Cairan biru itu masih terasa dingin saat mengalir melalui pembuluh darahnya, sebuah racun sistematis yang dirancang untuk membakar setiap lembar memori di otak Shaneen Tizon. Saat dia membuka mata, dunia terasa seperti kanvas putih yang kosong. Di hadapannya, seorang pria dengan senyum kemenangan menunjukkan sebuah lencana dan berbohong tentang siapa dirinya. Mereka menyebutnya 'Asset 0', sebuah pion tanpa masa lalu yang diciptakan untuk mematuhi perintah.
“Dimana aku? Kamu siapa dan apa yang telah terjadi?” Ucap Shaneen yang kebingungan.
Shaneen terbangun di sebuah ruangan tanpa jendela, menatap kosong pada pria yang mengaku sebagai penyelamatnya atau bukan lain sebagai kakakknya. “Kau tidak punya siapa-siapa selain kakakmu ini, ibu dan ayah telah meninggal akibat ulahmu,” ucapnya.
“Oh, benarkah?” Tanya Shaneen lagi dengan masih perasaan yang sama, yaitu antara bingung dan curiga.
“Iya, aku kakakmu Mark. Dan namamu adalah Asline. Gara-gara kamu membunuh salah satu anak buahnya, ayah menjadi bahan fitnah dan dia menghukum ayah tanpa ampun, bahkan melibatkan ibu. Itu karena ulahmu!” Tekannya sekali lagi dengan nada sedikit meninggi, seolah-olah dia marah pada gadis yang baru siuman itu.
“Ulahku? Memangnya kenapa? Kenapa aku harus membunuh anak buahnya?” Tanyanya kembali.
“Tentu saja karena ulahmu, kami sekeluarga tidak tahu bahwa kamu adalah pembunuh bayaran. Ibu dan ayah syok mendengarnya. Saat aku pulang, mereka sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Setelah ini, mungkin mereka akan menargetkan kita sebagai sasaran selanjutnya.” Tegasnya.
“Kau harus membalas semua ini Asline. Sepertinya hanya kau yang bisa melakukan semua ini.” Ucapnya kembali meyakinkan Shaneen. Padahal dia sedang berusaha mencuci otak gadis yang ada dihadapannya itu.
Menanamkan memori palsu ke dalam jiwanya yang sedang rapuh. Shaneen mengangguk, menunjukkan wajah 'pion' yang sempurna—kosong dan penurut. “Reins Miguel tamatlah riwayatmu.” Gumamnya disertai dengan sedikit senyuman yang diwajahnya, tapi tentunya tidak dia tampakkan dihadapan Shaneen.
Sepertinya mereka salah tangkap orang. Mereka pikir yang dijadikan pionnya adalah Asline si pembunuh bayaran, tapi ini hal yang paling mengejutkan adalah seharusnya mereka tidak berurusan dengan gadis yang ada dihadapannya itu. Gadis yang berbahaya dan hanya sedikit ataupun bahkan tidak ada yang mengetahui itu.
Shaneen Tizon, sepertinya bukan lagi gadis imut tapi wanita matang dengan usia 27 tahun. Dunia gelap menyebutnya “Perempuan Gila” wanita paling bahaya. Cerita-cerita tentang aksinya yang selalu memakai topeng cantik yang hanya menutupi mata sampai batang hidungnya saja—bukanlah cerita belakang. Julukan perempuan gila itu, siapa yang tidak mengenalnya. Kelas-kelas atas sudah pasti tau siapa dia, tapi hampir sepenuhnya, mereka tidak tau seperti apa wajah perempuan gila itu.
Harusnya dia sudah pensiun karena kemauan ibunya untuk berhenti didunia gelap seperti itu. Tapi sepertinya, darah ayahnya begitu mengalir deras di dalam tubuhnya. Menghabisi musuh tanpa ampun. Dia bahkan pandai menggunakan pisau, dan juga instingnya serta teknik akupuntur yang mana dia tau titik saraf lemah dalam tubuh manusia.
