Hujan mengguyur Jakarta dengan deras pada sore hari itu. Jalan-jalan di kawasan Mangga Besar penuh genangan air yang membuat kendaraan bergerak seperti merangkak. Rafi, pelajar SMA kelas XI yang baru saja selesai les privat matematika, terpaksa berlindung di kanopi sebuah toko kecil dengan papan nama kayu lapuk bertuliskan “Zaman Dahulu Barang Antik”.
“Mungkin keluar saja setelah hujan reda,” bisiknya sambil mengocok jas hujan yang basah menetes. Ia melirik ke dalam toko yang cukup gelap, hanya diterangi beberapa lampu bohlam kuno yang memancarkan cahaya kuning pucat. Rak-rak kayu penuh barang tak jelas kegunaannya – radio jadul, patung tanah liat, pakaian tradisional aus, hingga peralatan rumah tangga kuno yang sudah jarang terlihat.
Suara derak kursi kayu membuat Rafi menoleh. Seorang pria tua dengan rambut putih berjumbai berdiri di belakang kasir, senyum ramahnya membuat suasana menjadi hangat. “Datanglah masuk saja, anak muda. Hujan ini mungkin akan lama belum reda. Jangan khawatir, saya tidak akan memaksa kamu membeli apa-apa.”
Rafi mengangguk sopan dan masuk ke dalam. Udara di dalam terasa hangat dan sedikit lembap, bercampur aroma kayu tua dan sedikit bau dupa. Ia berjalan perlahan di antara rak-rak, melihat-lihat setiap benda dengan rasa penasaran. Ada mesin tik yang masih terlihat bagus, kamera film dengan badan logam berat, hingga telepon genggam pertama generasi yang bentuknya seperti batu bata.
Saat hendak mengambil sebuah bingkai foto tua dari rak bawah, matanya tertarik pada sebuah kotak kayu kecil di sudut paling dalam. Kotak berwarna coklat tua dengan ukiran bunga mawar indah di tutupnya. Tanpa berpikir panjang, Rafi membukanya dengan hati-hati.
Di dalamnya terletak sebuah jam tangan gelang antik dengan badan logam perak yang sedikit berkarat. Tali gelangnya terbuat dari kulit yang sudah mengeras namun tetap kokoh. Jarum-jarium jam masih jelas terlihat, dan wajah jam berwarna putih susu menampilkan angka Romawi elegan. Rafi mengangkatnya dan memakainya di pergelangan tangannya – pas sekali, seolah dibuat khusus untuknya.
“Jam itu sudah ada di sini sejak saya membuka toko lima belas tahun yang lalu,” kata pemilik toko yang sudah berdiri di belakangnya. “Saya tidak tahu siapa pemiliknya dulu. Ditemukan oleh tukang sampah di rumah tua yang direnovasi di Menteng.”
Rafi melihat wajah jam. Jarum detiknya tidak bergerak sama sekali. “Sepertinya sudah tidak berfungsi lagi, Pak.”
“Benar sekali,” jawab pemilik toko sambil tersenyum. “Tapi ada sesuatu yang aneh dari jam ini. Setiap kali saya coba memperbaikinya, jam bisa berjalan normal, tetapi selalu berhenti tepat pukul tiga belas belas menit – pagi dan malam. Sudah saya bawa ke beberapa tukang jam, tapi tak seorang pun bisa menjelaskannya.”
Rafi merasa tertarik. Ia selalu menyukai barang antik yang menyimpan misteri. “Berapa harganya, Pak?”
Pemilik toko berpikir sebentar, lalu menggeleng-geleng kepala. “Aku tidak bisa menjualnya mahal. Kamu bisa membawanya dengan dua puluh ribu rupiah saja. Mungkin kamu bisa menemukan rahasianya.”
Tanpa ragu, Rafi membayarnya dan keluar dari toko saat hujan mulai reda. Matahari muncul dari balik awan, menyinari jam tangan di pergelangannya. Ia tidak tahu bahwa temuan kecil ini akan mengubah hidupnya selamanya.
Pada malam hari itu, Rafi meletakkan jam tangan di atas meja belajar sebelum tidur. Ia sudah mencoba mengganti batere, tetapi jam tetap tidak bergerak. “Mungkin memang sudah tidak bisa dipakai lagi,” ucapnya sambil menghela napas. Ia mematikan lampu dan berbaring, segera terlelap karena kelelahan.
Sekitar pukul tiga pagi, Rafi terbangun mendadak karena merasa ada cahaya yang menerangi kamar. Ia membuka mata dan terkejut melihat jam tangan itu sedang memancarkan cahaya keemasan lembut. Jarum-jarium yang tadinya diam mulai bergerak perlahan, menunjukkan pukul 3:16. Detik demi detik berlalu, hingga jarum detik menunjuk tepat angka 60 – pukul 3:17.
