Bagian dua
Dani terbangun di malam hari karena ingin ke toilet, awalnya dia ingin membangunkan ku tapi saat melihat ku yang tertidur pulas dia lagi-lagi mengurungkan niat dan berjalan sendiri ke toilet. Di dalam toilet Dani membasuh wajahnya sambil melihat ke arah kaca, sesekali dia melihat ku dari sela pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Setelah selesai dari kamar mandi,Dani menggantung infusan nya kembali dan mulai berbaring. Karena merasa tidak bisa tertidur Dani mencoba membangunkan ku tapi lagi-lagi dia mengurungkan niatnya. Dani melihat wajah ku yang tertidur pulas terus menerus dan itu menjadi sebuah hiburan baginya;
" Aku baru menyadarinya, Cia ternyata begitu mungil" ucap nya.
( Membayangkan dia sempat memeluk ku dan berusaha mengangkat ku saat itu, untung saja aku tidak sampai meremukan tulang-tulangnya, fikir Dani). Sepanjang malam Dani terus memperhatikan ku sampai dia ikut tertidur lelap.
Dari balik tirai, Ada seseorang yang ikut memperhatikan. Karena posisi tidurku menghadap padanya, Dia bisa Dengan jelas melihat wajah ku. Seseorang di seberang sana terus terjaga tanpa mengubah posisi atau arah pandangnya, ( apa tubuhnya tidak sakit tidur seperti itu yang hanya beralaskan karpet tipis, fikirnya sambil melihat ku).
Aku merasakan AC yang begitu dingin mulai menyelimuti ku;
"Hatchu! " Bersin ku pelan, membuat Dani terbangun dan juga orang di sekitarnya.
Dani langsung melihat ke bawah tempat tidurnya, begitu pun seseorang di seberang sana yang langsung mengangkat sedikit Tirai pembatasnya. Aku mulai meringkuk dan berusaha menutupi tubuh ku dengan jaket yang ku Gunakan sebagai selimut, Dani yang melihat itu mencoba memberikan ku selimut miliknya. Namun saat ingin memakaikan nya pada ku dia mencium aromanya tidak sedap, selimut yang sudah bercampur bau keringatnya.
( Haruskah aku memberikan ini padanya? apa tidak ada selimut yang sedikit lebih bersih, Gumam Dani dalam hati).
"Hatchu! " Bersin ku.
( Apa dia bensin? Suara bersin nya sangat imut, fikir dokter muda di sebrang ku)
Dia melihat selimut di samping nya dan ingin memberikan nya pada gadis yang ada di seberang tempat tidur milik ayahnya, akan tetapi dia tidak tahu apa yang harus di lakukan agar selimut yang di genggamnya bisa sampai pada gadis itu. Dokter muda itu mencoba merangkak di bawah tempat tidur ayahnya dan mencoba menyebrangi tirai itu, akan tetapi dia nyadari pasien di sebelah juga dalam posisi terjaga sambil melihat selimut yang di genggamnya. Karna tidak ingin ketahuan dia kembali tanpa sempat menyelimuti gadis di seberang nya ( kenapa juga pasien yang di jaganya harus terbangun, Gumamnya kesal dalam hati).
Malam hari telah berlalu, Aku terbangun dari tidur cantik ku akibat alarm pagi yang berbunyi dari headphone ku. Sambil mengumpulkan nyawa, aku merabah sekitar untuk mencari headphone ku;
" Handphone ku di mana yah, perasaan tadi aku mendengar alarm ku berbunyi di sekitar sini.
"Apa aku salah dengar" ucap ku pelan sambil membenarkan posisi duduk ku.
Aku bersandar di dinding rumah sakit dengan mata yang tertutup, karena sudah pukul tujuh pagi seseorang pramusaji datang membawa sarapan untuk setiap pasien di rumah sakit.
" Ini sarapannya" katanya sambil melihat ke arah Dani.
