Siang itu, cuaca di luar jendela kantorku sedang terik-teriknya. Suara bising kendaraan di jalan raya Jakarta seolah menjadi latar musik rutin yang membosankan. Di tengah tumpukan berkas laporan yang harus segera selesai, ponselku yang tergeletak di atas meja kayu bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul dari nomor yang tidak tersimpan.
Aku meraih ponsel itu, menggeser layarnya, dan seketika gerakanku terhenti. Foto profilnya menunjukkan seorang pria dengan seragam putih bersih, dua sayap emas tersemat di dada kiri, dan empat garis emas melingkari pergelangan tangannya. Ia tersenyum lebar di depan kokpit pesawat jet komersial yang megah.
Pesan itu berbunyi:
"Halo Sandi! Ini Rahmat temen SD. Gue cuma mau say thank you atas semua bantuan lu dulu. Mungkin buat lu itu simpel, tapi buat gue itu segalanya. Sekarang gue udah kerja jadi pilot, San. Gue gak bakal lupa sama temen baik kayak lu yang mau nolong gue dari hal paling kecil sekalipun. Respect! Kabari ya kalau lu lagi luang, gue pengen silaturahmi."
Aku tertegun. Nama "Rahmat" dan kata "Pilot" seperti dua kutub magnet yang sulit disatukan dalam ingatanku. Pikiranku langsung terlempar mundur, melintasi lorong waktu sejauh lima belas tahun yang lalu, ke sebuah ruang kelas dasar yang pengap dengan bangku-bangku kayu yang sudah mulai lapuk.
Lintasan pikiranku mengembara pada bayang-bayang di sudut Kelas di tahun 2000-an awal. Rahmat adalah anak yang paling diam di kelas kami. Dia selalu duduk di barisan paling belakang, seolah berusaha menyatukan dirinya dengan dinding agar tidak terlihat oleh siapa pun. Keluarganya sangat pas-pasan—bahkan mungkin di bawah kata pas-pasan. Ibunya adalah seorang buruh cuci keliling yang tangannya selalu mengeriput karena deterjen, dan ayahnya sudah meninggal saat Rahmat masih balita.
Aku ingat betul tas sekolah Rahmat. Tas kain berwarna biru pudar yang ritsletingnya sudah lama jebol. Untuk menutupnya, Rahmat menggunakan dua buah peniti besar. Jika dia bergerak terlalu cepat, peniti itu sering lepas, dan buku-buku tulisnya yang sudah menguning berserakan di lantai.
Saat jam istirahat tiba, saat anak-anak lain berlarian menuju kantin untuk membeli es mambo atau bakso, Rahmat tetap di kursinya. Ia akan membuka buku gambarnya dan mulai mencoret-coret. Awalnya aku pikir dia rajin, tapi lama-kelamaan aku sadar: dia hanya ingin menutupi suara keroncongan perutnya.
Aku, Sandi, hanyalah anak biasa dari keluarga menengah. Ibuku selalu membekaliku dua potong roti selai kacang atau nasi goreng setiap hari. Suatu hari, aku melihat Rahmat terus-menerus menelan ludah saat mencium aroma nasi gorengku.
"Mat, ini kebanyakan. Bantuin habisin dong, nanti kalau gak habis ibu gue marah," kataku berbohong, sambil menyodorkan kotak makanku ke arahnya.
Rahmat menatapku dengan ragu. Matanya yang cekung seolah bertanya apakah aku sedang mengejeknya. Namun, saat dia melihat senyum tulusku, dia perlahan mengambil sendok plastik itu. Dia makan dengan sangat pelan, seolah ingin menikmati setiap bulir nasi itu selamanya. Itulah pertama kalinya aku melihat Rahmat tersenyum tipis.
Momen yang paling membekas terjadi saat kami duduk di kelas enam, tepat sebelum ujian nasional. Pagi itu adalah hari Senin, hari di mana upacara bendera wajib diikuti dengan atribut lengkap, termasuk sepatu hitam.
Rahmat datang dengan wajah pucat. Sepatu karet hitamnya yang sudah tipis benar-benar menyerah. Sol bagian bawahnya lepas total, menganga seperti mulut buaya yang kelaparan. Dia berdiri di pinggir lapangan, gemetar ketakutan karena guru kedisiplinan kami, Pak botak yang galak, sudah mulai berkeliling memeriksa kerapian.
