Panglima Suhendra memiliki nama yang seharusnya menyiratkan wibawa seorang jenderal, namun di kantor Cakra Megah Perkasa, ia tak lebih dari sekadar sekrup karatan dalam mesin raksasa yang haus darah. Sudah bulan keenam ia bekerja sebagai Senior Analyst di sana, dan sudah bulan keenam pula ia merasa jiwanya perlahan-lahan dikuliti.
Kantor itu terletak di lantai tiga belas sebuah gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Interiornya minimalis, didominasi warna abu-abu baja yang dingin. Anehnya, Suhendra selalu merasa plafon kantor itu turun beberapa sentimeter setiap kali bosnya, Pak Barata, masuk ke ruangan.
Pak Barata adalah pria dengan setelan jas seharga mobil mewah yang tak pernah berkedip. Suaranya halus, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti silet yang mengiris harga diri.
"Suhendra," panggil Barata suatu sore, saat jam sudah menunjukkan pukul lima lewat lima puluh sembilan menit. "Revisi laporan ini. Kamu bilang sudah selesai, tapi saya tidak ingat pernah menyetujui metodenya. Kamu pikun atau sengaja ingin menghancurkan saya?"
Suhendra terpaku. Ia jelas-jelas menyimpan email persetujuan dari Barata kemarin siang. Namun, saat ia membuka kotak masuknya, email itu menghilang. Kosong. Seolah-olah sejarah baru saja dihapus secara digital.
"Tapi Pak, kemarin Bapak bilang—"
"Jangan memanipulasi saya dengan ingatan palsumu, Suhendra," potong Barata dengan senyum tipis yang tidak mencapai mata. "Kerjakan. Jangan pulang sebelum angka-angkanya berubah sesuai keinginan saya. Oh, dan ingat, kita ini keluarga. Keluarga tidak saling mengecewakan."
Kata 'keluarga' di kantor itu terdengar seperti ancaman pembunuhan.
Memasuki bulan kedelapan, fenomena aneh mulai terjadi. Suhendra sering kali merasa dinding-dinding kubikelnya berbisik. Bunyi ketikan keyboard dari rekan-rekannya terdengar seperti derap kaki ribuan kecoa. Rekan kerjanya, mereka yang bertahan, memiliki tatapan mata yang hampa—seperti cangkang manusia yang isinya sudah disedot habis.
Setiap kali seseorang berhenti bekerja atau "menghilang", meja mereka akan bersih dalam sekejap, dan keesokan harinya, tidak ada seorang pun yang berani menyebut nama mereka. Seolah-olah mereka tidak pernah ada.
Puncaknya adalah suatu malam di hari Jumat. Pukul dua pagi. Suhendra sendirian di lantai tiga belas. Lampu otomatis sudah mati, hanya menyisakan pendar biru pucat dari layar monitornya. Saat ia berjalan menuju mesin kopi di sudut ruangan, ia tersesat.
Seharusnya hanya butuh sepuluh langkah untuk sampai ke dapur. Namun, Suhendra terus berjalan melewati barisan meja yang seolah memanjang tanpa ujung. Ia melewati ruang arsip yang pintunya sedikit terbuka. Karena penasaran dan rasa takut yang bergejolak, ia masuk ke dalam.
Di sana, ia menemukan map-map hitam tanpa label tahun. Ia membuka salah satunya. Foto-foto karyawan. Ada foto rekan kerjanya yang "resign" bulan lalu. Namun, di bawah foto itu bukan tertulis alasan pengunduran diri, melainkan: Potensi Mental Terpanen: 100%. Subjek Dibuang.
Tangan Suhendra gemetar. Ia membuka map lain. Di sana ada fotonya sendiri. Panglima Suhendra. Di bawah fotonya tertulis: Sisa Ketahanan Mental: 5%. Segera Habiskan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu pantofel yang berat menggema di lorong. Tuk. Tuk. Tuk.
Suhendra bersembunyi di balik rak besi. Dari celah rak, ia melihat Pak Barata berdiri di tengah kegelapan ruang arsip. Barata tidak menyalakan lampu. Pria itu hanya berdiri diam, lalu perlahan-lahan lehernya berputar seratus delapan puluh derajat, menatap tepat ke arah persembunyian Suhendra.
"Suhendra... belum selesai laporannya?" suara Barata terdengar seperti gesekan logam.
