Penulis : Andry
Tokoh utama: bima and Anisa
----------------------------------------
Di sebuah desa kecil di lereng pegunungan Jawa Tengah, hiduplah seorang pemuda bernama Bima. Ia dikenal sebagai anak tukang kayu yang sederhana. Ayahnya membuat kursi dan meja pesanan warga, sementara ibunya berjualan sayur di pasar. Rumah mereka berdinding papan, beratap seng yang berbunyi nyaring setiap kali hujan turun.
Bima tumbuh dengan tangan yang kasar oleh serbuk kayu, tetapi hatinya selembut kapas. Sejak kecil ia terbiasa membantu ayahnya, memahat, mengamplas, dan mengantar pesanan. Namun di balik kesederhanaannya, Bima menyimpan mimpi besar: ia ingin melanjutkan kuliah dan menjadi arsitek, agar bisa membangun rumah-rumah kokoh untuk orang-orang kecil seperti keluarganya.
Di desa yang sama berdiri sebuah rumah besar berpagar tinggi. Rumah itu milik keluarga Anisa—anak perempuan tunggal dari Pak Surya, seorang pengusaha sukses yang memiliki perkebunan teh dan beberapa toko di kota. Anisa dikenal sebagai gadis cantik, berkulit putih bersih, tutur katanya halus, dan selalu berpakaian rapi. Ia bersekolah di SMA terbaik di kota, diantar jemput mobil hitam mengilap setiap hari.
Takdir mempertemukan Bima dan Anisa di perpustakaan umum desa. Saat itu, Bima sedang mencari buku tentang desain bangunan, sementara Anisa duduk di sudut ruangan membaca novel. Hujan deras turun sore itu, memaksa banyak orang berteduh di dalam perpustakaan.
Tanpa sengaja, buku yang Bima ambil terjatuh dan mengenai kaki meja tempat Anisa duduk. Gadis itu menoleh.
“Maaf,” kata Bima gugup.
Anisa tersenyum lembut. “Tidak apa-apa.”
Senyum itu sederhana, tetapi bagi Bima, rasanya seperti cahaya yang menerangi ruangan. Sejak hari itu, mereka sering bertemu di perpustakaan. Awalnya hanya saling sapa, lalu berbincang tentang buku, mimpi, dan cita-cita.
Bima terkejut mengetahui bahwa Anisa tidak seangkuh yang ia bayangkan. Gadis itu ternyata sederhana dan ramah. Ia suka mendengarkan cerita Bima tentang ayahnya yang sabar mengajarinya memahat kayu. Anisa pun bercerita tentang kesepiannya di rumah besar yang terasa dingin, meski dipenuhi kemewahan.
“Aku sering iri padamu,” ucap Anisa suatu sore.
Bima tertawa kecil. “Iri? Padaku?”
“Kamu punya keluarga yang hangat. Rumahmu mungkin kecil, tapi penuh tawa. Di rumahku, semuanya terasa sepi.”
Kata-kata itu membuat hati Bima bergetar. Ia mulai menyadari perasaan yang tumbuh di antara mereka bukan sekadar persahabatan.
Namun desa kecil itu memiliki mata dan telinga yang tajam. Bisik-bisik mulai terdengar. Anak tukang kayu terlalu sering terlihat bersama putri pengusaha kaya. Perbedaan kasta di desa itu masih terasa kental. Orang-orang seperti Bima dianggap tak sepadan untuk berdiri sejajar dengan keluarga Anisa.
Suatu sore, mobil hitam berhenti mendadak di depan perpustakaan. Pak Surya turun dengan wajah tegang. Ia melihat Anisa duduk berhadapan dengan Bima.
“Anisa!” suaranya menggelegar.
Anisa berdiri kaget. “Ayah…”
Pak Surya menatap Bima dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai harga sebuah barang. “Kamu anak siapa?”
“Saya Bima, Pak. Anak Pak Raka, tukang kayu.”
Sorot mata Pak Surya berubah dingin. “Mulai sekarang, jauhi anak saya. Kamu tidak tahu diri.”
Kata-kata itu seperti tamparan keras. Bima menunduk, menahan rasa malu dan marah yang bercampur jadi satu. Anisa mencoba membela.
“Ayah, Bima hanya teman—”
“Cukup!” potong Pak Surya. “Kamu pulang sekarang.”
