“Batu tidak akan pernah menyakitkan sebanyak kata-kata yang keluar dari mulutmu.”
Itu kalimat yang selalu terngiang di benak Galih setiap pagi saat ia berjalan menuju sekolah. Ia tahu bahwa hari ini tidak akan berbeda dengan hari-hari sebelumnya – tawa yang menyakitkan, celaan yang menusuk, dan pandangan yang penuh dengan penghinaan akan menyambutnya begitu memasuki gerbang sekolah.
Galih bukanlah anak yang berbeda secara fisik. Tapi ia lebih pendiam dari teman-temannya, lebih suka menghabiskan waktu membaca buku daripada bermain olahraga. Rambutnya seringkali tidak rapi karena ibunya yang bekerja sebagai buruh pabrik tidak pernah punya waktu untuk membantunya merapikkannya. Baju sekolahnya selalu sedikit terlalu panjang atau terlalu pendek karena ia menggunakan barang bekas dari kakaknya yang sudah menikah dan pergi dari rumah.
“Hai, buku bodoh! Mau pergi kemana dengan wajahmu yang jelek itu?” teriak Gilang, siswa kelas yang sama yang selalu menjadi pemimpin kelompok yang sering mengganggu Galih.
Beberapa teman Gilang tertawa keras sambil mendekat ke arah Galih. “Lihat saja tasnya yang sobek. Kayaknya mau robek kapan saja ya!” tambah salah satu dari mereka sambil menarik tas Galih dengan kasar. Buku-buku di dalamnya tumpah ke lantai aspal sekolah.
Galih membungkuk dengan cepat untuk mengumpulkannya, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia tidak berani berkata apa-apa, takut akan membuat mereka semakin marah.
“Jangan diam saja dong, ya! Kami sedang ngomong sama kamu!” Gilang menendang buku yang sedang Galih kumpulkan, membuatnya terlempar jauh ke depan.
Tawa mereka semakin keras saat Galih berlari mengambil buku itu dengan wajah yang merah karena malu dan marah. Ia berlari menjauh dari mereka, menyembunyikan diri di belakang gedung toilet yang jarang digunakan siswa. Di sana, ia duduk di atas tanah yang kotor dan menangis diam-diam, menyembunyikan wajahnya di antara buku-buku yang sudah kusut.
Galih tidak pernah memberitahu orang tuanya tentang apa yang terjadi di sekolah. Ibunya sudah cukup capek bekerja dari pagi hingga malam untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua setelah ayahnya meninggal lima tahun yang lalu. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir lebih dari yang sudah ada.
Di kelas, Galih selalu duduk di pojok paling belakang. Ia tidak punya teman yang benar-benar mau dekat dengan dirinya, karena semua orang takut akan dikucilkan oleh kelompok Gilang. Saat guru menjawab pertanyaan, ia tahu jawabannya tapi tidak pernah berani mengangkat tangan – takut akan diperolok karena suaranya yang lembut atau cara berbicara yang tidak lancar.
Suatu hari, saat jam istirahat, Galih sedang duduk di taman sekolah membaca buku tentang bintang dan planet – hal yang paling ia sukai. Ia selalu bermimpi bisa menjadi astronom dan melihat keindahan alam semesta dari dekat.
Tiba-tiba, buku itu dicabik dari tangannya dengan kasar. Gilang memegangnya di udara sambil tertawa. “Bintang-bintang? Kamu pikir kamu bisa jadi orang penting dengan membaca buku bodoh seperti ini?”
Ia mulai merobek halaman buku itu satu per satu, menjatuhkannya ke tanah seperti daun kering. Galih berdiri dengan cepat, matanya penuh dengan kemarahan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. “Tolong berikan kembali buku itu!” ujarnya dengan suara yang gemetar tapi tegas.
“Oh, sekarang kamu berani ngomong ya?” Gilang mendekat dengan wajah yang menyakitkan. Ia mendorong Galih dengan keras, membuatnya terjatuh di atas rerumputan yang tajam. Beberapa siswa yang lewat hanya melihat dan tidak berani melakukan apa-apa.
“Sadar diri dong, ya! Kamu tidak pantas berada di sekolah ini bersama kita yang lebih baik darimu!” Gilang menendang perut Galih dengan lembut tapi cukup untuk membuatnya merasa sakit. Setelah itu, ia dan kelompoknya pergi meninggalkan Galih yang masih terbaring di tanah.
Galih tidak datang ke sekolah pada hari berikutnya. Ia berdiam diri di kamarnya, melihat ke arah jendela sambil merenung. Ia berpikir untuk berhenti sekolah, berpikir bahwa hidupnya akan lebih baik jika tidak harus menghadapi orang-orang yang selalu menyakitinya. Ibunya yang melihatnya tidak bersekolah merasa khawatir dan memaksa Galih untuk memberitahu apa yang terjadi.