Aku melihat pramusaji itu sambil mengucapkan terima kasih;
" Kami juga menyiapkan teh dan kue untuk orang-orang yang menjaga pasien, silahkan ikuti saya dan sekalian bawa gelas anda juga" ucap pramusaji melihat ku.
" Iya " Jawab ku singkat.
( Aku baru tau soal ini, fikir ku).
Aku berdiri dan mengambil gelas sembari mengikuti pramusaji itu dari belakang, dokter muda di samping ku ikut keluar dari dalam yang sudah berpakaian rapih menggunakan baju dinasnya. Tak sengaja dokter muda itu hampir menabrak ku yang tepat berada di hadapannya begitu pula dengan ku. Aku hanya tersenyum sambil memegang gelas milik ku menggunakan kedua tangan, Dia membalas senyuman ku sambil membenarkan kaca matanya.
" Selamat pagi dokter Ilham" ucap pramusaji pada pria di samping ku.
" Selamat pagi juga" jawabnya.
" Dok, mau minum teh juga?" Tawar pramusaji padanya.
" Boleh, sekalian aku minta satu bungkus rotinya" ucap pria yang bernama Ilham.
" Ini dok, selamat bertugas" jawab pramusaji.
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi dulu" pamitnya sambil melihat ku.
Aku hanya tersenyum melihatnya, pramusaji mulai menuangkan teh dan memberiku dua bungkus roti;
" Terima kasih" ucap ku.
Aku meminum secangkir teh hangat milikku sambil menyimpan makanan untuk Dani, Dani hanya melihat makanannya tanpa menyentuhnya sama sekali;
" Ada apa?" Tanyaku.
" Bisakah kamu menyuapi ku?" Ucap Dani Dengan nada yang di buat lemas.
" Baiklah " ucap ku, aku meletakkan teh ku di meja dan duduk di hadapannya.
" Menu hari ini bubur ayam yah, ada kue dan beberapa potong buah juga" ucap ku sambil menyuapi Dani.
Saat menyuapi Dani seketika aku kepikiran pada orang tua yang ada di samping kami, melihat tidak ada satupun keluarga yang datang selain dokter Ilham itu, karena merasa penasaran aku bertanya pada Dani;
" Dani, apa pasien di sebelah mu selalu punya keluarga lain selain dokter yang biasa kita lihat itu?" Tanyaku.
" Tidak juga, biasanya akan ada perawatan yang menjaganya bergantian" jawab Dani.
Selesai menyuapi Dani, aku tidak melihat ada perawat yang datang untuk memberi makan orang tua di samping kami, padahal sebentar lagi pramusaji akan datang untuk mengambil tempat makannya. Aku tidak bisa membiarkan orang tua di samping kami melewati waktu sarapannya;
" Dani, Aku ke sebelah sebentar untuk melihatnya" ucap ku pada Dani.
" Kamu mau kemana?" Ucap Dani.
" Aku hanya ingin melihatnya saja" jawabku.
Aku mengintip pria parubaya di samping kami, dia terlihat kesulitan membuka tempat makannya.
" Apa boleh aku bantu?" Tanya ku, Aku berjalan ke arahnya dan sudah berada di depannya.
" Terima kasih, maaf sudah merepotkan mu yah" kata pria parubaya itu sambil tersenyum.
Aku membukakan tempat makanannya dan mengambil kan sendok yang berada di atas lemari mini rumah sakit lalu memberikannya, tangannya yang terlihat gemetar berusaha mengaduk bubuk dihadapannya.
" Biarkan aku membantumu" ucapku sekali lagi.
Aku mengambil sendok itu dari tangannya dan mengadukan buburnya;
" Apa bapak bisa makan sendiri?" Tanyaku dengan nada lembut.
" Sepertinya bisa" katanya berusaha menyendokan makanan ke mulutnya.
" Izinkan aku membantu anda" tawarku dan mengambil alih semuanya.
" Apa tidak apa-apa kamu menyuapiku ku seperti ini, apa lagi kamu seorang wanita yang cantik jelita. Aku takut orang akan salah paham nanti," ucapnya.
" Tidak apa-apa" jawabku.