Saat julukan itu disebut, orang-orang yang mendengarnya sudah pasti tau bahwa dia bukanlah wanita sembarangan. Bahkan ada satu peristiwa yang mana dia melumpuhkan lawannya tanpa memegang senjata apapun. Itulah kerennya dia, dan itulah mengapa kebanyakan orang yang mengenal julukan itu tidak mau berurusan dengannya.
Tapi sepertinya Mark dan rekannya sedang dalam musibah besar. Dia telah berani membangunkan monster untuk dia jadikan pion. Entah apa yang akan terjadi, bila ingatan Shaneen kembali.
Malam itu terjadi tragedi besar disebuah hotel yang didalamnya sedang melakukan pesta pernikahan. Shaneen pikir aman-aman saja karena selama ini musuh tidak pernah mengenalinya, apalagi dia sudah hampir 1 tahun pensiun dari dunia gelap itu. Tak ada kesiapan, apalagi berjaga-jaga seperti membawa senjata. Hei, santai saja, ini adalah perayaan pesta pernikahan salah satu sahabatnya. Jadi moment ini adalah harusnya menjadi moment yang paling bahagia.
Dor..Dor..
Suara tembakan menggema di dalam hotel tersebut. Para tamu mulai berjatuhan dan ada juga yang bersimpuh meminta belas kasihan. Tapi sepertinya mereka telah menargetkan seseorang untuk dia tangkap.
Shaneen dan keluarganya telah sepakat, bahwa jika ada hal terjadi seperti sekarang ini. Mereka harus bertindak seperti orang yang tidak mengenal satu sama lain.
Karena panik, Shaneen tidak tau harus apa. Dia sudah ingin melakukan aksinya menyerang lawan. Tapi beberapa detik kemudian, ayahnya telah memasang badan untuk menghalangi tiga peluru sekaligus yang ingin menghadang putri semata wayangnya itu.
“Lari nona,” teriak Tuan Tizon yang menjadi ayah Shaneen.
Dia begitu kaget, di sertai kebingungan. Dia bukanlah tipe yang lari begitu saja. Namun malam ini, sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya. Dalam hitungan detik, seseorang telah membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dan disinilah dia berada dalam kondisi tidak ingat apa-apa.
Namun, jauh di lubuk hatinya, obat itu sepertinya gagal mematikan insting predatornya. Mereka pikir mereka telah menjinakkan badai, namun entah apa yang akan terjadi setelah ini.
***
Setiap detak jantung terasa seperti pengingat bahwa ada sesuatu yang hilang. Shaneen menatap botol-botol sisa cairan kimia di sudut ruangan, menyadari bahwa ingatan yang ia miliki sekarang hanyalah kepingan buatan yang dipaksakan masuk ke kepalanya. Mereka ingin menjadikannya mesin pembunuh yang loyal, sebuah pion cantik yang akan menarik pelatuk tanpa bertanya mengapa. Namun, saat misi pertama diberikan, Shaneen merasakan sensasi yang tidak bisa dijelaskan oleh sains mereka: Déjà vu. Saat melihat targetnya, seperti teringat seseorang tapi siapa? Dengan berbagai cara dia lakukan agar bisa mendekati targetnya itu.
Reins Miguel, penguasa terkaya di California. Keluarganya juga termasuk salah satu mafia dan orang-orang sudah pasti takut menyinggungnya apalagi berhadapan dengan mereka. Sudah sejak dulu, mereka disegani dan ditakuti. Orang-orang menyebutnya keluarga paling berbahaya. Namun sepertinya, musuh kali yang mendekatinya bukanlah orang sembarangan.
