Di sebuah sekolah menengah atas bernama SMA Harapan Jaya, hiduplah seorang siswa pendiam bernama Firman. Ia bukan anak yang menonjol. Nilainya biasa saja, penampilannya sederhana, dan suaranya nyaris tak pernah terdengar di tengah riuhnya kelas. Firman lebih sering duduk di bangku paling belakang dekat jendela, memandangi langit sore sambil menuliskan hal-hal kecil di buku catatannya.
Namun, ketenangan itu tidak selalu berarti damai.
Sejak kelas sepuluh, Firman menjadi sasaran ejekan beberapa siswa populer di sekolah. Mereka sering menertawakannya karena sepatunya yang sudah usang, tasnya yang pudar warnanya, dan sikapnya yang terlalu pendiam. Setiap jam istirahat, mereka sengaja melewati mejanya, menjatuhkan buku-bukunya, atau menyenggol bahunya sambil tertawa.
“Eh, Firman si Bayangan!” ejek salah satu dari mereka suatu siang. “Kok kamu nggak kelihatan sih? Atau emang nggak ada yang peduli?”
Tawa mereka menggema di kelas. Firman hanya menunduk. Tangannya mengepal di bawah meja, tapi ia tak pernah melawan. Baginya, diam adalah cara paling aman untuk bertahan.
Hingga suatu hari, semuanya berubah.
Pagi itu, kelas XI kedatangan murid pindahan. Wali kelas memperkenalkannya dengan senyum ramah.
“Anak-anak, ini Bella. Mulai hari ini dia akan belajar bersama kalian.”
Bella berdiri di depan kelas dengan percaya diri. Rambutnya tergerai rapi, matanya tajam namun hangat. Senyumnya sederhana, tapi entah mengapa mampu membuat ruangan terasa lebih terang.
Takdir mempertemukannya dengan Firman.
Karena bangku kosong hanya tersisa di belakang, Bella duduk di sebelah Firman. Untuk pertama kalinya, Firman merasa gugup bukan karena takut, melainkan karena seseorang duduk begitu dekat dengannya.
“Hai,” Bella tersenyum. “Namamu Firman, kan?”
Firman terkejut. “I-iya.”
“Aku Bella. Senang kenal kamu.”
Tak ada yang pernah menyapanya sehangat itu sebelumnya. Firman hanya mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah.
Namun, kedatangan Bella rupanya tak mengubah kebiasaan buruk sebagian siswa. Saat jam istirahat, sekelompok anak yang biasa membully Firman kembali mendekat.
“Eh, Bella. Hati-hati ya duduk sama dia,” kata salah satu dari mereka. “Nanti kamu ketularan jadi nggak kelihatan.”
Tawa kembali pecah.
Firman menunduk, bersiap menerima seperti biasa. Tapi kali ini, sesuatu berbeda.
Bella berdiri.
“Apa maksud kalian?” suaranya tegas, tak gemetar sedikit pun.
Anak-anak itu saling pandang, tak menyangka akan dilawan.
“Cuma bercanda, kok.”
“Bercanda?” Bella menatap mereka satu per satu. “Kalau tiap hari kalian jatuhin bukunya, ejek dia, bikin dia malu di depan kelas, itu bukan bercanda. Itu pengecut.”
Suasana mendadak hening. Beberapa siswa mulai memperhatikan.
“Kalau kalian merasa hebat karena bisa merendahkan orang lain, menurutku itu justru tanda kalian lemah.”
Kata-kata Bella menusuk. Anak-anak itu mendengus kesal, tapi tak ada yang berani membalas. Mereka akhirnya pergi dengan wajah masam.
Firman menatap Bella dengan mata membesar. “Kamu… nggak takut?”
Bella duduk kembali dan tersenyum kecil. “Kenapa harus takut? Yang salah kan mereka.”
“Biasanya… nggak ada yang peduli.”
Bella memandangnya lembut. “Sekarang ada.”
Sejak hari itu, hidup Firman perlahan berubah. Bella sering mengajaknya bicara, bertanya tentang hobi dan cita-citanya. Firman yang awalnya kaku mulai berani tersenyum. Ia bercerita bahwa ia suka menulis cerita pendek dan puisi, meski tak pernah berani menunjukkannya pada siapa pun.
“Boleh aku baca?” tanya Bella suatu sore di perpustakaan.
Firman ragu, tapi akhirnya menyerahkan buku catatannya. Bella membacanya dengan serius. Di antara rak-rak buku dan cahaya senja yang masuk melalui jendela, Bella terdiam cukup lama.
“Firman,” katanya pelan, “ini bagus banget.”
