Apartemen itu tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan ketika tidak ada suara, ada sesuatu yang terasa menunggu. Adrian menyadarinya pertama kali pada malam ketiga ia pindah.
Jam di ponselnya menunjukkan 02.16.
Ia terbangun bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara keras. Tapi karena perasaan… seperti seseorang sedang berdiri terlalu dekat.
Ia membuka mata perlahan.
Langit-langit kamar gelap. Bayangan lemari tampak seperti sosok membungkuk.
Ia menghela napas.
Konyol.
Apartemen ini kecil. Tidak ada ruang untuk orang lain bersembunyi.
Jam berubah ke 02.17.
Tok.
Adrian membeku.
Satu ketukan.
Pelan.
Seperti kuku yang menyentuh dinding.
Ia menunggu.
Tok.
Kali ini lebih jelas.
Dari sisi kanan kamar. Dari dinding yang berbatasan dengan unit sebelah. Adrian duduk perlahan. Nafasnya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri.
Unit sebelah kosong. Ia yakin. Satpam bilang begitu saat serah terima kunci.
“Belum ada yang sewa lagi, Mas.”
Tok.
Adrian turun dari tempat tidur. Lantai terasa dingin.
Ia mendekat ke dinding. Catnya putih kusam, ada bekas sapuan baru di bagian bawah—lebih terang dibanding sisi lain.
Ia menempelkan telinga.
Sunyi.
Lalu—hembusan napas.
Sangat pelan.
Seperti seseorang yang berusaha tidak bersuara.
Adrian tersentak mundur.
“Halusinasi,” gumamnya.
Ia tertawa kecil. Tertawa yang tidak sepenuhnya yakin.
Malam itu ia tidak tidur lagi. Hari-hari berikutnya, ketukan selalu datang pada jam yang sama.
02.17.
Tidak pernah lebih cepat. Tidak pernah terlambat.
Kadang satu kali. Kadang tiga.
Kadang diselingi gesekan… seperti sesuatu digeser pelan di balik tembok.
Adrian mulai menyalakan televisi sebelum tidur. Suara berita mengisi kamar sempit.
Tapi tetap saja, ketika jam menunjukkan 02.17
Tok.
Selalu terdengar.
Ia melapor ke pengelola gedung pada hari kelima.
“Unit sebelah kosong, Mas,” kata petugas perempuan itu tanpa menatapnya lama. “Sudah dicek.”
“Lalu suara itu dari mana?”
“Mungkin pipa air. Gedung lama memang suka bunyi sendiri.”
Adrian ingin membantah. Tapi ia tidak punya bukti.
Malam itu, ia mematikan televisi.
Ia ingin memastikan.
02.16.
Jantungnya sudah berdebar.
Ia duduk di lantai, punggung menempel ke dinding yang sama.
Menunggu.
02.17.
Tok.
Tepat di belakang kepalanya.
Adrian menahan napas.
“Siapa kamu?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Lalu, sesuatu yang lebih buruk dari ketukan.
Bisikan.
Sangat dekat.
“Adrian…”
Darahnya terasa membeku.
Itu namanya.
Jelas.
Ia berdiri cepat, hampir terjatuh.
“Berhenti!”
Sunyi.
Ia memukul dinding itu dengan kepalan tangan.
“Keluar kalau berani!”
Tidak ada balasan. Hanya gema kecil dari pukulannya sendiri.
Tapi saat ia hendak menjauh
tok.
Dari sisi lain. Seolah membalas.
Sejak malam itu, Adrian mulai sulit membedakan mana suara nyata, mana yang muncul dari kepalanya.
Ia sering merasa dinding kamar sedikit lebih menonjol dari biasanya.
Sedikit lebih tebal.
Sedikit lebih… berisi.
Ia membeli palu kecil dari toko bangunan.
Bukan untuk merusak. Hanya berjaga-jaga, katanya pada diri sendiri.
Di cermin kamar mandi, wajahnya tampak pucat.
Lingkar hitam di bawah mata makin dalam. Ia menatap pantulannya lama.
Ada sesuatu yang mengganggu. Perasaan seperti pernah melihat ekspresi itu sebelumnya.
Takut.
Tapi bukan takut pada sesuatu di luar.
Takut pada sesuatu yang hampir ia ingat.
Malam kesepuluh.
02.17.
Tidak ada ketukan.
Adrian duduk menunggu.
Lima menit.
Sepuluh.
Tidak ada apa-apa.
Justru itu yang membuatnya gelisah.
“Kenapa diam?” gumamnya.
Ia berdiri dan menempelkan telinga ke dinding.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
“Bersuara,” bisiknya. “Kamu biasanya bersuara.”
Tiba-tiba
tok.
Bukan dari dinding.
Dari dalam lemari.
Adrian menoleh perlahan.
Pintu lemari tertutup.
