Hujan badai mengamuk di luar jendela kaca setinggi plafon di kediaman mewah keluarga Adiguna. Namun, dinginnya cuaca malam itu tak sebanding dengan kekejaman yang sedang berlangsung di dalam ruang tamu yang megah tersebut. Arini bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, kedua tangannya memegangi ujung daster batiknya yang sudah lusuh. Di hadapannya, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian sutra yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup Arini selama setahun.
Sarah Adiguna, sang ibu mertua, menatap Arini seolah-olah wanita muda itu adalah tumpukan sampah yang tak sengaja terbawa angin masuk ke dalam rumah mewahnya.
"Tanda tangani surat cerai ini, Arini. Jangan membuatku kehilangan kesabaran!" suara Sarah melengking tajam, memecah kesunyian malam.
"Ibu... saya mohon. Ayah sedang dalam masa kritis setelah operasi jantung. Jika saya diceraikan sekarang, siapa yang akan membiayai pengobatannya? Ayah dulu adalah bawahan setia almarhum Bapak Adiguna, Bapak sendiri yang meminta pernikahan ini..." rintih Arini dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Sarah tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh penghinaan. "Jangan lancang menyebut suamiku! Dia sudah meninggal, dan utang budinya sudah lunas saat aku membiarkanmu tinggal di sini selama tiga tahun. Kamu tahu kenapa suamiku menjodohkanmu dengan Bram? Karena dia kasihan melihat ayahmu yang melarat itu. Tapi sekarang, aku yang memegang kendali!"
Sarah melangkah maju, ujung sepatu hak tingginya menekan jari tangan Arini yang bersimpuh. "Dengar, anak buruh! Kamu itu cuma parasit mandul! Tiga tahun kamu tidur dengan putraku, tapi rahimmu tetap kering seperti padang pasir. Kamu tidak memberikan kami apa pun selain beban biaya dapur. Bram butuh pewaris untuk kerajaan bisnis Adiguna, bukan pembantu yang cuma tahu cara masak sayur lodeh dan mencuci kaus kaki!"
Arini menoleh ke arah sofa panjang di sudut ruangan. Di sana, Bramantyo Adiguna, suaminya, duduk diam sambil menyesap kopi hitamnya. Tidak ada sedikit pun gurat pembelaan di wajah tampannya yang dingin.
"Mas Bram... katakan sesuatu. Kamu janji akan menjagaku di depan nisan Ayahmu," bisik Arini lirih.
Bram meletakkan cangkirnya dengan denting yang keras. Ia akhirnya menatap Arini, namun tatapan itu bukan lagi tatapan hangat seperti setahun pertama pernikahan mereka. "Ibu benar, Arini. Perusahaan ayahku sedang dalam masalah besar. Aku butuh suntikan dana segar dari keluarga Clarissa. Jika aku tidak menikahinya bulan depan, perusahaan ini akan kolaps. Dan soal anak... aku sudah lelah menunggu mukjizat dari rahimmu yang bermasalah itu."
"Tapi Mas, kita belum pernah tes secara medis yang benar. Bisa saja masalahnya bukan padaku—"
PLAK!
Satu tamparan keras dari Sarah mendarat di pipi Arini hingga ia tersungkur.
"Kurang ajar! Kamu mau menuduh putraku yang tidak subur? Berani sekali kamu bicara begitu!" Sarah menjerit murka. "Dengar ya, perempuan kampung. Kamu itu cuma 'pajangan' yang gagal. Bram itu sempurna. Clarissa adalah wanita berkelas, dia akan memberiku cucu yang cerdas, bukan anak dari keturunan buruh cuci seperti kamu!"
Sarah melemparkan sebuah koper kecil ke arah Arini. Koper itu terbuka, menumpahkan sedikit pakaian dan sebuah tabung silinder berisi ijazah kedokteran Arini yang selama ini dilarang untuk digunakan.
"Keluar sekarang! Bawa barang-barang sampahmu ini! Mulai malam ini, ayahmu akan dikeluarkan dari ruang ICU karena aku sudah mencabut seluruh jaminan asuransinya. Biarkan dia mati di pinggir jalan, sama seperti kamu yang akan kembali jadi gelandangan!"