" Lagi pula aku selalu berkhayal bisa menyuapi almarhum ayah ku seperti ini" ucap ku sambil tersenyum.
Saat Tengah asik mengobrol dengan pria parubaya di hadapan ku, tiba-tiba seseorang datang tanpa sepengetahuan ku;
" Ilham kenapa kamu kembali?" Ucap nya sambil melihat seseorang di belakang ku.
"Ilham?" Ucapku.
Aku berbalik dan mendapati seorang pria bernama Ilham Dengan tatapan matanya yang datar tanpa ekspresi, Dia terus menerus melihat ku tanpa berkedip.
" Aku melupakan id card ku di dalam laci lemari" ucap Ilham sambil melihat ke arah ku.
Ayah Ilham yang sadar anaknya terus melihat ke arah gadis yang ada di hadapannya, mulai meluruskan kesalah pahaman yang terjadi;
" Gadis ini membantu menyiapkan makanan untuk ayah, dia bilang jangan sampai ayah melewatkan waktu sarapan" ucapnya.
" Bukankah dia anak yang baik" ucap ayah Ilham sambil tersenyum padaku.
Ilham hanya menatap dingin padaku sambil mendengarkan penjelasan dari ayahnya, aku hanya menatapnya dengan expresi datar namun terkesan imut.
" Apa belum ada perawatan yang datang membantu ayah?" Tanya Ilham.
" Aku belum melihat ada perawat yang datang, jadi aku berinisiatif membantu ayah anda" jawabku.
Dani muncul dari balik tirai sambil memegang besi infusan nya, Ilham yang sedari tadi berdiri melihat ke arah Dani;
" Cia kenapa Kamu lama sekali?" Tanya Dani.
" Maaf, aku tidak bisa meninggalkan orang tua yang sedang kesusahan sendirian" jawabku.
" Tapi aku juga kesusahan tidak ada kamu di samping ku" jawab Dani.
" Ayo Kita kembali" ucap Dani berusaha meraih tangan ku.
Ilham yang melihat itu hentikan Dani;
" Maaf menyela percakapan kalian, tapi bisa kah aku minta tolong setidaknya biarkan ayah ku menghabiskan makanan nya dulu" ucap Ilham yang memegang pergelangan tangan kiri ku Sedangkan Dani memegang pergelangan tangan kananku.
Aku yang berada di tengah-tengah mereka mulai bingung harus bersikap bagaimana, saat suasana sedang tegang pintu kamar kami terbuka, aku melihat ibu dan kakak laki-lakiku memasuki ruangan. Kakak ku terkejut melihat pemandangan yang tidak bisa ini, adik perempuannya berada di tengah-tengah dua pria yang masing-masing memegang kedua pergelangan tangannya, kakak ku yang kesal langsung menarik ku ke belakangnya. Tubuhnya yang tinggi dan memiliki bahu yang besar menutupi seluruh tubuh ku yang berada di belakangnya;
" Ada apa ini? Jangan ribut di rumah sakit apa lagi ada pasien lain juga" ucap kakak sambil melihat ke ayah Ilham.
" Lalu Dani, kembali lah ke tempat tidur mu. Pasien tidak boleh berkeliaran seperti ini" ucap kakak yang melihat Dani.
" Ayo Dani Tante bantu kembali ke tempat tidurmu" ajak ibu mencairkan suasana.
Pria yang berdiri di hadapanku sekarang bernama Alan, Dia adalah kakak ke dua ku.
" Sekarang, kakak ingin mendengarkan penjelasan dari mu" ucap kakak padaku.
Aku menceritakan semuanya pada kak Alan;
" Aku hanya ingin membantu ayahnya, sudah hampir habis jam Sapan pagi tapi tidak ada yang datang membantu nya" jawab ku.
" Kalau begitu selesaikan apa yang sudah kamu lakukan" ucap kakak ku.
