Agra di bulan November tidak pernah benar-benar dingin, namun angin yang berhembus dari arah Sungai Yamuna pagi itu sanggup membuat jemari Arka kaku di atas bodi kamera Nikon tuanya. Baginya, Taj Mahal bukan lagi sekadar keajaiban dunia atau bukti cinta kaisar Mughal kepada permaisurinya. Baginya, bangunan marmer putih itu adalah sebuah jam pasir raksasa yang menandai waktu sepuluh tahun hidupnya yang tertunda.
Tepat pukul tujuh pagi, Arka berdiri di titik yang sama—sebuah sudut di ujung kolam refleksi, tempat di mana simetri Taj Mahal terlihat paling sempurna. Selama sembilan tahun terakhir, ia telah mengambil ribuan foto di jam yang sama, tanggal yang sama. Ribuan foto yang hampir identik: marmer yang memucat, langit yang kadang biru cerah atau kelabu polusi, dan satu ruang kosong di sisi kanan bingkai foto.
Ruang kosong itu adalah tempat Laras seharusnya berdiri.
"Jika dunia memisahkan kita, temui aku di sini sepuluh tahun lagi. Di depan bukti bahwa cinta bisa melampaui kematian," suara Laras terngiang, semanis aroma teh masala yang mereka hirup di sebuah kafe kumuh di Delhi satu dekade silam. Saat itu mereka masih mahasiswa arkeologi yang naif, percaya bahwa janji adalah sesuatu yang dipahat di atas batu, bukan ditulis di atas air.
Arka mengatur fokus lensanya. Fokus pada kubah utama. Ia menunggu.
Tahun pertama, ia datang dengan harapan yang meluap. Tahun kelima, ia datang dengan kemarahan. Tahun kesembilan, ia datang dengan keputusasaan yang sunyi. Dan hari ini, tahun kesepuluh, ia datang hanya untuk menutup buku. Ia ingin membuktikan bahwa Laras tidak akan datang, sehingga ia bisa pulang ke Jakarta, membakar semua klise foto ini, dan mungkin, akhirnya belajar mencintai wanita lain.
Namun, saat jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.15, sebuah siluet memecah simetri yang ia jaga selama sepuluh tahun.
Seorang wanita dengan sari berwarna terracotta—warna tanah yang terbakar—berjalan perlahan menuju titik itu. Ia tidak berlari. Ia tidak melambai. Ia hanya berdiri di sana, menatap lurus ke arah gerbang makam, membelakangi Arka.
Jantung Arka berdegup menghantam rongga dadanya. Ia tidak menekan tombol shutter. Dunianya yang selama ini hanya hitam putih dan diam, tiba-tiba meledak dalam warna. Ia melangkah maju, kakinya terasa berat seolah terseret di atas pasir hisap.
"Laras?" suaranya serak, nyaris tenggelam oleh riuh rendah turis di sekitar mereka.
Wanita itu menoleh.
Waktu adalah pencuri yang kejam, namun ia menyisakan sedikit jejak untuk dikenali. Mata itu masih sama—teduh dan penuh rahasia—meski kini ada garis-garis halus di sudutnya yang menceritakan perjalanan panjang yang tak diketahui Arka. Laras tidak tampak terkejut. Ia hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang diberikan seseorang pada kawan lama yang sudah lama terlupa namanya.
"Kau masih menyimpan kamera itu, Arka," ucap Laras. Suaranya lebih berat, lebih dewasa.
"Kau datang," Arka hanya bisa menjatuhkan kameranya hingga menggantung di leher. "Aku sudah menunggu selama sepuluh tahun. Setiap tahun aku berdiri di sini."
Laras mengalihkan pandangannya kembali ke arah Taj Mahal. "Aku tahu. Aku melihat fotomu di pameran kecil di Galeri Nasional tahun lalu. 'Simetri yang Hilang', judulnya, bukan? Aku tahu itu untukku."
"Lalu kenapa baru sekarang? Kenapa membiarkan sepuluh tahun berlalu?"
