Dinding ubin putih yang sudah menguning sedikit memantulkan cahaya redup dari lampu neon yang berkedip-kedip di atas kepala. Kai berdiri diam di depan wastafel yang keruh, jas hoodie hitamnya menutupi sebagian wajahnya, sementara tulisan putih “STAY CALM” di punggungnya seolah jadi perintah yang tidak bisa dia patuhi. Cermin di depannya pecah—retakan seperti jaring laba-laba menyebar dari titik tengah yang menebal, memecah bayangannya menjadi lusinan bentuk yang tidak rata. Kadang dia merasa lega melihat dirinya terpecah begitu banyak bagian, seolah beban yang satu jadi dibagi banyak, tapi sesaat kemudian rasa sakit menyambar karena tahu setiap bagian itu tetap milik dirinya.
Cermin itu bukan yang biasanya ada di kamar mandi bawah tanah gedung perkantoran tua ini. Ketika dia menemukan kamar mandi itu terbuka di hari Sabtu yang sepi, ketika seluruh gedung seharusnya sudah terkunci rapat, rasa penasaran yang menyilaukan menggoda dirinya masuk. Dia ingat bagaimana tiga bulan lalu rekan kerjanya, Lene, menghilang tanpa jejak di hari yang sama—hari Sabtu, ketika mereka seharusnya menyelesaikan proyek besar yang akan membuat kedua mereka dipromosikan. Kadang Kai merasa bahagia bisa menemukan jejak kecil yang mungkin terkait dengan dia, tapi sebagian besar waktu rasa takut yang dingin meresap ke dalam setiap pori kulitnya.
Dia mengangkat tangan perlahan, menyentuh permukaan kaca yang masih rata di luar retakan. Bayangan di dalam cermin tidak mengikuti gerakannya—sementara tangannya ada di kanan, bayangan di cermin mengangkat tangan kiri, dan di dada hoodienya bukan tulisan “STAY CALM”, melainkan simbol lingkaran yang terbelah dua yang dia kenal sebagai tanda organisasi rahasia yang Lene pernah sebutkan dalam obrolan singkat sebelum dia hilang. Setiap retakan di cermin seolah menjadi jendela ke dunia lain—di satu bagian dia melihat dirinya tersenyum bahagia bersama Lene di depan gedung perkantoran, di bagian lain dia melihat dirinya menangis sambil memegang surat yang tidak bisa dia baca, di bagian lain lagi dia melihat sosok yang sama dengan dirinya tapi dengan mata yang kosong dan wajah yang tersenyum aneh.
Sampai dia melihat bagian retakan yang paling kecil di sudut kanan bawah cermin. Di sana, bayangannya tidak lagi menjadi dirinya—melainkan Lene, berdiri dengan pakaian kerja yang dia kenal sangat baik, wajahnya penuh dengan campuran kesedihan dan kebahagiaan. Dia sedang menggerakkan bibirnya seolah berbicara, dan meskipun tidak ada suara yang terdengar, Kai bisa membaca apa yang dia katakan: “Kau tahu apa yang kau lakukan, kan? Semua ini karena kita terlalu dekat dengan kebenaran.”
Kai terkejut, tubuhnya sedikit menggigil. Dia melihat sekeliling kamar mandi yang sempit—ubin di dinding mulai menunjukkan retakan kecil yang sama dengan cermin, menyebar perlahan seperti penyakit yang menyebar. Dia merasakan getaran lembut dari lantai, dan suara tetesan air dari keran yang sudah rusak jadi lebih cepat, seperti jam pasir yang sedang menghitung waktu. Dia ingat bagaimana beberapa malam terakhir dia sering menemukan catatan kecil di mejanya dengan tulisan yang sama dengan tulisan di bagian retakan cermin, atau mendengar suara langkah kaki yang mengikuti dia setiap kali dia pergi pulang dari kantor. Kadang dia merasa senang ada seseorang yang peduli padanya, tapi sebagian besar waktu dia merasa seperti sedang diikuti oleh bayangan yang tidak bisa dia lepaskan.
