Jagan lupa di follow ya sama di like teman teman and silahkan di baca ya
----------------------------------------
Muklis bukan siapa-siapa. Ia bukan penulis terkenal, bukan sastrawan yang namanya dicetak besar di sampul buku toko ternama. Ia hanya seorang lelaki sederhana dengan mimpi yang menurut banyak orang terlalu tinggi: ingin agar tulisannya dibaca oleh semua orang.
Sejak kecil, Muklis mencintai kata-kata. Ia tumbuh di rumah sempit dengan dinding papan yang mulai lapuk dimakan usia. Ayahnya seorang buruh bangunan, ibunya penjual gorengan di depan rumah. Hidup mereka tak pernah mewah, tapi selalu cukup untuk bertahan.
Di sudut kamar kecilnya, Muklis menyimpan buku tulis usang. Di sanalah ia menuliskan cerita-cerita pertamanya—tentang hujan, tentang kehilangan, tentang harapan yang tak pernah benar-benar padam. Ia percaya, kata-kata bisa menyelamatkan seseorang dari kesepian.
Waktu berlalu. Muklis dewasa. Ia bekerja di siang hari sebagai pegawai administrasi di sebuah kantor kecil, lalu menulis di malam hari. Laptopnya sudah tua, tombol “A” dan “S” hampir tak berfungsi dengan baik, tapi itu tidak menghentikannya.
Suatu hari, ia menemukan sebuah aplikasi menulis daring. Platform itu memungkinkan siapa saja membagikan cerita mereka ke seluruh dunia. Dengan mata berbinar, Muklis membuat akun. Ia mengunggah cerpen pertamanya dengan tangan gemetar.
Judulnya sederhana: *“Rumah yang Tak Pernah Pulang.”*
Ia menekan tombol “Publikasikan” dengan jantung berdebar.
Hari pertama, tidak ada yang membaca.
Hari kedua, satu pembaca. Itu pun mungkin hanya tersesat.
Hari ketiga, masih sunyi.
Muklis tidak menyerah. Ia membagikan tautan ceritanya ke grup media sosial. Ia mengirimkannya ke teman-teman lama. Ia bahkan membuat status dengan kalimat yang penuh harap: *“Teman-teman, kalau sempat, baca ya tulisanku. Siapa tahu ada yang merasa terwakili.”*
Tapi responsnya tetap dingin.
Beberapa hanya memberi tanda suka tanpa benar-benar membaca. Sebagian lagi bahkan tak membuka pesan. Ada yang berkata, “Bagus, Lis,” tanpa bisa menyebut satu pun bagian cerita.
Muklis tersenyum pahit. Ia tahu mereka mungkin hanya basa-basi.
Namun setiap malam, ia tetap menulis. Ia menulis tentang ibu yang menunggu anaknya pulang, tentang lelaki tua yang setia pada bangku taman, tentang cinta yang kalah oleh waktu. Ia mencoba berbagai genre—romansa, drama, bahkan sedikit komedi. Ia belajar dari artikel-artikel di internet tentang cara menarik pembaca: judul harus kuat, pembuka harus menggugah, konflik harus tajam.
Ia mengganti aplikasi. Mencoba platform lain. Membuat akun baru. Mengunggah ulang cerita-ceritanya dengan sampul yang ia desain sendiri. Ia belajar membuat desain sederhana agar tulisannya terlihat menarik.
Namun hasilnya tetap sama.
Sepi.
Statistik pembaca jarang bergerak. Kadang naik dua atau tiga, lalu berhenti. Komentar hampir tak pernah ada. Di saat penulis lain merayakan ribuan pembaca dan ratusan pengikut, Muklis masih bergelut dengan angka satu digit.
Ada malam-malam ketika ia menatap layar laptop dengan mata berkaca-kaca.
“Apa tulisanku memang tidak layak?” bisiknya pada dirinya sendiri.
Keraguan mulai tumbuh seperti bayangan panjang di dinding kamarnya. Ia mulai membandingkan dirinya dengan penulis lain. Mereka seumuran dengannya, tapi sudah menerbitkan buku, diundang ke acara literasi, bahkan diulas oleh media.
Muklis hanya punya folder penuh naskah yang belum pernah benar-benar hidup di tangan pembaca.
