Aku dibayar untuk membuat perempuan merasa dicintai.
Tapi tak pernah sekalipun aku merasa dicintai.
Namaku Rendra Adiputra. Dan malam ketika semuanya berubah, langit Surabaya diguyur hujan tipis yang membuat lampu-lampu Tunjungan memantul seperti kilau yang palsu—indah dari jauh, dingin ketika disentuh.
Aku sedang berada di kamar hotel lantai dua puluh. Perempuan itu—klien tetapku selama hampir setahun—tertawa kecil sambil menuangkan anggur ke gelas kristal. Usianya empat puluh lima, wajahnya terawat, cincin berlian melingkar di jari manisnya. Ia menyukaiku karena aku pendengar yang baik. Karena aku tahu kapan harus tersenyum, kapan harus memegang tangannya, dan kapan harus membuatnya merasa menjadi satu-satunya perempuan di dunia.
Aku profesional. Itu yang selalu kuucapkan pada diri sendiri.
Namun malam itu, setelah gelas kedua, tawanya berubah menjadi batuk. Batuk itu makin keras. Ia memegang dadanya. Wajahnya pucat. Gelas jatuh, pecah di lantai marmer.
“Rendra…” suaranya nyaris tak terdengar.
Aku mendekat, panik. “Bu? Ibu kenapa?”
Ia terjatuh di atas kasur. Tubuhnya kejang sebentar, lalu diam.
Sunyi.
Aku mengguncangnya. Memanggil namanya. Tidak ada jawaban. Detik-detik terasa seperti jarum yang menusuk kulitku satu per satu.
Aku tahu CPR seadanya. Tapi tanganku gemetar. Napasnya tidak kembali.
Ketika ambulans datang, semuanya sudah terlambat.
---
Pihak hotel memanggil manajer. Manajer memanggil “orang atas”. Aku diminta duduk di ruang kecil dengan dinding kaca buram. Ponselku diambil sementara.
Satu jam kemudian, seseorang masuk. Bukan polisi. Bukan petugas medis. Tapi lelaki berjas hitam yang sangat kukenal.
Rudi.
Dia bukan sekadar mucikari. Dia pengatur jaringan. Orang yang menghubungkan lelaki seperti aku dengan perempuan-perempuan berduit yang ingin kesenangan tanpa jejak.
Wajahnya tak menunjukkan panik.
“Kamu diam saja,” katanya pelan, duduk di depanku. “Kita urus.”
“Dia meninggal, Rud,” suaraku serak.
“Serangan jantung. Dokter sudah konfirmasi awal. Jangan banyak bicara.”
Tatapannya tajam. Peringatan.
Aku tahu maksudnya. Dalam dunia ini, yang selamat bukan yang benar, tapi yang berguna.
Aku masih berguna.
Tapi untuk siapa?
---
Berita kematian itu tidak muncul besar-besaran. Hanya kabar singkat di kolom kecil: seorang pengusaha perempuan meninggal karena serangan jantung di hotel. Tidak ada namaku. Tidak ada detail.
Namun Rudi memanggilku dua hari kemudian.
“Kita butuh kamu beberapa minggu lagi. Jangan ngilang dulu,” katanya.
Aku menatapnya. “Gue mau berhenti.”
Dia tertawa kecil. “Berhenti? Kamu pikir ini kerja kantoran?”
“Aku capek.”
“Capek itu nanti kalau sudah miskin lagi.”
Kalimat itu menghantam tepat di dadaku. Miskin. Kata yang selalu membuatku menggigil.
Aku lahir di gang sempit daerah Dupak. Ayahku sopir truk yang jarang pulang. Ibuku jualan nasi bungkus. Utang menumpuk karena ayahku hobi judi. Ibuku meninggal karena stroke setelah bertahun-tahun menahan stres.
Aku bersumpah tak akan miskin lagi.
Dan aku menepati sumpah itu—dengan cara yang kotor.
Tubuhku jadi komoditas. Senyumku jadi harga. Aku masuk ke hotel-hotel yang dulu hanya bisa kulihat dari luar. Memakai parfum mahal. Mengendarai mobil yang tak pernah kubayangkan.
Tapi setiap malam, ketika kamar gelap dan klien sudah tertidur, ada ruang kosong yang tak pernah terisi.
Malam perempuan itu meninggal, ruang kosong itu berubah menjadi lubang.
---
Aku tetap menerima satu klien lagi minggu berikutnya. Bukan karena ingin. Tapi karena Rudi memaksa. “Biar kelihatan normal,” katanya.
Perempuan itu muda. Janda pejabat. Ia memelukku seperti mencari pelampung.
Aku melakukan semua seperti biasa. Tersenyum. Membelai. Berbisik.
Tapi ketika ia tertawa, aku teringat suara batuk yang berubah menjadi sunyi.