Pegangannya bergetar sedikit.
Tok.
Lebih keras.
Adrian mundur setapak.
“Tidak,” bisiknya. “Bukan dari situ.”
Ia tahu itu bukan dari lemari. Selama ini selalu dari dinding. Selalu dari sana. Ia berbalik cepat dan menghantam dinding dengan palu.
Sekali.
Dua kali.
Cat retak.
Debu jatuh ke lantai.
Tok.
Balasan datang tepat di balik pukulannya.
Seolah seseorang di sisi lain meniru.
Adrian berhenti.
Tangannya gemetar.
“Kamu mau keluar?” katanya pelan.
Sunyi.
Lalu suara yang lebih jelas dari sebelumnya.
“Buka.”
Suara pria.
Serak.
Lemah.
Adrian terdiam.
Ia tahu suara itu.
Entah dari mana.
Ia tahu.
Tangannya terangkat lagi.
Palu menghantam.
Retakan melebar.
Cat terkelupas.
Lapisan semen mulai runtuh.
Dan di balik serpihan putih itu—gelap.
Bukan ruang kosong biasa.
Terlalu dalam. Terlalu sengaja.
Adrian berhenti bernapas.
Dari dalam celah sempit itu…tercium bau.
Busuk.
Asam.
Seperti sesuatu yang pernah hidup. Tangannya terlepas dari palu. Ingatan menyentuh tepi kesadarannya.
Tangan lain.
Dirinya.
Mendorong seseorang.
Suara rantai.
Teriakan yang ditahan.
“Diam,” ia pernah berkata.
Ia mundur satu langkah.
“Tidak…”
Tapi potongan gambar terus datang. Ruangan sempit itu bukan milik tetangga.
Itu bukan unit lain. Itu rongga yang ia buat sendiri.
Ia yang menutupnya. Ia yang mengecatnya ulang.
Ia yang menyuruh satpam bilang unit sebelah kosong.
Karena memang tidak pernah ada unit sebelah.
Hanya dinding palsu. Adrian terduduk di lantai.
Napasnya terengah.
“Tidak…”
Lalu ia mendengar sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.
Suara itu lagi.
Tapi bukan dari dalam lubang yang baru dibuka.
Dari belakangnya.
Dekat sekali.
“Sekarang kamu ingat.”
Adrian berbalik cepat.
Kamar kosong.
Lampu berkedip.
Cermin di ujung lorong memantulkan sosoknya yang gemetar.
Sendirian.
Tapi dalam pantulan—ada seseorang berdiri di belakangnya.
Pria kurus.
Wajah lebam.
Mata cekung.
Menatap tanpa berkedip.
Adrian berbalik. Tidak ada siapa-siapa.
Ketika ia kembali melihat cermin—pantulan itu tersenyum.
Dan berbisik tanpa suara:
02.17.
Jam dinding berbunyi.
Tok.
Dari dalam dadanya sendiri. Adrian tidak berani memalingkan wajah dari cermin.
Pantulan pria di belakangnya masih berdiri.
Tidak bergerak.
Tidak berkedip.
Lampu kamar berkedip sekali lagi, lalu stabil.
Dalam pantulan, pria itu mengangkat tangan.
Perlahan. Menunjuk ke arah dada Adrian.
Adrian refleks melihat ke bawah.
Tidak ada apa-apa.
Saat ia kembali menatap cermin—pantulan itu sudah berdiri tepat di belakangnya.
Terlalu dekat.
Adrian bisa melihat detail wajahnya sekarang.
Bekas luka di pelipis kiri.
Memar tua di sudut bibir.
Dan mata itu.
Mata yang tidak marah.
Tidak juga takut.
Hanya… menunggu.
“Pergi…” bisik Adrian.
Pantulan itu membuka mulutnya.
Tapi suara yang keluar bukan dari cermin.
Suara itu terdengar jelas… dari dalam kepalanya.
“Dinding tidak pernah menyimpan rahasia selamanya.”
Adrian tersentak mundur.
Cermin retak.
Satu garis panjang membelah wajahnya di pantulan.
Dan tiba-tiba—ia ingat semuanya.
Bukan potongan.
Bukan kilasan.
Semua.
Pria itu bukan tetangga.
Bukan orang asing.
Ia adalah korban terakhir.
Yang berbeda dari yang lain.
Yang melawan.
Yang berteriak terlalu keras.
Adrian ingat bagaimana ia membiusnya. Menyeret tubuhnya ke ruang sempit yang sudah ia siapkan.
Lubang di balik dinding itu bukan dadakan.
Itu sudah ada sejak ia membeli apartemen.
Ia memilih unit ini karena struktur dindingnya bisa dimodifikasi. Ia menyuap pengelola lama. Ia memastikan tidak ada yang akan curiga.
Semua sudah direncanakan.
Kecuali satu hal.