"San, gimana ini? Gue pasti dihukum lari keliling lapangan tanpa alas kaki. Aspalnya panas banget," bisiknya dengan suara bergetar. Dia hampir menangis. Baginya, hukuman bukan hanya soal fisik, tapi soal rasa malu yang sudah menumpuk di pundaknya sejak kecil.
Aku melihat sekeliling. Tidak ada lem, tidak ada tali. Lalu, aku melihat ke dalam laci mejaku. Ada bungkusan karet gelang yang biasa kami gunakan untuk main lompat tali. Tanpa pikir panjang, aku mengambil segenggam karet itu.
"Sini kaki lu, Mat!"
Aku berlutut di depannya—sebuah pemandangan yang membuat teman-teman lain tertawa. Aku melilitkan karet-karet gelang hitam itu berkali-kali ke sepatu Rahmat, menyatukan sol yang lepas dengan bagian atas sepatu. Aku melakukannya dengan rapi sampai sol itu benar-benar kencang. Dari jauh, karet hitam itu tidak akan terlihat mencolok di atas sepatu hitamnya.
"Udah, ini kuat buat upacara doang mah. Nanti pulang sekolah kita cari cara lain," kataku sambil menepuk pundaknya.
Rahmat menatap sepatunya, lalu menatapku. "Makasih, San. Lu selalu ada pas gue bener-bener gak punya apa-apa."
Setelah lulus SD, kami terpisah sekolah. Aku mendengar kabar dia pindah ke pinggiran kota karena ibunya sakit-sakitan. Namanya perlahan terkikis dari keseharianku, tertutup oleh hiruk-pikuk masa SMA dan kuliah. Aku hanya sesekali teringat padanya saat melihat sepatu yang rusak atau saat makan nasi goreng.
Namun ternyata, bantuan-bantuan "simpel" itu—sepotong roti, pinjaman pensil, dan lilitan karet gelang—adalah benih yang tumbuh menjadi pohon raksasa di dalam hati Rahmat. Baginya, bantuan itu bukan sekadar materi, melainkan pesan bahwa dunia tidak sepenuhnya jahat. Bahwa dia, anak buruh cuci yang miskin, layak untuk dibantu dan dihargai.
Dalam pesan WhatsApp-nya, Rahmat menceritakan sedikit perjuangannya. Dia bekerja serabutan setelah lulus SMK, mulai dari kuli panggul hingga tukang cuci piring, sambil terus belajar secara otodidak demi beasiswa penerbangan. Setiap kali dia merasa lelah dan ingin menyerah pada kemiskinannya, dia selalu ingat bahwa dulu ada seorang teman bernama Sandi yang tidak pernah merendahkannya.
"Gue pengen jadi seperti lu, San. Orang yang punya tangan di atas. Sekarang, setiap kali gue narik tuas pesawat buat take off, gue selalu ngerasa seperti terbang meninggalkan masa lalu gue yang susah, tapi gue gak pernah ninggalin kenangan tentang kebaikan lu," tulisnya dalam pesan balasan setelah kami mulai mengobrol panjang lebar di WA.
Beberapa minggu setelah pesan itu, kami akhirnya bertemu di sebuah kafe di bandara saat dia sedang transit. Sosok Rahmat yang dulu kecil, kurus, dan layu telah berganti menjadi pria tegap dengan aura kepercayaan diri yang luar biasa. Namun, sorot matanya tetap sama—tulus dan penuh syukur.
Kami berpelukan layaknya saudara kandung yang lama tak bersua. Dia memesankan makanan paling enak di kafe itu untukku.
"Dulu lu yang bagi nasi goreng, sekarang biarkan gue yang traktir lu steak," katanya sambil tertawa, tapi matanya berkaca-kaca.
Dia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Sebuah karet gelang hitam yang sudah kaku dan hampir putus.
"Gue simpen ini satu, San. Buat pengingat. Karet gelang yang lu pasang di sepatu gue dulu itu bukan cuma nyatuin sol sepatu, tapi nyatuin harapan gue yang hampir hancur."
Aku tidak bisa menahan air mataku. Ternyata, hal-hal paling sederhana yang kita lakukan bagi orang lain bisa menjadi alasan bagi mereka untuk bertahan hidup. Sandi, si anak biasa, kini berdiri di depan seorang kapten pilot yang hebat. Dan kehebatan itu, sebagian kecilnya, dirajut dari kebaikan yang kita anggap simpel bertahun-tahun yang lalu.
Hari itu aku belajar satu hal penting: Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil. Karena kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan menjadi sayap bagi seseorang untuk terbang menggapai mimpinya.