Khildan adalah pemuda berusia 20 tahun yang tinggal di Kampung Cibuntu, dekat pusat kota Bogor. Rambutnya keriting sedikit kusut, tubuh atletis karena sering membantu bapaknya bekerja di kebun teh. Tapi dari dulu, dia dikenal dengan ucapan yang kadang terlalu bebas dan pandangan yang cenderung hanya melihat sisi fisik perempuan.
Sore hari yang panas, Khildan sedang duduk di teras warung Pak Joko bersama tiga temannya: Rio, Anton, dan Bima. Mereka sedang asyik berbincang ketika sekelompok perempuan datang berjalan menyusuri jalan raya kecil yang melintas di depan warung.
"Eh liat dong, yang paling depan itu badan nya mantap banget," ucap Khildan dengan suara cukup keras, membuat temannya sedikit terkekeh.
"Khildan, jangan begitu dong," kata Rio dengan nada khawatir. "Orangnya bisa denger lho."
"Tidak apa-apa lah, cuma bercanda aja. Lagian kan memang jelas-jelas terlihat," jawab Khildan dengan ceria, masih terus menatap arah kelompok perempuan itu.
Salah satu dari perempuan itu berbalik melihatnya dengan tatapan yang tidak senang. Dia adalah Maya, mahasiswi Fakultas Keguruan yang sedang menjalankan program pengabdian masyarakat di desa itu. Dia berhenti sejenak, lalu mengarah ke arah Khildan dan temannya.
"Permisi mas," ucap Maya dengan suara yang tenang tapi jelas terdengar. "Kalau kalian mau berbicara tentang orang lain, sebaiknya lakukan di tempat yang tidak mengganggu ya. Atau lebih baik lagi, berbicara tentang hal yang lebih positif saja."
Khildan sedikit terkejut karena dia tidak menyangka perempuan itu akan menghadapinya langsung. "Ha? Saya cuma bercanda aja mbak, nggak ada maksud jahat kok," jawabnya dengan sedikit geli.
"Bercanda yang menyakitkan atau merendahkan bukanlah bercanda yang baik, mas," kata Maya sambil menatap Khildan dengan mata yang tegas. "Kita semua lebih dari sekadar penampilan luar kita. Kalau mas mau tahu, kami sedang mau ke balai desa untuk mendaftarkan diri sebagai pengajar sukarela di taman kanak-kanak lokal. Kalau mas punya waktu luang, lebih baik membantu orang lain daripada hanya melihat dan mengomentari penampilan orang."
Setelah mengatakan itu, Maya melanjutkan perjalanannya bersama teman-temannya. Khildan hanya terdiam, sementara temannya mulai berkomentar.
"Kata mbaknya bener lho Hil," ucap Anton. "Kita memang sering terlalu jauh dalam bercanda."
"Tidak apa-apa lah, dia cuma sok tahu aja," kata Khildan meskipun di dalam hati dia merasa sedikit tidak nyaman.
Hari berikutnya, Khildan kebetulan harus pergi ke balai desa untuk mengurus surat keterangan dari lurah. Saat sampai di sana, dia melihat Maya sedang duduk bersama beberapa ibu-ibu desa, sedang membicarakan tentang kegiatan belajar untuk anak-anak.
"Bu Siti, kalau anak-anak kita diajarkan sejak dini tentang pentingnya membersihkan lingkungan, pasti ke depannya mereka akan menjadi generasi yang lebih peduli," ucap Maya dengan ramah.
"Iya mbak, tapi bagaimana cara mengajarkannya ya? Anak-anak sekarang suka main sendiri aja," jawab Bu Siti, salah satu ibu-ibu RT.
"Kita bisa buat kegiatan bermain sambil belajar mbak. Misalnya, kita adakan lomba membersihkan halaman taman kanak-kanak, lalu bagi-bagi hadiah kecil. Anak-anak pasti suka dan sekaligus belajar nilai baik," jelas Maya dengan penuh semangat.