Shaneen hadir sebagai Asline, karakternya benar-benar berbanding terbalik dengan dirinya yang asli. Jika dirinya yang asli adalah orang yang paling galak dan suka marah-marah. Kali ini, dia menjadi wanita yang unik serta konyol. Berbagai cara telah ia lakukan agar Reins mau menerima dirinya sebagai karyawan. Rasanya Reins malas sekali berhadapan wanita aneh yang hampir setiap hari selalu datang dengan penampilannya yang sinting itu. Ya, Shaneen berpenampilan seperti Betty la fea. Walaupun sebenarnya dia masih memiliki kesan imut diwajahnya. Tentu saja, Reins mengira ini adalah gadis teraneh yang pernah ia temui.
“Ayolah tuan, terima aku bekerja ditempat mu.”
“Kalau kau ingin bekerja, jangan memohon padaku. Berikan berkas mu kepada HRD, biar dia yang menyeleksi dirimu.”
“Tapi aku ingin langsung pada pusatnya.”
Oh my God, demi Tuhan. Reins benar-benar ingin melempar gadis itu jauh-jauh. Setiap pagi, gadis itu selalu menyambutnya agar dirinya mau diterima bekerja oleh Reins.
Ya, Mark telah mencuci otak Shaneen agar dia bisa menjadi orang kepercayaan Reins. Mengambil hatinya, lalu melakukan aksinya. Tentu saja dengan berbagai rangkaian cerita kebohongan telah ia lontarkan agar Shaneen percaya. Namun dia lupa, Shaneen bukanlah orang sembarangan. Tentu saja, selama Mark memantau dirinya. Dia akan bergerak sesuai perintah. Jangan bilang dia gadis bodoh yang tidak curiga sama sekali. Instingnya yang begitu kuat, membuatnya berpikir dan mengambil langkah yang begitu pelan. Dia bukanlah gadis bodoh, dia akan menunggu dirinya sampai ingatannya sembuh. Barulah dia beraksi.
Setelah bekerja selama beberapa minggu ini bersama dengan Reins. Reins pikir dia sepertinya tertarik dengan gadis aneh ini. Walau dia terlihat begitu berantakan, namun siapa yang mengira bahwa dia adalah gadis cantik yang sengaja menyamar sebagai gadis jelek.
Reins terus memandangi wajah Shaneen yang terlelap diatas sofa yang ada didalam ruangan—dikantornya tersebut. Entah apa maksud dan tujuan gadis itu terus mendekatinya. Tapi menurutnya, gadis imut ini tidaklah berbahaya pikirnya.
Lambat laung hubungan mereka bertambah dekat. Reins anak kedua dari tiga bersaudara, dia memiliki kakak laki-laki yang sudah menikah, memiliki istri dan juga anak kembar tiga. Serta adik perempuan yang sangat ia sayangi. Sepertinya adiknya itu akan segera menyusul, tapi kapan dirinya? Ibunya selalu saja menanyakan hal tersebut, kapan menikah? Atau jangan-jangan anak laki-lakinya itu tidak tertarik dengan lawan jenis. Hahah, yang benar saja nyonya Miguel.
Tapi seperti yang dikira. Reins memang tertarik bukan lagi sedikit tapi banyak, dia sangat penasaran pada Shaneen ini. Siapa gadis imut itu? Dan darimana dia berasal. Shaneen menutup rapat-rapat mulutnya agar Reins tidak tau apa-apa tentangnya.
Reins mencoba mencari tau, tapi yang dia dapatkan hanya data diri Asline Williams dan juga mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Mark Williams. Selebihnya tidak ada. Bahkan tempat tinggal pun, dia tidak tau. Yang Shaneen katakan bahwa dia lupa ingatan dan menyuruh Reins berhenti kepo soal kehidupannya. Tapi bukan keluarga Miguel jika dia tidak berusaha mengambil hati seseorang sampai ia dapatkan.
Hubungan mereka semakin akrab, bahkan Reins menyatakan perasaannya tentang bagaimana Shaneen telah mencuri hatinya. Tapi Shaneen tetap menyuruh Reins untuk menjaga batasannya sampai dia benar-benar sudah ingat siapa dirinya. Reins mengerti dan akan mau menunggu. Sedangkan Shaneen, sepertinya sudah lupa tentang tujuannya. Bukan lupa, tapi pelan-pelan. Dia bukanlah orang ceroboh, walau dia tidak ingat apa-apa, tapi instingnya selalu kuat.
