma kebiasaan tubuh menyesuaikan tempat baru. Ia kembali tidur.
Malam ketiga, ia terbangun lagi.
02.58.
Kali ini, tubuhnya terasa berat. Seperti ada yang memperhatikan. Ia menatap lurus ke depan. Ke arah sudut kamar di sebelah lemari. Sudut itu lebih gelap dari seharusnya. Padahal cahaya dari jendela seharusnya menyentuh dinding sana.
Tapi tidak.
Seolah gelapnya menelan cahaya.
Nina menelan ludah.
“Cuma bayangan,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia memalingkan wajah ke arah dinding.Menutup mata. Namun beberapa detik kemudian, ia sadar sesuatu.
Tadi sudut itu kosong. Sekarang terasa lebih penuh.
Bukan terlihat.
Terasa.
Seperti ada volume di dalam gelap itu. Ia menahan diri untuk tidak menoleh lagi.
Jangan.
Jangan beri bentuk pada sesuatu yang belum punya bentuk.
Ia tertidur dengan perasaan tidak nyaman.
Hari berikutnya, ia bertanya pada penjaga kos, Pak Seno. “Pak, kamar saya dulu siapa yang pakai?”
Pak Seno mengangkat bahu. “Banyak, Mbak. Datang pergi. Anak kuliahan.”
“Pernah ada yang… kenapa-kenapa?”
Pak Seno tertawa kecil. “Kenapa-kenapa gimana?”
“Ya… aneh gitu.”
Pak Seno berhenti tertawa.
Untuk satu detik terlalu lama.
Lalu ia menggeleng. “Kalau ada yang aneh, paling cuma tikus. Gedung lama.”
Nina tidak melanjutkan.
Tapi malam itu, ia menyalakan lampu tidur kecil sebelum memejamkan mata. Ia ingin melihat sudut itu. Memastikan tidak ada apa-apa.
Lampu menyala redup. Sudut kamar terlihat biasa saja. Dinding lembap. Bayangan lemari.
Kosong.
Ia tertidur.
02.58.
Lampu tidur mati.
Nina membuka mata.
Gelap total.
Dadanya langsung berdebar.
Ia ingat jelas menyalakan lampu. Ia tidak bergerak.
Pelan-pelan, matanya menyesuaikan dengan gelap.
Dan ia melihat sesuatu. Di sudut kamar. Ada perbedaan warna. Bukan hitam rata. Ada bentuk.
Tinggi. Terlalu tinggi. Kepalanya hampir menyentuh plafon.
Dan ia tahu sesuatu yang lebih buruk dari itu.
Itu menghadapnya.
Nina tidak berani bernapas keras.
Ia menghitung dalam hati.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tidak bergerak.
Ia menutup mata. Saat membukanya lagi sudut itu kosong.
Lampu tidur menyala kembali.
Tangannya gemetar.
Malam berikutnya, ia memutuskan untuk tidak tidur. Ia duduk bersandar di dinding, lampu menyala terang.
Jam menunjukkan 02.55.
Ia menatap sudut itu tanpa berkedip.
02.56.
02.57.
02.58.
Lampu padam.
Sekejap.
Tidak perlahan.
Seperti dipadamkan oleh tangan yang menutup cahaya. Gelap menelan kamar. Dan kali ini, ia melihatnya jelas.
Sosok itu tidak sepenuhnya padat. Seperti bayangan yang terlalu tebal. Tubuhnya panjang, kurus, dan tidak proporsional. Lengannya hampir menyentuh lantai. Wajahnya…tidak ada detail.
Hanya cekungan tempat mata seharusnya berada.
Kosong.
Namun ia tahu makhluk itu sedang menatapnya.
Nina membeku.
Ia tidak berkedip.
Karena ada perasaan aneh.
Bahwa selama ia melihatnya, ia tidak akan bergerak.
Detik berjalan lambat.
Tiba-tiba kelopak matanya terasa perih.
Air mata menggenang.
Ia tidak tahan.
Ia berkedip.
Hanya sepersekian detik.
Saat matanya terbuka—makhluk itu sudah lebih dekat.
Tidak lagi di sudut.
Sekarang berdiri di ujung ranjang. Tidak ada suara langkah. Tidak ada pergerakan yang ia lihat.
Hanya perubahan jarak.
Nina terisak pelan. “Pergi…”
Makhluk itu tidak menjawab.
Ia berkedip lagi, refleks.
Sekarang makhluk itu berdiri di samping ranjang.
Kepalanya miring.
Seperti sedang mempelajari wajahnya.
Nina tidak bisa menjerit.
Suaranya tersangkut di tenggorokan. Ia sadar polanya. Ia hanya bergerak ketika tidak dilihat.
Hanya saat mata terpejam. Ia mencoba menahan mata tetap terbuka.
Namun tubuh manusia punya batas. Kelopak matanya berat. Ia tahu jika ia tertidur—ia tidak akan bangun sendirian.
Air mata mengalir.
Ia memaksakan diri menatap.
Makhluk itu perlahan mengangkat satu tangan.
Jarinya panjang.
Terlalu panjang.
Ujungnya hampir menyentuh pipi Nina.
Ia tidak berkedip.
Tidak berkedip.
