Algara tidak pernah menyadari bahwa hari ini akan tiba, dimana atensinya benar benar jatuh pada seorang gadis yang sejak tadi ia tunggu sambil menggerutu dan juga mengucapkan sumpah serapah nya untuk gadis itu.
gadis itu berjalan dengan anggun menggunakan dress sederhana, rambut yang terurai dan sebagian tertata rapih, menambah kesan manis dan juga lucu.
aroma mint bercampur melati yang biasanya hadir ketika gadis itu ada kini tergantikan dengan aroma strawberry yang lembut. Algara terdiam ditempatnya setelah melihat gadis itu berjalan melewatinya seolah olah dirinya tidak terlihat disana, benar benar tidak ada sapaan atau senyum bodoh yang biasanya gadis itu tunjukan.
beberapa kali memerjapkan matanya guna memastikan ini bukan mimpi, namun bunyi lonceng toko itu terdengar nyaring ditelinganya menandakan seseorang telah masuk kedalam toko bunga dimana ia bediri menunggu gadis itu datang.
"dia, benar benar mengabaikanku?" batinnya bertanya, namun ia segera menyusul masuk kedalam toko.
gadis itu berjalan kearah kasir meletakkan tas selempang nya keatas meja disana.dari arah belakang tokok seorang pemuda lainnya nampak berlari kecil menuju tempat kasir
"Hai al" sapa pemuda itu sebelum beralih menyapa gadis yang tengah sibuk menarik laci dan mulai menghitung uang yang ada didalam sana.
"Wowww ada apa denganmu mel? Apakah matahari hari ini terbit dari barat?" tanya pemuda itu dengan kekehan mengejek diakhir
"Diam kak!" gerutu gadis itu namun atensinya tetap pada beberapa lembar uang yang sedang ia hitung
"sejak kapan kamu bisa berubah menjadi manis, hhaha" godanya lagi, kali ini pemuda itu sedikit memainkan surai ikal gadis itu yang dibiarkan terurai.
"jangan dimainin kak reyvan! jangan menggangguku, aku sedang menghitung uang ish!"kesal gadis itu lalu menepis pelan tangan pemuda yang ia panggil reyvan.
lagi lagi pemuda itu hanya terkekeh gemas melihat raut wajah kesal pegawainya yang saat ini memanyunkan bibirnya. didepan mereka nampak algara yang memasang wajah datarnya namun juga ada perasaan tidak suka yang tersirat disana.
Reyvan beralih menatap pemuda yang sejak tadi menatapnya dan gadis itu
"ada perlu apa al? Ingin memesan buket? atau.." sebelum melanjutkan ucapannya ia kembali beralih menatap gadis disampingnya yang nampak tidak terusik dengan percakapannya dengan algara
algara yang niat awalnya sudah buyar ntah kemana, ia menatap kearah gadis itu sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan dari reyvan
"aku ingin-" -drama apalagi yang dimainkannya, bersikap mengabaikanku lagi?, Batin algara sebelum kembali melanjutkan ucapannya
"ya, aku ingin memesan satu buket mawar pink."
"Hanya itu?" tanya reyvan lagi, namun setelahnya algara menambah permintaan nya.
"Oh dan aku ingin tambahan bunga garbera putih, jadikan satu dengan mawar tadi." kali ini ia berbicara sambil kembali melirik kearah gadis itu. bukan hanya algara, reyvan pun ikut menoleh mengecek reaksi gadis disebelahnya. namun keduanya tidak menemukan apapun, gadis itu tetap tidak terusik seolah kedua pemuda itu tidak ada disana.
ada apa dengannya, biasanya gadis itu akan langsung memekik tidak terima jika algara memesan garbera dan itu bukan untuknya. kali ini dia lebih tenang? atau justru memang tidak peduli? batin reyvan bertanya tanya dengan perubahan kecil yang mengejutkan. sama hal nya reyvan, algara pun berpikir demikian.
