Pelukan sinar matahari pagi yang mengkilap di kaca jendela kamar itu terasa seperti sentuhan lembut yang tak diinginkan. Ranika berdiri di sana, pundaknya sedikit membungkuk karena tas ransel yang masih terpasang, sementara tangan kirinya erat menggenggam sekumpulan kertas yang sudah mulai menguning di ujungnya. Di sisi kanan jendela, selang infus bergoyang perlahan seiring hembusan angin yang masuk dari celah kaca yang tidak tertutup rapat—suara desirnya seperti bisikan yang selalu ada tapi tak pernah jelas apa yang dikatakannya.
Surat kabar itu bukan yang biasanya dia beli di warung koran dekat gang belakang rumah. Tak ada nama penerbit di sampulnya, hanya tulisan tangan yang kasar berwarna hitam pekat: “BERITA YANG PERLU KAU TAU.” Ketika dia menemukan koran itu bersarang di bawah bantal tempat ibunya dulu suka tidur siang, rasa aneh menyelimuti dirinya—ibunya sudah tiga bulan tak ada di sana lagi, meninggal karena penyakit yang dokter tidak pernah bisa jelaskan dengan pasti. Kadang Ranika merasa bahagia bisa menemukan sesuatu yang masih menyimpan bekas hangatnya, tapi sesaat kemudian rasa sakit seperti duri kecil menusuk dalam dadanya.
Dia mulai membaca baris demi baris. Isinya bukan berita umum seperti kecelakaan atau pesta rakyat di kota. Setiap kolomnya bercerita tentang orang-orang yang dia kenal: Pak Solmed dari toko kelontong yang selalu memberikan permen ekstra padanya saat kecil—koran itu menulis dia “akan menemukan sesuatu yang hilang sejak lama” tiga hari sebelum dia benar-benar menemukan kotak perhiasan ibunya yang hilang selama lima tahun di bawah lantai tokonya. Bu Bunga tetangga sebelah yang sering mengirimkan makanan ke rumahnya—koran itu menyatakan dia “akan menangis dan tertawa dalam waktu yang sama” tepat satu minggu sebelum putranya yang hilang puluhan tahun tiba-tiba muncul di pintunya, membawa anaknya yang masih bayi. Setiap kalimatnya seperti ramalan yang sudah terjadi, dicatat dengan detail yang membuat kulit Ranika merinding.
Sampai dia menemukan kolom terakhir. Tulisan di sana lebih kecil, lebih rapi, seolah ditulis dengan hati-hati yang berbeda: “RANIKA, CEWEK YANG SELALU MEMBACA KORAN DI DEPAN JENDELA SAAT MATAHARI MENGINANG—HARI INI KAU AKAN MENEMUKAN SIAPA YANG SELALU MENONTONMU DARI JENDELA SEBERANG.”
Ranika terkejut, mata membelalak melihat ke arah gedung apartemen yang berdiri tepat di seberang. Ribuan jendela ada di sana, sebagian besar tertutup tirai atau kaca yang memantulkan cahaya matahari sehingga tidak terlihat apa-apa di dalamnya. Tapi dia merasa ada sesuatu—sebuah pandangan yang menusuk, seperti ada seseorang yang benar-benar menatapnya dari jauh. Dia ingat bagaimana beberapa malam terakhir dia sering merasa ada bayangan yang melintas di sudut pandang matanya, atau suara langkah kaki yang terdengar di koridor rumah padahal tidak ada orang lain selain dirinya. Kadang dia merasa senang tidak sendirian, tapi sebagian besar waktu rasa takut yang dingin meresap ke dalam tulang rusuknya.
Dia melanjutkan membaca, dan di bagian paling bawah kolom itu ada sebuah alamat yang jelas—nomor rumah dan nama jalan yang dia kenal sangat baik. Itu adalah alamat rumah masa kecilnya, tempat dia tinggal sebelum ibunya sakit dan mereka pindah ke kamar sewa yang sekarang jadi rumahnya. Tanpa berpikir panjang, dia menyimpan koran ke dalam tasnya, mencabut selang infus yang sudah tidak terpakai lagi dari tiang di sisi tempat tidur, dan berjalan keluar rumah dengan langkah yang tergesa-gesa.
Perjalanan ke rumah lama itu terasa lebih cepat dari yang dia bayangkan. Ketika dia tiba di depan gerbang kayu yang sudah lapuk, pintunya terbuka lebar tanpa ada yang membukanya. Udara di dalam rumah terasa sangat dingin, berbeda dengan panasnya matahari di luar. Cahaya matahari sore merembes melalui jendela-jendela yang sudah pecah sebagian, menciptakan pola bayangan aneh di lantai kayu yang mengeriting. Di tengah ruang tamu, ada sebuah meja kecil yang menahan satu eksemplar surat kabar yang sama dengan yang dia bawa—hanya saja kali ini kolom terakhirnya sudah diubah. Tulisan di sana berbunyi: “IBUMU TIDAK PERNAH PERGI. DIA SELALU ADA DI SINI, MENUNGGU KORAN SETIAP HARI.”
Ranika merasa dada terasa sesak. Air mata mulai mengalir di pipinya, tapi tanpa dia sadari bibirnya sedikit mengerucut ke atas seperti sedang tersenyum. Dia melihat ke arah kursi kayu yang selalu jadi tempat ibunya membaca koran. Ada sosok yang duduk di sana, tertutup oleh bayangan yang dalam, tapi Ranika bisa melihat tangan kecilnya yang sedang memegang sekumpulan kertas. Ketika sosok itu perlahan menghadapkan wajahnya ke arahnya, cahaya matahari tepat menyinari wajah itu—wajah yang sama persis dengan ibunya, tapi juga sama persis dengan wajahnya sendiri ketika dia melihat ke cermin pagi ini.
Sosok itu mengangkat koran yang ada di tangannya, lalu mengangguk perlahan. Di sampul koran itu tertulis: “BERITA YANG PERLU KAU TAU—BAGIAN SELANJUTNYA.” Ranika tidak tahu apakah dia harus berlari menjauh atau mendekat untuk mengambil koran itu. Suasana di dalam rumah terasa begitu menyenangkan dan menenangkan, tapi juga menyeramkan dan mengerikan. Dia tidak bisa memastikan apakah yang dia lihat adalah kenyataan atau khayalan, apakah ibunya benar-benar ada di sana atau itu hanya bayangan dari rasa rindunya yang terlalu dalam.
Ketika matahari mulai tenggelam dan kegelapan perlahan menutupi seluruh ruangan, sosok itu masih tetap ada di sana, menatapnya dengan mata yang penuh cinta dan sesuatu yang lain yang tidak bisa dia definisikan. Ranika berdiri di tengah ruangan, tidak bergerak, sambil menatap koran yang masih tergenggam erat di tangannya—dan dia menyadari bahwa setiap halaman koran itu mulai menampilkan tulisan baru, tulisan yang seolah-olah sedang ditulis secara perlahan di hadapan matanya.