Khildan diam-diam mendengarkan percakapan itu. Dia melihat betapa Maya benar-benar peduli dengan masalah di desa itu, bukan hanya datang untuk sekadar memenuhi tugas kuliah.
Setelah selesai mengurus suratnya, Khildan hampir pergi ketika Maya melihatnya dan mengajaknya bicara.
"Mas Khildan kan? Mau kemana sekarang?" tanya Maya dengan senyum hangat.
"Eh, iya mbak. Mau pulang aja setelah ambil surat," jawab Khildan dengan sedikit gugup.
"Kalau begitu, mau nggak mas ikut membantu kita mengajarkan anak-anak besok pagi? Kita butuh bantuan orang untuk menyusun tempat duduk dan alat permainan sederhana," ajak Maya.
Khildan bingung. Dia tidak terbiasa dengan orang yang dulu dia komentari secara tidak pantas sekarang malah mengajaknya bekerja sama. "Eh... boleh aja mbak, kalau saya bisa bantu ya."
"Bagus sekali! Kita mulai jam 7 pagi ya di taman kanak-kanak. Terima kasih mas," ucap Maya dengan senyum yang membuat Khildan merasa sedikit malu dengan sikapnya yang dulu.
Besok paginya tepat jam 7, Khildan sudah ada di taman kanak-kanak. Maya sudah ada di sana bersama dua temannya, sedang menyiapkan buku dan alat tulis.
"Eh mas Khildan sudah datang ya, cepat banget. Terima kasih sudah mau membantu," ucap Maya dengan senang.
"Sama-sama mbak. Mau saya bantu apa dulu?" tanya Khildan.
"Bolehkah mas bantu menyusun meja dan kursi yang ada di gudang aja? Nanti anak-anak mau datang sekitar jam 8," kata Maya.
Saat sedang bekerja, mereka mulai berbincang santai.
"Mbak Maya dari mana ya?" tanya Khildan.
"Saya dari Jakarta mas, tapi sekarang kuliah di Universitas Bogor. Saya memilih desa ini karena saya merasa ada banyak hal yang bisa kita bantu di sini," jawab Maya sambil menata buku-buku.
"Kenapa mbak mau repot-repot datang ke desa jauh gini? Padahal bisa saja memilih tempat yang lebih dekat atau lebih nyaman," tanya Khildan yang penasaran.
"Karena mas, setiap orang punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik, bukan hanya mereka yang tinggal di kota besar. Anak-anak di sini sangat cerdas dan ingin belajar, tapi mereka butuh orang yang mau mengajar dan membimbing mereka," jelas Maya. "Selain itu, saya juga banyak belajar dari mereka dan dari warga desa sini. Misalnya tentang bagaimana hidup sederhana tapi penuh rasa syukur."
Khildan terdiam mendengar kata-kata Maya. Dia mulai menyadari bahwa dia sebelumnya hanya melihat luar dari orang lain, tanpa pernah tahu apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka.
"Maaf ya mbak tentang kata-kata saya kemarin. Saya salah besar berbicara seperti itu," ucap Khildan dengan suara rendah tapi jelas.
Maya berbalik melihatnya dan tersenyum. "Itu sudah tidak apa-apa mas. Yang penting kita bisa menyadari kesalahan dan berusaha untuk menjadi lebih baik bukan? Saya melihat mas punya hati yang baik, hanya saja mungkin belum tahu cara menyampaikannya dengan benar."
"Terima kasih mbak. Saya memang sering terlalu ceroboh dalam berbicara dan melihat orang lain. Saya akan coba mengubahnya," kata Khildan dengan tekad.
Seiring berjalannya waktu, Khildan benar-benar mulai berubah. Dia sering membantu Maya dalam kegiatan pengabdian masyarakat, mulai dari mengajar anak-anak, membantu membersihkan lingkungan desa, hingga membantu warga tua yang tinggal sendirian.
Suatu hari, dia sedang membantu Nenek Siti membersihkan halaman rumahnya ketika teman-temannya datang menemukannya.
"Eh Hil, kita mau main bola aja di lapangan belakang, mau ikut nggak?" tanya Rio.