dimana gadis protektif itu? yang selalu mengklaim segala hal yang berkaitan dengan yang diberikan algara adalah miliknya dan orang lain tidak boleh mendapatkan hal yang sama atau menirunya, gadis yang akan langsung menyambar algara dengan argumen argumen yang menurut algara itu tidak berbobot.apakah kepala gadis itu terbentur semalam? sial, apa saat meninggalkan gadis itu di trotoar ia membenturkan kepalanya ke tiang jalanan. Matanya menyorot kearah gadis itu, banyak pertanyaan dan.. argumen yang sudah dia siapkan sejak semalam yang seharusnya sekarang sudah mengakhiri semuanya.
tidak ingin menerka nerka lagi, reyvan lebih dulu membuka percakapan lagi
"Untuk bunga mawar kami ada, tapi untuk garbera-" reyvan menoleh kearah gadis disebelahnya lalu kemudian menoleh kearah algara lagi guna melanjutkan ucapannya
"berikan saja" ucap gadis itu singkat sebelum reyvan kembali berbicara. lalu ia menoleh cepat juga kearah gadis itu
"loh bukannya bunga itu mau kamu bawa per-"
"Kemana?" potong algara cepat, menatap reyvan dan gadis itu secara bergantian.
"Bukan urusanmu" ucap gadis itu dengan nada yang terlihat sangat biasa, namun ntah kenapa untuk algara itu justru seperti tusukan kecil dibenaknya.
sekali lagi dengan rasa tak percaya reyvan menoleh mantap gadis itu lama lama, matanya memerjap tak percaya. sampai ia merasakan aura situasi yang sudah tidak mengenakan dan ia pun segera membuka kembali pembicaraan.
"ah aku akan buatkan buket nya, al jika kamu ingin menunggu, kamu bisa keruangan sebelah sana" reyvan menunjuk ruang tunggu yang lengkap dengan shofa dan beberapa pajangan bunga yang tertata rapih.
saat reyvan hendak pergi tangannya dicekal oleh gadis itu
"biar aku saja kak, aku sudah selesai menghitung."
Tanpa menunggu persetujuan dari bos nya gadis itu mengambil keranjangnya dan beberapa peralatan lain yang ia butuhkan, kemudian melangkah pergi meninggalkan dua pemuda dengan perasaan tidak percaya nya.
"ada apa dengan kamu dan melita?" tanya reyvan, kini atensinya mengarah ke algara yang masih menatap punggung melita yang sudah tertelan pintu belakang."hei al!" reyvan sedikit menaikan nada bicaranya agar yang diajak bicara ini dengar.
tapi bukannya menjawab pertanyaan dari reyvan, algara justru menanggapi nya dengan permohonan "apa aku boleh ikut kebelakang?"
reyvan menghelai nafasnya pelan lalu mengangguk mengiyakan. mungkin mereka berdua memang butuh ruang untuk saling berbicara, karena tidak seperti biasanya melita mengabaikan algara.
_
_
ditaman belakang dimana beberapa bunga diletakkan juga ditanam disana. Melita tengah memotong beberapa tangkai mawar dengan sangat hati-hati, namun karena tangkai mawar memang berduri dan melita melupakan sarung tangannya, jari nya tertusuk duri mawar. ia meringis sesaat sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.
sementara itu dari kejauhan seseorang tampak bimbang, haruskah ia mendekat dan memulai pembicaraan. semuanya masih ia timbang timbang sambil memperhatikan melita dari kejauhan.
setelah selesai memetik mawar, melita beralih memetik garbera putih yang tersisa disana, itu adalah yang terakhir. tangannya terulur menyentuh kelopak kelopak putih itu, matanya menatap dengan tenang seolah ia sedang berbicara dengan bunga itu lewat pikiran. dan algara melihat itu, melihat bagaimana melita begitu menghargai bunga dihadapannya, ditambah dengan cahaya matahari yang tidak terlalu terik dan angin sepoi sepoi di pagi ini, meski jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi suasana disana terasa masih sangat sejuk.dan itu menambah kesan yang sempurna untuk algara menatap melita penuh kagum.
