Lampu-lampu di kawasan SCBD mulai menyala seperti ribuan berlian yang tumpah di atas aspal hitam. Dari lantai dua puluh lima gedung Office Tower yang megah, Keke menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang dingin. Gadis di dalam kaca itu memakai blazer Zara yang masih dicicilnya empat bulan lagi, bibirnya dipulas gincu merk mahal yang ia beli demi menutupi pucat wajahnya akibat kurang tidur.
Namun, di balik bayangan itu, Keke seolah melihat sosok lain. Seorang gadis kecil dengan jilbab kaos lusuh, berlari di antara pematang sawah di pinggiran Sukabumi sambil membawa mukena harum melati hasil cucian ibunya. Gadis itu menatap Keke dengan tatapan asing, seolah bertanya: “Teh Keke, kamu di mana?”
Keke memejamkan mata. Kepalanya berdenyut. Di atas mejanya, notifikasi ponsel bergetar tanpa henti.
“Keke, bapak butuh uang buat bayar tunggakan pupuk. Adikmu juga belum bayar uang buku,” bunyi pesan dari ibunya.
Lalu, pesan lain muncul dari Farhan, manajer kreatif yang selama setahun ini menjadi pusat semesta Keke di Jakarta. “Ke, draf presentasi klien besok pagi belum selesai, kan? Tolong beresin malam ini ya. Aku ada janji networking malam ini. Kamu yang terbaik, love you.”
Keke menghela napas yang terasa berat, seolah paru-parunya dipenuhi debu konstruksi Jakarta. Inilah hidupnya: Generasi Sandwich yang terjepit antara tuntutan keluarga di desa dan cinta semu yang menguras tenaga di kota. Ia merasa seperti budak—diperbudak keadaan, diperbudak cinta, dan diperbudak oleh citra sukses yang ia bangun sendiri.
Pukul sepuluh malam. Kantor sudah sepi. Hanya ada suara mesin fotokopi yang sesekali menderu dan detak jantung Keke yang tidak beraturan. Farhan tidak kunjung membalas pesannya, kemungkinan besar pria itu sedang tertawa di bar mewah di bawah sana, sementara Keke menghamba pada draf Powerpoint yang tak kunjung usai.
Tiba-tiba, lampu kantor berkedip. Keke tersentak. Di sudut ruangan yang remang, ia kembali melihat bayangan itu. Sosok dirinya yang asli, Keke yang dulu rajin mengaji di surau Abah Haji di Sukabumi. Sosok itu berdiri di depan pintu darurat, menunjuk ke arah bawah.
Keke bangkit, entah kekuatan apa yang menggerakkannya. Ia tidak menuju lift, melainkan ke mushola kecil di ujung lorong lantai itu. Mushola itu sunyi, harum karpetnya mengingatkannya pada aroma rumah. Keke menghapus riasan tebalnya di tempat wudu. Air dingin yang menyentuh wajahnya terasa seperti air pegunungan yang membasuh jiwanya dari dosa-dosa kesombongan SCBD.
Ia mengenakan mukena inventaris kantor. Saat ia berdiri menghadap kiblat, Keke merasa gedung tinggi ini tiba-tiba mengecil. Semua ego, tekanan Farhan, dan tuntutan uang dari rumah mendadak terasa seperti debu di hadapan Sang Maha Agung.
“Allahu Akbar...”
Dalam sujudnya, Keke menangis. Isaknya pecah di atas sajadah tipis itu. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia lupakan di tengah hiruk-piruk Jakarta: ia telah mengejar cinta manusia yang fana dan melupakan cinta Sang Pencipta yang abadi. Ia diperbudak oleh ketakutan akan kemiskinan dan kehilangan, hingga lupa bahwa rezeki dan ketenangan ada di tangan-Nya.
“Ya Allah,” bisiknya dalam isak. “Hamba lelah berpura-pura kuat. Hamba lelah mengejar dunia yang tak pernah cukup. Tolong hamba...”
Setelah salam, Keke duduk terpekur cukup lama. Keajaiban itu datang bukan berupa hujan uang dari langit, melainkan ketenangan yang luar biasa. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Ia menyadari bahwa ia bukan "ATM berjalan" atau "alat kerja" Farhan. Ia adalah manusia yang punya hak untuk beristirahat.
Keke kembali ke mejanya. Ia mengambil ponselnya. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar, ia mengetik pesan untuk Farhan.
“Han, draf ini sudah aku kerjakan sampai bagian riset. Sisanya silakan kamu lanjutin sendiri. Aku mau pulang, aku capek. Dan maaf, aku rasa hubungan profesional dan personal kita cukup sampai di sini. Aku berhak dihargai, bukan cuma digunakan.”
Keke langsung mematikan ponselnya. Ia tidak ingin melihat balasan Farhan yang pasti penuh manipulasi.
Kemudian, ia mengambil buku catatan kecilnya. Ia merancang anggaran baru. Ia akan bicara jujur pada ibunya di Sukabumi bahwa ia tidak bisa terus-menerus menuruti semua permintaan uang jika itu berarti ia harus menghancurkan dirinya sendiri. Ia akan memberi sesuai kemampuannya, dengan cara yang halal dan tidak menyiksa batin.
Saat Keke melangkah keluar dari lobi gedung, angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Ia melihat ke atas, ke arah langit yang biasanya tertutup polusi dan cahaya lampu. Di sana, di sela-sela gedung pencakar langit, ia melihat satu bintang yang bersinar sendirian.
Keke tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasa benar-benar pulang, meski ia masih berada di jantung SCBD. Ia bukan lagi budak korporat yang tersesat. Ia adalah Keke, hamba Tuhan yang sedang berusaha menjemput rezeki dengan martabat.
Langkahnya menuju stasiun MRT terasa ringan. Ia tahu besok akan ada tantangan baru, mungkin kemarahan Farhan atau tekanan kantor. Tapi ia tidak takut lagi. Selama sajadah itu masih bisa ia bentangkan, ia punya tempat untuk bersandar yang lebih kokoh daripada beton-beton SCBD.
Satu bulan kemudian, Keke mengundurkan diri dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang lebih manusiawi di pinggiran Jakarta, dekat dengan akses kereta ke Sukabumi. Ia tetap seorang sandwich generation, tapi kini ia tidak lagi "terjepit". Ia belajar untuk menetapkan batas, karena ia tahu, mencintai keluarga dan pekerjaan tidak boleh melebihi cintanya pada ketenangan jiwanya sendiri.
Di Sukabumi, ibunya mulai mengerti. Dan di Jakarta, SCBD tetap berkilau, namun bagi Keke, kilau itu tak lagi mampu menyilaukan mata batinnya.