Lantai marmer Italia kediaman keluarga Adiwangsa selalu terasa dingin, seolah-olah AC sentral di rumah itu tidak hanya mendinginkan suhu udara, tetapi juga membekukan perasaan orang-orang di dalamnya. Alya Azzahra merapikan seragam batiknya yang sudah agak pudar warnanya di depan cermin lorong. Gadis sembilan belas tahun itu menarik napas panjang, memastikan wajahnya tampak biasanya sebelum mengetuk pintu kayu jati yang kokoh di hadapannya.
"Mas Arlan, waktunya sarapan dan minum obat," suara Alya lembut, nyaris tenggelam oleh suara dentuman musik dari dalam kamar.
Tidak ada jawaban. Alya mendorong pintu itu pelan. Di dalam, Arlan duduk di kursi roda elektroniknya, menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kolam renang mewah. Mantan kapten timnas sepak bola itu hanya mengenakan kaos kutang, memperlihatkan otot lengannya yang masih kokoh, kontras dengan kaki kanannya yang dibebat penyangga besi pasca-operasi ketiga.
"Taruh saja di sana. Lalu keluar," desis Arlan tanpa menoleh.
Alya tidak membantah. Ia tidak seperti perawat-perawat sebelumnya yang akan menceramahi Arlan tentang pentingnya nutrisi atau bersikap sok akrab untuk menarik perhatian anak tunggal kaya raya itu. Alya adalah tipe orang yang manut. Ia tahu posisinya sebagai buruh harian yang butuh gaji bulanan untuk menghidupi keluarganya yang hancur lebur sejak tiga tahun lalu.
Kehidupan Alya adalah fragmen dari penderitaan yang tak berujung sejak ayahnya, Pak Suwandi, tidak pernah pulang malam itu. Kepergian sang ayah bukan hanya meninggalkan lubang di hati, tapi juga lubang di perut mereka. Uang "santunan" yang diberikan oleh pria-pria berpakaian rapi dari keluarga Adiwangsa kala itu habis dalam sekejap untuk biaya pemakaman, membayar hutang motor ayah yang hangus, dan biaya pengobatan asma ibunya yang mendadak kronis karena depresi.
Setelah uang itu ludes, Alya menyaksikan ibunya terjebak dalam lingkaran setan ekonomi kelas bawah. Ibunya, yang hanya penjual gorengan, terpaksa meminjam ke "bank keliling" untuk modal usaha. Bunga yang mencekik membuat mereka harus meminjam lagi ke rentenir pasar untuk menutupi angsuran harian. Puncaknya, demi membayar biaya masuk SMA adiknya, Alya secara nekat mendaftarkan data dirinya ke aplikasi pinjaman online (pinjol).
Hidup Alya selama dua tahun terakhir adalah teror. Setiap pagi, ia harus menghadapi gedoran pintu dari penagih bank keliling yang kasar. Sore harinya, ponselnya tidak berhenti bergetar karena ancaman dari debt collector pinjol yang mencaci makinya dengan kata-kata kotor, mengancam akan menyebarkan fotonya jika bunga yang sudah berlipat ganda itu tidak dibayar. Alya pernah bekerja sebagai buruh cuci hingga larut malam hanya agar adiknya bisa makan sepiring nasi dibagi dua. Itulah alasan mengapa ia menerima pekerjaan di rumah Adiwangsa ini—meskipun ia tahu siapa mereka. Ia butuh gaji besar dan stabil untuk menghentikan teror yang menghantui keluarganya setiap hari.
Bagi Arlan, Alya adalah anomali. Gadis lulusan SMK Kesehatan itu tidak pernah memandangnya dengan tatapan memuja seperti para penggemarnya dulu, juga tidak menatapnya dengan rasa kasihan yang merendahkan seperti kerabat-kerabat kayanya yang sesekali datang berkunjung. Alya hanya bekerja. Diam, patuh, dan seolah tidak punya opini tentang apa pun. Kemandirian Alya yang tidak mau ambil pusing justru membuat Arlan perlahan merasa nyaman. Di rumah yang sering kosong karena orang tuanya sibuk berbisnis di luar negeri, Alya adalah satu-satunya sosok yang konsisten hadir.
Suatu sore, Arlan mengalami tantrum. Ia frustrasi karena kemajuan terapinya berjalan lambat. Ia melempar gelas susunya hingga pecah berkeping-keping di lantai, berteriak pada kekosongan rumah. Alya yang sedang menyapu di koridor segera masuk. Ia melihat pecahan kaca dan Arlan yang napasnya memburu dengan mata memerah menahan tangis.
"Kenapa diam saja? Marahi aku! Bilang kalau aku laki-laki cacat yang tidak berguna!" teriak Arlan.
Alya hanya berlutut, mulai memunguti pecahan kaca dengan tangan kosong tanpa ekspresi marah. Tangannya yang kasar karena deterjen sisa mencuci baju tetangga semalam tidak gentar terkena serpihan kaca. "Kenapa saya harus marah, Mas? Pecahan ini cuma perlu dibersihkan. Kalau Mas mau lempar lagi, tunggu saya ambilkan gelas plastik saja besok, supaya saya tidak capek menyapu kacanya."
Arlan tertegun. Jawaban datar Alya justru mematikan api amarahnya. Sejak saat itu, Arlan mulai membiarkan Alya masuk ke dunianya. Ia mulai mengajak Alya bicara, menceritakan betapa ia merindukan lapangan hijau, meskipun Alya lebih banyak mendengarkan sambil terus menyetrika baju atau membersihkan debu. Arlan mulai merasa bahwa Alya adalah satu-satunya orang yang tulus merawatnya tanpa embel-embel nama besar Adiwangsa.