"sial! perasaan apa ini" hatinya sedikit berdesir, pikirannya menyangkal kekaguman itu. namun matanya tetap tertuju mengamati diam diam.
melita berbalik setelah selesai mengambil bunga yang ia perlukan, namun langkahnya terhenti saat ia melihat algara berdiri tepat dibelakangnya. sejak kapan dan bagaimana melita tidak menyadari pemuda itu datang. namun tak menunggu lama melita melangkah mengambil arah lain mencoba mengabaikan pemuda itu lagi. tapi algara tidak memberikan kesempatan pada melita untuk menghindar lagi. tangan melita dicekal oleh algara membuat melita sedikit terkejut
"lepaskan." ucap melita datar, tanpa menoleh kearah algara.
namun pemuda itu justru tersenyum mengejek, kemudian menarik melita agar berdiri tepat dihadapannya.
"apa lagi mel? apalagi yang kamu mainkan?" Algara terkekeh sebelum melanjutkan ucapannya."kamu mencoba menarik perhatianku dengan mengabaikanku lagi?" Algara menatap raut wajah didepan nya, tak ada perubahan tatapannya ntah mengarah kemana namun algara tahu ucapannya benar benar tidak mengusik kesabaran gadis itu.
dengan tawa yang sedikit dibuat buat algara dengan lancang mengarahkan wajah melita agar menatap kearahnya.
"tatap aku mel!" kesabaran nya hampir habis, ntah apa yang terjadi. Kenapa pula algara malah semarah ini sekarang. ditambah lagi ia mengingat bagaimana reyvan memainkan rambut melita dan menggodanya saat tadi, membuat percikan emosi itu sedikit terisi lagi.
kedua pasang mata itu saling bertemu, algara dengan tatapan emosi dan melita dengan tatapan jengah nya.
"kamu mau apalagi al?" Suara melita merendah seperti seseorang yang sudah lelah. "Lepaskan aku, dan aku akan mulai merakit buket untuk kekasih baru mu itu." kai ini melita menarik tangannya dengan paksa hingga terlepas, bisa dilihat pergelangan tangannya memerah. itu berarti algara menggenggamnya terlalu kuat.
Melita mulai melangkah lagi agar segera pergi dari sana, namun tiba-tiba saja algara kembali berucap dengan nada yang tegas "ayo akhiri ini semua!"
"Bahkan kita tidak pernah memulainyakan? al" melita menekan kata kata terakhirnya sebelum kembali melangkahkan kakinya menjauh dari sana.
algara terdiam ditempatnya, mencerna kata-kata yang barusan saja ia dengar dari mulut gadis yang selama ini selalu berbicara lembut kearahnya. gadis yang selalu menuntut balas atas setiap rasa yang ia berikan, padahal algara tidak pernah meminta perasaan itu.
seingatnya dulu..
.
.
.
"ahaha aduhh sakit perutku, bagaimana bisa pak RT itu berselingkuh dari ibu RT yang galak itu, dan lagi anaknya malah menyuruh mu yang melabrak bapaknya! aduhh ahahaha" melita tertawa terbahak bahak mendengar cerita dari pemuda didepannya, "jangan tertawa mel!" Pemuda itu aslinya kesal karena kejadian itu,tapi gadis didepannya ini malah menambahnya kesal dengan tertawa terlalu keras.
"Oke oke.. jadi kalian menunggu didepan tempat karaoke itu? berapa lama? lalu tertangkap tidak?" Pertanyaan beruntun itu diajukannya dalam sekali tarikan nafas, membuat algara memutar bola matanya malas. "kami nunggu, padahal bukti sudah didepan mata. tapi anaknya tidak berani mendatangi bapaknya." ucap algara kesal,"buang buang waktu aja aku nemenin tu anak!"
"Loh kenapa ngga kamu aja yang labrak?" tanya melita polos, tapi justru mendapatkan tatapan horor dari algara
"Lah! emang aku siapa? ya ogah aku labrak orang yang ngga ada kaitannya sama idupku!" Mukanya udah seperti orang mengajak berantem, tapi lagi lagi melita justru tertawa.
