Damar berdiri di bawah papan kecil bertuliskan “Parkir Masjid Al-Ikhlas” yang catnya mulai mengelupas. Sore itu langit berwarna jingga, dan azan Magrib baru saja selesai dikumandangkan. Motor-motor berjejer rapi di halaman. Ia memegang peluit kecil, rompi oranye lusuh menggantung di tubuhnya yang tinggi besar.
Orang-orang mengenalnya sebagai tukang parkir masjid.
Sedikit sekali yang tahu bahwa dulu, namanya disebut dengan bisik-bisik ketakutan.
Di bawah rompinya, di balik lengan panjang yang selalu ia pakai meski cuaca panas, kulitnya penuh tato. Tengkorak, pisau, tulisan nama geng, dan satu gambar naga besar yang membentang dari bahu sampai siku. Setiap gambar punya cerita. Setiap tinta adalah bekas dosa yang tak mudah hilang.
Ia menunduk ketika seorang bapak tua menyerahkan uang parkir.
“Terima kasih, Pak.”
Suaranya berat, tapi lembut. Tak seperti dulu.
---
Dulu, Damar adalah orang yang tak pernah menunduk.
Ia tumbuh di gang sempit yang dipenuhi suara pertengkaran. Ayahnya pemabuk, ibunya penjual gorengan yang sering menangis diam-diam di dapur. Sejak kecil, Damar belajar bahwa dunia adalah tempat yang keras. Kalau tidak memukul, kau akan dipukul. Kalau tidak mengancam, kau akan diinjak.
Usia lima belas tahun ia sudah bergabung dengan kelompok preman pasar. Usia delapan belas, ia sudah punya anak buah. Tangannya lebih cepat dari pikirannya. Golok lebih akrab dari sajadah.
Tato pertamanya dibuat di sebuah kamar kontrakan dengan jarum rakitan. Ia menahan sakit tanpa meringis. “Biar kelihatan garang,” katanya waktu itu.
Garang memang. Ditakuti juga.
Tapi tidak pernah benar-benar dihormati.
---
Perubahan itu datang bukan dengan petir atau mimpi aneh. Ia datang dalam bentuk yang sederhana: seorang lelaki tua yang dipukulnya.
Waktu itu, Damar menagih uang keamanan. Lelaki tua itu menolak. “Saya cuma jualan kecil-kecilan. Untungnya sedikit,” katanya.
Damar tak mau dengar. Dorongan kecil berubah jadi tamparan. Lelaki itu jatuh. Kepalanya membentur aspal. Darah mengalir.
Orang-orang berteriak. Damar kabur.
Malamnya ia tahu lelaki itu meninggal.
Sejak saat itu, setiap kali ia memejamkan mata, wajah lelaki tua itu muncul. Bukan marah. Bukan membenci. Hanya menatap dengan mata yang sedih.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Damar merasa takut.
Bukan takut pada polisi. Bukan pada balas dendam. Tapi pada dirinya sendiri.
---
Ia mulai jarang ikut kumpul geng. Minuman keras terasa pahit. Tawuran tak lagi memuaskan.
Suatu malam, ia berjalan tanpa tujuan. Sampai langkahnya berhenti di depan masjid kecil yang lampunya temaram. Dari dalam terdengar suara anak-anak mengaji.
Ia berdiri di luar pagar. Mendengar.
Suara huruf-huruf hijaiyah dilafalkan terbata-bata. Ada yang salah sebut, ada yang tertawa kecil. Seorang ustaz membenarkan dengan sabar.
Damar tak tahu kenapa dadanya terasa sesak.
Ia tak pernah belajar membaca Al-Qur’an.
Tak pernah pula merasa ingin.
Malam itu, ia duduk di tangga masjid setelah semua pulang. Tangannya gemetar. Air mata yang sudah lama tak ia kenal, jatuh tanpa permisi.
“Kalau Tuhan memang ada,” gumamnya lirih, “apa Dia masih mau lihat orang kayak gue?”
---
Butuh waktu lama sebelum ia benar-benar berani masuk.
Hari pertama ia datang, jamaah menoleh. Beberapa berbisik. Ada yang tampak waspada. Tubuhnya besar, wajahnya keras, dan ia mengenakan jaket panjang meski udara panas.
Ia duduk di saf paling belakang.
Saat sujud, dahinya menyentuh lantai. Dingin. Asing. Tapi entah kenapa, terasa seperti pulang.
Sejak itu ia rutin datang. Awalnya hanya salat Magrib. Lalu Isya. Lalu Subuh.
Ia berhenti dari geng tanpa drama. Hanya pergi. Ada yang mengejek. Ada yang mengancam. Ia diam saja.
Untuk hidup, ia menerima pekerjaan apa pun. Hingga pengurus masjid yang melihat kesungguhannya menawarinya pekerjaan sebagai tukang parkir.
“Kalau kamu mau,” kata Pak Rahman, ketua DKM, “kami butuh orang yang jaga halaman.”
Damar menunduk. “Saya mau, Pak.”
---
Masalahnya bukan pekerjaan.
Masalahnya adalah perasaan.
Setiap kali ia melihat jamaah bersarung putih bersih, ia merasa kotor. Setiap kali melihat anak-anak mengaji dengan lancar, ia merasa bodoh.
Ia ingin belajar. Tapi malu.
Suatu sore, saat anak-anak sudah pulang, ia berdiri di depan pintu kelas kecil di samping masjid. Ustaz Hamdi sedang merapikan buku.
“Ada apa, Dam?” tanya ustaz itu lembut.
Damar menelan ludah. “Saya… bisa belajar ngaji?”
