Malam di Milan tidak pernah benar-benar tidur, tapi di lantai teratas Hotel Bulgari, kebisingan kota itu seolah terhisap ke dalam keheningan yang menyesakkan. Di dalam penthouse pribadi yang disewa khusus malam itu, hanya ada satu suara yang mendominasi: alunan saksofon rendah dari lagu jazz klasik yang berputar di piringan hitam, beradu dengan suara gemericik air yang menghantam dinding marmer Carrara.
Itu adalah area Jazzuci—sebuah konsep pemandian air hangat eksklusif yang memadukan relaksasi jacuzzi dengan atmosfer musik jazz yang intim. Namun, bagi Marco, air panas itu tidak bisa melunakkan hatinya yang sudah membeku sejak pemakaman Don Lorenzo tadi siang.
Marco menyandarkan kepalanya di pinggiran kolam yang terbuat dari batu alam. Tubuhnya yang atletis penuh tato simbol keluarga mafia Milan itu terendam hingga dada. Di seberangnya, terhalang oleh kepulan uap putih yang tebal, duduk sahabat masa kecilnya, Leo.
"Kau terlalu tegang, Leo. Masuklah, airnya bisa membunuh rasa lelahmu," ucap Marco tanpa membuka mata. Suaranya rendah, berwibawa, tipe suara yang biasa memberi perintah eksekusi.
Leo tersenyum canggung. Dia perlahan masuk ke dalam kolam, membiarkan air panas itu membungkus tubuhnya yang kurus. "Terima kasih, Marco. Setelah kekacauan di pemakaman tadi, kupikir kita tidak akan punya waktu untuk bersantai seperti ini."
Mereka berdua terdiam sejenak. Di luar jendela besar, lampu-lampu Katedral Duomo terlihat samar tertutup kabut malam. Di dalam ruangan ini, uap air menciptakan isolasi yang sempurna. Tidak ada penyadap suara yang bisa bekerja dengan baik di tengah gemuruh air dan frekuensi musik jazz yang berdentum rendah.
"Kau ingat masa kecil kita di pinggiran Palermo?" tanya Marco tiba-tiba.
Leo mengangguk, matanya menatap pantulan lampu kristal di permukaan air yang bergetar. "Bagaimana mungkin aku lupa? Kita mencuri roti di pasar hanya untuk bertahan hidup. Kau yang selalu berkelahi, dan aku yang selalu mencarikan jalan tikus untuk lari."
Marco terkekeh, tapi tawa itu tidak sampai ke matanya. "Ya. Jalan tikus. Kau memang ahli dalam mencari celah, Leo. Itulah kenapa aku membawamu ke Milan sepuluh tahun lalu. Aku percaya padamu lebih dari aku percaya pada saudaraku sendiri."
Leo menyesap wine merah dari gelas kristal di pinggir kolam. Tangannya sedikit gemetar, tapi dia berusaha menyembunyikannya di bawah permukaan air. "Kita adalah saudara, Marco. Darah mungkin tidak menyatukan kita, tapi sumpah Omertà iya."
Mendengar kata Omertà—hukum tutup mulut mafia—rahang Marco mengeras. Dia membuka matanya. Mata hitamnya yang tajam menembus uap, menatap langsung ke arah Leo.
"Lucu kau menyebutkan itu," kata Marco dingin. "Karena pengkhianatan selalu datang dari orang yang paling dekat. Musuh tidak bisa mengkhianatimu, Leo. Hanya sahabat yang bisa."
Atmosfer di dalam Jazzuci itu berubah seketika. Musik jazz yang tadinya terdengar menenangkan kini terasa seperti musik latar film horor. Suara tiupan saksofon itu seolah meratapi sesuatu yang akan segera hilang.
"Apa maksudmu?" tanya Leo, mencoba tertawa kecil meski keringat dingin mulai bercucuran di dahi, bercampur dengan uap air panas.
Marco bergerak pelan di dalam air, mendekat ke arah Leo. Gerakannya tenang seperti predator yang yakin mangsanya tak bisa lari ke mana-mana. Dia meletakkan sebuah kantong plastik kedap suara di pinggir kolam. Di dalamnya ada sebuah benda kecil—sebuah pelacak GPS dan mikrofon mini.