"yaudah sih jangan sensi gitu dong! ngalah ngalahin aku pas lagi dapet aja." ejeknya yang kemudian dihadiahi sentilan didahi nya "awhh! ALGARA!!"
"Hahaha rasain! Makanya jangan ngejek orang mulu kerjanya." Melita mendelik tapi kemudian ia beralih mengambil martabak manis yang dibelikan oleh algara.
Mereka tampak sangat cocok satu sama lain, apalagi jika perkara gibah! Jika ada lomba siapa yang paling sering gibah, mungkin mereka mendapat juara satu haha.
setelah keduanya sama sama hening, melita mengambil kesempatan untuk memulai pembicaraan lagi. tapi kali ini wajahnya tampak serius..
"Al" panggilnya tanpa menatap kearah orang yang ia panggil.
"apaan? hm?" algara mengambil potongan terakhir martabak dan mengunyah nya sambil menunggu melita kembali berbicara.
Melita mengangkat pandangannya dan menatap algara mantap."ayo balikan!"
"Ughuk uhukk ughk!" algara tersedak martabak yang sedang ia kunyah sekarang terasa benar benar serat ditenggorokannya.
"astaga! Nihh nih minum!" melita yang khawatir langsung memberikan air minum.
Hening sesaat, sura batuk algara sudah mereda tapi suasananya menjadi canggung. algara dan melita sebenarnya bukan hanya teman tapi mereka juga mantan. mungkin..
Meski dulu mereka berpacaran hanya pura pura, tapi melita justru benar benar kebawa hati. dan maka dari itu ia memberanikan diri untuk mengajak balikan.
jujur saja algara sangat terkejut, bagaimana bisa seorang wanita mengajaknya balikan lebih dulu. eh tapi bukan itu topik yang membuat algara terkejut, mereka itu dulunya hanya berpura pura tapi ternyata salah satu dari mereka menaruh hati. algara bingung harus menjawab apa, kalau boleh jujur algara memang nyaman dengan gadis itu, tapi tidak sampai yang nyaman dan ingin mengajaknya serius.
apa mungkin ia bisa mencobanya? Disaat algara sedang berfikir, melita berdiri dari duduknya. Oh iya lupa, tadi mereka sedang ada di tongkrongan kayak sejenis warung makan gitu. oke lanjut, melita tersenyum "yang tadi ngga usah dijawab kalau emang kamu keberatan." melita meraih tas dan kunci motor nya "udah jam 8 malem nih aku pulang duluan ya." Melita melangkah keluar dari tempat duduknya, namun sebelum benar-benar keluar melita berhenti disamping algara
"ngga diterima ngga apa al, tapi ijinin aku berusaha ya?" melita menunggu jawaban, tapi algara lagi lagi hanya menatapnya dengan beberapa kali kedipan.
"Kalau diem aku anggap iya. thanks ya martabak nya hihihii"
Melita melenggang pergi meninggalkan algara yang tengah berperang dengan pikirannya sendiri, kenapa dirinya tidak menjawab apapun. "Arghh! sial." umpat algara pada dirinya sendiri. ntah apa yang membuatnya begitu kesal.
.
.
.
algara memilih kembali kedalam toko dan menunggu pesanannya selesai, namun ia juga masih memikirkan segalanya dikepalanya yang kecil itu, mencoba mencerna satu persatu potongan puzzle yang ia ingat baik baik. Perkataan melita di halaman belakang tadi begitu menusuk, tapi algara tidak tahu kenapa ia merasa seperti itu. padahal niatnya sudah tercapai, melita tidak memprotes saat dirinya meminta untuk mengakhiri semuanya. tapi kenapa justru dirinya yang dilanda kegundahan.
"ck!" decaknya kesal,sambil mengusak usak rambut serta mukanya frustasi.