Pada saat itu juga, cahaya menjadi lebih terang, dan Rafi merasa seperti terbawa masuk ke dalam sebuah mimpi. Ia melihat sebuah ruangan kecil yang penuh bau obat-obatan. Di tengahnya, seorang pria muda mengenakan baju dokter putih sedang merawat anak kecil yang demam tinggi. Wajah pria muda itu tidak jelas, tetapi Rafi bisa merasakan kegelisahan dan kebaikan hatinya.
Setelah beberapa saat, gambar menghilang dan cahaya jam padam. Rafi duduk di atas tempat tidur dengan napas terengah-engah. Pelukan kakinya masih menggigil. “Apa itu? Mimpi atau kenyataan?” bisiknya sambil melihat jam yang sudah kembali diam dengan jarum menunjukkan pukul 3:17.
Keesokan paginya, Rafi datang ke sekolah dengan wajah lesu. Temannya, Dina, langsung menyadari ada yang tidak beres. “Kamu tidak baik-baik saja ya, Raf? Kamu terlihat lesu dan matamu merah kayak tidak tidur.”
“Gue mengalami hal aneh kemarin malam, Din,” jawab Rafi pelan. Ia menarik pergelangannya yang memakai jam antik. “Gue beli jam ini kemarin di toko barang bekas, dan malam ini jam itu menyala sendiri serta bawa gue melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.”
Dina mengerutkan kening dan melihat jam itu dengan penasaran. “Jam tua yang aneh ya. Mungkin kamu hanya bermimpi saja. Atau terlalu capek belajar matematika jadi ilusi mata.”
Rafi menggeleng. “Bukan itu, Din. Rasanya sangat nyata. Seolah-olah gue benar-benar ada di sana.”
Pada malam yang sama, Rafi sengaja menunggu di ruang tamu dengan jam tangan di pergelangannya. Ia menyalakan lampu kecil dan duduk tenang, menunggu pukul 3:17 tiba. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 3:16, jam antiknya mulai memancarkan cahaya lagi. Rafi mengambil napas dalam-dalam dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Sekali lagi, ia terbawa masuk ke dalam gambar yang sama. Kali ini, ia melihat lebih jelas. Ruangan itu adalah klinik sederhana di rumah sakit tua. Pria muda itu masih merawat anak kecil tersebut, dan kali ini Rafi bisa mendengar suara mereka berbicara.
“Jangan khawatir, Nani,” ujar pria muda itu dengan suara lembut. “Obat ini akan membuat kamu merasa lebih baik. Kamu bisa bermain lagi dengan teman-temanmu dalam beberapa hari.”
Anak kecil itu mengangguk lemah, matanya sudah mulai lebih cerah. “Terima kasih, Dokter Arif. Kamu selalu membantu orang-orang di desa ini.”
Dokter Arif tersenyum dan mengusap kepala anak itu. “Itu tugasku, Nani. Semua orang berhak mendapatkan perawatan yang baik, tidak peduli siapa mereka atau dari mana mereka datang.”
Ketika pukul 3:17 tepat tiba, gambar menghilang lagi. Rafi duduk dengan wajah penuh kagum. Kali ini ia mendengar nama pria muda itu – Dokter Arif. Ia yakin bahwa apa yang dilihatnya bukanlah mimpi, melainkan potongan masa lalu yang tersimpan di dalam jam tangan antik itu.
Keesokan harinya, Rafi memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang Dokter Arif. Ia pergi ke perpustakaan kota dan mencari buku sejarah tentang rumah sakit atau dokter di Jakarta masa lalu. Setelah beberapa jam mencari, ia menemukan buku berjudul “Sejarah Perawatan Kesehatan di Jakarta Tahun 1930-1960”. Di dalamnya terdapat bab tentang dokter muda yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.
Dan di situlah ia melihatnya – sebuah foto hitam putih seorang pria muda dengan wajah ramah, mengenakan baju dokter putih. Di bawah foto tertulis: Dr. Arif Prasetyo – Dokter muda yang mendirikan klinik masyarakat di Menteng tahun 1947. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu membantu orang miskin dan korban perang tanpa meminta imbalan. Hilang tanpa jejak tahun 1953 saat dalam perjalanan membawa obat-obatan ke daerah terkena wabah.
Rafi merasa detak jantungnya berdebar kencang. Wajah pria muda di foto itu sama dengan yang dilihatnya dalam gambar dari jam tangan. Ia melihat lebih lanjut dan menemukan bahwa Dr. Arif Prasetyo tinggal di rumah tua di Jalan Cikini Raya – tepat kawasan yang disebutkan pemilik toko sebagai tempat jam ditemukan.
