Bel berbunyi nyaring menandakan jam istirahat pertama di SMA Bintang Harapan dimulai. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas, sebagian menuju kantin, sebagian lagi ke lapangan. Di kelas XI IPS 1, Arya masih duduk di bangkunya, memandangi papan tulis yang penuh rumus ekonomi.
Arya bukan siswa paling populer di sekolah, tapi ia dikenal cerdas dan humoris. Rambutnya sedikit bergelombang, sering kali berantakan karena ia terlalu malas menyisir dengan rapi. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan atau bermain basket sepulang sekolah bersama teman-temannya.
Di bangku dekat jendela, duduk seorang gadis bernama Isna. Ia dikenal sebagai siswi yang rajin dan aktif di organisasi sekolah. Wajahnya lembut dengan mata yang teduh, selalu memancarkan ketenangan. Isna memiliki kebiasaan unik: setiap istirahat, ia akan membuka buku novel dan membaca beberapa halaman sebelum menuju kantin.
Arya sebenarnya sudah lama memperhatikan Isna. Bukan karena Isna ketua kelas atau karena ia sering mendapat nilai tertinggi, melainkan karena caranya tersenyum saat membaca. Senyum itu berbeda—tulus dan hangat, seolah dunia di sekitarnya tak bisa mengganggunya.
Perkenalan mereka dimulai dari tugas kelompok mata pelajaran Sejarah. Guru mereka, Bu Rani, membagi kelas menjadi beberapa kelompok untuk membuat presentasi tentang perjuangan kemerdekaan.
“Arya satu kelompok dengan Isna, Reza, dan Mira,” ucap Bu Rani.
Arya berusaha bersikap biasa saja, meskipun dalam hati ia merasa gugup. Ini pertama kalinya ia berada satu kelompok dengan Isna.
Sore itu, mereka memutuskan untuk mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah. Isna membuka diskusi dengan serius.
“Kita bagi tugas, ya. Arya bisa bagian mencari referensi tambahan. Katanya kamu cepat kalau soal cari informasi.”
Arya tersenyum. “Siap, komandan.”
Isna tertawa kecil. “Aku bukan komandan.”
“Tapi cara ngomongmu mirip,” goda Arya.
Sejak pertemuan itu, komunikasi mereka semakin sering. Chat grup tugas perlahan berubah menjadi obrolan pribadi tentang hal-hal sederhana: lagu favorit, film yang sedang tayang, hingga rencana masa depan.
Arya baru tahu bahwa Isna bercita-cita menjadi guru. Ia ingin mengajar di daerah terpencil agar anak-anak di sana bisa mendapatkan pendidikan yang layak.
“Kenapa guru?” tanya Arya suatu hari saat mereka duduk di bangku taman sekolah.
“Karena guru itu bukan cuma mengajar pelajaran,” jawab Isna. “Guru bisa mengubah hidup seseorang.”
Arya menatapnya kagum. “Kamu pasti jadi guru yang hebat.”
Isna menunduk malu. “Kamu sendiri mau jadi apa?”
“Aku ingin punya usaha sendiri. Mungkin di bidang teknologi. Tapi jujur, aku masih sering ragu.”
“Ragu itu wajar,” kata Isna lembut. “Yang penting kamu nggak berhenti mencoba.”
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Arya terasa berarti. Sejak mengenal Isna, ia merasa lebih termotivasi. Ia mulai belajar lebih serius, bahkan nilai matematikanya yang sempat turun perlahan membaik.
Namun perjalanan mereka tidak selalu mulus. Di sekolah, muncul kabar bahwa Isna didekati oleh kakak kelas kelas XII, seorang siswa berprestasi bernama Farhan. Banyak yang menganggap mereka cocok karena sama-sama aktif dan pintar.
Arya mencoba menepis rasa cemburu yang muncul. Ia sadar, ia bukan siapa-siapa bagi Isna. Mereka hanya teman.
Suatu sore, saat latihan basket, Arya bermain kurang fokus. Beberapa kali ia gagal memasukkan bola ke ring.
“Lo kenapa, Ry?” tanya Reza.
“Enggak kenapa-kenapa,” jawab Arya singkat.
Tapi dalam hati, ia tahu ada yang mengganggunya. Ia takut kehilangan Isna bahkan sebelum benar-benar memiliki hatinya.
Kesempatan untuk berbicara jujur datang saat sekolah mengadakan acara pensi (pentas seni). Isna menjadi panitia dekorasi, sementara Arya bertugas di bagian perlengkapan. Mereka sering pulang lebih malam karena harus mempersiapkan acara.