Malam ini, perayaan anniversary pernikahan kedua orang tua Reins yang digelar secara kekeluargaan saja. Saat semua orang sibuk bersorak gembira, Shaneen mulai gelisah sepertinya ada yang tidak beres dengan perasaannya. Keringatnya mulai bercucuran sampai detik berikutnya dia berteriak, “Tidak...” lalu kemudian setelahnya dia tidak sadarkan diri. Reins yang melihat itu panik, meminta maaf pada keluarga yang hadir lalu membawa Shaneen masuk kedalam kamarnya.
Soya, selaku kakak ipar Reins dengan langkah terburu-buru segera mengambil ponsel lalu menghubungi dokter.
Selama ini, keluarga Reins sangat baik serta hangat kepada Shaneen. Tentu saja karena rasa nyaman dan aman itulah yang membuat Shaneen berpikir dua kali, untuk apa keluarga ini membunuh ayah dan ibunya? Mereka adalah orang-orang yang baik. Dan kalaupun targetnya adalah dirinya, kenapa dia merasa Reins begitu mencintainya. Soya juga menjadi sahabat baik Shaneen selama ini, bahkan Shaneen juga memberitahukan tujuannya mendekati Reins. Tapi Soya sudah memperingatkan bahwa keluarganya bukanlah orang sembarangan, dan kalau berani menyinggungnya maka tidak ada tempat untuk pulang. Kalau gadis biasa-biasa yang diberitahukan, mungkin saja dia sudah kabur. Tapi ini Shaneen, menurutnya untuk apa takut?
Perlahan, matanya mulai terbuka. Sesuai dugaan, bahwa ingatannya telah kembali berkat bantuan Reins yang selalu menemaninya berobat. Ternyata selama ini obat sakit kepala yang diberikan Mark adalah obat anjing gila, yang mana kalau dikonsumsi manusia akan berakibat fatal, bisa saja berakhir gila atau kelumpuhan pada organ tubuh.
“Sialan kau Mark, aku benar-benar tidak akan memaafkan mu.” Umpatnya dalam hati.
Shaneen menatap orang yang tidur terlelap dalam dekapannya. Orang itu adalah Reins. Dia menatap wajahnya dengan sangat lekat. Untuk pertama kalinya dia merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang pria yang bahkan dia sendiri tidak kenal. Pria itu juga bahkan memberikan perlindungan dan kenyamanan pada dirinya. Selama hilang ingatan, ke obsesiaannya terhadap uang begitu meningkat, padahal dirinya juga bukanlah orang sembarangan, bahkan lebih kaya dan diatas Reins Miguel ini. Tapi pria dihadapannya itu seakan apa yang dia ingin bahkan sekalipun dunia, Reins akan berikan kepadanya.
“Kau sudah bangun?” Tanya Reins disela-sela dimana ia mendapati Shaneen begitu menatapnya dengan intens. Dia sudah siap dengan konsekuensi yang akan terjadi pada detik selanjutnya.
Shaneen terbangun dan duduk dipinggir ranjang, “Reins, apakah kamu akan tetap mencintaiku walau karakter diriku sebenarnya bukanlah seperti sekarang ini?” Apa maksud pertanyaan Shaneen ini. Shaneen takut jika Reins tidak menginginkannya lagi, ditambah dia adalah wanita berbahaya. Sedangkan selama ini, Reins mengira dia gadis polos dan lemah.
“Tentu saja, walau diawal aku menyukaimu karena kamu berbeda dari biasanya. Tapi sekarang aku sadar, aku jatuh cinta pada matamu yang cantik.”