Pria itu tidak mati secepat yang lain. Ia masih sadar ketika Adrian menutup dindingnya.
Masih mendengar semen diratakan.
Masih bernapas saat cat baru mengering.
Adrian menutup telinganya.
“Berhenti…”
Tok.
Suara itu lagi.
Tapi sekarang bukan dari dinding.
Bukan dari lemari.
Bukan dari cermin.
Dari dalam apartemen.
Di belakang pintu kamar.
Adrian membeku.
Tidak ada orang lain yang punya kunci.
Tidak ada.
Tok.
Ketukan di pintu kamar.
Pelan.
Ritmis.
02.17.
Ia melihat jam.
Benar.
02.17.
Tapi kali ini, ia tidak sedang menunggu suara.
Suara itu datang kepadanya.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Ketukan berubah menjadi gesekan.
Seperti kuku yang ditarik perlahan di permukaan kayu.
Adrian melangkah mundur.
Kakinya menyentuh serpihan tembok yang tadi ia hancurkan.
Lubang di dinding masih terbuka.
Gelap.
Tapi sekarang ia bisa melihat sesuatu di dalamnya.
Bukan bayangan.
Bukan ilusi.
Tangan.
Kurus.
Kotor.
Meraba ke luar.
Adrian menjerit dan berlari ke arah pintu utama apartemen.
Ia memutar kenop.
Terkunci.
Ia lupa kapan terakhir menguncinya.
Ia mencoba lagi.
Tidak bergerak.
Ketukan di pintu kamar berhenti.
Sunyi.
Sunyi yang lebih mengerikan dari suara apa pun.
Lalu terdengar suara kunci diputar. Bukan dari pintu utama.
Dari dalam kamar.
Klik.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Gelap di dalamnya.
Tapi ada langkah kaki.
Satu.
Dua.
Tiga.
Adrian mundur sampai punggungnya menempel ke dinding yang berlubang. Ia merasakan sesuatu menyentuh bahunya.
Dingin.
Basah.
Ia menoleh pelan.
Tangan dari lubang itu kini menggenggam bajunya.
Menarik.
Sementara dari arah kamar—sosok yang sama melangkah keluar.
Pria dengan pelipis luka.
Memar di bibir.
Baju yang sama seperti malam itu.
Adrian menggeleng cepat.
“Kamu mati…”
Pria itu berhenti beberapa langkah darinya. Kepalanya miring sedikit.
“Tidak.” Suaranya datar.
“Kamu yang mati.”
Adrian tertawa histeris. “Tidak! Aku hidup! Aku—”
Kalimatnya terhenti.
Karena tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia perhatikan.
Apartemen itu tidak pernah benar-benar berubah sejak malam itu.
Bau cat baru.
Tidak pernah hilang.
Tidak pernah pudar.
Ia tidak pernah membeli makanan sejak pindah. Ia tidak pernah keluar siang hari. Ia tidak pernah bertemu tetangga.
Dan petugas pengelola—tidak pernah menyentuh tangannya saat memberi kunci. Ia hanya berdiri jauh. Seolah berbicara pada ruang kosong.
Adrian melihat ke arah meja.
Kunci apartemen tergeletak di sana.
Berkarat.
Tua.
Bukan kunci baru.
Ia berjalan mundur tanpa sadar. Kakinya menembus serpihan tembok. Bukan menginjaknya.
Menembus.
Seperti asap.
Napasnya memburu.
“Tidak…”
Pria itu melangkah lebih dekat.
“02.17,” katanya pelan.
“Jam kamu berhenti di situ.”
Ingatan terakhir datang seperti pukulan. Ia tidak pernah berhasil menutup dinding sepenuhnya.
Pria itu berhasil mendorongnya saat panik.
Palu terlepas.
Adrian terpeleset.
Kepalanya membentur sudut meja.
Ia jatuh.
Tak sadar.
Dan pria itu—masih terkurung.
Masih hidup.
Teriakannya terdengar sampai pagi.
Tetangga melapor bau.
Polisi datang.
Mereka menemukan lubang itu. Menemukan tubuh pria yang sudah membusuk.
Dan di lantai apartemen—mereka juga menemukan tubuh Adrian. Mati karena pendarahan di kepala.
Jam tangannya berhenti di 02.17.
Apartemen itu disegel. Tidak pernah disewakan lagi.
Dinding diperbaiki.
Dicat ulang.
Tapi setiap malam
tepat 02.17
satpam lama bersumpah mendengar dua suara.
Satu mengetuk dari balik dinding.
Satu lagi… mengetuk dari dalam.
Dan jika seseorang cukup bodoh untuk berdiri terlalu dekat dengan tembok itu—kadang terdengar bisikan.
Bukan memanggil nama mereka.
Tapi bertanya pelan:
“Kamu yakin yang hidup itu kamu?”
Tok.