“Kalau cinta sudah tidak ada, kenapa kita masih harus bertahan?”
Rina mengucapkan kalimat itu untuk kesepuluh kalinya saat melihat pesan singkat di layar ponsel suaminya, Aldo – pesan yang sama dengan sembilan pesan sebelumnya yang pernah ia temukan di dalam baju, di bawah bantal, atau tersembunyi di folder tersembunyi.
“Aku sayang padamu, Naya. Besok kita bertemu lagi ya sayang.”
Rina menutup mata dengan berat. Sepuluh tahun menikah, sepuluh kali ia menemukan bahwa suaminya sedang selingkuh dengan wanita yang berbeda setiap kalinya.
PERTAMA KALI: TAHUN KEDUA MENIKAH
Mereka baru saja pindah ke rumah baru di pinggiran kota. Rina masih sibuk mengatur barang-barang saat menemukan selembar foto polaroid di saku jas Aldo – gambarnya dengan wanita muda yang tertawa ceria di pelabuhan.
“Apa ini?” tanya Rina dengan suara yang gemetar.
Aldo menjawab dengan cepat, “Teman kerja saja. Foto itu dari acara kantor.”
Tapi Rina tahu. Ia mengenali ekspresi mata suaminya saat berbohong – mata akan melihat ke arah kanan setiap kali ia tidak mengatakan yang benar. Ia memilih untuk tetap diam, berharap itu hanya salah paham. Tapi malam itu, ia mendengar Aldo berbicara dengan lembut di telepon: “Sayang, besok aku datang ya. Jangan khawatir tentang istriku.”
Rina menangis diam-diam di kamar mandi, memegang cincin kawin yang masih terasa dingin di jari manisnya.
KEDUA KALI: TAHUN KETIGA
Aldo mulai sering pulang larut. Kali ini, Rina menemukan uangkatan tangan dengan nama “Dewi” di saku celananya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyimpan barang itu di dalam laci rahasia di bawah tempat tidur.
“Saya sudah tahu, mas,” ujarnya suatu malam saat Aldo hendak pergi keluar lagi.
Aldo terkejut, lalu berkata bahwa itu hanya teman bisnis yang sedang kesusahan. Rina mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia sudah mulai memahami bahwa kebohongan itu akan datang berulang kali.
KETIGA SAMPAI KE SEMBILAN KALI: SETIAP TAHUNNYA BERULANG
- Ketiga kali: Wanita dari kantor cabang yang selalu mengirim pesan manis melalui aplikasi chatting rahasia. Rina menemukan riwayat obrolan saat Aldo terlupa mengunci ponselnya.
- Keempat kali: Teman sekolah lama yang bertemu dengannya di reuni. Rina melihat mereka berjalan bersama di mal saat sedang berbelanja barang kebutuhan rumah.
- Kelima kali: Perawat di rumah sakit tempat Aldo berobat karena sakit kepala. Ia menemukan bukti dari pesan singkat yang tertinggal di printer kantor.
- Keenam kali: Mitra bisnis dari kota lain yang sering datang untuk proyek bersama. Rina melihat mereka berpelukan erat di depan hotel melalui jendela mobil.
- Ketujuh kali: Teman kantor yang lebih muda darinya, yang selalu datang membawa makanan untuk Aldo saat ia bekerja lembur.
- Kedelapan kali: Tetangga sebelah yang baru pindah dari luar kota. Rina melihat mereka sering bertemu di taman malam hari.
- Kesembilan kali: Seorang desainer muda yang menangani proyek renovasi kantor Aldo. Bukti ditemukan dari desain busana yang tertinggal di kursi mobil.
Setiap kali, Rina akan menanyakan hal itu kepada Aldo. Dan setiap kali, Aldo akan memberikan alasan yang sama – itu hanya teman bisnis, itu hanya kerjaan, itu tidak ada artinya. Rina selalu memaafkannya, karena masih mencintainya, karena masih mengharapkan bahwa suatu hari ia akan berubah.