Mata sayup yang orang-orang sebut Sleep eyes menjadi kecantikan tersendiri dalam diri Shaneen. Bibir bawah yang lebih tebal dari bibir atasnya, serta hidung bottomnya yang mungil menambah kesan cantik diwajahnya. Dia berbalik memastikan perasaannya kembali. Mau bagiamana pun, dia sudah terlanjur masuk kedalam permainan musuh. Tapi kenapa namanya harus Asline? Apakah orang-orang itu adalah musuh Asline? Karena mereka mengira Shaneen adalah Asline dan dijadikan pula sebagai pion. Shaneen juga tau, Asline adalah seorang pembunuh bayaran. Dan yang tau hanya dirinya, ayahnya dan juga suaminya itu. Karena hari itu, Asline akan menikah. Asline sudah lama bekerja sebagai asisten pribadi Shaneen. Pembunuh bayaran adalah kerjaan sampingannya. Shaneen pun sudah menganggap Asline sudah seperti saudara sendiri. Itulah sebabnya, dirinya dan juga ayah dan ibunya turut hadir di pesta pernikahan Asline. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Yang dia tau, seseorang telah menembakkan peluru padanya tapi dihadang oleh ayahnya. Dia sekarang ingin tau kondisi keluarganya.
Meminta izin untuk diberikan waktu sendiri. Shaneen ingin tau, apa yang akan musuh lakukan setelah ini. Tapi baginya, ada satu orang yang dia curigai didalam rumah Reins. Reins pun mengiyakan permintaan Shaneen untuk tidak diganggu beberapa hari karena ingin menenangkan diri. Sejujurnya dia sangat ingin menemani Shaneen dan mungkin ingin tau, apa yang telah terjadi pada wanitanya itu.
Shaneen akan melakukan permainannya sendiri. Dia bukanlah wanita yang lemah, musuh seperti Mark, Cleo dan Nick baginya hanya sejengkal tai kukunya saja.
Tentu saja selama kepergian Shaneen, Reins tidak tinggal diam. Dia ingin tau, apa yang dilakukan oleh wanita itu. Namun sepertinya Reins kehilangan jejak Shaneen. Dia hanya melihat gadis itu masuk ke dalam apartemennya namun tidak ada pergerakan setelah itu. Apakah dia harus menyusul wanita itu, dia ingin tau apa yang Shaneen lakukan. Tapi Soya mencegah adik iparnya itu. Sesama wanita, dia pasti tau tentang perasaan Shaneen. Apalagi Shaneen sudah bercerita, bahwasanya Keluarga Miguel telah menghabisi keluarganya. Tapi itu hanya kecurigaan saja tanpa sebab. Dan untuk apa, hanya karena salah satu anak buahnya mati keluarga Miguel harus sampai sampai membunuh kedua orangtuanya. Tentu saja, walaupun dia kaluarga mafia, tapi dia tidak sembarangan membunuh musuh, itupun harus perkara besar. Tapi kalau hanya secuil itu, ya untuk apa. Dan ini masuk akal bagi Shaneen, itulah sebabnya dia pulang ke New York untuk mengetahui segalanya.
Langkanya sedikit terburu-buru memasuki rumah besar nan mewah itu. Setelah menghubungi asisten pribadinya, yang merupakan kepercayaan ayahnya. Dia langsung dijemput tapi secara diam-diam, karena dia tau Reins pasti cari tau tentang dirinya.
Setibanya dirumah, ternyata ayahnya masih koma akibat tembakan tiga peluru dibalik punggungnya. Sedangkan ibunya baik-baik saja, hanya sedikit luka dikakinya akibat seseorang menembak kakinya saat berusaha melarikan diri. Shaneen tersulut emosi, beraninya mereka bermain-main dengan dirinya. Setelah menyusun rencana yang begitu rapih. Shaneen akan melakukan aksinya. Dia ingin tau, sehebat apasih ketiga manusia iblis itu.
