Lampu neon di langit-langit sel isolasi itu berkedip-kedip dengan suara berdengung yang menyiksa telinga, menciptakan bayangan yang menari liar di dinding semen berlumut. Marlo menatap nanar ke arah permukaan air di dalam ember plastik yang keruh. Wajah yang dulu menghiasi baliho-baliho raksasa di sepanjang jalan protokol, wajah yang pernah dipuja jutaan pasang mata sebagai simbol maskulinitas dan ketampanan, kini tampak seperti rongsokan manusia. Di masa jayanya, Marlo adalah raja layar lebar. Ia memiliki segalanya: kegagahan yang membuat pria lain iri, deretan mantan kekasih yang semuanya adalah artis papan atas, hingga akhirnya ia menikahi seorang diva tercantik di negeri ini. Namun, semua itu hancur berantakan saat serbuk putih mulai meracuni nadinya. Perceraian pahit mereka menjadi santapan media selama berbulan-bulan, dan kini, ia terdampar di tempat paling terkutuk yang pernah dibayangkan manusia: Nusa Kambangan.
Malam di pulau ini selalu terasa lebih panjang. Bunyi deburan ombak Pantai Selatan yang menghantam karang terdengar seperti suara hakim yang membacakan vonis mati berulang-ulang di telinganya. Marlo meringkuk di sudut sel yang pengap, memeluk lututnya yang gemetar. Bau amis dari lantai yang jarang dibersihkan menusuk indra penciumannya. Baru beberapa jam yang lalu, ia dipaksa "melayani" keinginan para narapidana penguasa blok. Tubuh gagahnya yang dulu dirawat di pusat kebugaran terbaik, kini dipenuhi memar biru dan bekas luka yang mulai mengering. Di sini, statusnya sebagai bintang film tidak memberinya perlindungan; justru menjadikannya sasaran empuk.
"Woi, Artis! Sini lu! Jangan lagak budeg!" suara parau itu memecah keheningan sel.
Marlo tersentak. Tiga narapidana bertubuh besar dengan tato memenuhi lengan dan leher mereka berdiri di depan jeruji besi. Salah satunya, seorang pria gempal bernama Jaka, meludah ke arah kaki Marlo. Jaka adalah penguasa blok ini, manusia yang sudah tidak memiliki nurani setelah belasan tahun mendekam di balik jeruji.
"Mana uang keamanan yang gue minta kemarin? Keluarga lu udah transfer?" bentak Jaka sambil mencengkeram kerah baju Marlo yang sudah kumal dan bau.
Marlo menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan perih. "Bang, tolong... saya mohon. Ibu saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Semuanya habis buat biaya pengacara dan denda di kasus yang kedua dulu. Tolong kasih saya waktu..."
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Marlo, membuat kepalanya terhentak ke jeruji besi. "Gak mau tahu gue! Lu itu Marlo! Masa artis besar nggak punya simpanan? Jangan akting lu di depan gue! Gue tahu lu masih punya aset yang disembunyiin!"
"Demi Tuhan, Bang... saya sudah jatuh miskin. Kontrak film diputus semua, rumah disita bank," isak Marlo. Air matanya mulai mengalir, membasahi luka di sudut bibirnya.
"Halah! Bacot!" Jaka menghantamkan tinjunya ke perut Marlo. Marlo tersungkur, mengerang tertahan sambil memegangi perutnya yang mulas. "Besok sore kalau sepuluh juta nggak masuk ke nomor rekening yang gue kasih, kaki lu bakal gue bikin patah dua-duanya. Lu nggak mau kan keluar dari sini jadi pengemis buntung?"
Setelah para napi itu pergi dengan tawa mengejek, Marlo hanya bisa menangis dalam diam. Ia merasa seperti binatang buruan di tengah hutan rimba. Tidak ada asisten yang membawakan air minum, tidak ada manajer yang mengatur jadwal, dan tidak ada penggemar yang meminta foto. Yang ada hanyalah rasa sakit yang nyata dan ketakutan yang mencekik leher.
Keesokan harinya, dengan langkah tertatih dan wajah yang kian sembap, Marlo dibawa menuju ruang kunjungan. Borgol di tangannya terasa sangat berat, seberat beban hidup yang kini ia pikul. Di balik kaca tebal yang membatasinya dengan dunia luar, telah menunggu Pak Heru, pengacara tua yang kini tampak lebih lelah dari biasanya.
"Pak Heru... tolong saya. Tolong sampaikan ke keluarga, cari pinjaman atau apa saja. Saya disiksa di sini setiap malam. Mereka minta uang terus," Marlo memohon dengan suara parau. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca, seolah ingin meraih dunia luar yang sudah membuangnya.
Pak Heru menghela napas panjang, matanya menatap Marlo dengan campuran rasa iba dan kecewa yang mendalam. "Marlo, dengarkan saya baik-baik. Situasi di luar sudah sangat buruk. Media massa sedang berpesta pora atas penangkapan ketigamu ini. Mereka menjuluki kamu 'Predator Masa Depan Bangsa' dan 'Gembong Tak Tahu Diri'. Opini publik sudah sangat membencimu. Tidak ada lagi yang mau meminjamkan uang untukmu."