Dani yang melihat kakak Alan hanya datang seorang diri seketika cemberut, dan Ilham pergi melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai dengan urusan ku, aku kembali ke tempat tidur Dani, Aku mengambil headphone yang aku cas sedari tadi. Aku menghabiskan waktu ku di rumah sakit sambil berbaring, sesekali aku memotret infusan Dani dan menjadikannya sebagai status media sosial ku.
" Oh iya, katanya besok dokter Dani akan datang melihat keadaannya. Besok akan jadi penentu apakah Dani bisa pulang atau tidak ," ucap ku pada ibu dan kak Alan.
" Semoga saja nak Dani bisa cepat pulang ke rumah yah" ucap ibu.
Saat aku hanya nonton ngutub sambil rebahan, Ibu mengeluarkan bekal yang di bawahnya dan nyuruh ku untuk makan. Kalau di ingat-ingat aku hanya meminum secangkir teh dan memakan setengah potong roti, Aku segera bangun sambil melihat ibu memberikan ku sepiring nasi dan lauknya.
" Seperti biasa makan ibu yang terenak di dunia" puji ku.
" Kalau memang begitu makanlah yang banyak" ucap ibu.
Di sisi lain, Dani terus melihat masakan ibu ku;
" Tante aku juga mau" ucap Dani yang melihat kami.
" Nanti ketika kamu sudah pulang Tante akan buatkan makanan enak setiap hari" ucap ibu.
Setiap Dani mendengar kata akan pulang Dari rumah sakit, entah kenapa wajahnya terlihat murung. Ibu yang melihat Dani murung seakan mengerti apa yang di rasakan oleh keponakannya itu, ibu memegang tangan Dani sambil tersenyum;
" Tenang saja, Kamu akan pindah ke rumah kami sampai kamu wisuda nanti" ucap ibu senang.
" Uhuk-uhuk!" Aku tersedak makanan ku sendiri, Aku terus memukuli dada ku sedangkan kak Alan langsung memberikan air minum untuk ku.
" Kamu kenapa Cia?" Tanya Dani padaku.
Seorang pria tua di samping kami sedikit menggeser tirai pembatasnya;
" Apa dia tidak apa-apa? Batuknya terdengar sangat keras" ucapnya sambil melihat ku memukuli dada ku.
" Aku tidak apa-apa" jawab ku sambil batuk-batuk dengan suara kecil.
Dari kejauhan terlihat dokter Ilham bersama seorang suster datang menghampiri ayahnya;
" Ayah sedang apa?" Tanya Ilham pada ayahnya.
" Oh Ilham, tepat sekali kamu datang. Gadis itu tersedak makanan sampai mengeluarkan batuk yang begitu keras" ucap ayahnya.
" Aku tidak apa-apa, sungguh aku baik-baik saja" ucap ku dengan nafas terengah-engah.
" Tapi nafas mu terdengar tidak baik" ucap Ilham menghampiri kami.
Aku berdiri dan membawa tisu ke kamar mandi dan mengunci pintunya, di dalam aku mengeluarkan ingus ku dan mendapati dua butir nasi dan sebutir biji cabe rawit.
" Aaa! Ini sangat jorok, tidak mungkin aku mengeluarkan ini di hadapan semua orang" ucap ku pelan.
Aku terus kebersihan hidung ku dan mencuci nya dengan air;
" Sepertinya sudah bersih" aku terus memperhatikan kaca kamar mandi.
Setelah selesai Aku keluar dari wc sambil membawa tisu, ( rasanya melegakan, gumam ku dalam hati). Aku kembali duduk di samping ibu dan mengambil air minum ku;
" Kenapa lama sekali di wc?" Tanya kak Alan.
" Buang air kecil, Menurut kakak orang ke wc untuk apa?" Jawabku.
( Tidak mungkin kan aku bilang habis mengeluarkan dua butir nasi dan satu biji cabe dari hidung, fikir ku).
Sementara Dani di urusin sama ibu, aku mencoba berbaring sebentar sambil bermain handphone. ibu menyuruh ku pulang bersama kak Alan untuk istirahat. Aku mengikuti kata ibu dan mengambil barang-barang ku lalu pulang ke rumah, Sebelum pulang aku berpamitan dengan Dani;
" Aku pulang dulu," ucap ku.