Akhirnya, Galih menangis dan menyampaikan semua yang telah ia alami selama bertahun-tahun. Ibunya menangis bersama-samanya, merasa sangat bersalah karena tidak pernah menyadari bahwa anaknya sedang mengalami penderitaan yang begitu besar.
“Kamu tidak salah apa-apa, nak,” ujar ibunya dengan suara pelan sambil memeluk Galih erat-erat. “Kita akan mencari cara untuk mengatasi ini. Kamu tidak sendirian lagi.”
Hari berikutnya, ibunya membawa Galih ke sekolah dan bertemu dengan kepala sekolah serta guru kelas Galih. Mereka menjelaskan semua yang terjadi, dan setelah melakukan penyelidikan, kepala sekolah memanggil Gilang dan teman-temannya untuk memberikan peringatan keras. Namun, Galih tahu bahwa itu tidak akan cukup. Perlakuan buruk yang ia terima sudah menyakitkan hatinya lebih dalam dari yang bisa dilihat mata.
Suatu sore, setelah sekolah, Galih sedang berjalan pulang sendirian ketika ia melihat Gilang yang sedang terbentur dengan beberapa anak dari sekolah lain yang lebih besar darinya. Mereka sedang mengancam Gilang dan meminta uang darinya.
Galih bisa saja pergi dan membiarkan hal itu terjadi – merasa bahwa Gilang hanya mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Tapi sesuatu di dalam dirinya berkata tidak. Ia mengambil telepon genggam ibunya yang selalu ia bawa dan menelepon polisi serta guru sekolah.
Setelah masalah itu teratasi dan Gilang selamat, mereka duduk bersama di taman dekat sekolah. Gilang tidak bisa melihat wajah Galih, merasa sangat malu karena anak yang selalu ia sakiti justru yang menyelamatkannya.
“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Gilang dengan suara pelan.
Galih menatapnya dengan mata yang tenang tapi penuh dengan kesedihan. “Karena aku tahu bagaimana rasanya diperlakukan dengan buruk. Aku tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama, bahkan jika itu orang yang pernah menyakitiku.”
Gilang menangis dengan teresak-esak, meminta maaf atas semua yang telah ia lakukan. Ia mengaku bahwa ia melakukan semua itu karena merasa tidak aman dengan dirinya sendiri, karena ayahnya selalu menyuruhnya untuk menjadi yang terbaik dan menghina mereka yang dianggap lebih rendah darinya.
Sejak itu, Gilang berubah. Ia tidak lagi mengganggu Galih atau siswa lain yang lemah. Malah, ia mulai menjaga Galih dari orang lain yang ingin menyakitinya. Mereka tidak menjadi teman yang dekat, tapi setidaknya ada rasa saling menghargai di antara mereka.
Beberapa bulan kemudian, sekolah mengadakan acara lomba ilmiah dengan tema alam semesta. Galih mengikuti dengan proyek tentang sistem tata surya yang ia buat sendiri dengan bahan bekas. Ia memenangkan juara pertama, dan saat berdiri di atas panggung untuk menerima penghargaan, ia berkata:
“Saya suka mempelajari bintang dan planet karena mereka mengajarkan saya bahwa setiap makhluk memiliki tempatnya sendiri di alam semesta. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lain – kita semua memiliki nilai kita masing-masing. Kata-kata bisa menyakitkan lebih dari pukulan fisik, karena luka yang tersisa di hati tidak bisa dilihat oleh mata tapi bisa merusak hidup seseorang selama bertahun-tahun. Saya berharap kita semua bisa belajar untuk saling menghargai dan tidak menyakiti orang lain hanya karena mereka berbeda dari kita.”
Di bawah panggung, Gilang berdiri bersama teman-temannya yang juga sudah berubah. Mereka melihat Galih dengan mata yang penuh rasa hormat. Di sisi lain, ibunya menangis dengan bangga melihat anaknya yang dulu selalu diam dan takut kini bisa berdiri dengan kuat dan berbicara dengan suara yang jelas.
Galih tahu bahwa luka di hatinya tidak akan sembuh dalam semalam. Kadang ia masih merasa takut dan minder ketika melihat kelompok besar siswa berjalan menyilanginya. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak sendirian lagi. Ia punya ibunya yang selalu mendukungnya, punya guru yang peduli, dan bahkan punya orang yang dulu menyakitinya tapi sekarang memahami kesalahannya.
Malam itu, Galih melihat ke langit malam yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Ia mengambil buku baru tentang astronomi yang diberikan oleh gurunya sebagai hadiah dan mulai membacanya dengan hati yang lebih tenang. Ia tahu bahwa jalan menuju masa depan masih panjang dan mungkin akan ada banyak rintangan di depannya. Tapi seperti bintang yang bersinar di langit malam yang gelap, ia akan terus berusaha untuk bersinar dan menunjukkan kepada dunia bahwa ia layak berada di sini.