Rumah itu besar, tapi selalu sepi. Dindingnya dicat putih bersih, tapi tidak pernah terasa hangat.
Reno mengingat kalimat itu setiap kali menutup mata. Sejak usia sembilan tahun, ia sudah terbiasa dengan suara pintu yang terbuka dan tertutup tanpa sapaan – ayahnya yang pulang larut malam dengan aroma rokok dan minuman keras, atau ibunya yang keluar pagi sekali dengan pakaian cantik tanpa memberi tahu kapan akan kembali.
Ia adalah anak tunggal dari pasangan yang sudah lama kehilangan cinta. Mereka tetap tinggal bersama hanya karena takut Reno akan menjadi bahan pembicaraan di sekolah. Tapi Reno bukan anak bodoh. Ia tahu bahwa senyum yang mereka tunjukkan di depan tetangga hanyalah topeng tipis yang robek di bagian dalam.
Setiap malam, Reno akan terkunci di kamar kecil yang ia jadikan ruang rahasia. Di sana, ia menghabiskan waktu dengan menggambar kupu-kupu di atas lembaran kertas bekas tugas sekolah. Ia suka menggambar kupu-kupu karena merasa seperti dirinya sendiri – terkurung dalam kepompong yang tidak bisa dibuka, hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya terbang bebas.
“Hai Reno, kenapa kamu selalu menggambar kupu-kupu yang belum keluar dari kepompong?” tanya Dinda, teman satu kelas yang sering menemani Reno di sudut taman sekolah saat istirahat.
Reno menatap gambarannya – kupu-kupu dengan sayap berwarna oranye yang masih terlipat rapat di dalam kantong cairan bening. “Karena aku takut kalau mereka keluar, mereka tidak akan bisa terbang. Mungkin udaranya terlalu dingin, atau tidak ada bunga yang bisa mereka tempati.”
Dinda mengangguk dengan hati berat. Ia pernah melihat Reno menangis diam-diam di belakang sekolah, menutup telinganya saat teman-teman bercerita tentang liburan akhir pekan bersama keluarga mereka yang bahagia.
Hari ulang tahun Reno yang ke sebelas tiba dengan sangat lambat. Ia sudah mempersiapkan surat undangan kecil yang dibuat dengan tangan selama seminggu – setiap amplopnya diberi gambar kupu-kupu yang ia lukis sendiri. Ia menyimpan satu untuk ayah dan satu untuk ibu, menyembunyikannya di bawah bantal saat mereka sedang berdebat lagi tentang uang dan pekerjaan.
“Kalau kamu tidak bisa mengatur keuangan, kenapa aku harus bekerja seperti gila?” teriak ayahnya sambil melempar koran ke lantai.
“Dan kamu? Selalu keluar dengan teman-temanmu dan menghabiskan uang untuk hal yang tidak penting!” jawab ibunya dengan matanya merah marah.
Reno menarik selimutnya hingga menutupi kepala, menangis diam-diam sambil menggenggam surat undangan yang sudah jadi kusut di tangannya.
Pada hari ulang tahunnya, Reno terbangun dengan harapan yang masih menyala. Ia menyajikan sarapan yang ia buat sendiri – roti bakar dan telur mata sapi – di atas meja makan besar yang biasanya kosong. Tapi jam menunjukkan pukul sebelas pagi, dan tidak ada satu orang pun yang muncul dari kamarnya.
Akhirnya, ayahnya keluar dengan jas kerja yang sudah dikenakan. “Aku harus pergi keluar kota sekarang juga. Ada proyek penting yang tidak bisa ditunda.” Tanpa melihat Reno, ia mengambil kunci mobil dan pergi.
Beberapa menit kemudian, ibunya turun dengan tas besar di tangannya. “Aku ada acara dengan teman-teman. Makan malam saja kamu beli sendiri ya, nak.” Ia memberikan uang ke atas meja dan tidak melihat kue kecil yang Reno siapkan dengan teliti di sudut meja.
Reno duduk sendiri di meja makan yang besar. Lilin di atas kue sudah padam sendirinya karena panasnya siang hari. Ia mengambil surat undangan yang sudah tidak terlihat cantik lagi dan menyimpannya ke dalam laci meja yang selalu terkunci. Malam itu, ia menggambar kupu-kupu yang sayapnya robek sebelum sempat keluar dari kepompongnya.
Keesokan paginya, Reno datang ke sekolah dengan mata merah dan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Dinda melihatnya dan langsung membawanya ke belakang sekolah, tempat mereka biasa bersembunyi saat dunia terasa terlalu berat.
“Sudah cukup, Reno,” ujar Dinda dengan suara pelan sambil memberikan sapu tangan kepada Reno. “Kamu tidak harus menahan segalanya sendiri.”
Reno menangis dengan teresak-esak, menyampaikan semua kesedihan yang telah ia tahan selama bertahun-tahun. Ia merasa seperti sebuah kapal yang hanyut di tengah lautan luas tanpa arah, tanpa ada yang bisa menyelamatkannya.