Ia menyimpan semua bukti – foto, pesan, barang-barang yang tertinggal – di dalam sebuah kotak kayu besar yang tersembunyi di belakang lemari buku. Setiap kali menambah barang baru ke dalamnya, hatinya akan terasa lebih berat.
KESEPULUH KALI: TAHUN KE SEPULUH MENIKAH
Hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke sepuluh tiba dengan sangat lambat. Rina sudah tidak bersiapkan apa-apa lagi. Ia tahu bahwa Aldo akan kembali melakukan hal yang sama.
Pada malam sebelum ulang tahun pernikahan, Rina menemukan surat cinta yang belum terkirim di dalam tas Aldo – ditujukan kepada wanita bernama “Lala”, seorang pegawai baru di kantornya. Di samping surat itu, ada tiket pesawat untuk pergi bersama ke Bali akhir pekan depan.
Rina duduk di meja makan yang besar, menyusun semua bukti yang telah ia kumpulkan selama sepuluh tahun – sepuluh amplop yang masing-masing berisi bukti dari setiap perselingkuhan. Ia tidak menangis lagi. Hanya rasa lelah yang menguasai dirinya.
Ketika Aldo pulang, ia menemukan Rina yang sedang menunggu di ruang tamu dengan semua bukti yang sudah disusun rapi di atas meja.
“Kau tahu ya?” ujar Aldo dengan suara yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Rina mengangguk perlahan. “Ini yang kesepuluh, mas. Sepuluh kali kau menyakiti aku. Sepuluh kali aku memberi kamu kesempatan untuk berubah.”
“Aku tidak bisa mengontrol diriku, Rina. Aku mencintaimu tapi aku juga –”
“Jangan bilang kamu mencintaiku. Cinta tidak pernah menyakiti sebanyak ini.” Rina mengambil amplop kesepuluh dan meletakkannya di atas tumpukan yang sudah tinggi. “Aku sudah mencoba segala cara. Menjadi istri yang baik, memasak makanan kesukaanmu, selalu menunggu kamu pulang. Tapi kau selalu menemukan cara untuk menyakiti aku lagi dan lagi.”
Aldo terdiam. Ia tidak punya kata untuk menjawabnya.
“Saya sudah mengurus semua yang perlu dilakukan,” lanjut Rina. “Perceraian sudah siap diajukan ke pengadilan. Semua surat sudah siap. Saya tidak akan meminta apa pun selain hak yang menjadi milik saya. Rumah bisa kamu punya, uang tabungan juga bisa kamu punya. Yang saya mau hanya kebebasan dari semua ini.”
Aldo akhirnya menangis – bukan karena menyesal, tapi karena menyadari bahwa ia telah kehilangan seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Ia tahu bahwa tidak akan pernah ada orang lain yang akan mencintainya seperti Rina.
“Maafkan aku, Rina. Aku benar-benar menyesal.”
Rina berdiri dengan lambat, mengambil tas kecil yang sudah siap di kursi. “Maaf tidak bisa menghapus rasa sakit yang sudah kubawa selama sepuluh tahun. Aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk memaafkan dan memberikan kesempatan lagi.”
Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang mantap. Sebelum keluar, ia berbalik sekali lagi. “Semoga suatu hari nanti, kamu bisa menemukan cinta yang sesungguhnya – cinta yang tidak perlu disembunyikan di balik kebohongan dan pengkhianatan.”
Rina keluar dari rumah yang telah menjadi tempat banyak rasa sakitnya. Langit sudah mulai gelap, tapi ia merasa ada cahaya di kejauhan – cahaya yang membawa harapan akan hidup yang lebih baik, hidup di mana cinta tidak perlu dibayangi oleh khianatan.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi satu hal yang ia tahu dengan pasti – setelah sepuluh kali terluka, kini saatnya ia merawat dirinya sendiri, seperti kupu-kupu yang akhirnya bisa terbang setelah lama terkurung dalam kepompong yang menyakitkan.