"Sayangnya nggak bisa nih. Saya sedang membantu Nenek Siti. Besok aja ya kalau ada waktu," jawab Khildan sambil terus menyapu halaman.
Nenek Siti tersenyum melihatnya. "Anak muda sekarang sudah jarang yang mau membantu orang tua kayak saya. Khildan memang anak yang baik sekali."
Setelah teman-temannya pergi, Khildan duduk sebentar bersama Nenek Siti di teras rumahnya.
"Nenek, kenapa Nenek bisa bilang saya baik padahal dulu saya sering tidak sopan?" tanya Khildan.
"Karena anak, kesalahan adalah bagian dari hidup. Yang penting kita mau belajar dan berubah menjadi lebih baik. Saya melihat bagaimana kamu mengubah diri sejak bertemu dengan mbak Maya. Itu bukti bahwa kamu punya hati yang baik," jawab Nenek Siti dengan lembut.
Saat itu, Maya datang membawa makanan yang dia masak sendiri. "Halo Nenek Siti, halo Khildan. Saya bawa bubur ayam nih, biar kita semua bisa makan bareng."
Mereka makan bersama sambil berbincang hangat. Khildan merasa bahagia dengan apa yang dia rasakan sekarang. Dia sudah menemukan makna baru dalam hidupnya, yaitu membantu orang lain dan melihat setiap orang dengan rasa hormat.
Beberapa bulan kemudian, program pengabdian masyarakat Maya akan segera berakhir. Di malam sebelum dia kembali ke kampus, warga desa mengadakan acara kecil untuk mengucapkan terima kasih.
Di acara itu, Khildan diminta untuk memberikan pidato singkat. Dia berdiri di depan semua orang dengan sedikit gugup tapi penuh semangat.
"Semua warga desa yang saya hormati, teman-teman saya yang tersayang... Saya mau bilang terima kasih kepada mbak Maya. Sebelum bertemu dia, saya adalah orang yang ceroboh, suka berkata apa saja tanpa berpikir, dan hanya melihat orang dari sisi luarnya," ucap Khildan sambil melihat ke arah Maya yang sedang tersenyum.
"Tapi mbak Maya mengajarkan saya bahwa setiap orang punya nilai yang besar di dalam diri mereka. Dia menunjukkan bahwa membantu orang lain adalah hal yang membuat hidup kita lebih bermakna. Dari sekarang saya akan terus berusaha menjadi orang yang lebih baik, yang menghargai setiap orang tanpa melihat dari mana mereka berasal atau seperti apa penampilan mereka," lanjutnya, membuat beberapa orang tersentuh.
Setelah acara selesai, Khildan menemui Maya di halaman balai desa.
"Mbak Maya, terima kasih banyak ya untuk semua yang sudah mbak ajarkan. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana hidup saya kalau tidak pernah bertemu dengan mbak," kata Khildan dengan suara penuh rasa syukur.
"Sama-sama Khildan. Yang penting kamu sudah bisa menemukan jalan yang benar sendiri. Jangan berhenti ya menjadi orang yang baik dan selalu ingin membantu orang lain. Saya yakin kamu bisa menjadi contoh bagi pemuda lain di desa ini," jawab Maya.
"Saya akan tetap menjaga apa yang sudah saya pelajari mbak. Kalau ada kesempatan, saya juga ingin menjadi sukarelawan seperti mbak," kata Khildan.
"Itu ide yang bagus sekali! Kalau kamu mau, saya bisa memberikan informasi tentang program sukarelawan yang bisa kamu ikuti," ucap Maya.
Sebelum pergi, Maya memberikan buku catatan kepada Khildan. "Ini untuk kamu. Isinya adalah catatan saya tentang pengalaman saya di sini. Semoga bisa membantu kamu di masa depan."
Khildan menerima buku dengan hati yang penuh rasa syukur. Dia tahu bahwa hidupnya sudah berubah untuk yang lebih baik, dan dia akan terus berusaha menjadi orang yang bisa membuat orang lain bangga.