"ada apa?" itu reyvan, ia sudah mengamati algara sejak tadi baru masuk kedalam toko lagi. wajahnya tampak lesu tampak frustasi, reyvan duduk disebelah algara. menyodorkan secangkir kopi pada pemuda itu, dan algara menerimanya.
"Thanks." Ucap algara singkat.
dan dibalas daheman oleh reyvan, namun setelah nya reyvan kembali menatap algara menunggu jawaban. algara yang paham langsung menggelengkan kepalanya "tidak ada. aku hanya menambah riquest an saja padanya" bohong algara.namun hanya diangguki oleh reyvan.
dari ruang tunggu, kustomer bisa melihat pegawai toko itu merakit buket pesanan mereka. seperti yang kedua pemuda itu lihat, disana disudut yang sedikit jauh melita merangkai buket pesanan algara. tangannya begitu terampil bahkan fokusnya tidak teralihkan sama sekali.
"dia begitu menikmati nya ya" reyvan tersenyum menatap kearah melita
"hm ya, aku juga tak menyangka dia akan menyukai bunga." kali ini algara yang berucap, namun dengan nada malasnya.
"Kenapa?, karena kamu melihat dia bermain bersama mu di tongkrongan?" algara menoleh kearah reyvan saat mendengar penuturan dari reyvan
"Kamu tidak sadar ya al?" reyvan terkekeh kemudian menoleh kearah algara yang sudah menatapnya sejak tadi, seolah ingin menonjok dirinya,tapi apa alasannya. "ngga usah berbelit-belit." Ucap algara kesal.
"ah aku lupa ada pekerjaan, aku tinggal dulu" reyvan sengaja, jelas sengaja membuat algara semakin penasaran dan emosi. namun ia harus menahan nya, ia tidak mau ribut ditempat orang. ia masih waras.
Setelah beberapa saat, buket itu selesai. melita memberikan nya pada algara
"500rb" melita meletakan buket itu keatas meja. dan algara mengeluarkan ATM nya. setelah transaksi selesai algara segera pergi dari sana.
melita menatap kepergian pemuda itu, jujur sejak tadi ia menahan rasa sesak yang menyeruak mencoba keluar dari benaknya. dan saat pemuda itu benar-benar pergi, ia meraup oksigen sebanyak banyaknya guna menetralkan sakit akibat sesak.
_
_
_
"Hai riza, bagaimana kabarmu disana? maaf.. aku membawakanmu bunga aster. bunga garbera nya habis, nanti ketika aku sampai di bandung aku akan menanam lebih banyak. agar ketika aku berkunjung kamu tidak akan kecewa.." melita membersihkan area sekitar makam yang ia kunjungi. Di batu nisan itu tertulis jelas nama seseorang yang sudah tiada 'Riza adiata' dia seseorang yang sangat dekat dengan melita selain algara.
Bisa dibilang mereka bertiga sangat akrab, tapi menyimpan perasaan lebih dari sekedar teman pada hatinya masing masing. mungkin, kecuali algara?
kematiannya riza belum lama, baru satu bulan terakhir. Ia mengalami kecelakaan motor saat membawa hadiah kejutan milik algara.
Saat itu riza pikir hadiah itu dipersiapkan untuk ulang tahun melita dari algara, dan dirinya sudah memutuskan untuk merestui keduanya dan memendam perasaannya untuk melita. ia berpacu lebih cepat dari biasanya, mengingat ia sedikit terlambat karena algara terus terus saja menelponnya. dan saat konsentrasi nya terbagi akibat suara dering telepon itu, 5 detik kemudian motor nya sudah terpental dijalanan, tubuhnya limbung penuh darah berceceran bahkan kejutan berupa kue dan buket itu juga sudah berceceran. Sebelum kesadarannya benar benar hilang, ia menatap kearah kue yang sudah keluar dari bungkusnya, belum sepenuhnya hancur. dan riza bisa membaca nama seseorang disana.. 'jenie'
Kesadaran nya sudah hampir hilang, orang orang bahkan sudah mengerubungi nya. Beberapa orang segera menelpon ambulan dan orang lainnya membantu membereskan kecelakaan itu.