Ustaz Hamdi tersenyum lebar. “Tentu bisa. Kenapa tidak?”
Damar mengangkat lengannya, sedikit memperlihatkan tato yang mengintip dari pergelangan. “Saya begini, Ustaz.”
Ustaz Hamdi menatapnya lama. “Huruf hijaiyah tidak memilih tangan siapa yang memegangnya.”
Kalimat itu menancap dalam.
---
Belajar di usia hampir tiga puluh bukan hal mudah. Lidahnya kaku melafalkan “tsa”, “dza”, dan “zha”. Ia sering salah. Wajahnya memerah tiap kali ustaz membetulkan.
Tapi ia tidak menyerah.
Anak-anak kecil sering mengintip dan tertawa kecil melihat “Om Parkir” mengeja seperti mereka. Ia menahan malu.
Suatu hari, seorang anak laki-laki mendekatinya.
“Om, itu gambarnya apa?” tanya bocah itu polos, menunjuk ke arah lengan yang sedikit tersingkap.
Damar buru-buru menurunkan lengan bajunya. “Gambar lama,” jawabnya.
“Om jahat dulu?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Ia berlutut agar sejajar dengan anak itu. “Dulu Om banyak salah. Sekarang Om lagi belajar jadi baik.”
Anak itu tersenyum. “Bagus. Kata Bu Guru, Allah sayang orang yang mau berubah.”
Kalimat sederhana itu membuat mata Damar berkaca-kaca.
Anak kecil itu tak takut padanya. Tak memandangnya hina.
Hanya melihatnya sebagai orang yang sedang belajar.
---
Keinginannya menghapus tato muncul pelan-pelan. Setiap kali wudu, ia menatap tinta-tinta itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu tato tidak menghalangi taubat. Tapi ia ingin benar-benar meninggalkan masa lalu.
Ia bertanya tentang biaya laser. Angkanya membuatnya terdiam lama. Uang parkir tak cukup.
Ia mulai menabung. Mengurangi makan di luar. Menolak ajakan nongkrong. Setiap lembar uang ia sisihkan dengan tekad.
Namun ujian datang lagi.
Suatu sore, dua orang dari geng lamanya datang ke masjid.
“Heh, Dam,” kata salah satunya sambil tertawa sinis. “Sekarang jadi tukang parkir? Jadi ustaz?”
Damar menarik napas panjang. “Gue cuma cari hidup.”
“Balik aja. Kita lagi butuh orang. Duitnya gede.”
Damar menatap halaman masjid. Anak-anak sedang berlarian. Azan hampir berkumandang.
“Gue nggak balik,” katanya pelan.
Salah satu dari mereka mendekat, mencengkeram lengannya. “Jangan sok suci.”
Damar tidak melawan. Ia hanya melepaskan tangan itu perlahan. “Gue cuma capek.”
Mereka pergi dengan ejekan. Damar gemetar, bukan karena takut, tapi karena sadar betapa tipis jarak antara masa lalu dan sekarang.
---
Malam itu ia sujud lebih lama dari biasanya.
“Ya Allah,” bisiknya, “kalau Engkau masih mau terima, kuatkan saya.”
Air mata membasahi sajadah.
Ia sadar hijrah bukan soal penampilan. Bukan soal dipuji orang. Ia adalah perang panjang melawan diri sendiri.
---
Beberapa bulan kemudian, tabungannya cukup untuk satu sesi penghapusan tato kecil di pergelangan. Ia datang ke klinik dengan tangan berkeringat.
Rasa sakitnya berbeda dari saat ditato dulu. Ini bukan sakit untuk terlihat garang. Ini sakit untuk melepaskan.
Ketika satu gambar kecil mulai memudar, ia tersenyum.
Prosesnya panjang. Tak bisa sekaligus. Tapi ia tidak terburu-buru lagi.
Ia belajar bahwa perubahan juga butuh waktu.
---
Suatu hari Jumat, Pak Rahman jatuh sakit. Damar diminta membantu membagikan air minum setelah salat.
Ia berdiri di depan jamaah, menyerahkan gelas satu per satu. Wajah-wajah yang dulu memandangnya dengan curiga kini tersenyum biasa.
Seorang bapak tua yang baru pindah ke lingkungan itu menepuk bahunya. “Terima kasih, Nak.”
Nak.
Bukan “preman”. Bukan “orang itu”.
Nak.
Damar menunduk dalam-dalam.
---
Malam harinya, ia duduk sendirian di tangga masjid. Langit gelap, tapi bintang terlihat jelas. Ia membuka mushaf kecil yang kini sudah bisa ia baca perlahan.
Tangannya masih bertato. Tapi sebagian sudah mulai pudar.
Ia sadar mungkin tak semua tinta akan hilang. Bekasnya mungkin tetap ada. Tapi hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Langkah kecilnya mungkin tak spektakuler. Ia bukan ustaz. Bukan orang alim. Hanya mantan preman yang sedang belajar.
Anak kecil yang dulu bertanya tentang tato kini sering duduk di sampingnya saat mengaji. “Om, bacanya udah bagus,” katanya bangga.
Damar tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak ingin ditakuti.
Ia hanya ingin diterima.
Dan mungkin, perlahan, ia mulai menerima dirinya sendiri.
Di balik lengan bertato itu, ada hati yang sedang tumbuh.
Dan di halaman masjid kecil itu, seorang mantan preman belajar bahwa hijrah bukan tentang menghapus masa lalu sepenuhnya —
melainkan tentang memilih masa depan yang berbeda, setiap hari, tanpa menyerah.