"Alat ini ditemukan di bawah mobil Don Lorenzo saat dia tewas ditembak polisi di perbatasan minggu lalu," bisik Marco. "Polisi tahu rute kita. Mereka tahu jam berapa kita lewat. Hanya ada tiga orang yang tahu rute itu. Aku, mendiang bos kita, dan... kau."
Wajah Leo mendadak pucat pasi. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya terasa lemas seperti jeli. "Marco, dengarkan aku. Itu pasti jebakan. Seseorang mencoba mengadu domba kita!"
"Aku ingin percaya padamu, Leo. Sungguh," Marco menarik napas panjang, menghirup aroma kayu putih yang keluar dari uap air. "Tapi aku memeriksa catatan bank rahasiamu di Swiss. Ada aliran dana dari Kepolisian Federal sebulan terakhir. Untuk apa uang itu, Leo? Untuk membeli apartemen mewah di Roma agar kau bisa lari dari kehidupan ini?"
Leo terdiam. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara instrumen piano yang berdenting pilu. Pengakuan itu menggantung di udara, seberat uap yang menyesakkan dada.
"Aku lelah, Marco!" teriak Leo tiba-tiba, suaranya pecah. Air matanya jatuh, menyatu dengan air kolam. "Aku lelah hidup dalam ketakutan. Aku lelah melihat orang-orang mati. Aku hanya ingin keluar! Mereka berjanji akan memberiku perlindungan saksi jika aku membantu mereka menangkap Lorenzo."
Marco menatap sahabatnya dengan tatapan iba, bukan marah. "Keluar dari organisasi ini hanya ada satu jalan, Leo. Dan kau sudah tahu itu sejak hari pertama kita mencium keris dan membakar gambar orang suci di tangan kita."
Leo melihat ke sekeliling dengan panik. Pintu keluar dijaga oleh anak buah Marco di luar. Jendela di lantai 20 ini mustahil ditembus. Dia terjebak di dalam "surga" air panas ini bersama malaikat mautnya.
"Apakah kau akan melakukannya di sini?" tanya Leo dengan suara bergetar. "Di tempat seindah ini?"
Marco berdiri dari kolam. Tubuhnya yang basah kuyup memantulkan cahaya lampu. Dia mengambil jubah mandi sutranya dan memakainya dengan tenang. Dari saku jubah itu, dia mengeluarkan sebuah benda kecil—bukan pistol, melainkan sebuah suntikan berisi cairan bening.
"Ini adalah Jazzuci terakhirmu, Leo," ujar Marco pelan. "Aku tidak ingin mengotori air ini dengan darahmu. Cairan ini akan membuat jantungmu berhenti dalam hitungan detik. Orang-orang akan mengira kau terkena serangan jantung karena suhu air yang terlalu panas. Sebuah kematian yang elegan untuk seorang pengkhianat yang pernah menjadi saudara."
Leo memejamkan mata, pasrah. Dia tahu tidak ada gunanya melawan Marco. Di dunia mafia Milan, belas kasihan adalah barang langka yang lebih mahal daripada berlian.
Marco mendekat, menyentuh pundak Leo dengan lembut, persis seperti saat mereka masih kecil dulu. "Maafkan aku, Leo. Tapi di dunia ini, kesetiaan adalah segalanya."
Detik berikutnya, semuanya berlangsung cepat. Tidak ada teriakan. Hanya suara air yang bergejolak pelan saat tubuh Leo merosot masuk ke dalam kolam, tenggelam di balik uap yang tebal.
Marco berjalan menuju piringan hitam, mengangkat jarumnya sehingga musik jazz itu berhenti seketika. Keheningan total kini menguasai ruangan. Dia mengambil gelas wine milik Leo yang masih tersisa separuh, meneguknya habis, lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang.
Di dalam Jazzuci yang mewah itu, uap masih mengepul indah. Air masih terasa hangat dan menenangkan. Namun, di dasarnya, sebuah persahabatan lama telah terkubur selamanya, menyisakan rahasia yang akan ikut mendingin bersama air kolam saat mesin pemanasnya dimatikan besok pagi.
Milan tetap dingin di luar, dan di dalam Hotel Bulgari, satu kursi di barisan mafia baru saja kosong.