Malam itu, Arini diusir tanpa sepeser pun uang. Di bawah guyuran hujan badai, ia berjalan tertatih menuju rumah sakit, memeluk ijazahnya dengan erat. Di saku daster perca itu, tersimpan sebuah rahasia yang ia temukan pagi tadi: sebuah test pack dengan dua garis merah yang sangat jelas.
"Kalian membuangku saat aku membawa ahli waris yang kalian dambakan," bisik Arini dengan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi api dendam yang membara. "Suatu saat, kalian akan berlutut di kakiku hanya untuk memohon satu embusan napas."
LIMA TAHUN KEMUDIAN
Dunia medis internasional sedang diguncang oleh kemunculan seorang jenius baru dari Swiss. Namanya adalah Dokter Arini Wijaya, seorang ahli bedah jantung yang dikenal memiliki "Tangan Tuhan". Ia adalah wanita termuda yang meraih gelar Profesor di bidang Molecular Cardiology dan memiliki paten untuk teknik bedah tanpa sayatan besar yang menyelamatkan ribuan nyawa.
Pagi itu, Arini melangkah masuk ke lobi Rumah Sakit Internasional Royal Hope di Jakarta. Ia tak lagi mengenakan daster batiknya. Kini, ia tampak sangat elegan dengan blazer putih dari merek ternama, rambutnya disanggul rapi, dan aura otoritas terpancar dari setiap langkahnya. Di belakangnya, rombongan asisten dan direktur rumah sakit mengikuti dengan sikap hormat yang luar biasa.
"Dokter Arini, pasien di VVIP 1 mengalami gagal jantung stadium akhir. Hanya teknik Total Heart Repair Anda yang bisa menyelamatkannya," lapor dr. Kevin, direktur utama rumah sakit tersebut.
Arini berhenti di depan pintu ruang VVIP. Ia melihat sebuah nama yang tertera di papan digital pintu: Nyonya Sarah Adiguna.
Arini tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Persiapkan ruang operasi. Saya akan menemui keluarganya sekarang."
Di ruang tunggu, suasana tampak sangat mencekam. Bramantyo Adiguna duduk dengan wajah kuyu. Rambutnya yang mulai memutih di bagian samping menunjukkan betapa berat beban hidup yang ia pikul. Perusahaannya kini nyaris bangkrut karena krisis ekonomi global. Di sampingnya, Clarissa, istri barunya, sedang sibuk mengomel tentang tagihan kartu kredit yang diblokir, sama sekali tidak peduli pada ibu mertuanya yang sedang meregang nyawa.
"Mana dokter ahli itu?! Kenapa mereka lama sekali! Ibu bisa mati kalau begini!" bentak Bram pada seorang suster.
"Saya di sini, Tuan Bramantyo."
Suara itu lembut, namun dingin seperti es. Bram membeku. Ia mendongak dan melihat seorang wanita yang sangat ia kenal, namun tampak seperti orang yang berbeda. Arini berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang membuat Bram merasa seperti debu di bawah sepatunya.
"A-Arini? Kamu... dokter yang dikirim dari Swiss itu?" suara Bram tercekat.
Arini tidak membalas sapaan itu. Ia justru menoleh ke arah asistennya. "Sampaikan pada keluarga pasien, biaya operasi ini adalah lima miliar rupiah, dibayar di muka. Dan jika mereka tidak sanggup, silakan bawa pasien pulang sekarang juga."
"Arini! Kamu gila?! Lima miliar? Aku mantan suamimu!" teriak Bram.
Arini menoleh, matanya berkilat tajam. "Dokter Arini bagi Anda, Tuan Bram. Dan soal status mantan suami... bukankah Anda sendiri yang mengatakan bahwa saya adalah parasit mandul yang tidak berguna? Sekarang, parasit ini adalah satu-satunya orang di dunia yang bisa menjahit jantung ibu Anda agar tetap berdetak."
Clarissa tiba-tiba berdiri. "Heh, perempuan kampung! Kamu jangan belagu ya! Kamu pasti cuma mau balas dendam kan?"
Arini hanya menatap Clarissa dari atas ke bawah. "Tentu saja tidak. Ini murni bisnis. Jika Anda tidak punya uangnya, bukankah keluarga kaya Anda bisa membantu? Oh, saya lupa... bukankah bank ayah Anda baru saja dilikuidasi minggu lalu?"
