Studio itu kedap suara, dingin oleh pendingin sentral yang menusuk tulang, dan dipenuhi oleh aroma kopi mahal yang bercampur dengan asap rokok elektrik. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu jati besar memisahkan dua pria. Di atas meja, tiga kamera sinema berdiri tegak, siap menangkap setiap pori-pori wajah dan setiap percikan emosi yang akan tumpah.
Robby Purbaya, sang host nomor satu di jagat podcast komedi, sedang berada di puncak rantai makanan. Rambutnya klimis, jam tangannya seharga rumah di pinggiran kota, dan mulutnya adalah senjata tajam yang telah membunuh banyak reputasi. Di seberangnya, duduk Pandu Happy Boy, seorang komika senior yang karirnya sedang stagnan. Pandu datang dengan kemeja flanel sederhana dan senyum yang tampak sedikit dipaksakan.
"Lu tahu nggak, Ndu? Alasan kenapa show lu sepi?" Robby memulai, nada suaranya meremehkan. "Karena muka lu itu muka orang susah. Dan orang Indonesia itu benci lihat orang susah yang sok asik."
Pandu tertawa kecil, "Ya, mungkin gue kurang hoki aja kayak lu, Rob."
Robby tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. Matanya berkilat nakal. "Bukan kurang hoki. Lu emang nggak punya kelas." Kemudian, dalam gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Robby memajukan wajahnya dan—ciuh!—ia meludahi wajah Pandu. Tepat di pipi kiri.
Kamera menangkap segalanya. Mata Pandu berkedip beberapa kali, ia mengusap ludah itu dengan telapak tangannya, lalu tersenyum getir. "Gila lu, Rob. Bau naga," candanya, mencoba mencairkan suasana.
Namun Robby tidak berhenti. Sepanjang dua jam rekaman, ia terus meledek kemiskinan Pandu, menghina orang tuanya, dan dua kali lagi ia meludah ke arah lantai di depan kaki Pandu sebagai bentuk penghinaan. Robby bertingkah seolah ia adalah Tuhan kecil di ruangan itu, dan Pandu hanyalah serangga yang sedang ia injak.
Dua hari kemudian, video itu diunggah dengan judul bombastis: "PANDU HAPPY BOY DIHINA HABIS-HABISAN! ROBBY PURBAYA KELEWAT BATAS?"
Dalam hitungan jam, internet meledak.
Gelombang amarah netizen bergerak lebih cepat daripada tsunami. Potongan klip saat Robby meludahi Pandu diputar berulang-ulang di TikTok, Twitter, dan Instagram. Tagar #CancelRobby menjadi trending topik dan viral nomor satu selama tiga hari berturut-turut. Masyarakat murka. Budaya kesopanan Timur yang diagung-agungkan merasa diinjak-injak oleh arogansi seorang podcaster yang merasa di atas hukum.
"Ini bukan komedi, ini perundungan!" tulis seorang influencer dengan jutaan pengikut.
"Meludahi orang lain adalah bentuk degradasi manusia paling rendah. Robby harus hilang dari peradaban!" komentar netizen lainnya yang disukai puluhan ribu orang.
Boikot mulai terjadi. Sponsor-sponsor besar mencabut kontrak mereka dari agensi Robby dalam waktu semalam. Jadwal stand-up special Robby di lima kota besar dibatalkan massal karena ancaman demo. Robby, sang raja podcast, seketika menjadi paria.
Di tengah badai tersebut, Pandu Happy Boy—sang korban—akhirnya muncul ke publik. Semua orang mengira ia akan menuntut atau setidaknya menangis di depan kamera untuk menambah bensin di api kemarahan netizen. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pandu mengunggah video klarifikasi dengan wajah tenang.
"Teman-teman, tolong berhenti menghujat Robby," ujar Pandu dalam videonya. "Semua yang kalian lihat di podcast itu adalah settingan. Kami sudah sepakat di belakang layar. Itu adalah bagian dari performance art kami untuk menunjukkan betapa kasarnya industri hiburan. Robby adalah sahabat saya, dan dia orang baik. Ludah itu? Itu hanya air mineral yang dia semprotkan, bukan benar-benar ludah. Tolong, jangan hancurkan karir orang hanya karena kalian tidak paham konteks komedi kami."