Tiba-tiba aku merasa mual.
Aku bangkit dari kasur. “Maaf, saya tidak enak badan.”
Ia mengernyit. “Kamu tidak pernah begini.”
Aku tahu.
Aku tidak pernah begini.
Aku pulang sebelum subuh. Duduk lama di mobil di parkiran apartemenku di Darmo. Kota masih gelap. Tapi aku merasa semua lampu menyorotiku.
Aku tidak takut polisi. Aku takut cermin.
---
Dua minggu kemudian, aku benar-benar menghilang.
Nomorku kuganti. Apartemen kutinggalkan. Mobil kujual cepat. Aku pindah ke kos kecil di daerah Keputih dengan nama samaran.
Rudi menelepon berkali-kali lewat nomor tak dikenal. Aku tidak angkat.
Untuk pertama kalinya sejak usia dua puluh dua, aku tidak punya klien. Tidak punya jadwal. Tidak punya uang besar.
Aku hanya punya tabungan dan waktu.
Waktu yang terasa berat.
Suatu sore, tanpa tujuan jelas, aku berkendara ke arah Kenjeran. Angin laut menerpa wajahku. Bau asin bercampur aroma ikan.
Di dekat pantai, aku melihat sekelompok anak kecil duduk melingkar. Seorang perempuan berdiri di depan mereka, memegang papan tulis kecil.
Ia mengenakan jilbab biru sederhana. Wajahnya tidak menor. Suaranya lembut tapi tegas.
“Kalau kalian mau hidup lebih baik, kalian harus sekolah,” katanya.
Aku berhenti agak jauh, mengamati.
Anak-anak itu anak jalanan. Bajunya kusam. Tapi mata mereka berbinar.
Perempuan itu melihatku berdiri terlalu lama. Ia mendekat.
“Mas, ada yang bisa dibantu?” tanyanya sopan.
Aku tertegun. Biasanya perempuan memandangku dengan dua jenis tatapan: tertarik atau menilai. Tatapannya berbeda. Netral. Manusia.
“Saya cuma lewat,” jawabku.
Ia tersenyum tipis. “Kalau mau bantu, kami selalu butuh relawan. Atau donasi buku.”
Namanya Nadira.
Aku tahu dari anak-anak yang memanggilnya “Kak Dira”.
Aku tidak tahu kenapa, tapi keesokan harinya aku kembali. Membawa beberapa buku tulis yang kubeli di minimarket.
Nadira tersenyum lebih lebar kali ini. “Terima kasih, Mas…?”
“Rendra,” jawabku, hampir ragu menyebut nama sendiri.
Ia mengulurkan tangan. “Saya Nadira.”
Sentuhannya hangat. Tanpa agenda tersembunyi.
---
Hari-hari berikutnya aku mulai sering datang. Awalnya hanya mengantar air minum. Lalu membantu mengatur anak-anak yang ribut.
Aku tidak pernah menceritakan masa laluku. Di hadapan mereka, aku hanya lelaki pengangguran yang sedang mencari arah.
Suatu sore, seorang anak bertanya, “Om kerja apa?”
Aku terdiam.
Nadira menjawab duluan, “Om Rendra lagi cari kerja yang cocok.”
Aku menoleh padanya. Ia tidak terlihat curiga. Tidak menuntut.
Malamnya aku berpikir lama. Selama ini aku selalu menjual diri agar dianggap berharga. Sekarang, seseorang memperlakukanku seolah aku sudah cukup.
Itu membuatku takut.
Bagaimana kalau ia tahu?
---
Rudi akhirnya menemukanku.
Aku baru keluar dari warung ketika sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depanku. Kaca turun perlahan. Wajahnya muncul.
“Kamu pikir bisa kabur?” katanya tenang.
Aku menelan ludah. “Gue udah keluar.”
“Kamu punya utang.”
“Utang apa?”
“Jaringan itu bangun kamu. Klien-klien kamu itu dari siapa?”
Aku menatapnya lurus. “Gue bayar komisi tiap kali.”
Dia tersenyum tipis. “Ada rekaman CCTV malam itu. Kamu di kamar sampai ambulans datang. Kalau keluarga korban mau, kasus bisa dibuka lagi.”
Darahku terasa membeku.
“Kamu mau apa?” tanyaku pelan.
“Balik. Atau bayar.”
“Berapa?”
Ia menyebut angka yang membuat napasku berat.
Itu hampir seluruh tabunganku.
Aku pulang dengan kepala pening. Malam itu aku tidak tidur. Wajah Nadira dan anak-anak silih berganti dengan bayangan ruang hotel dan tubuh tak bernyawa.
Aku bisa kembali. Dapat uang cepat. Bayar Rudi. Selesai.
Tapi berarti kembali ke lubang yang sama.