Aku mengikuti kak Alan dari belakang, Saat keluar kamar dan berjalan ke arah lift aku bertemu dengan dokter Ilham. Aku hanya melihatnya dan dia juga melihat ku, Tanpa Sepatah kata pun aku hanya melewati begitu sama begitu pun dengan dokter Ilham.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan sekaligus mencuci rambut ku. Setelah selesai membersihkan diri aku berjalan ke kamar kak Alan;
" Kak Alan, Kakak lagi apa?" Aku membuka pintu kamarnya dan mendapati kak Alan sedang berada di depan layar monitornya.
" Kakak lagi record, ada apa? Tanya kak Alan.
" Kak Alan lagi main game sama teman-teman gemers kakak yah? Ucapku sambil mengintip ke layar monitornya. Terlihat ada sembilan orang di layar monitornya;
" Alan itu siapa yang di samping mu?" Tanya seseorang dari balik layar.
Aku melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum.
" Adek gue itu" jawab kak Alan.
" Kenapa lu enga bilang punya adek cewek secantik itu" jawab temannya.
" Buat apa" jawab Alan.
" Biar bisa di ajak kenalan gitu, biar akrab" jawabnya.
" Adek gue pemalu orangnya" ucapnya.
Aku menepuk pundak kak Alan;
" Kak kalauu begitu aku balik ke kamar dulu" ucap ku.
" Jangan lupa tutup pintu kamarnya" ucap kak Alan.
" Iya" aku berjalan keluar dan menutup pintu kamar.
Seharian aku habiskan untuk tidur hingga aku terbangun di sore hari, Aku melihat jam di Smartphone ku (Sudah jam empat ternyata, rasanya sangat melelahkan. Mungkin karena beberapa malam ini aku tidur di karpet tipis sampai badanku terasa sakit semua, Gumam ku).
" Rasanya sangat sulit melepaskan diri dari sini, bagaikan ada magnet dari dalam kasur ini yang membuat ku susah untuk bangun" ucap ku.
Aku melihat ke luar jendela kamarku yang berada di lantai dua, ( apa aku minta izin sehari dulu yah, sejauh ini aku belum mengambil cuti ku sama sekali. Mungkin tidak ada salahnya jika aku menggunakannya sekarang, fikir ku.)
" Oh iya, bukannya kak Alan yang akan berjaga malam ini?" Ucap ku.
Aku sudah menjaga Dani selama tiga malam berturut-turut, Karena kak Alan menawarkan diri mungkin malam ini aku bisa tidur lebih nyenyak lagi. karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore aku bersiap-siap untuk menjemput ibu bersama kak Alan, Dani yang tidak tahu akan hal ini membuatnya sedikit syok.
" Malam ini kak Alan yang akan menjaga Dani" ucap ibu.
Dani terus melihat ke arahku namun aku hanya membalasnya dengan tersenyum, Aku belum bilang ke siapapun bahwa aku sudah mengambil cuti hari ini agar aku bisa bermalas-malasan keesokan harinya.
" Kalau begitu kami pulang dulu" ucap ku senang.
" Hati-hati di jalan" ucap kak Alan.
Aku dan ibu masih mengantri di depan lift, karena masih jam besuk banyak keluarga yang datang menjenguk pasien lain. Lift di rumah sakit ini terbagi menjadi dua, satu buat umum yang satunya lagi buat para staf rumah sakit dan pasien.
" Cia, bukankah itu dokter yang Ayahnya sekamar sama Dani?" Tanya ibu sambil melihat dokter Ilham.
" Itu namanya dokter Ilham ibu" jawabku.
" Dari mana kamu tau namanya? Tanya ibu.
" Aku pernah mendengar namanya sekali saat ada pramusaji yang membawa sarapan untuk Dani" jawabku.