Dirumah sakit, melita sudah kacau. tangisannya sudah tidak bisa dibendung, sahabatnya terkulai lemas didalam sana.
Ia menggenggam erat ponsel milik sahabatnya, ia juga berusaha menghubungi algara yang ntah kemana sulit sekali dihubungi.
Disaat dokter keluar dari ruang UGD, satu pesan juga masuk kedalam ponsel riza. namun melita lebih dulu menyambut dokter itu, dan mendapatkan gelengan kepala. Kini tubuhnya terjatuh kelantai begitu saja, dan disaat bersamaan juga pesan di hp riza bertambah.
Melita menatap kearah pesan pesan itu, itu dari algara.
Isi pesannya..
(udah sampe mana?)
(ngga lu bikin lecetkan kado ama kue nya)
(Jenie udah nunggu nih.)
(eh, lu ngga bawa mel kan?, jangan dibawa kalau lu ketemu dia ya. ntar dia ngereok lagi)
Melita segera mematikan ponsel itu. Kini dirinya berjalan kearah riza yang sudah tidak bernyawa. Selain sakit hatinya melihat pesan pesan yang dikirimkan oleh algara, hatinya semakin hancur saat melihat wallpaper hp riza adalah dirinya disaat belajar menanam bunga garbera. ditambah, ia melihat sematan pengingat bahwa hari ini adalah ulang tahunnya di di hp riza.
"BANGUN!! sialan bangun!! Hikss hikss lu harus bangun!! hiks.." melita mengguncang guncang tubuh riza sekuat yang ia bisa, tubuhnya jatuh memeluk jenazah itu
"kalau lu ngga bangun.. gue ngerayain ultah sama siapa za.." melita menatap wajah riza yang sudah pucat, air matanya tak henti hentinya mengalir deras. ia lagi lagi mengguncang tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. "RIZA BANGUN! HIKSS.. katanya lu mau bawa gue ke bandung, buat liat kebun bunga punya nenek.. za.. lu ngga boongin gua kan.. hiks.." melita buru buru menggenggam tangan riza yang sudah dingin dan membawanya ke pipinya.
"nanti kalau lu bangun, kita pergi berdua. al ngga usah kita ajak kayak mau lu. plis za bangun hiks hiks hiks.."
Beberapa perawatpun akhirnya datang untuk mengurus kepulangan jenazah itu,dan ada yang membantu menenangkan melita disana.
setelah satu minggu, algara baru tahu jika temannya itu sudah meninggal, itupun dari beberapa temannya yang tidak terlalu akrab dengannya, mencibir dirinya yang justru habis jalan jalan dengan jenie.
dengan keadaan panik algara mencoba menelpon melita, namun nomor itu sulut dihubungi. dan akhirnya ia memutuskan untuk datang ke rumah riza guna mengucapkan belasungkawa. disana sedang ada acara tujuh harian, namun algara tidak melihat sosok melita disana. kemana anak itu batinnya mencoba menerka. namun tak berselang lama melita hadir membuat algara segera menuju kearahnya
"Kenapa ngga ngubungin?" tanya algara kesal. melita tak langsung menjawab, ia lebih dulu meletakan kue yang ia bawa
"maaf, aku lupa" ucapnya kemudian tersenyum, padahal melita bisa saja membantah karena saat itu ia sudah mencoba berkali kali menghubungi pemuda itu, namun nihil tidak ada jawaban.
"kok kamu bisa sesantai ini sih mel?!" oh ya tuhan siapapun tolong tonjok muka algara segera!