Suatu malam, setelah mengunggah cerita ke sekian kalinya dan kembali melihat angka nol di kolom komentar, ia menutup laptopnya dengan pelan. Ia keluar rumah dan duduk di teras. Angin malam berhembus pelan.
Ibunya keluar membawa dua cangkir teh hangat.
“Masih nulis, Lis?” tanya ibunya lembut.
Muklis mengangguk. “Tapi kayaknya nggak ada yang baca, Bu.”
Ibunya tersenyum sederhana. “Kamu nulis buat siapa?”
Muklis terdiam. Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada semua statistik pembaca.
“Buat… semua orang,” jawabnya pelan.
“Semua orang itu siapa?” ibunya kembali bertanya. “Kadang, Nak, kalau satu orang saja merasa terbantu karena tulisanmu, itu sudah cukup.”
Muklis tidak langsung menjawab. Tapi kalimat itu menetap di hatinya.
Keesokan harinya, ia membuka kembali aplikasinya. Ia hampir tak berharap apa-apa. Namun di salah satu cerpennya yang sudah lama terunggah, ia melihat satu notifikasi baru.
Satu komentar.
Tangannya gemetar saat membukanya.
“Terima kasih. Cerita ini persis seperti yang saya rasakan. Saya pikir saya sendirian. Setelah baca ini, saya merasa lebih kuat.”
Muklis membaca komentar itu berulang kali. Hanya satu. Tapi cukup untuk membuat dadanya hangat.
Ternyata, di antara lautan sunyi, ada satu hati yang terhubung.
Sejak hari itu, Muklis mengubah cara pandangnya. Ia tetap bermimpi besar—ingin tulisannya dibaca banyak orang. Tapi ia tidak lagi mengukur keberhasilan hanya dari angka.
Ia mulai menulis dengan lebih jujur. Bukan sekadar mengikuti tren, bukan demi viral. Ia menulis apa yang benar-benar ia rasakan. Tentang lelahnya menjadi dewasa. Tentang takut gagal. Tentang mimpi yang tampak jauh tapi tetap dikejar.
Ia juga mulai belajar lebih serius. Mengikuti kelas menulis daring gratis. Membaca buku teori sastra dari perpustakaan. Ia memperbaiki struktur ceritanya, memperdalam karakter, memperkaya diksi. Ia sadar, mimpi besar harus diiringi usaha yang besar pula.
Perlahan, pembacanya bertambah. Tidak drastis, tidak ribuan dalam semalam. Tapi bertambah.
Sepuluh.
Dua puluh.
Lima puluh.
Ada yang mulai rutin berkomentar. Ada yang menunggu kelanjutan ceritanya. Beberapa bahkan mengirim pesan pribadi, mengatakan bahwa tulisan Muklis menemani mereka di masa sulit.
Suatu hari, sebuah penerbit kecil mengirim pesan. Mereka menemukan salah satu cerpennya dan tertarik untuk membukukannya dalam antologi bersama penulis lain.
Muklis membaca email itu dengan napas tercekat. Ia hampir tidak percaya.
Perjalanannya masih panjang. Ia belum menjadi penulis terkenal. Bukunya belum terpajang di etalase besar. Tapi satu hal sudah pasti: tulisannya hidup. Dibaca. Dirasakan.
Di malam peluncuran buku pertamanya, ia berdiri kecil di sudut ruangan toko buku sederhana. Ia melihat seseorang membeli buku itu, membukanya, lalu mulai membaca.
Muklis tersenyum.
Ia teringat hari-hari ketika tak ada satu pun yang membaca. Ketika ia hampir menyerah. Ketika angka nol terasa seperti vonis.
Kini ia mengerti.
Mimpi tidak selalu datang dengan sorak-sorai. Kadang ia tumbuh pelan, hampir tak terlihat. Kadang ia diuji dengan kesunyian.
Muklis masih menulis sampai sekarang. Ia masih membagikan karyanya di berbagai aplikasi. Masih mempromosikan dengan sederhana. Tapi ia tidak lagi menunggu validasi untuk merasa berharga.
Ia menulis karena itu jiwanya. Ia berbagi karena ia percaya, di luar sana selalu ada seseorang yang membutuhkan satu kalimat untuk bertahan.
Dan mungkin, dunia tidak perlu membaca semuanya sekaligus.
Cukup satu per satu.
Selama Muklis masih memegang pena—atau mengetik di laptop tuanya—mimpinya tidak pernah benar-benar mati.