"Kenapa kamu sabar sekali, Al? Padahal aku sering memaki-makimu," tanya Arlan suatu hari saat Alya sedang membantu memindahkan kakinya ke penyangga sofa.
Alya hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Saya cuma cari aman, Mas. Yang penting pekerjaan selesai, gaji lancar, ibu dan adik-adik saya bisa makan. Itu saja sudah cukup buat saya."
Arlan merasa tersentuh. Ia merasa memiliki ikatan nasib dengan Alya; ia yang kesepian di tengah kemewahan, dan Alya yang berjuang di tengah kekurangan. Arlan bahkan mulai berpikir untuk meminta ayahnya memberikan posisi yang lebih baik untuk Alya di perusahaan mereka setelah ia sembuh nanti. Ia ingin membalas budi pada gadis sederhana yang selalu manut ini. Arlan tidak tahu, bahwa setiap kali Alya menerima gaji dari tangan sopir pribadi keluarga ini, Alya harus segera berlari ke ATM untuk mentransfer uang tersebut kepada rentenir agar rumah mereka tidak disita.
Hingga suatu malam, petaka itu datang dalam bentuk sebuah ketidaksengajaan. Arlan meminta Alya mengambilkan sebuah buku tua di perpustakaan pribadi ayahnya. Saat sedang mencari-cari di rak bawah, Alya tanpa sengaja menyenggol sebuah kotak arsip berbahan kulit yang jatuh dan terbuka. Di dalamnya terdapat map merah bertuliskan "Laporan Insiden Jalan Tol 2023".
Tangan Alya bergetar saat melihat foto-foto di dalamnya. Foto sebuah mobil Range Rover hitam yang ringsek bagian depannya, dan foto sebuah sepeda motor tua yang hancur tak berbentuk—motor yang dicicil ayahnya dengan keringat bertahun-tahun. Di lembar berikutnya, ada salinan surat pernyataan yang ditandatangani oleh supir pribadi keluarga Adiwangsa, menyatakan bahwa dia adalah pelaku tunggal tabrak lari malam itu. Namun, di bawahnya, ada catatan tulisan tangan ayah Arlan yang sangat rapi: “Pastikan Arlan tetap di rehabilitasi mental. Jangan sampai ada yang tahu dia yang menyetir malam itu. Urusan keluarga korban sudah selesai dengan uang tutup mulut.”
Darah Alya terasa mendidih, namun tubuhnya kaku seperti es. Ia teringat bagaimana keluarganya diinjak-injak oleh hutang justru karena "uang tutup mulut" itu tidak pernah cukup untuk menggantikan nyawa seorang ayah. Ia teringat hinaan penagih pinjol yang memaki harga diri ibunya, sementara orang yang menabrak ayahnya duduk nyaman di kursi roda elektronik seharga ratusan juta.
Alya menutup map itu dengan tenang. Ia meletakkannya kembali ke tempat semula. Wajahnya kembali netral, kembali "manut". Ia membawa buku yang diminta Arlan ke kamarnya.
"Ini bukunya, Mas," kata Alya lembut.
Arlan tersenyum lebar, tampak sangat bahagia. "Terima kasih, Al. Oh ya, aku punya kejutan. Aku sudah bicara pada Papa. Bulan depan kamu tidak perlu jadi perawatku lagi. Papa akan membiayai kuliahmu di jurusan kesehatan masyarakat. Ini bentuk terima kasihku karena kamu sudah begitu baik merawatku selama ini. Aku ingin kamu hidup layak."
Arlan meraih tangan Alya, menggenggamnya dengan tulus. "Aku benar-benar berterima kasih, Al. Tanpa kamu, mungkin aku sudah gila di rumah ini sendirian."
Alya menatap tangan Arlan yang menggenggam jemarinya. Tangan yang halus, tangan yang tiga tahun lalu memegang kemudi dan menghantam motor ayahnya hingga nyawa pria itu melayang di aspal panas, meninggalkan keluarganya dalam jeratan rentenir yang tak berkesudahan.
Alya menarik tangannya perlahan. Ia menatap Arlan dengan tatapan yang selama ini ia sembunyikan—campuran antara kekosongan dan luka yang dalam, namun suaranya tetap setenang air di sumur tua.
"Mas Arlan tidak perlu repot-repot memikirkan kuliah saya," ujar Alya pelan. "Uang tutup mulut dari Papa Mas tiga tahun lalu sebenarnya sudah ludes dimakan rentenir untuk bayar hutang pemakaman bapak saya."
Senyum di wajah Arlan membeku. Kerutan bingung muncul di dahinya. "Uang tutup mulut? Rentenir? Apa maksudmu, Al?"
Alya berdiri tegak, merapikan sedikit seragam batiknya yang kusam. "Nama ayah saya Suwandi, Mas. Tukang ojek yang Mas tabrak di KM 12 tiga tahun lalu. Orang yang Mas sebut dalam doa-doa tobat Mas setiap malam saat Mas pikir saya tidak mendengar."
Kamar itu seketika menjadi kedap suara. Arlan merasa seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis. Wajahnya memucat, lebih putih daripada seprai tempat tidurnya. Tangannya yang tadi hangat kini gemetar hebat. Ia menatap Alya, mencoba mencari tanda-tanda bahwa gadis itu sedang bercanda, namun ia hanya menemukan sepasang mata yang selama ini diam-diam menyaksikan kehancuran keluarganya sendiri sementara ia harus tetap tersenyum dan melayani pembunuh ayahnya.
Alya hanya berdiri di sana, diam, menanti reaksi pria yang kini tampak jauh lebih hancur daripada saat kakinya pertama kali lumpuh. Di luar, suara petir menyambar, mencerminkan badai yang baru saja dimulai di dalam ruangan itu.