Jam di dinding berdetak terlalu keras malam itu.
Dina sudah mencoba tidur sejak pukul sebelas, tapi tubuhnya hanya berbaring kaku di atas kasur. Lampu kamar dimatikan, tirai tertutup rapat. Tidak ada cahaya dari luar. Tidak ada suara kendaraan.
Hanya detak jam.
Dan pikirannya sendiri.
Sudah tiga hari sejak pemakaman Raka.
Tiga hari sejak tanah merah menutup peti kayu itu.
Tiga hari sejak semua orang berkata, “Kamu harus kuat.”
Dina memeluk ponselnya di dada. Chat terakhir dengan Raka masih tersimpan. Ia sudah membacanya berulang kali sampai hafal tanda baca dan jeda di setiap kalimat.
Pukul 03.02.
Ia belum tidur.
Kelopak matanya terasa panas, tapi pikirannya tetap terjaga.
Lalu—
ting.
Suara notifikasi memecah sunyi.
Jam di dinding berubah.
03.03.
Dina mengernyit. Ia tidak merasa ada aplikasi yang menyala. Tangannya bergerak pelan mengambil ponsel dari dada.
Layar menyala.
Nama itu muncul.
Raka ❤️
Jantungnya berhenti satu detik.
Tidak.
Itu tidak mungkin.
Nomor itu sudah tidak aktif. Polisi bahkan menunjukkan ponsel Raka yang hancur, layarnya retak seperti jaring laba-laba.
Tapi di layar Dina, pesan itu jelas.
Aku kedinginan.
Dina menatap tulisan itu lama sekali.
Mungkin spam.
Mungkin nomor yang mirip.
Ia membuka profil kontak.
Nomornya benar.
Foto profilnya masih foto mereka di pantai bulan lalu.
Tangannya mulai berkeringat.
Pesan kedua masuk.
Gelap banget.
Lampu kamar berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu stabil.
Dina bangkit duduk. Nafasnya pendek.
“Siapa ini?” ketiknya akhirnya.
Balasan datang dalam tiga detik.
Kamu tahu siapa aku.
Baterai menunjukkan 1%.
Aneh. Tadi sore ia mengisi daya sampai penuh.
Dina mencoba menyalakan lampu tidur di samping kasur.
Tidak menyala.
Listrik padam.
Kamar tenggelam dalam gelap pekat.
Ponsel jadi satu-satunya sumber cahaya.
Lalu bau itu datang.
Tanah.
Basah.
Seperti kuburan yang baru digali.
Pesan masuk lagi.
Kamu ninggalin aku.
Suara napas Dina makin cepat.
“Ini nggak lucu,” bisiknya ke ruang kosong.
Ponsel bergetar.
Kamu dengar itu?
Dina membeku.
Mendengar apa?
Ia menahan napas.
Dan mendengarnya.
Suara gesekan pelan.
Seperti kuku yang menyeret lantai.
Pelan.
Dari bawah kasur.
Dina menutup mulutnya dengan tangan.
Jangan lihat. Jangan bergerak.
Pesan masuk lagi.
Jangan lihat ke bawah.
Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
Ia memejamkan mata rapat-rapat.
Gesekan itu berhenti.
Sunyi lagi.
Terlalu sunyi.
Ponsel tiba-tiba membuka aplikasi kamera.
Mode depan.
Wajah Dina muncul di layar, pucat, mata sembab.
Ia hendak menutupnya—lalu menyadari sesuatu.
Di belakangnya.
Ada bayangan.
Tidak berbentuk manusia sepenuhnya.
Terlalu tinggi.
Terlalu panjang.
Seperti asap hitam yang mengental.
Dina menoleh cepat.
Kosong.
Ketika ia melihat layar lagi— bayangan itu lebih dekat.
Hampir menyentuh bahunya.
Pesan masuk.
Aku nggak sendirian waktu mati.
Jantung Dina seperti diperas.
Malam kecelakaan itu kembali muncul di kepalanya.
Lampu jalan yang redup. Hujan tipis. Suara mesin mobil.
Raka memegang setir terlalu kencang.
“Ada mobil dari tadi ngikutin,” katanya pelan.