Laras menghela napas, aroma melati dari minyak rambutnya tercium oleh Arka. "Karena sepuluh tahun lalu, aku adalah gadis yang percaya bahwa cinta harus memiliki monumen. Aku pergi karena aku ingin membangun 'Taj Mahal'-ku sendiri di tempat lain, dengan ambisiku, dengan karierku. Aku pikir, jika kita benar-benar berjodoh, waktu tidak akan mengubah apa pun."
"Dan apakah waktu mengubah sesuatu?" tanya Arka getir.
Laras mendekat, hingga mereka berdiri bersisian menghadap bangunan megah itu. "Lihatlah marmer itu, Arka. Orang-orang bilang itu abadi. Tapi jika kau mendekat, kau akan melihat retakan kecil. Kau akan melihat noda kuning akibat polusi. Taj Mahal hari ini bukan lagi Taj Mahal yang dibangun Shah Jahan untuk Mumtaz. Ia berubah setiap detik, meskipun dari jauh tampak diam."
Ia menyentuh lengan jaket Arka dengan ragu. "Begitu juga kita. Arka yang kucintai sepuluh tahun lalu adalah pemuda yang percaya bahwa hidup hanya tentang mimpi dan puisi. Arka yang ada di depanku sekarang adalah pria yang dipenuhi beban masa lalu dan obsesi pada sebuah janji yang sudah kedaluwarsa."
Arka terdiam. Kalimat itu menghujam lebih dalam daripada penantian sepuluh tahunnya. Ia menatap pantulan mereka di permukaan air kolam. Di sana, mereka tampak serasi. Namun saat ia melihat langsung ke sampingnya, ia menyadari jarak antara mereka bukan lagi soal kilometer, melainkan soal siapa mereka sekarang.
Laras sudah menikah. Arka melihat cincin sederhana di jari manis kirinya. Laras sudah memiliki kehidupan di mana Arka tidak lagi memiliki tempat, bahkan sebagai catatan kaki.
"Aku datang hari ini bukan untuk memulai kembali, Arka," bisik Laras. "Aku datang untuk melepaskanmu. Aku tidak ingin kau berdiri di sini tahun depan. Aku tidak ingin menjadi hantu yang menghantui lensamu selamanya."
Matahari kini sudah naik tinggi, memandikan Taj Mahal dengan cahaya putih yang menyilaukan hingga mata Arka terasa pedih. Ia menyadari sebuah kebenaran pahit: ia tidak sedang menunggu Laras selama sepuluh tahun ini. Ia sedang menunggu sebuah perasaan yang sebenarnya sudah mati sejak lama, namun ia paksa untuk bernapas melalui foto-fotonya.
"Kau benar," Arka akhirnya bersuara, suaranya kini lebih tenang. "Taj Mahal memang sebuah makam. Dan bodohnya aku, aku mencoba membangun rumah di atas kuburan."
Laras tersenyum, kali ini lebih tulus. Ia menjinjit sedikit, memberikan kecupan singkat di pipi Arka—sebuah salam perpisahan yang lebih nyata daripada surat mana pun. "Hiduplah di masa sekarang, Arka. Jangan di dalam bingkai foto."
Wanita itu berbalik, berjalan perlahan menjauhi area kolam, menyatu dengan kerumunan manusia yang mulai memadati pelataran. Arka tidak mengejarnya. Ia tidak memanggil namanya lagi.
Ia mengangkat kameranya untuk terakhir kali. Di dalam jendela bidik, ia melihat Laras yang semakin mengecil di kejauhan, dan Taj Mahal yang berdiri angkuh di belakangnya. Arka mengatur fokusnya bukan pada Laras, bukan pula pada monumen itu. Ia mengatur fokusnya pada udara kosong di depannya.
Klik.
Satu foto terakhir diambil. Sebuah foto tanpa subjek. Hanya cahaya.
Arka menurunkan kameranya, mengeluarkan kartu memori dari slotnya, dan memasukkannya ke dalam saku celana. Ia berbalik, membelakangi kemegahan marmer putih itu, dan berjalan menuju gerbang keluar. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Arka tidak menoleh ke belakang. Di Agra, di bawah langit yang mulai membiru, cintanya tidak berakhir dengan tragis—ia hanya akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat dengan tenang.