Sejak hari itu, Anisa tak lagi datang ke perpustakaan. Bima merasa kehilangan separuh semangat hidupnya. Ia kembali tenggelam dalam serbuk kayu dan suara palu, mencoba melupakan senyum yang selalu terbayang di pikirannya.
Beberapa minggu kemudian, Anisa diam-diam mendatangi rumah Bima saat senja. Ia berjalan kaki agar tak terlihat sopir atau pembantu.
“Bima,” panggilnya pelan.
Bima terkejut melihatnya berdiri di depan rumah sederhana itu. Wajahnya tampak lelah, matanya sembab.
“Ayah ingin menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya,” ujar Anisa lirih. “Katanya demi masa depan yang setara.”
Bima mengepalkan tangan. Ia sadar betul arti kata “setara” dalam pandangan orang seperti Pak Surya.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” lanjut Anisa, air matanya jatuh.
Hati Bima berperang. Ia mencintai Anisa, tetapi ia juga tahu realita. Ia tak punya apa-apa selain mimpi dan tekad.
“Anisa,” katanya pelan namun tegas, “beri aku waktu.”
“Waktu?”
“Aku akan membuktikan bahwa aku pantas berdiri di sampingmu. Bukan sebagai anak tukang kayu yang dipandang rendah, tapi sebagai seseorang yang punya nilai.”
Anisa menatapnya penuh harap. “Aku akan menunggumu.”
Malam itu menjadi awal perjuangan Bima. Ia bekerja lebih keras dari sebelumnya. Siang membantu ayahnya, malam belajar dengan buku-buku pinjaman. Ia mengikuti ujian beasiswa ke universitas negeri di kota.
Hari pengumuman tiba. Dengan tangan gemetar, Bima membuka amplop hasil seleksi. Ia diterima dengan beasiswa penuh di jurusan arsitektur.
Tangis haru pecah di rumah kecil itu. Ayah dan ibunya memeluk Bima bangga. Kabar itu cepat menyebar ke seluruh desa, termasuk sampai ke telinga Pak Surya.
Tahun-tahun berlalu. Bima lulus dengan predikat terbaik. Ia magang di perusahaan konstruksi besar dan perlahan membangun namanya sendiri. Karya-karyanya dikenal inovatif, tetapi tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat kecil.
Suatu hari, sebuah proyek besar pembangunan pusat pelatihan pertanian di desa mereka dilelang. Perusahaan tempat Bima bekerja ikut serta. Takdir kembali mempertemukannya dengan Pak Surya sebagai salah satu investor.
Dalam ruang rapat itu, Pak Surya terdiam saat melihat nama arsitek utama: Bima Raka.
Pertemuan mereka berlangsung canggung, namun profesional. Bima berbicara dengan percaya diri tentang konsep bangunan ramah lingkungan dan pemberdayaan warga lokal.
Untuk pertama kalinya, Pak Surya melihat Bima bukan sebagai anak tukang kayu, melainkan sebagai pria muda berwibawa.
Proyek itu dimenangkan oleh tim Bima. Pusat pelatihan berdiri megah, tetapi tetap menyatu dengan alam desa. Warga bangga, termasuk keluarga Bima.
Pada peresmian gedung, Bima berdiri di samping para investor. Di antara tamu undangan, ia melihat Anisa. Gadis itu kini tampak lebih dewasa, tetapi senyumnya tetap sama seperti di perpustakaan dulu.
Setelah acara selesai, Pak Surya menghampiri Bima.
“Kamu sudah membuktikan dirimu,” katanya pelan. “Saya salah menilai.”
Bima menunduk hormat. “Saya hanya berusaha, Pak.”
Pak Surya menatap ke arah Anisa yang berdiri tak jauh dari mereka. “Jika perasaan kalian masih sama, saya tidak akan menghalangi lagi.”
Dunia seakan berhenti sesaat bagi Bima. Ia menoleh pada Anisa, yang matanya sudah berkaca-kaca.
Di bawah langit senja desa yang hangat, Bima menggenggam tangan Anisa. Bukan lagi dengan rasa rendah diri, melainkan dengan keyakinan.
Cinta mereka tak lagi terhalang oleh perbedaan kasta. Bima telah membuktikan bahwa nilai seseorang bukan ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh kerja keras dan ketulusan hati.
Di antara langit dan tanah, mereka berdiri sejajar.