Melita hanya menggeleng pelan sebelum dirinya menjawab pertanyaan algara "riza udah tenang, aku cuma ngga mau ganggu." -deg. algara terdiam, kemudian tidak melontarkan perkataan apapun lagi.
setelah itu mereka menjalani kehidupan seperti biasanya, masih dengan melita yang terus mengejar ngejar algara. sampai tepat hari sebelum satu bulan kematian riza, mereka bertemu di tengah malam yang dingin karena hujan baru saja turun.
didalam mobil algara, disana melita meminta penjelasan pada algara tentang siapa 'jenie' sebenarnya. namun algara justru terus mengalihkan pembicaraan, sampai akhirnya "turunkan aku!" ucap melita membentak
"Jangan kekanakan mel!, jangan terus memaksaku!" Balas algara kesal
melita menatap algara dengan air matanya "sesulit itu ya al? sesulit itu memberikan penjelasan padaku? kenapa? kenapa tidak kamu katakan sejak riza masih ada jika kamu sudah mempunyai kekasih?" algara terdiam mendengar penuturan melita, namun sorot matanya sedikit tidak terima dengan penuturan itu. "jangan asal menebak mel! lagipula tidak ada tanggung jawabku untuk menjelaskan nya padamu. karena kamu bukan siapa siapaku." Sarkas algara, kilatan emosi terlihat di bola mata bulat itu.
dan kini didalam mobil terisi gelak tawa dari melita. bukan tawa dari rasa bahagia tapi tawa dari rasa mengasihani dirinya sendiri. oke sudah. bagi melita jawaban dari algara sudah sangat memuaskan, bahkan jika pemuda itu tidak mau mengakui dengan lantang hubungan nya dengan jenie. toh, memang itu sifat dia dan melita selalu menutupinya dengan dialog 'dia butuh perhatian lebih, jadi biarkan saja.' itu yang selalu mengisi pikiran melita ketika mengetahui bahwa algara memiliki banyak teman yang akrabnya melebihi teman.
Mobil itu sudah berhenti sejak algara mulai berteriak, dan kini melita memutuskan untuk turun dari sana. berjalan di trotoar jalanan yang sepi.
Mobil algara juga belum kembali berjalan, tapi dirinya juga tidak mengejar gadis itu.
algara memejamkan matanya guna mengontrol emosinya, dia tahu bahwa berdebat dengan gadis itu atau menjelaskan sesuatu disaat gadis itu sedang kacau ia tidak akan menerimanya. itu hanya buang buang tenaga saja, belum lagi dirinya juga ada masalah dirumahnya. algara memilih memutar mobilnya dan berbalik arah, meninggalkan melita yang berjalan sendirian.
_
_
_
hari itu sudah sore, sudah 3 jam melita dimakam riza. ia akhirnya pun bangkit dari duduknya mengusap nisan itu sebelum mengucapkan perpisahan. "baybay za, nanti kalau aku udah berhasil nanam semua jenis garbera aku balik kesini ya. nanti aku bawakan satu mobil penuh garbera biar kamu bisa berbagi sama temen temen kamu" ucap melita sambil menatap sekeliling makam lainnya.
ya, sore itu adalah sore terakhir melita di Jakarta. Karena pagi besok ia berangkat ke bandung. ia juga tidak lupa berpamitan pada bosnya, tentu saja reyvan yang tahu melita akan pergi tadinya mencegah dan mencoba membujuk. namun gadis itu tetap pada pilihannya, menjauh dari Jakarta dan kenangannya. reyvan tidak bisa berbuat apapun, tapi ia meminta agar besok dirinya bisa mengantar melita saat menaiki bus menuju bandung.dan melita mengijinkannya.
selesai.
_cinta yang benar hanya hadir pada orang orang yang beruntung_
gimana cerpennya?kurang lebihnya mohon dimaafkan ya. cerpen ini hanya fiktif belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. saran dan kritik nya boleh dong ditulis di kolom komentar, dan kalau bisa beri mangga juga ya hihii.
dan kalau cerpennya mau dilanjutkan bisa dibantu di komen okay, nanti kalau kalian mau lanjutannya aku tuliskan bagaimana algara tanpa melita, dan bagaimana melita dengan dunianya.
terimakasih untuk yang sudah mampir ke cerpen aku! maaf juga kalau bahasa dan katanya masih acak acakan, ini cerpen pertama aku hehe..