Dina tertawa kecil. “Kamu paranoid.”
Ia menoleh ke kaca spion.
Seingatnya… tidak ada apa-apa.
Lalu cahaya terang dari belakang.
Bunyi klakson panjang.
Raka berteriak. Setelah itu… kosong.
Ia bangun di rumah sakit. Semua orang bilang ia terpental keluar sebelum tabrakan.
Ia percaya.
Harus percaya.
Pesan baru masuk.
Kamu nggak pernah keluar.
Lampu kamar menyala mendadak. Terang menyakitkan mata.
Jam di dinding menunjukkan 03.03.
Masih 03.03.
Padahal terasa sudah lama sekali.
Ponsel Dina panas.
Terlalu panas.
Layar berkedip.
Mode kamera tetap terbuka.
Wajahnya di layar… tersenyum. Padahal ia tidak tersenyum.
Matanya kosong.
Mulutnya bergerak di layar.
Tapi Dina tidak berbicara.
Suara keluar dari speaker.
Suara yang bukan suaranya. “Kenapa kamu ninggalin kami?”
Dina menjatuhkan ponsel. Layar retak. Tapi tetap menyala.
Pesan terakhir muncul di layar yang pecah.
Kamu lihat kami sekarang.
Bayangan di sudut kamar mulai bergerak.
Bukan satu.
Dua.
Tiga.
Seperti noda hitam yang merayap di dinding.
Suhu kamar turun drastis.
Napas Dina terlihat seperti uap.
Ia mundur sampai punggungnya menabrak pintu.
Tidak bisa dibuka. Dikunci dari luar?
Tidak.
Dikunci dari dalam.
Ia sendiri yang menguncinya tadi. Bayangan itu mendekat.
Dan saat itu—
semua lampu padam lagi.
Gelap total.
Pagi hari. Tetangga mencium bau tidak sedap dari kamar Dina.
Sudah tiga hari lampunya tidak pernah mati.
Pintu diketuk.
Tidak ada jawaban.
Didobrak.
Mereka menemukan Dina terduduk di lantai, punggung bersandar pada kasur.
Matanya terbuka.
Kosong.
Tubuhnya sudah kaku.
Laporan forensik:
Waktu kematian diperkirakan pukul 03.03.
Tiga hari lalu.
Malam kecelakaan.
Artinya—
Dina tidak pernah pulang dari rumah sakit. Ia meninggal di lokasi kecelakaan bersama Raka.
Tubuhnya ditemukan di kursi penumpang.
Tidak pernah terpental keluar. Tidak pernah sadar.
Semua ingatan setelah itu—tidak pernah terjadi.
Ruang forensik. Seorang petugas muda memeriksa barang-barang pribadi Dina.
Ponselnya rusak parah.
Baterai dilepas.
Ia menekan tombol power iseng.
Layar menyala.
Tanpa baterai.
Satu notifikasi muncul.
Kontak tanpa nama.
Kami masih kedinginan.
Petugas itu tertawa gugup. “Error sistem,” gumamnya.
Mode kamera depan terbuka sendiri. Wajahnya muncul di layar.
Di belakangnya—beberapa bayangan berdiri rapat.
Terlalu banyak untuk dihitung.
Lampu ruang forensik berkedip.
Jam digital berhenti.
03.03.
Layar ponsel berubah hitam. Lalu satu pesan terakhir muncul, huruf putih di atas gelap:
Sekarang kamu bisa lihat kami juga.
Ponsel bergetar sekali.
Lalu mati.
Dan kali ini—tidak pernah menyala lagi.
Sejak hari itu, angka 03.03 sering muncul di ponsel orang-orang yang pernah menyentuh barang-barang Dina.
Notifikasi kosong.
Tanpa pengirim.
Tanpa pesan.
Hanya layar yang menyala sendiri.
Dan bau tanah basah yang muncul entah dari mana.
Kalau suatu malam, jam di kamarmu berhenti di 03.03 dan ponselmu menyala tanpa sebab—jangan buka notifikasinya.
Karena mungkin…kamu sudah bisa melihat mereka.
Dan sekali kamu melihat, mereka akan tahu.
Dan mereka tidak pernah sendirian.