Suhendra tidak berteriak. Suaranya tersangkut di tenggorokan. Ia berlari keluar dari ruang arsip, menabrak kursi-kursi yang kini terasa seperti tumpukan tulang manusia. Ia menuju pintu keluar, namun pintu kaca yang besar itu hilang. Hanya ada tembok beton abu-abu yang dingin.
Ia terjebak di dalam labirin toksik yang ia bangun sendiri dengan rasa takut dan kepatuhan butanya.
Malam itu, Suhendra tidak pulang. Ia meringkuk di bawah mejanya, menutup telinga dari bisikan-bisikan instruksi kerja yang menggema dari speaker plafon. Namun, di titik nadir kewarasannya, sebuah sisa keberanian muncul. Nama "Panglima" di depan namanya seolah memberikan percik api terakhir.
"Cukup," bisiknya. "Aku bukan subjek yang bisa dipanen."
Ia merangkak ke mejanya, mengambil selembar kertas kosong, dan menulis dengan tinta merah yang ia temukan di laci—yang belakangan ia sadari baunya amis seperti darah.
SAYA RESIGN. DEMI KESELAMATAN NYAWA SAYA.
Saat ia meletakkan surat itu di atas meja Pak Barata, realitas di sekitarnya seolah retak. Tembok beton itu pecah, memperlihatkan kembali pintu keluar. Suhendra berlari tanpa menoleh. Ia meninggalkan tasnya, ponsel kantornya, dan segala harga diri yang pernah ia gadaikan di sana.
Saat kakinya menyentuh trotoar di bawah gedung, ia muntah hebat. Ia menangis tersedu-sedu di bawah lampu jalan, merasa jiwanya yang sempat "tercuri" perlahan-lahan kembali merayap ke dalam tubuhnya. Ia bebas.
Satu minggu setelah Suhendra pergi, Pak Barata duduk di singgasana meja jatinya yang megah. Ia tersenyum puas membaca laporan laba perusahaan yang melonjak. Baginya, manusia hanyalah baterai; jika habis, tinggal ganti.
Namun, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Barata merasa kantornya menjadi sangat panas. AC sentral yang biasanya mendinginkan ruangan hingga titik beku, kini menyemburkan hawa seperti tungku pembakaran. Ia mencoba memanggil sekretarisnya lewat interkom, namun yang terdengar hanyalah suara tangisan dan jeritan ribuan orang.
Ia melihat ke cermin besar di ruangannya. Wajahnya tidak ada. Di tempat wajahnya seharusnya berada, ia melihat ribuan wajah karyawan yang pernah ia hancurkan mentalnya. Wajah-wajah itu berteriak, menuntut kembali waktu, kesehatan, dan kebahagiaan yang telah ia curi.
Tiba-tiba, tumpukan kertas laporan di mejanya berubah menjadi tumpukan surat resign yang terbakar. Api itu tidak membakar ruangan, tapi membakar jiwanya. Barata mencoba lari, namun kakinya terasa berat, seolah terikat oleh ribuan kabel komputer.
Di luar ruangan, para karyawan melihat Pak Barata keluar dengan wajah pucat pasi, berteriak-teriak ketakutan pada bayangannya sendiri. Ia mulai berbicara pada kursi kosong, memohon ampun pada meja-meja yang tak bernyawa.
Tak lama kemudian, perusahaan Cakra Megah Perkasa bangkrut secara misterius. Seluruh asetnya ludes dalam semalam karena audit yang menemukan manipulasi data masif—data yang "diubah" oleh tangan-tangan gaib. Pak Barata ditemukan di lantai tiga belas yang kini kosong melompong, duduk di pojok ruangan sambil terus mengetik di atas meja yang tidak ada komputernya. Ia menjadi "hantu" di labirinnya sendiri.
Panglima Suhendra kini tinggal di sebuah desa kecil di kaki gunung. Ia bekerja sebagai tukang kebun di sebuah sekolah dasar. Tangannya kini berlumur tanah, bukan tinta atau debu kantor. Ia tidak lagi memiliki gaji besar atau jas mewah.
Namun, setiap pagi saat ia melihat matahari terbit, ia bisa bernapas dengan lega. Ia tidak lagi mendengar bisikan dinding atau perintah dari iblis bermata dingin. Ia telah memenangkan pertempurannya yang paling besar: memenangkan kembali dirinya sendiri.
Kini, setiap kali ia mendengar kata "keluarga", ia tidak lagi gemetar. Sebab di sini, di sela-sela pohon kamboja dan tawa anak-anak sekolah, ia benar-benar menemukannya.