Malam itu, setelah latihan terakhir selesai, langit mulai berwarna jingga. Lapangan sekolah tampak sepi.
Isna duduk di tribun, menghela napas lelah. Arya menghampiri sambil membawa dua botol air mineral.
“Capek?” tanyanya.
“Lumayan,” jawab Isna sambil tersenyum.
Mereka duduk berdampingan, memandangi langit senja yang perlahan berubah gelap.
“Arya,” Isna memulai, “kamu akhir-akhir ini beda.”
Arya menoleh. “Beda gimana?”
“Kamu jadi lebih pendiam.”
Arya terdiam beberapa saat. Angin sore berembus pelan, membuat rambut Isna sedikit berantakan.
“Aku cuma takut,” ujar Arya akhirnya.
“Takut apa?”
“Takut kalau aku berharap terlalu jauh.”
Isna mengernyit bingung. “Maksudnya?”
Arya menarik napas panjang. “Aku suka sama kamu, Isna. Dari lama. Tapi aku nggak mau bikin kamu nggak nyaman.”
Suasana mendadak hening. Jantung Arya berdegup kencang, menunggu jawaban.
Isna menatap lurus ke depan, lalu tersenyum kecil. “Kamu tahu nggak kenapa aku sering duduk dekat jendela?”
Arya menggeleng.
“Karena dari situ aku bisa lihat kamu main basket di lapangan,” katanya pelan.
Arya tertegun.
“Aku juga suka kamu, Arya,” lanjut Isna. “Tapi aku takut kalau kita pacaran, kita jadi lupa tujuan utama kita sekolah.”
Arya tersenyum lega. “Berarti…?”
“Berarti kita coba pelan-pelan. Saling dukung. Kalau salah satu mulai lalai, yang lain harus ingatkan.”
Arya mengangguk mantap. “Janji.”
Sejak hari itu, hubungan mereka berubah. Bukan sekadar teman, tapi juga bukan pasangan yang berlebihan. Mereka sepakat untuk tetap fokus pada sekolah.
Saat ujian semester tiba, mereka belajar bersama di perpustakaan. Arya membantu Isna memahami beberapa soal ekonomi, sementara Isna membantu Arya menyusun esai Bahasa Indonesia.
Hari pengumuman nilai, mereka berdiri berdampingan di depan papan pengumuman. Nilai mereka sama-sama meningkat.
“Kita berhasil,” bisik Isna.
“Karena kerja sama tim,” jawab Arya.
Waktu berjalan cepat. Tak terasa, mereka kini duduk di kelas XII. Banyak hal berubah—tanggung jawab bertambah, persiapan masuk kuliah semakin dekat.
Di hari kelulusan, seluruh siswa berkumpul di lapangan sekolah. Tangis haru bercampur tawa memenuhi udara.
Arya berdiri di samping Isna, mengenakan seragam putih abu-abu yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan.
“Kamu diterima di universitas yang kamu mau?” tanya Arya.
Isna mengangguk bahagia. “Iya. Jurusan pendidikan.”
“Keren banget,” ujar Arya. “Aku juga diterima di jurusan manajemen bisnis.”
Mereka saling tersenyum, sadar bahwa setelah ini jalan mereka mungkin tidak selalu berdampingan setiap hari seperti di sekolah.
“Apapun yang terjadi nanti,” kata Isna pelan, “jangan berhenti jadi Arya yang selalu berani mencoba.”
Arya menatapnya penuh keyakinan. “Dan kamu, jangan berhenti jadi Isna yang selalu bikin orang lain percaya pada mimpinya.”
Di bawah langit biru hari kelulusan, mereka menyadari bahwa cinta masa sekolah bukan hanya tentang genggaman tangan atau pesan singkat tiap malam. Cinta mereka adalah tentang tumbuh bersama, saling menguatkan, dan berani bermimpi.
Mungkin jarak dan waktu akan menguji mereka. Namun kenangan tentang bangku kelas, tawa di perpustakaan, dan senja di lapangan sekolah akan selalu menjadi fondasi yang kuat.
Karena di SMA Bintang Harapan itu, Arya dan Isna belajar bukan hanya tentang pelajaran akademik, tetapi juga tentang arti ketulusan, keberanian, dan cinta yang dewasa sejak usia muda.
Dan setiap kali mereka mengingat masa putih abu-abu itu, mereka tahu—di situlah kisah mereka bermula.