Hujan turun perlahan di kota kecil itu, seperti kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di bawah atap halte tua yang catnya mulai mengelupas, seorang pemuda berdiri dengan tangan di saku jaketnya. Namanya Ben.
Ben berusia dua puluh lima tahun, tinggi, berambut sedikit berantakan, dengan mata yang menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Sejak kecil ia selalu percaya bahwa setiap orang memiliki seseorang yang ditakdirkan untuknya—cinta sejati, yang bukan hanya tentang jantung berdebar, tetapi tentang pulang.
Namun semakin dewasa, keyakinan itu mulai terasa seperti dongeng yang dibacakan sebelum tidur.
---
1. Luka Pertama
Ben pernah jatuh cinta. Namanya Clara.
Clara adalah teman kuliahnya—ceria, cerdas, dan selalu tertawa seolah dunia tidak pernah menyentuhnya dengan kesedihan. Ben mencintainya diam-diam selama dua tahun, hingga akhirnya memberanikan diri menyatakan perasaan tepat sebelum wisuda.
Clara tersenyum, memegang tangan Ben, dan berkata lembut, “Aku sayang kamu, Ben. Tapi bukan seperti itu.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk mengubah cara Ben memandang cinta.
Sejak hari itu, Ben menjadi lebih berhati-hati. Ia tetap berkencan, tetap mencoba membuka diri, tetapi selalu ada dinding tipis yang tak terlihat. Ia takut mencintai lebih dulu, takut berharap terlalu jauh.
---
2. Kota yang Terlalu Ramai
Setelah lulus, Ben pindah ke ibu kota. Ia bekerja sebagai desainer grafis di sebuah agensi kecil. Pekerjaannya menyita waktu, tapi tidak mengisi ruang kosong di dadanya.
Setiap pagi ia duduk di kafe yang sama sebelum berangkat kerja. Ia mengamati orang-orang: pasangan yang saling tersenyum, wanita yang tertawa di telepon, pria yang menggenggam tangan kekasihnya dengan penuh percaya diri.
“Apakah mereka benar-benar menemukan cinta sejati?” pikirnya.
Atau mereka hanya pandai berpura-pura?
Ben mencoba aplikasi kencan. Ia bertemu dengan banyak orang: ada yang terlalu cepat membicarakan masa depan, ada yang hanya ingin kesenangan sesaat, ada pula yang terlihat sempurna tetapi terasa hambar.
Ia mulai mempertanyakan satu hal: mungkin cinta sejati bukan tentang menemukan orang yang sempurna, tetapi tentang merasa cukup.
---
### 3. Pertemuan di Toko Buku
Suatu sore, ketika hujan mengguyur tanpa aba-aba, Ben berlari masuk ke sebuah toko buku tua untuk berteduh. Tempat itu sunyi dan hangat, dipenuhi aroma kertas dan kayu.
Di sudut rak fiksi, ia melihat seorang perempuan sedang berdiri dengan buku di tangannya. Rambutnya sebahu, sedikit basah oleh hujan. Ia tampak tenggelam dalam halaman yang dibacanya.
Ben tidak tahu kenapa, tapi ia merasa ingin berbicara.
“Apa bukunya bagus?” tanyanya pelan.
Perempuan itu menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum. “Sejauh ini, iya. Tentang seseorang yang mencari arti pulang.”
Ben tertawa kecil. “Kedengarannya berat.”
“Justru ringan,” jawabnya. “Karena pada akhirnya, pulang bukan tempat. Tapi orang.”
Kalimat itu membuat Ben terdiam.
Nama perempuan itu adalah Aruna.
---
### 4. Aruna dan Senja
Ben dan Aruna mulai sering bertemu. Kadang sengaja, kadang kebetulan yang terasa terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Mereka berjalan menyusuri trotoar saat senja, berbicara tentang mimpi, ketakutan, dan masa kecil. Aruna bekerja sebagai ilustrator lepas. Ia tidak punya jadwal tetap, tapi punya keberanian yang jarang dimiliki orang lain—keberanian untuk jujur.
“Apa yang kamu cari, Ben?” tanyanya suatu sore.
Ben terdiam lama sebelum menjawab.
“Cinta sejati,” katanya akhirnya.
Aruna tidak tertawa. Ia tidak mengejek. Ia hanya menatapnya dengan serius.
“Dan menurutmu seperti apa itu?”
Ben menghela napas. “Seseorang yang memilihku. Setiap hari. Tanpa ragu.”
Aruna mengangguk pelan. “Kedengarannya indah. Tapi kamu sendiri, Ben? Apa kamu sudah siap memilih seseorang setiap hari juga?”
Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras dari yang ia duga.
---
### 5. Bayangan Masa Lalu
Semakin dekat dengan Aruna, semakin Ben merasa takut.
Ia takut kehilangan lagi. Takut jika Aruna hanya persinggahan. Takut jika perasaannya lebih dalam dari milik Aruna.
Suatu malam, ketika mereka duduk di pinggir danau kecil di taman kota, Aruna berkata, “Aku pernah hampir menikah.”
Ben menoleh, kaget.
“Tapi kami berpisah. Bukan karena tidak cinta. Tapi karena kami tidak siap tumbuh bersama.”
Ben menelan ludah. “Kamu masih mencintainya?”