Di dasar wastafel, ada selembar kertas yang sudah basah karena tetesan air. Kai membungkuk untuk mengambilnya—di atasnya tertulis alamat yang dia kenal sangat baik: alamat rumah Lene yang sudah kosong sejak dia hilang. Tanpa berpikir panjang, dia menarik hoodienya lebih ke atas, membuka pintu kamar mandi dengan hati-hati, dan berjalan keluar melewati lorong-lorong gedung yang sunyi dan penuh dengan bayangan yang bergerak sendiri.
Perjalanan ke rumah Lene terasa lebih cepat dari yang dia bayangkan. Ketika dia tiba di depan gerbang besi yang sudah berkarat, pintunya terbuka lebar tanpa ada yang membukanya. Udara di dalam rumah terasa sangat dingin, berbeda dengan panasnya sore hari di luar. Cahaya matahari yang hampir tenggelam merembes melalui tirai yang sudah sobek, menciptakan pola bayangan retakan yang sama dengan cermin di kamar mandi di setiap dinding. Di tengah ruang tamu, ada sebuah meja kecil yang menahan sebuah cermin dengan retakan yang persis sama—hanya saja kali ini, di bagian tengah retakan, muncul wajah Lene yang sedang menatapnya dengan mata yang penuh kasih dan sesuatu yang lain yang tidak bisa dia definisikan.
Kai merasa dada terasa sesak. Air mata mulai mengalir di pipinya, tapi tanpa dia sadari bibirnya sedikit mengerucut ke atas seperti sedang tersenyum. Dia melihat ke arah kursi yang selalu jadi tempat Lene menyimpan buku catatannya—di sana ada sebuah kotak kecil yang terbuka, berisi beberapa foto lama yang menunjukkan dirinya dan Lene bersama-sama, tapi di setiap foto, wajah Lene digantikan oleh wajahnya sendiri. Di samping kotak itu ada sebuah surat dengan tulisan tangan Lene: “Kita selalu satu, bahkan sebelum kamu menyadarinya. Retakan di cermin bukan untuk memecah, tapi untuk menunjukkan semua bagian yang pernah kita sembunyikan.”
Sosok di cermin mulai bergerak, perlahan keluar dari balik kaca seolah cermin itu bukanlah penghalang. Wajahnya yang dulu menjadi Lene kini mulai berubah, bergeser perlahan menjadi wajahnya sendiri, tapi dengan bekas retakan kecil yang menyilang pipi dan dahinya. Sosok itu mengangkat tangan, menyodorkan sebuah cermin kecil yang belum pecah. Di permukaannya tertulis dengan cat putih: “SELAMAT DATANG KEMBALI—BAGIAN YANG KAU HILANGKAN.”
Kai tidak tahu apakah dia harus berlari menjauh atau mengambil cermin itu. Suasana di dalam rumah terasa begitu menyenangkan dan menenangkan, tapi juga menyeramkan dan mengerikan. Dia tidak bisa memastikan apakah yang dia lihat adalah Lene yang sebenarnya atau hanya bagian dari dirinya yang sudah hilang lama, apakah semua yang terjadi adalah kenyataan atau khayalan yang muncul karena rasa bersalahnya yang terlalu dalam.
Ketika malam datang dan kegelapan perlahan menutupi seluruh ruangan, retakan di semua cermin mulai bersinar dengan cahaya redup yang tidak jelas sumbernya. Sosok itu masih tetap ada di sana, menatapnya dengan wajah yang sekarang sudah sama persis dengan dirinya, hanya saja setiap retakan di wajahnya seolah menjadi jalan keluar untuk sesuatu yang ingin keluar. Kai berdiri di tengah ruangan, tidak bergerak, sambil menatap cermin yang masih tergenggam erat di tangannya—dan dia menyadari bahwa retakan di cermin itu mulai menyebar ke kulitnya, perlahan tapi pasti, seperti pola yang sudah ditentukan jauh sebelum dia lahir.