Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya berdenyut pelan dalam kemacetan yang melelahkan. Di bawah Flyover Casablanca, saat matahari mulai tergelincir di balik gedung-gedung beton Sudirman, asap knalpot menyatu dengan uap panas dari aspal yang baru saja diguyur hujan singkat.
Di sana, bersandar pada pilar beton raksasa yang kusam, duduk seorang pria dengan kaos oblong dekil dan sarung yang melilit pinggangnya. Wajahnya tertutup topi rimba yang pudar warnanya. Di depannya, sebuah gelas plastik bekas mi instan berisi beberapa koin lima ratusan dan selembar dua ribu rupiah yang lecek. Orang-orang mengenalnya sebagai "Si Bisu". Ia tidak pernah meminta, hanya duduk diam memandang kerumunan karyawan yang berdesakan di halte TransJakarta.
Namun, di balik janggut palsu dan riasan kotor itu, terdapat mata tajam milik Arya ksatria, CEO muda dari LogisTech Indonesia, sebuah perusahaan startup unicorn yang baru saja melantai di bursa saham.
Arya tidak sedang melakukan riset pasar yang lazim. Ia sedang melakukan otopsi pada nuraninya sendiri. Tiga minggu lalu, salah satu kurir terbaiknya pingsan karena kelelahan kronis. Seminggu kemudian, tingkat turnover karyawan di divisi operasional melonjak hingga 40%. Laporan di mejanya mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi angka tidak pernah bercerita tentang air mata.
Maka, di sinilah ia. Menjadi bagian dari kasta yang paling tidak dianggap di Jakarta.
Pandangan Arya tertuju pada seorang wanita yang baru saja turun dari ojek online. Namanya Maya. Arya mengenalinya karena Maya adalah staf administrasi di lantai 12 kantornya sendiri. Selama seminggu penyamarannya, Arya memperhatikan satu pola yang sama: Maya selalu sampai di halte ini pukul setengah enam sore, wajahnya kuyu, dan ia akan duduk di pojok halte sambil menangis sesenggukan sebelum menghapus air matanya saat bus datang.
Sore ini, Maya tampak lebih hancur. Bahunya merosot. Ia tidak langsung menuju halte, melainkan duduk di pembatas jalan, tepat di samping tempat Arya bersila.
Maya mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak. "Ibu, maaf... bulan ini Maya belum bisa kirim uang lebih. Ada potongan denda target lagi," bisiknya pelan ke speaker ponsel. Suaranya bergetar, bersaing dengan deru mesin bus yang lewat.
Arya mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang. Denda target? Ia tidak pernah menandatangani kebijakan denda untuk keterlambatan administrasi sekecil itu.
Setelah mematikan telepon, Maya menoleh ke arah Arya. Mungkin karena merasa sesama "orang kecil", Maya tidak merasa terancam. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah roti sobek sisa makan siangnya yang dibungkus plastik.
"Pak, buat Bapak saja. Saya sudah kenyang," ujar Maya sambil menyodorkan roti itu.
Arya terpaku. Ia, pria yang pagi tadi sarapan croissant seharga seratus ribu rupiah di penthouse-nya, kini menerima separuh roti sobek dari wanita yang baru saja menangis karena potongan gaji. Arya mengangguk pelan, memerankan perannya sebagai si bisu, lalu menerima roti itu dengan tangan yang sengaja ia buat gemetar.
Maya tersenyum tipis. Senyum yang paling tulus yang pernah Arya lihat dalam setahun terakhir. "Sabar ya, Pak. Jakarta memang jahat, tapi kita nggak boleh ikut-ikutan jahat."
Wanita itu kemudian berdiri, berlari kecil mengejar bus TransJakarta koridor 6 yang baru saja merapat. Arya menatap kepergian bus itu dengan perasaan yang berkecamuk. Roti di tangannya terasa lebih berat daripada tumpukan berkas akuisisi perusahaan.
Malam itu, Arya kembali ke kantornya—bukan lewat pintu depan, melainkan lewat basement khusus yang langsung menuju lift pribadinya. Ia membersihkan riasannya, berganti pakaian dengan setelan jas custom-made, namun ia tetap menyimpan bungkusan plastik roti sobek itu di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati solid.
Ia memanggil Kepala HRD, Pak Bambang, ke ruangannya pukul sembilan malam.
"Bambang, jelaskan padaku tentang 'Denda Target' di divisi administrasi," ujar Arya tanpa basa-basi. Suaranya dingin, kontras dengan udara AC yang menusuk.