Aruna tersenyum tipis. “Aku mencintai versi diriku saat bersamanya. Tapi bukan dia.”
Jawaban itu membuat Ben berpikir tentang Clara. Ia sadar, mungkin yang ia rindukan bukan Clara, melainkan perasaan menjadi seseorang yang berani mencintai tanpa takut.
---
### 6. Jarak
Suatu hari Aruna mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri selama satu tahun. Proyek besar, impian lama yang akhirnya datang.
“Aku belum memutuskan,” katanya pada Ben.
Ben tahu ia seharusnya mendukung. Tapi hatinya terasa sesak.
“Kalau kamu pergi,” kata Ben pelan, “apa yang terjadi dengan kita?”
Aruna menatapnya lama. “Kita tidak pernah benar-benar mendefinisikan ‘kita’, Ben.”
Ben terdiam. Ia sadar selama ini ia menikmati kedekatan mereka tanpa pernah berani memberi nama.
“Aku takut,” Ben mengaku akhirnya.
“Aku juga,” jawab Aruna. “Tapi cinta bukan tentang mengurung seseorang agar tetap tinggal.”
---
### 7. Keberanian
Malam sebelum keberangkatan Aruna, Ben berdiri di depan apartemennya. Hujan turun lagi, seperti hari pertama mereka bertemu.
“Aruna,” katanya, suaranya sedikit bergetar. “Aku tidak tahu apakah kamu adalah cinta sejati yang selama ini kucari. Tapi aku tahu satu hal—aku ingin mencoba. Denganmu. Tanpa dinding. Tanpa setengah hati.”
Aruna menatapnya, mata yang biasanya tenang kini berkaca-kaca.
“Ben,” katanya lembut, “cinta sejati bukan orang yang membuatmu tidak takut. Tapi orang yang membuatmu berani meski kamu takut.”
Ben menggenggam tangannya.
“Kalau kamu pergi, aku akan menunggu. Bukan karena aku terpaksa. Tapi karena aku memilih.”
Aruna tersenyum, kali ini lebih hangat dari senja mana pun yang pernah mereka lihat bersama.
“Aku akan kembali,” katanya.
---
### 8. Tahun yang Panjang
Satu tahun terasa seperti dua.
Ben belajar banyak selama Aruna pergi. Ia belajar mencintai tanpa harus memiliki setiap detik. Ia belajar percaya tanpa terus-menerus mencari kepastian.
Mereka berbicara lewat panggilan video, berbagi cerita tentang hari-hari yang kadang melelahkan. Ada rindu, ada cemburu kecil, ada kesalahpahaman. Tapi ada juga komitmen.
Ben menyadari sesuatu: cinta sejati bukan tentang menemukan seseorang yang selalu ada di sampingmu, tetapi seseorang yang tetap memilihmu bahkan saat jarak memisahkan.
---
### 9. Pulang
Hari kepulangan Aruna tiba pada awal musim hujan.
Ben berdiri di bandara dengan jantung berdebar. Ia takut—takut jika waktu mengubah perasaan mereka.
Ketika Aruna muncul dari pintu kedatangan, dengan koper dan senyum yang sama seperti pertama kali ia lihat di toko buku, Ben tahu satu hal:
Ia tidak lagi mencari.
Aruna berlari kecil ke arahnya. Mereka tidak berkata apa-apa untuk beberapa detik. Dunia terasa sunyi.
“Kamu pulang,” bisik Ben.
Aruna mengangguk. “Aku pulang.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ben mengerti. Cinta sejati bukan sesuatu yang ditemukan seperti harta karun tersembunyi. Ia dibangun—pelan, rapuh, tapi nyata—oleh dua orang yang memilih untuk bertahan.
---
### 10. Di Antara Hujan dan Senja
Beberapa tahun kemudian, Ben masih berdiri di bawah hujan sesekali. Tapi kini bukan sendirian.
Ia dan Aruna tidak selalu sepakat. Mereka bertengkar tentang hal-hal kecil: jadwal yang bentrok, cucian yang lupa diangkat, atau rencana masa depan yang belum jelas. Tapi setiap kali, mereka kembali duduk bersama dan memilih satu sama lain lagi.
Ben akhirnya memahami sesuatu yang dulu tak ia mengerti:
Cinta sejati bukan tentang perasaan yang selalu membara. Bukan tentang takdir yang dramatis. Bukan tentang seseorang yang sempurna.
Cinta sejati adalah keputusan.
Keputusan untuk tetap tinggal saat pergi terasa lebih mudah.
Keputusan untuk jujur saat diam terasa aman.
Keputusan untuk memaafkan saat ego ingin menang.
Suatu senja, ketika langit berwarna jingga dan hujan baru saja reda, Aruna bersandar di bahu Ben.
“Apa kamu masih mencari cinta sejati?” tanyanya pelan.
Ben tersenyum.
“Tidak,” jawabnya. “Aku sedang menjalaninya.”
Dan di antara hujan yang pernah menjadi saksi keraguannya, dan senja yang kini menjadi saksi keberaniannya, Ben akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari—bukan dalam bentuk dongeng, bukan dalam kesempurnaan, tetapi dalam pilihan sederhana untuk mencintai dan dicintai.
Tamat.