Pagi harinya aku pergi ke pelabuhan Tanjung Perak. Mencari kerja serabutan. Bongkar muat. Gaji harian. Berat, kasar, melelahkan.
Tubuhku yang biasa dipuji kini benar-benar dipakai bekerja.
Setiap lembar uang terasa berbeda. Tidak besar. Tapi bersih.
Butuh dua bulan untuk mengumpulkan sebagian besar uang yang diminta Rudi. Sisanya kuambil dari tabungan terakhir.
Aku menghubunginya.
“Kita ketemu.”
Kami bertemu di parkiran kosong. Aku menyerahkan amplop tebal.
“Ini semua,” kataku.
Ia menghitung cepat. Mengangguk. “Kamu benar-benar mau jadi orang biasa?”
Aku tidak menjawab.
Ia menatapku lama, lalu berkata, “Kalau suatu hari kamu butuh uang cepat, pintu masih terbuka.”
“Aku harap nggak,” jawabku pelan.
Itu terakhir kalinya aku melihatnya.
---
Aku pikir setelah itu hidup akan tenang.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Suatu sore, saat membantu anak-anak belajar membaca, seorang perempuan dewasa datang. Wajahnya kukenal. Klien lama.
Ia berdiri kaku melihatku duduk di lantai dengan anak-anak.
“Rendra?” suaranya setengah tak percaya.
Nadira menoleh. “Mas kenal?”
Aku berdiri perlahan. “Iya. Teman lama.”
Perempuan itu menatapku dari atas ke bawah. “Kamu menghilang. Saya cari kamu.”
Nadira memperhatikan kami bergantian.
“Aku sudah berhenti,” kataku.
Perempuan itu tertawa kecil, nada yang terlalu akrab. “Berhenti dari apa?”
Aku merasakan jantungku berdetak keras.
Nadira memandangku, menunggu penjelasan.
Untuk pertama kalinya, aku sadar: masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu momen untuk kembali.
Perempuan itu akhirnya pergi setelah berbicara singkat. Tapi tatapan Nadira berubah. Bukan jijik. Bukan marah. Tapi ingin tahu.
“Malam ini kamu ada waktu?” tanyanya pelan.
Kami duduk di tepi pantai Kenjeran saat matahari hampir tenggelam. Langit oranye. Angin membawa suara ombak.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan dulu?” tanyanya langsung.
Aku bisa berbohong. Mengarang cerita. Mengatakan aku marketing, event organizer, apa saja.
Tapi aku lelah berbohong.
“Aku gigolo,” kataku akhirnya. Suaraku hampir tenggelam oleh ombak. “Aku dibayar perempuan-perempuan kaya buat nemenin mereka.”
Sunyi.
Aku tidak berani menatapnya.
“Ada yang meninggal waktu sama aku,” lanjutku. “Bukan karena aku sengaja. Tapi aku ada di sana.”
Aku menunggu ia berdiri. Pergi. Mengutukku.
Sebaliknya, ia bertanya pelan, “Sekarang?”
“Sekarang aku kerja di pelabuhan. Bantu kamu di sini. Cuma itu.”
Ia menghela napas panjang. “Kenapa kamu cerita?”
“Karena kalau kamu tahu dari orang lain, pasti lebih sakit.”
Ia terdiam lama. Lalu berkata, “Kamu menyesal?”
“Setiap hari.”
“Dan kamu mau balik?”
“Tidak.”
Angin meniup jilbabnya. Ia menatap laut, bukan aku.
“Aku tidak bisa pura-pura tidak kaget,” katanya jujur. “Tapi aku juga lihat kamu di sini. Sama anak-anak. Kamu tidak kelihatan seperti orang yang sama.”
Aku merasa tenggorokanku tercekat.
“Masa lalu kamu tidak bisa dihapus,” lanjutnya. “Tapi kamu tidak sedang di masa lalu.”
Air mata yang selama ini kutahan akhirnya jatuh. Bukan karena dihakimi. Tapi karena tidak dihakimi.
“Aku tidak tahu apa kita bisa jadi lebih dari teman,” katanya pelan. “Tapi aku tahu satu hal. Setiap orang berhak kesempatan kedua.”
Senja tenggelam perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak malam di hotel itu, aku merasa napasku utuh.
Aku tidak tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Mungkin akan ada bisik-bisik. Mungkin ada orang yang membongkar semuanya.
Tapi kali ini, aku tidak ingin lari.
Aku pernah menjual tubuhku demi uang dan rasa aman yang palsu. Sekarang aku belajar hidup dengan tangan yang kotor oleh kerja, tapi hati yang pelan-pelan dibersihkan oleh kejujuran.
Namaku Rendra.
Aku mantan gigolo Surabaya.
Dan untuk pertama kalinya, aku memilih menjadi manusia—bukan barang.