Belaan Pandu bukannya meredakan situasi, malah membuat netizen semakin geram. Masyarakat merasa dikhianati oleh keduanya. Mereka merasa emosi mereka dipermainkan untuk sebuah "konten". Cancel culture tidak berhenti, justru semakin mengganas. Robby dianggap sebagai provokator, sementara Pandu dianggap sebagai korban yang terkena Stockholm Syndrome atau sekadar pengecut yang takut kehilangan koneksi dengan orang kuat.
Akhirnya, Robby menyerah. Lewat akun media sosialnya yang sudah kehilangan jutaan pengikut, ia mengunggah sebuah layar hitam dengan tulisan putih sederhana: "Saya sadar tindakan saya tidak bisa diterima. Saya akan hiatus untuk waktu yang tidak ditentukan. Maafkan saya."
Robby menghilang. Rumah mewahnya tertutup rapat. Studio podcast-nya yang megah kini kosong dan berdebu. Industri hiburan seolah menghapus namanya dari buku sejarah.
Enam bulan berlalu. Pandu, yang sebelumnya hanya komika kelas bawah, tiba-tiba mendapatkan simpati luar biasa dari banyak pihak pasca-kejadian itu. Orang-orang menganggapnya sebagai "orang baik yang terlalu pemaaf". Ia mulai diundang ke berbagai acara TV, menjadi brand ambassador produk kesehatan, dan memiliki podcast-nya sendiri yang sukses besar.
Suatu malam, di sebuah vila tersembunyi di daerah pegunungan yang jauh dari jangkauan paparazzi, dua orang pria duduk bersulang dengan botol wine seharga puluhan juta rupiah. Mereka adalah Robby dan Pandu.
Robby tampak lebih santai, meski wajahnya tak lagi sesering dulu muncul di layar kaca. Ia menyesap wine-nya sambil menatap layar tablet yang menampilkan laporan saldo rekening bank luar negeri yang terus bertambah dari royalti dan investasi tersembunyi.
"Gila ya, Ndu," ujar Robby sambil terkekeh. "Netizen kita itu lucu banget. Mereka pikir mereka menang karena berhasil bikin gue 'hiatus'."
Pandu tersenyum lebar, senyum yang jauh lebih tulus daripada saat ia diludahi di depan kamera. "Gue bilang juga apa, Rob. Masyarakat kita itu haus akan 'penjahat' dan 'pahlawan'. Kita tinggal kasih mereka peran itu, dan mereka bakal kasih kita semua uang mereka."
Robby mengangguk. Strategi mereka berhasil total. Mereka sudah merencanakan skandal itu sejak awal. Mereka tahu bahwa kemarahan publik adalah komoditas paling laku. Robby sengaja mengorbankan reputasinya untuk hiatus—yang sebenarnya adalah liburan panjang yang dibayar mahal—sementara Pandu naik ke permukaan sebagai sosok suci untuk mengamankan semua kontrak iklan yang nantinya tetap mereka bagi berdua secara rahasia.
"Tapi lu hebat, Ndu. Akting lu pas gue ludahin itu juara banget. Kelihatan merana banget," puji Robby.
Pandu tertawa keras hingga tersedak minumannya. "Ya iyalah, gue kan belajar dari yang terbaik. Lagian, siapa yang bakal nyangka kalau semua ide gila ini, dari mulai ludah sampai narasi settingan itu, sebenarnya keluar dari otak gue?"
Robby meletakkan gelasnya, menatap sahabat sekaligus partner bisnis gelapnya itu dengan penuh kekaguman. Mereka merasa telah memenangkan permainan paling besar di abad ini: menipu satu negara demi pundi-pundi harta.
Namun, di tengah tawa mereka, sebuah notifikasi muncul di ponsel Pandu yang tergeletak di meja, sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang berisi rekaman suara percakapan mereka berdua di vila itu sejak lima menit yang lalu, lengkap dengan teks: "Terima kasih atas konten penutup untuk episode terakhir podcast-ku yang sebenarnya, Rob."