"Tapi saya manusia juga, Pak! Saya tidak tahan disiksa terus-menerus!" teriak Marlo frustrasi, membuat beberapa sipir menoleh dengan tatapan mengancam.
"Masyarakat tidak peduli, Marlo. Bagi mereka, kamu adalah selebritas yang menyia-nyiakan kesempatan emas. Kamu punya segalanya dan kamu membuangnya demi sabu," ucap Pak Heru dengan nada pahit. "Dan ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui. Ini mungkin akan menyakitkan, tapi kamu harus tahu dari saya daripada dari televisi."
Pak Heru mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan sebuah unggahan di media sosial. Di sana, Sheila—mantan istri Marlo, wanita yang dulu sangat mencintainya namun ia khianati dengan narkoba dan kebohongan—tampak begitu anggun mengenakan kebaya putih. Ia bersandar mesra di bahu seorang pria yang tampak sangat mapan dan berwibawa. Mereka baru saja melangsungkan pernikahan mewah di sebuah resor pribadi di Bali.
"Sheila... dia sudah menikah lagi?" suara Marlo nyaris hilang.
"Kemarin. Pernikahannya menjadi berita paling bahagia tahun ini. Semua orang mendoakannya karena mereka tahu betapa menderitanya dia saat bersamamu dulu. Dia sudah menemukan kebahagiaan sejati, Marlo. Dia sudah benar-benar melupakanmu," lanjut Pak Heru.
Hati Marlo terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakit karena pukulan Jaka tidak ada apa-apanya dibanding kenyataan ini. Sheila, satu-satunya jangkar yang dulu sempat menahannya dari kegilaan, kini telah pergi selamanya. Wanita cantik itu telah memilih pria yang bisa memberinya kedamaian, bukan pria pesakitan yang berbau penjara.
"Dia terlihat sangat cantik," gumam Marlo dengan mata berkaca-kaca. Ia mengingat bagaimana dulu ia sering membentak Sheila saat sedang sakau, bagaimana ia mencuri perhiasan istrinya hanya untuk membeli serbuk laknat itu. Penyesalan itu datang terlambat, membakar jiwanya tanpa ampun.
"Satu hal lagi," Pak Heru menambahkan, "Media massa sekarang menyoroti setiap gerak-gerikmu di sini. Berita tentang 'Kondisi Marlo di Nusa Kambangan' menjadi berita paling dicari. Orang-orang di internet justru bersorak saat tahu kamu dipindahkan ke sini. Mereka bilang ini adalah tempat yang pantas untuk sampah seperti kamu."
Marlo tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Sampah... ya, mereka benar. Saya adalah sampah."
Setelah kunjungan berakhir, Marlo diseret kembali menuju selnya. Di lorong-lorong penjara yang dingin, ia berpapasan dengan televisi yang menyala di ruang jaga sipir. Di sana, wajahnya terpampang jelas dalam segmen berita sore. Narator berita menyebutkan daftar kegagalannya, menampilkan foto-foto masa kejayaannya yang disandingkan dengan foto wajahnya yang memar saat ini. Kontras itu begitu menyakitkan. Sang Idola kini telah jatuh ke titik terendah.
Malam itu, Marlo kembali meringkuk di sudut selnya. Ia menatap ventilasi kecil di langit-langit, tempat cahaya bulan menyelinap masuk. Ia teringat masa kecilnya, saat ia belum mengenal gemerlap dunia hiburan, saat ia masih memiliki mimpi yang bersih. Ia teringat teman-temannya yang sukses dengan jalan yang lurus, sementara ia, sang bintang besar, justru berakhir di pulau kematian.
Ia menyadari bahwa narkoba bukan hanya mencuri kebebasannya, tapi juga mencuri seluruh identitas dirinya sebagai manusia. Di pulau kematian ini, di tengah siksaan fisik yang menghimpit dan bayang-bayang mantan istri yang telah bahagia, Marlo hanya bisa meratapi sisa napasnya. Ia adalah monumen kegagalan yang nyata, seorang idola yang kini hanya menjadi peringatan bagi dunia tentang betapa cepatnya ketinggian bisa berubah menjadi jurang yang tak berdasar.
"Maafkan aku, Sheila... Maafkan aku, Ibu..." isaknya lirih di tengah sunyi. Namun hanya suara ombak Pantai Selatan yang menjawabnya, seolah menegaskan bahwa di sini, tidak ada yang akan mendengar tangisannya.
Marlo memejamkan mata, berharap saat ia bangun, semua ini hanyalah mimpi buruk dari lokasi syuting. Namun, rasa perih di perutnya dan bau amis di sekelilingnya adalah kenyataan pahit yang harus ia telan sampai waktu yang tak ditentukan. Sang Idola telah mati, yang tersisa hanyalah bayang-bayang pria malang yang menanti ajalnya dalam kehampaan.