Mendapatkan kabar bahwa ternyata target utama mereka adalah ketiga anak kembar yang tak berdaya itu. Mereka melakukan aksi gila itu untuk meracuni ketiga anak Victor (Kakak Reins). Kurang ajar, berani sekali mereka! Teriak Victor saat mendapat kabar dari Shaneen bahwa ada salah satu pelayan yang bersekongkol dengan musuh untuk melancarkan aksinya.
Shaneen bukanlah wanita biasa. Lihat kedua manusia tak berdaya itu. Yang satunya bernama Mark telah mati satu Minggu yang lalu akibat suntikan racun yang sengaja Shaneen buat khusus untuk Mark. Dimana racun itu akan perlahan membuat organ tubuh akan menghitam, mati rasa lalu perlahan membusuk. Itu tidak seberapa dengan apa yang telah ia lakukan pada Shaneen. Inilah akibat karena telah berani bermain-main dengan perempuan gila. Sedangkan ketua utamanya sudah tak berdaya karena Shaneen telah menekan beberapa saraf pada tubuh Nick, dia menjadi seperti manusia lumpuh tapi kali ini beda, manusia lumpuh ini akan menjerit kesakitan bilang salah satu organ tubuhnya bergerak atau ada yang sengaja menyentuhnya. Sedangkan Cleo, mantan kekasih Victor. Dia digantung oleh Shaneen dan hanya berdiri diatas bangku kecil sebagai penopang kakinya.
“Tolong kasihani aku!” Ucap Cleo yang memohon.
“Dengar Cleo, sepertinya kamu adalah wanita pertama yang mungkin aku siksa. Dan kamu, beraninya kamu menembakkan tiga peluru pada punggung ayahku!”
“Tolong! Ini hanya kesalahpahaman.” Teriaknya.
“Salah paham maksudmu? Ayahku bahkan belum sadar dari komanya akibat ulahmu, dan sekarang kamu minta dikasihani dan mengatakan ini hanya salah paham?” Amarah Shaneen membuncah. Sialan, berani sekali mereka.
Duduk dengan santai sambil mengisap rokok yang ada ditangannya. Apa jadinya bila Reins tau, bahwa dia bukanlah wanita baik-baik terlebih lagi lemah lembut seperti yang dikiranya.
Dia kembali menulis sepucuk surat, dan bertuliskan:
“Reins, aku minta maaf. Sepertinya hubungan kita hanya sampai disini! Tolong hargai keputusanku, setelah ini jangan pernah mencariku lagi. Dan ku mohon, aku serahkan kedua makhluk sinting itu untuk kau siksa. Aku percaya padamu!” –By Perempuan Gila.
Reins meremas kertas itu. Apa ini? Shaneen pergi meninggalkannya. Dia pikir Shaneen akan datang meminta bantuannya. Tapi lihatlah, Shaneen bahkan menghabisi musuh dengan tangannya sendiri. Sebelum memasuki bangunan yang belum selesai itu. Banyak orang yang sudah bersimbah darah di mana-mana. Ya, keluarga Miguel turun tangan langsung dan ingin ikut serta membantu Shaneen. Karena mereka menerima telepon, bahwa Shaneen ada ditangan mereka. Tapi apa yang mereka lihat pertama kali saat turun dari mobil. Para mayat telah menyambutnya. Mayat yang berserakan dimana-mana akibat telah membangunkan monster yang tengah beristirahat.
Setelah kekacauan semua itu telah beres. Sesuai perintah, Reins benar-benar menghukum kedua orang itu. Mereka mati dengan cara mengenaskan. Tentu saja tidak mudah mereka berdua mati, setiap hari meminta agar kematiannya lebih cepat. Tapi Victor benar-benar menghukum mereka karena mencoba ingin membunuh ketiga anaknya. Dan Cleo, adalah mantan sekaligus manusia terbodoh yang telah berani menyinggung keluarga Miguel.