Bambang tampak gugup, keringat dingin muncul di pelipisnya. "Itu... itu inisiatif manajer level menengah, Pak. Untuk meningkatkan efisiensi dan kedisiplinan sejak kita Go Public. Supaya laporan ke investor terlihat cantik."
"Cantik?" Arya berdiri, berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. "Laporan itu terlihat cantik karena ditulis dengan air mata staf kita di halte Casablanca. Kamu tahu berapa gaji Maya di lantai 12? Kamu tahu dia memberi makan pengemis dengan sisa makan siangnya saat dia sendiri kesulitan kirim uang ke ibunya?"
Bambang terdiam, tak menyangka CEO-nya tahu detail sedalam itu.
"Besok pagi, batalkan semua sistem denda yang tidak manusiawi itu. Kembalikan semua potongan gaji yang sudah dilakukan dalam tiga bulan terakhir. Dan satu lagi," Arya menatap tajam, "siapkan program beasiswa untuk keluarga staf operasional. Jika perusahaan ini ingin tumbuh besar, pastikan fondasinya bukan orang-orang yang kelaparan."
Keesokan sorenya, Arya kembali ke bawah Flyover Casablanca. Penyamarannya masih terpasang rapi. Ia ingin melihat hasilnya.
Maya datang lagi. Kali ini langkahnya lebih ringan. Saat ia duduk di dekat Arya, ia tidak menangis. Ia justru sibuk mengutak-atik ponselnya dengan wajah berseri-seri.
"Pak! Bapak tahu nggak? Tiba-tiba kantor saya balikin uang potongan gaji saya! Bahkan ada bonus tambahan!" Maya bercerita dengan antusias kepada si pengemis bisu yang hanya mengangguk-angguk. "Ternyata bos saya nggak sejahat yang saya kira. Mungkin dia akhirnya sadar kalau kita semua ini manusia, bukan mesin."
Maya merogoh tasnya, kali ini ia memberikan sebungkus nasi padang yang masih hangat. "Ini buat Bapak. Hari ini saya gajian penuh. Doakan saya ya, Pak, supaya bos saya itu selalu sehat."
Arya merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingin bicara, ingin mengatakan bahwa dialah orangnya, ingin meminta maaf secara langsung. Namun, ia sadar bahwa keberadaannya di sini sebagai pengemis telah memberinya perspektif yang tidak akan pernah ia dapatkan dari balik meja eksekutif.
Cinta tidak selalu tumbuh di restoran mewah atau melalui kata-kata manis. Sore itu, di bawah bayang-bayang Flyover Casablanca, Arya jatuh cinta. Bukan hanya pada ketulusan Maya, tapi pada kemanusiaan yang hampir ia lupakan.
Satu Bulan Kemudian
Maya dipanggil ke ruang CEO. Ia masuk dengan gemetar, tidak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di lantai paling atas. Di balik meja besar itu, seorang pria tegap berjas biru tua menatapnya dengan senyum yang terasa familiar.
"Silakan duduk, Maya," ujar Arya.
Maya duduk dengan kaku. "Ada apa ya, Pak? Apa saya membuat kesalahan?"
Arya menggeleng. Ia mengambil sebuah benda dari laci mejanya. Sebuah bungkusan plastik roti sobek yang sudah kosong, namun terlipat rapi.
"Terima kasih untuk rotinya, Maya. Jakarta memang jahat, tapi kamu benar, kita tidak boleh ikut-ikutan jahat."
Mata Maya membelalak. Ia menatap mata pria di depannya, lalu teringat pada mata di balik topi rimba di bawah flyover itu. "Bapak... Si Bisu?"
Arya tertawa kecil, tawa yang pertama kali terdengar tulus di ruangan itu. "Namaku Arya. Dan mulai hari ini, aku ingin kamu membantuku memastikan bahwa tidak ada lagi staf di perusahaan ini yang harus menangis di halte sebelum pulang ke rumah."
Di luar jendela, Jakarta masih macet, masih berisik, dan masih penuh debu. Namun di lantai itu, dua orang manusia baru saja menyadari bahwa di kota sekeras ini, kepedulian adalah mata uang yang paling berharga.
Epilog
Arya tidak pernah lagi menyamar sebagai pengemis, tapi ia sering terlihat duduk di halte Casablanca setiap Jumat sore, berbagi nasi kotak dengan orang-orang di sana. Dan di sampingnya, Maya selalu setia menemani, memastikan bahwa sang CEO tidak pernah lupa bagaimana rasanya menjadi "kecil" di tengah kota yang besar.
Cinta mereka tidak berakhir di pelaminan yang megah dalam semalam, tapi dimulai dari setiap langkah kecil untuk memanusiakan manusia di bawah kolong jembatan Jakarta.