Ibuku yang melihat dokter Ilham berjalan ke arah lift mencoba menyapanya;
"Selamat malam Dokter" ucap ibu.
" Malam juga Tante" jawab dokter Ilham.
Aku cukup syok melihat ibu yang berani menyapa seseorang yang baru di temuinya;
" Dokter ini yang ayahnya sekamar sama ponakan saya yah? Di kamar 302" tanya ibu.
" Iya Tante, itu ayah saya" jawab Ilham.
Aku yang membeku di tempat sedari tadi langsung tersadar kembali;
" Ibu sepertinya lift nya akan lama" ucap ku.
" Apa mau coba lewat tangga aja?" Tawar ibu.
" Emang kaki ibu kuat kalau turun lewat tangga" balasku.
Dokter Ilham yang mendengar percakapan mulai menyela percakapan ku dengan ibu;
" Mau ikut saya saja? Kebetulan saya mau ke lantai satu" tawar dokter Ilham.
" Apa tidak apa-apa?" Tanya ibu.
" Tidak apa-apa, kan ada saya" jawab dokter Ilham.
Dokter Ilham menekan tombol lift dan menunggu kami untuk masuk kedalam, Dalam lift dokter Ilham menempel kan id cardnya dan menekan lantai satu.
" Terima kasih dokter Ilham sudah mengizinkan kami ikut bersama anda, kalau tidak ibu saya sudah pasti turun melewati tangga" ucap ku.
" Sama-sama, saya hanya ingin membantu orang tua yang kesusahan" jawab dokter Ilham.
Lift kami berhenti di lantai dua, terlihat ada lima perawat perempuan yang masuk ikut kedalam lift. Para perawat yang melihat dokter Ilham di dalam lift diam-diam tersipu malu;
" Semalam malam dokter Ilham" ucap mereka.
Aku dan ibuku berdiri tepat di depan pintu lift, sedangkan lima perawat berada di samping dokter Ilham yang berada di pojok lift. Beberapa suster berusaha berdiri di samping dokter Ilham sampai kami akhirnya tiba di lantai satu, pintu lift perlahan terbuka. Aku menggandeng tangan ibuku dan berjalan keluar, Sedangkan dokter Ilham ke arah lain dan di ikutin oleh beberapa suster tadi. Aku berbalik ke arah dokter liham sambil melihat belakang punggungnya, punggung yang lebar dan besar. Kalau di lihat-lihat dia juga sangat tinggi dan memiliki badan yang tegap, aku terus melihatnya sampai dia menghilang dan berbelok ke arah lain,
Sesampainya di rumah aku berbaring di kasur kesayanganku sambil melihat keluar jendela kaca kamar tidur ku, langit malam yang di penuhi bintang-bintang menjadi pemandangan yang ku rindukan. Aku terus memandangi langit dan bintang, sejenak terlintas di fikiran ku saat aku melihat punggung belakang dokter liham. (Apa yang aku fikirkan, gumam ku dalam hati), Aku mulai menepis ingatan itu dan mencoba untuk tidur kembali.
Di sisi lain...
Di sisi lain kak Alan masih sibuk bermain game, sedang Dani juga sedang melihat-lihat video toktok di handphonenya. Waktu sudah menunjukkan pukul jam sepuluh malam, suasana kamar terasa begitu sunyi membuat Dani, karena tidak ada yang bisa di lakukan Dani mencoba tidur lebih awal. Kak Alan yang melihat Dani terlelap langsung mematikan gamenya, Kak alam yang menyadari Dani belum sepenuhnya terlelap mulai mengatakan sesuatu;
" Kalau butuh sesuatu beri tau aku" ucap kakak Alan.
" Untuk sementara ini sepertinya aku tidak membutuhkan apapun" jawab Dani.
Waktu terus berjalan dan sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Dokter Ilham masuk kedalam ruangan dan melihat ayahnya sudah terlelap.Entah kenapa dia merasa kamar ini begitu sepi tidak seperti hari-hari sebelumnya, tapi karena merasa lelah dan penat dokter Ilham mulai berbaring dan tidur.