Setelah dua tahun peristiwa itu lewat. Shaneen dan Reins benar-benar tidak pernah bertemu lagi. Reins juga begitu, dia orang yang tidak mudah jatuh cinta. Dia kembali menjadi manusia dingin, kejam dan kaku. Tidak ada lagi wanita yang berani mendekatinya, hanya satu waktu itu, itupun hanya Shaneen tidak ada lagi setelahnya. Shaneen pun begitu, memulai hidupnya seperti biasa. Ibu dan ayahnya juga sudah sembuh. Mulai sekarang dia benar-benar akan bertobat sesuai keinginan ibunya untuk menjadi manusia sewajarnya saja.
Dan pada saat itu, satu keluarga Miguel berlibur ke New York. Karena memang ibu Reins berasal dari sana. Sekalian berziarah kubur dimakam kakek dan neneknya. Tapi sepertinya jodoh tidak akan kemana. Sore itu, ibu Reins pergi berbelanja di salah satu mall terbesar di New York. Dan tak sengaja berpapasan dengan Shaneen, gadis yang telah berhasil mencuri hati putranya.
“Asline?” Panggilnya, sedangkan yang dipanggil merasa mengenal suara itu. Dia pun memutar tubuhnya kebelakang dan menatap siapa yang memanggilnya dengan sebutan Asline?
“Aunty? Apa yang aunty lakukan disini.” Tanya Shaneen.
“Bagiamana kabarmu Asline? Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa menerima rasa terimakasih kami karena bagaimanapun kamu telah menyelamatkan ketiga cucuku.” Ucapnya sembari menggenggam tangan Shaneen.
“Pertama-tama, namaku Shaneen Tizon aunty bukan asline.” Shaneen pun menjelaskan kenapa dirinya memilih menjauh bukan tanpa sebab. Ternyata obat yang pernah Mark suntikan kedalam tubuhnya membawa dampak buruk.
Setelah kembali ke New York waktu itu, disela-sela dia menyusun rencana. Dia pun bolak balik rumah sakit untuk berobat, memeriksa dirinya karena terkadang sakit kepala itu masih saja sering kambuh. Dokter juga mengatakan, bahwa kemungkinan besar dia tidak akan hamil dan kalaupun hamil, sudah pasti anaknya akan terlahir cacat. Baginya, Reins adalah manusia yang sempurna. Dia tidak boleh egois hanya karena dia sangat mencintai laki-laki itu. Dia ingin Reins hidup bahagia, namun perkiraannya salah. Justru malah sebaliknya, Reins menutup diri dari perempuan manapun. Dan ibu Reins yang mendengar itupun langsung mengatakan, bahwa dia tidak pernah sedikitpun mempermasalahkan hal itu. Baginya sesama wanita, bahwasanya manusia tidaklah sempurna seperti yang Shaneen kira.
Keluarga Reins pun berangkat kerumah Shaneen bermaksud untuk menyatukan dua keluarga hebat ini. Tuan San Miguel tentu saja tau siapa Shaneen ini. Ternyata dia dulu pernah menolongnya dengan menggunakan topeng dan menyebut namanya sebagai perempuan gila. Tuan San Miguel langsung teringat akan julukan itu. Siapa yang tidak mengenal julukan perempuan gila itu? Sepertinya dunia gelap selalu tau nama itu jika disebut. Tuan San juga menjelaskan, bahwa Shaneen bukanlah perempuan biasa. Dan Reins tentunya bahagia, ternyata dia mendapatkan wanita yang begitu keren.
Hingga akhirnya mereka menikah, lalu dua tahun kemudian mereka dikaruniai oleh anak kembar sepasang laki-laki dan juga perempuan. Tentu saja ini adalah kabar yang sangat bahagia, bahwa anak mereka lahir dengan sempurna tanpa cacat sedikitpun. Hanya saja anak kembar mereka sepertinya anak istimewa. Karena diusianya yang 5 tahun, mereka sudah pandai meretas komputer dan satunya lagi si perempuan yang cerewet seperti ibunya.
Selesai ~
Terimakasih hahaha.