Firman mengerutkan kening. “Ah, biasa aja.”
“Enggak. Kamu punya cara melihat dunia yang indah. Kamu cuma belum percaya diri.”
Kata-kata itu membuat dada Firman hangat. Untuk pertama kalinya, seseorang melihat sesuatu yang berharga dalam dirinya.
Hari demi hari, mereka semakin dekat. Mereka belajar bersama, tertawa bersama, bahkan berbagi rahasia kecil tentang keluarga dan mimpi masing-masing. Firman mulai berani mengangkat kepala saat berjalan di koridor. Ejekan masih ada, tapi tak lagi setajam dulu. Kehadiran Bella membuatnya merasa tidak sendirian.
Suatu sore setelah kegiatan ekstrakurikuler, hujan turun deras. Firman dan Bella terjebak di halte depan sekolah. Angin dingin membuat Bella sedikit menggigil.
Firman membuka tasnya dan mengeluarkan jaket tipisnya. “Pakai ini.”
Bella tersenyum. “Nanti kamu kedinginan.”
“Nggak apa-apa. Aku… biasa.”
Bella menatapnya dalam-dalam. “Kamu nggak harus selalu menahan semuanya sendiri, Firman.”
Hujan turun semakin deras, tapi suasana di antara mereka terasa hangat.
“Kenapa kamu mau nolong aku waktu itu?” tanya Firman pelan.
Bella terdiam sejenak. “Karena aku pernah ada di posisi kamu.”
Firman menoleh.
“Di sekolah lamaku, aku juga pernah dibully. Bedanya, nggak ada yang berdiri untukku. Jadi waktu lihat kamu, aku nggak mau itu terjadi lagi.”
Firman merasa tenggorokannya tercekat. Ia tak menyangka gadis sekuat Bella pernah terluka seperti dirinya.
“Terima kasih,” ucapnya tulus. “Kalau kamu nggak datang, mungkin aku masih… jadi bayangan.”
Bella tersenyum lembut. “Menurutku, kamu bukan bayangan. Kamu cuma belum menemukan cahaya yang tepat.”
Firman memberanikan diri menatap mata Bella. “Dan kamu… cahaya itu.”
Wajah Bella memerah. Untuk sesaat, hanya suara hujan yang terdengar.
Sejak hari itu, hubungan mereka bukan lagi sekadar teman sebangku. Ada getaran halus setiap kali tangan mereka tak sengaja bersentuhan. Ada rasa rindu saat sehari saja tak berbicara.
Pada acara pentas seni sekolah, Firman akhirnya memberanikan diri tampil membacakan puisi karyanya sendiri. Aula dipenuhi siswa, termasuk mereka yang dulu sering mengejeknya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Firman berdiri di atas panggung. Ia mencari satu wajah di antara kerumunan. Bella tersenyum padanya dari barisan depan, memberi anggukan kecil penuh dukungan.
Firman menarik napas dan mulai membaca.
Puisi itu bercerita tentang seorang anak yang merasa tak terlihat, hingga suatu hari datang seseorang yang membuatnya percaya bahwa dirinya berharga. Suaranya semakin mantap di setiap bait.
Ketika ia selesai, aula hening sejenak—lalu tepuk tangan bergema.
Firman turun dari panggung dengan mata berkaca-kaca. Bella berdiri dan memeluknya tanpa ragu.
“Kamu luar biasa,” bisiknya.
Firman tersenyum. “Karena kamu percaya duluan.”
Malam itu, di bawah lampu-lampu sekolah yang temaram, Firman memberanikan diri mengatakan sesuatu yang sejak lama tersimpan di hatinya.
“Bella… aku nggak tahu sejak kapan. Tapi setiap kamu ada di dekatku, aku merasa cukup. Aku merasa berani. Aku… suka kamu.”
Bella menatapnya dengan mata berbinar. “Firman, aku nggak berdiri untukmu cuma karena kasihan. Aku berdiri karena aku melihat seseorang yang kuat, meski dia sendiri belum sadar. Dan aku juga… suka kamu.”
Angin malam berhembus lembut, seakan menjadi saksi awal kisah mereka.
Firman yang dulu merasa seperti bayangan kini berjalan dengan kepala tegak. Bukan karena dunia tiba-tiba berubah, tetapi karena ia menemukan seseorang yang percaya padanya—dan dari kepercayaan itu, tumbuhlah cinta.
Di antara hiruk-pikuk masa SMA, di balik luka dan keberanian, Firman dan Bella belajar satu hal: terkadang, satu orang yang berani berdiri di sampingmu bisa mengubah seluruh hidupmu.
Dan sejak saat itu, Firman tak lagi merasa sendirian.