Tidak—
Kedua matanya terpejam sepersekian detik. Dan jari itu sudah menempel di kulitnya.
Dingin.
Bukan seperti es.
Tapi seperti kulit orang mati yang lama terendam air.
Nina menjerit.
Lampu menyala kembali.
Kamar kosong.
Ia terisak, memeluk lututnya. Di pipinya, ada bekas lima garis tipis. Keabu-abuan.
Sejak malam itu, Nina tidak pernah tidur tanpa lampu menyala. Namun masalahnya bukan lagi soal gelap. Masalahnya adalah berkedip. Ia mulai takut berkedip terlalu lama.
Di kelas, di jalan, di kamar mandi. Setiap kali matanya terpejam—ia merasa ada perubahan kecil di sekitarnya.
Benda-benda bergeser sedikit. Bayangan lebih panjang dari sebelumnya.
Suatu siang, ia berdiri di depan cermin kamar mandi kos. Ia menatap pantulannya.
“Ini cuma stres,” katanya pelan.
Ia berkedip.
Saat matanya terbuka—di belakangnya, di sudut kamar mandi sempit itu, sosok tinggi itu berdiri.
Tidak lagi transparan.
Lebih padat.
Lebih jelas.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak bisa.
Karena makhluk itu kini tersenyum. Senyumnya bukan dengan bibir.
Tapi dengan retakan di wajah kosongnya. Dan untuk pertama kalinya, ia berbicara.
Suaranya seperti angin masuk ke botol kosong.
“Semakin sering kamu melihatku semakin nyata aku jadi.”
Nina terhuyung mundur.
Ia berkedip lagi.
Makhluk itu hilang.
Tapi bau aneh tertinggal.
Bau lembap.
Seperti tanah kuburan yang baru digali.
Ia mencoba tidur di kamar temannya malam itu.
Ia tidak menceritakan apa-apa.
Ia hanya ingin kamar berbeda.
Tempat berbeda.
Malam itu, ia terbangun pukul 02.58.
Di kamar temannya. Lampu mati sendiri. Dan sudut kamar yang bukan miliknya—juga memiliki sosok yang sama.
Tinggi.
Menghadapnya.
Nina menangis.
“Kenapa aku?”
Makhluk itu menjawab.
“Kamu yang melihat lebih dulu.”
Ia berkedip.
Makhluk itu kini duduk di tepi kasur. Temannya masih tertidur, tidak menyadari apa-apa.
“Kenapa dia tidak melihatmu?” bisik Nina.
“Karena dia tidak mencari.”
Nina terdiam.
Ia teringat malam pertama. Ia memang melihat sudut itu lebih lama dari biasanya. Ia memang penasaran. Ia memang mencoba memastikan.
Ia yang memberi bentuk pada gelap. Ia yang mengakui keberadaannya. Dan sekarang, sesuatu yang tadinya hanya kemungkinan—menjadi nyata.
Malam berikutnya, ia memutuskan satu hal.
Ia tidak akan berkedip.
Tidak akan memejamkan mata.
Ia duduk bersandar di dinding, meminum kopi pahit berulang kali.
02.58.
Lampu padam.
Makhluk itu muncul.
Kini berdiri tepat di depan wajahnya.
Begitu dekat hingga ia bisa melihat tekstur kulitnya.
Seperti kain basah yang robek.
“Lelah?” bisiknya.
Nina gemetar.
Matanya panas.
Air mata terus mengalir.
Namun ia tetap menatap.
Makhluk itu mengangkat kedua tangannya.
Menyentuh kelopak mata Nina.
Lembut.
Dingin.
Dan mendorongnya turun.
“Tidurlah.”
Kelopak matanya menutup.
Dan dalam gelap itu—ia merasakan sesuatu masuk.
Bukan ke tubuhnya.
Ke ruang di belakang matanya. Ke tempat mimpi seharusnya berada.
Pagi itu, Pak Seno mengetuk kamar Nina.
Tidak ada jawaban.
Ia membuka pintu cadangan.
Lampu kamar menyala.
Nina duduk di sudut ranjang. Matanya terbuka lebar.
Tidak berkedip.
Senyumnya tipis.
“Ada apa, Mbak?” tanya Pak Seno pelan.
Nina perlahan menoleh.
Gerakannya tidak natural.
Seperti sendi yang terlalu kaku.
“Sekarang saya tidak perlu takut tidur lagi, Pak.”
Suaranya terdengar normal.
Tapi matanya…
matanya kosong.
Dan di sudut kamar—tidak ada apa-apa lagi.
Karena yang dulu berdiri di sana—sudah tidak perlu berdiri. Ia sudah punya tempat baru.
Di balik mata Nina.
Kalau malam ini kamu terbangun pukul 02.58…
dan merasa sudut kamarmu sedikit lebih gelap dari biasanya—jangan menatapnya terlalu lama.
Dan kalau kamu melihat sesuatu berdiri di sana—
jangan berkedip.
Karena mungkin…dia hanya menunggu kamu mengakuinya.
Dan setelah kamu melihatnya dengan jelas—
dia tidak akan perlu berdiri di sudut lagi.
Dia akan berdiri jauh lebih dekat.
Di sisi ranjangmu.
Menunggu kamu lelah.
Menunggu kamu memejamkan mata.
Menunggu tempat tinggal yang baru.