Tanpa berlama-lama, Rafi memutuskan untuk mengunjungi alamat tersebut pada hari libur berikutnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada Dokter Arif dan mengapa jam tangan itu bisa menampilkan momen-momen kehidupannya.
Hari Sabtu pagi, Rafi berangkat ke Jalan Cikini Raya dengan kendaraan umum. Setelah beberapa kali bertanya kepada penduduk sekitar, ia akhirnya menemukan rumah tua yang dicarinya. Rumah itu berdiri di antara gedung tinggi modern, terlihat sangat kontras dengan lingkungannya. Pagar kayu sekitarnya sudah lapuk dan sebagian roboh, namun pintu utama masih kokoh dengan warna merah tua yang pudar.
Rafi mendekati rumah dengan hati-hati. Tembok luar ditutupi lumut hijau dan tanaman merambat. Ia melihat pintu utama tidak terkunci rapat, sehingga membukanya dengan hati-hati dan masuk ke halaman belakang. Halaman itu penuh rerumputan tinggi dan beberapa pohon buah yang tak terawat. Di sudut halaman terdapat kolam kecil yang sudah mengering dan penuh daun kering.
Saat hendak mendekati pintu rumah, sebuah suara keras membuatnya terkejut. “Siapa kamu dan apa yang kamu cari di sini?”
Rafi menoleh dan melihat seorang perempuan berusia sekitar 60 tahun berdiri di belakangnya, wajahnya penuh waspada. Ia mengenakan baju rumah tangga sederhana dan memiliki rambut hitam yang sedikit berpucat di ubun-ubun.
“Maaf Bu, saya tidak bermaksud mengganggu,” ujar Rafi sopan. “Saya sedang mencari informasi tentang pemilik rumah ini dulu – Dr. Arif Prasetyo. Saya memiliki sesuatu yang mungkin pernah miliknya.”
Wajah perempuan itu berubah mendadak – dari waspada menjadi terkejut dan sedikit kesedihan. “Kamu kenal dengan Ayah saya?”
Sekarang giliran Rafi yang terkejut. “Ayah Bu adalah Dr. Arif Prasetyo?”
Perempuan itu mengangguk perlahan dan mengundang Rafi masuk ke dalam rumah. “Saya bernama Sri Wahyuni. Ayah saya menghilang ketika saya masih kecil, baru berusia lima tahun. Saya hampir tidak ingat wajahnya lagi, hanya dari foto-foto yang ditinggalkan Ibuku.”
Mereka masuk ke dalam rumah yang cukup luas namun penuh barang tua yang tertata rapi. Dinding dipenuhi foto keluarga, termasuk foto Dr. Arif yang Rafi lihat di buku sejarah. Rafi merasa seperti masuk ke dalam masa lalu – ada meja makan kayu besar, lemari pakaian antik, hingga mesin tik yang sama dengan yang ia lihat di toko barang bekas.
“Saya menemukan jam tangan ini di sebuah toko barang bekas,” ujar Rafi sambil melepas jam dari pergelangannya dan memberikannya kepada Bu Sri. “Setiap malam pada pukul 3:17, jam ini menunjukkan kepada saya momen-momen dari kehidupan Ayah Bu. Saya melihatnya merawat pasien dan membantu orang-orang yang membutuhkan.”
Bu Sri mengambil jam tangan itu dengan hati-hati, matanya mulai berkaca-kaca. “Ini adalah jam tangan Ayah saya yang paling disayangi,” ujarnya dengan suara pelan. “Ia selalu memakainya setiap hari. Ketika ia menghilang, jam ini juga hilang bersama-samanya. Kami berpikir jam itu sudah hilang selamanya.”
Rafi menjelaskan semua yang dilihatnya dari jam tangan itu. Bu Sri mendengarkan dengan saksama, terkadang mengangguk atau menyeka air mata yang menetes di pipinya. Setelah Rafi selesai bercerita, Bu Sri berdiri dan pergi ke sebuah lemari kayu besar di sudut ruangan. Ia membuka lemari dan mengambil sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat.
“Sebelum Ayah saya pergi untuk terakhir kalinya, ia memberikan kotak ini kepada Ibuku,” ujar Bu Sri sambil membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah surat tua yang sudah menguning dan beberapa foto kecil. “Ia berkata bahwa jika suatu hari jam tangannya ditemukan oleh orang yang tepat, maka isi surat ini harus diberikan kepadanya.”
Rafi mengambil surat itu dengan hati-hati dan mulai membacanya:
Untuk orang yang menemukan jam tangan saya,
Jika kamu bisa melihat momen-momen dari kehidupanku melalui jam ini, berarti kamu adalah orang yang memiliki hati yang baik dan layak mengetahui rahasia yang saya sembunyikan.