Setelah itu, Reno sering menghabiskan waktu di rumah Dinda. Ibu Dinda selalu menyambutnya dengan senyum hangat dan hidangan yang hangat. Di sana, ia merasakan apa itu rumah yang penuh cinta – tempat di mana orang-orang saling peduli dan tidak perlu bersembunyi di balik topeng.
Namun, keadaan di rumahnya semakin memburuk. Orang tuanya mulai bertengkar setiap hari, sampai suatu malam Reno terbangun karena suara benda yang pecah dan jeritan yang menusuk hati.
“Aku sudah tidak bisa hidup denganmu lagi!” teriak ibunya sambil menangis. “Kita harus bercerai sekarang juga!”
Ayahnya hanya berdiri diam dengan wajah kosong. “Baiklah. Tapi Reno harus tinggal denganku. Dia butuh ayah yang bisa memberikan masa depan yang baik.”
“Jangan omong kosong! Aku yang selalu merawatnya!” balik ibunya dengan suara semakin keras.
Reno keluar dari kamarnya dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Ia mengangkat buku gambarnya yang selalu dibawanya kemana-mana dan menunjukkan gambar kupu-kupu yang ia lukis beberapa hari lalu – kupu-kupu yang sedang terbang di antara dua pohon yang berjauhan, masing-masing dengan cabang yang menjulang tinggi tapi tidak pernah bisa menyentuh satu sama lain.
“Saya tidak ingin memilih,” ujar Reno dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Saya mencintai kalian berdua, tapi saya tidak bisa melihat kalian saling menyakiti lagi. Kalian bisa bercerai jika itu yang membuat kalian bahagia. Tapi tolong jangan jadikan saya sebagai alasan untuk terus menyakiti satu sama lain.”
Mata orang tuanya menjadi merah. Mereka melihat anak mereka yang pendiam itu berdiri di tengah kamar dengan tubuh yang gemetar, tapi wajahnya menunjukkan ketegasan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Ayahnya mengambil napas dalam-dalam dan menyentuh kepala Reno dengan lembut. “Kita tidak pernah berniat menyakitimu, nak. Kita hanya tidak tahu cara lain untuk menghadapi masalah kita.”
Beberapa minggu kemudian, ayahnya pindah ke rumah baru di luar kota. Ibunya tetap tinggal di rumah lama, tapi sekarang kamar ayahnya kosong dan sunyi. Reno bisa melihat betapa leganya wajah orang tuanya setelah berpisah – mereka tidak lagi bertengkar, bahkan kadang bisa berbincang dengan tenang saat ayah datang mengunjungi Reno.
Namun, rasa sepi di rumah semakin terasa. Kadang Reno duduk sendirian di ruang tamu yang besar, menggambar kupu-kupu di atas lembaran kertas sambil menunggu suara pintu yang tidak pernah datang. Ia tahu bahwa orang tuanya mencintainya dengan cara mereka sendiri, tapi ia juga tahu bahwa rumahnya tidak akan pernah sama lagi.
Beberapa bulan kemudian, Reno mengikuti lomba menggambar tingkat kota dengan tema “Rumah yang Kutunggalkan”. Ia menggambar sebuah kupu-kupu yang masih terkurung dalam kepompong, dengan latar belakang rumah yang indah tapi sunyi, dan jendela yang selalu tertutup rapat. Gambarnya memenangkan juara pertama, dan saat menerima penghargaan di atas panggung, Reno berdiri dengan suara yang jelas namun penuh kesedihan:
“Kupu-kupu mengajarkan saya bahwa tidak semua kepompong bisa terbuka menjadi makhluk yang bisa terbang. Kadang kita harus belajar hidup dengan keadaan kita yang tidak sempurna, belajar menemukan keindahan di tengah kesedihan. Saya berasal dari keluarga yang sudah tidak lengkap lagi, tapi saya belajar bahwa cinta tidak selalu harus ada di bawah atap yang sama. Kadang cinta adalah tentang melepaskan orang yang kita cintai agar mereka bisa bahagia, bahkan jika itu membuat kita sendiri merasa sepi.”
Setelah pidatonya selesai, Reno melihat ayah dan ibunya berdiri di tempat yang berbeda di barisan penonton. Keduanya melihatnya dengan mata yang penuh haru dan bangga. Mereka mungkin tidak lagi hidup bersama, mereka mungkin tidak bisa memberikan rumah yang penuh dengan tawa dan cinta seperti yang diimpikan Reno, tapi mereka sama-sama mencintainya dengan cara mereka sendiri.
Reno kembali ke meja gambarannya dan mulai menggambar kupu-kupu baru – kali ini dengan sayap yang sudah terbuka tapi masih belum kuat untuk terbang tinggi. Ia menggambarkannya sedang hinggap di atas bunga kecil yang tumbuh di antara rerumputan kering. Ia tahu bahwa masa depannya masih penuh dengan ketidakpastian, bahwa mungkin ia akan selalu merindukan rumah yang bahagia yang tidak pernah ia miliki. Tapi ia juga tahu bahwa seperti kupu-kupu yang ia gambar, ia akan terus berusaha untuk tumbuh dan menemukan cara untuk tetap hidup meskipun dunia terasa begitu dingin dan sepi.