Wajah Clarissa memucat. Rahasia kebangkrutan keluarganya ternyata sudah diketahui oleh Arini.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari menghampiri Arini. Wajahnya sangat tampan, dengan garis rahang yang sangat mirip dengan Bram, namun memiliki tatapan mata yang cerdas dan tenang seperti Arini.
"Mama, ayo pulang. Leo lapar," kata anak itu sambil menarik ujung jas Arini.
Bram ternganga. Ia menatap anak itu, lalu menatap Arini dengan tangan gemetar. "Arini... itu... anak siapa?"
Arini mengelus rambut putranya dengan penuh kasih sayang, lalu menatap Bram dengan tatapan menghina. "Ini Leo. Putra kandungku. Anak yang dulu kau dan ibumu sebut sebagai 'hasil rahim mandul'. Ternyata benar kata hasil tes laboratorium di Swiss, Mas. Rahimku sangat subur. Masalahnya ada pada dirimu yang menderita oligospermia akibat gaya hidup lamamu. Clarissa tidak bisa memberimu anak bukan karena dia tidak mau, tapi karena kamu memang tidak bisa."
Bram jatuh terduduk di kursi ruang tunggu. Kenyataan itu menghantamnya lebih keras daripada palu hakim saat sidang cerai mereka dulu. Ia telah membuang berlian demi sebuah batu kerikil yang ternyata juga tidak bisa memberikan apa yang ia inginkan.
Arini kemudian mendekati pintu ICU, di mana Sarah tampak sadar namun lemah di balik kaca. Arini masuk ke dalam ruang ICU sendirian, berdiri di samping ranjang mantan mertuanya yang kini bergantung pada ventilator.
Sarah menatap Arini dengan mata melotot ketakutan. Ia mencoba bicara, namun hanya suara erangan yang keluar.
Arini membungkuk, membisikkan kata-kata yang sangat pedas tepat di telinga wanita tua itu. "Ingat kata-kata Ibu dulu? Bahwa saya akan mati di pinggir jalan seperti gelandangan? Lihat sekarang, Nyonya Sarah. Saya adalah dokter yang memegang kendali atas setiap detak jantung Ibu. Setiap kali mesin ini berbunyi, itu adalah izin dariku agar Ibu tetap hidup."
Air mata mulai mengalir dari sudut mata Sarah. Ia ingin memohon maaf, namun Arini belum selesai.
"Aku akan menyelamatkan nyawamu, Sarah. Bukan karena aku baik hati, tapi karena aku ingin kau hidup cukup lama untuk melihat bagaimana aku menghancurkan Adiguna Group. Pagi ini, aku sudah membeli seluruh piutang perusahaan kalian dari bank. Besok, aset rumah mewah kalian akan disita atas namaku. Kau akan hidup, tapi kau akan hidup di rumah kontrakan sempit, merasakan bagaimana rasanya menjadi orang miskin yang kau hina dulu."
Arini menegakkan tubuhnya, merapikan jas putihnya dengan tenang. "Selamat menikmati sisa hidupmu dalam penyesalan. Oh, satu lagi... jangan pernah berharap Leo akan memanggilmu Nenek. Baginya, kau hanyalah orang asing yang pernah mencoba membunuh ibunya dengan kata-kata."
Arini melangkah keluar dari ICU dengan langkah yang begitu ringan. Di luar, Bram mencoba mengejarnya, namun petugas keamanan rumah sakit segera menahannya.
"Arini! Tolong beri aku kesempatan! Aku salah!" teriak Bram putus asa.
Arini tidak menoleh sedikit pun. Ia menggandeng tangan Leo, berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju mobil mewah yang sudah menantinya di lobi. Ia telah kembali. Bukan sebagai korban yang menangis di bawah hujan, tapi sebagai ratu yang menagih utang masa lalunya dengan bunga yang sangat mahal.
Malam itu, operasi berlangsung sukses. Sarah selamat, namun saat ia terbangun, ia mendapati dirinya sudah tidak lagi berada di ruang VVIP. Ia dipindahkan ke bangsal umum karena Bram tidak mampu lagi membayar deposit rumah sakit. Penjaga rumah sudah mengemas barang-barang mereka karena rumah itu kini telah resmi menjadi milik Arini Wijaya.
Karma tidak pernah salah alamat. Dan bagi Arini, ini baru permulaan dari babak baru kehidupannya sebagai penguasa medis dan bisnis yang tak terbantahkan.