Pada tahun 1953, saya mengetahui bahwa ada sebuah gudang di daerah Bogor yang menyimpan obat-obatan cukup untuk membantu banyak orang yang terkena wabah penyakit. Namun obat-obatan itu disimpan oleh seseorang yang ingin menjualnya dengan harga mahal kepada pemerintah. Saya mencoba mengambil obat-obatan itu dan membawanya ke daerah yang membutuhkan.
Saya berhasil mendapatkan obat-obatan tersebut, tetapi dalam perjalanan pulang saya mengalami kecelakaan mobil di jalan yang penuh lumpur. Saya berhasil menyembunyikan obat-obatan di tempat yang aman sebelum kehilangan kesadaran. Saya tidak tahu apakah saya akan bisa kembali untuk mengambilnya, jadi saya menyimpan lokasinya dalam jam tangan saya – hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar ingin membantu orang lain.
Jika kamu menemukan surat ini, saya berharap kamu bisa melanjutkan tugas yang saya mulai. Obat-obatan itu mungkin sudah tidak bisa digunakan lagi, tetapi lokasi penyimpanan tersebut juga menyimpan catatan saya tentang tanaman obat tradisional yang bisa membantu menyembuhkan banyak penyakit. Semoga kamu bisa menggunakan pengetahuan itu untuk kebaikan.
Dengan hormat,
Dr. Arif Prasetyo
Setelah membaca surat itu, Rafi merasa ada tanggung jawab besar yang diberikan kepadanya. “Bu Sri, saya ingin menemukan tempat di mana Ayah Bu menyembunyikan obat-obatan dan catatannya. Bolehkah saya mencari tahu lebih lanjut?”
Bu Sri tersenyum dengan haru dan menyentuh kepala Rafi. “Ayah saya pasti sudah tahu bahwa seseorang seperti kamu akan menemukan jam tangannya. Saya akan membantu kamu sebanyak mungkin. Ibuku pernah mengatakan bahwa Ayah selalu berbicara tentang pentingnya membantu orang lain tanpa pamrih. Sekarang tugas itu berada di pundak kamu.”
Pada malam hari itu, Rafi kembali menunggu pukul 3:17 tiba dengan jam tangan di pergelangannya. Kali ini, Bu Sri juga ada di sisinya, ingin melihat sendiri apa yang akan terjadi. Saat jam menunjukkan pukul 3:17 tepat pada waktunya, cahaya keemasan muncul lagi, tetapi kali ini gambar yang muncul berbeda dari biasanya.
Rafi melihat sebuah jalan yang berkelok-kelok di antara pepohonan tinggi. Di sisi jalan terdapat batu besar dengan ukiran bentuk hati kecil di atasnya. Lalu gambar beralih ke gua kecil di bawah tebing batu, dengan pintu yang ditutupi rerumputan tinggi. Di dalam gua tersebut, terlihat sebuah kotak kayu besar yang disimpan di balik batu bata kecil.
Ketika gambar menghilang, Rafi membuka mata dengan cepat. “Saya melihatnya, Bu Sri! Saya tahu di mana Ayah Bu menyembunyikan barang-barangnya!”
Pada hari Minggu pagi, mereka berangkat ke Bogor dengan mobil milik Bu Sri. Dengan petunjuk dari gambar yang Rafi lihat, mereka berhasil menemukan jalan yang berkelok-kelok dan batu besar dengan ukiran hati kecil di atasnya. Setelah berjalan beberapa saat di antara pepohonan, mereka menemukan gua kecil yang ditutupi rerumputan tinggi.
Rafi masuk ke dalam gua dengan hati-hati, membawa senter yang dibawanya. Di dalam gua, tepat seperti yang dilihatnya dalam gambar, terdapat sebuah kotak kayu besar yang disimpan di balik batu bata kecil. Ia membuka kotak itu dengan hati-hati dan menemukan bahwa obat-obatan di dalamnya sudah tidak bisa digunakan lagi, namun sebuah buku catatan tua masih dalam kondisi baik.
Buku itu berisi catatan lengkap Dr. Arif tentang tanaman obat tradisional, cara mengolahnya, dan penyakit apa saja yang bisa diobati. Ada juga catatan tentang pentingnya menjaga alam dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.
Setelah pulang dari Bogor, Rafi dan Bu Sri memutuskan untuk membuat sebuah kelompok kecil yang bertujuan untuk mengajarkan pengetahuan tentang tanaman obat tradisional kepada masyarakat. Mereka mendirikan klinik kecil di halaman belakang rumah tua Dr. Arif, yang kemudian dikenal sebagai “Klinik Sehat Alami” oleh penduduk sekitar.
Setiap malam pada pukul 3:1