Aris tidak pernah menyangka bahwa satu folder berlabel "Dokumentasi Akademik" di laptop Rian akan menjadi awal dari perjalanan panjang menuju dasar neraka. Sebagai detektif yang sudah menangani ratusan kasus pembunuhan, ia pikir mentalnya sudah sekeras baja. Namun, saat kursor itu mengeklik sub-folder yang tersembunyi di balik enkripsi berlapis, Aris merasakan perutnya jungkir balik. Di sana, tersusun rapi berdasarkan urutan kronologis, adalah ribuan file yang menjadi bukti bahwa Rian bukan sekadar pria dengan kelainan seksual, melainkan seorang predator sistematis yang telah beroperasi dalam skala industri selama lebih dari sepuluh tahun.
Penyelidikan yang awalnya hanya fokus pada hilangnya beberapa mahasiswa di Jakarta, kini membengkak menjadi investigasi lintas benua yang melibatkan Interpol dan kepolisian di lima negara berbeda. Rian bukan hanya bergerak di bayang-bayang; ia bergerak tepat di depan hidung semua orang, menggunakan kecerdasannya untuk memetakan kerentanan manusia. Aris menemukan bahwa setiap kali Rian pindah kota—dari London ke Manchester, dari Paris ke Berlin, dan akhirnya kembali ke Jakarta—ia selalu membangun profil yang sama: mahasiswa teladan, aktif di organisasi keagamaan, dan dikenal sebagai sosok yang sangat ringan tangan membantu sesama perantau.
Konflik batin Aris semakin meruncing ketika ia harus berhadapan langsung dengan keluarga para korban yang datang dari berbagai penjuru dunia. Di lobi markas besar kepolisian, ia bertemu dengan seorang ibu dari desa terpencil di Jawa Tengah yang anaknya hilang saat menempuh studi di Inggris. Ibu itu membawa foto anaknya, seorang pemuda yang tampak ceria, seraya berkata dengan suara gemetar bahwa putranya sering bercerita tentang "Kak Rian" yang sangat baik hati, yang sering memberinya makanan dan tempat menumpang tidur saat uang kiriman terlambat. Aris hanya bisa menunduk, tidak tega memberi tahu ibu itu bahwa "kebaikan" Rian adalah umpan paling mematikan yang pernah diciptakan manusia.
Skala kejahatan Rian mulai terungkap dalam angka-angka yang tidak masuk akal. Tim siber menemukan bahwa Rian mengelola puluhan akun palsu di aplikasi kencan dan media sosial untuk menjaring korbannya. Ia melakukan apa yang disebut para ahli psikologi forensik sebagai grooming tingkat tinggi. Rian akan mempelajari hobi korbannya, masalah pribadi mereka, hingga trauma masa kecil mereka, lalu ia akan bertransformasi menjadi sosok yang paling dibutuhkan oleh korban tersebut. Jika korban sedang depresi, Rian akan menjadi pendengar yang bijak. Jika korban kesulitan keuangan, Rian akan menjadi dermawan yang solutif. Ia bukan hanya mencuri fisik korbannya; ia mencuri kepercayaan mereka sampai ke akar-akarnya.
Di dalam ruang interogasi yang dingin dan sunyi, Aris mencoba memecah ketenangan Rian yang sangat menjengkelkan. Rian duduk di sana dengan postur yang sempurna, wajahnya tetap bersih, dan tatapannya stabil. Ia tidak tampak seperti monster yang sering digambarkan di film-film horor. Ia tampak seperti tetangga yang sopan, teman sekelas yang pintar, atau kakak kelas yang bisa diandalkan. Ketidakmampuan masyarakat untuk melihat "monster" di balik wajah "normal" inilah yang membuat korbannya terus bertambah hingga mencapai angka yang mencengangkan—diduga lebih dari lima ratus pria telah menjadi korbannya dalam satu dekade terakhir.
"Kenapa mereka, Rian?" tanya Aris dengan suara rendah, mencoba memancing reaksi emosional. "Mereka punya orang tua yang menunggu, punya masa depan, punya mimpi. Kenapa lo hancurin mereka?"
Rian sedikit memperbaiki posisi kacamatanya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, namun tetap terlihat santun. "Mereka tidak hancur, Detektif. Mereka hanya... beralih. Di dunia yang egois ini, tidak ada yang peduli pada mereka selain saya. Saya memberi mereka perhatian yang tidak pernah diberikan oleh dunia luar. Saya mendengarkan mereka saat orang lain menutup telinga. Bukankah itu sebuah bentuk dedikasi?"
Mendengar itu, Aris merasa darahnya mendidih. Ia menyadari bahwa di depan matanya duduk seorang psikopat dengan narsisme yang akut, seseorang yang merasa dirinya adalah pahlawan bagi orang-orang yang ia hancurkan. Konflik di ruang interogasi itu menjadi pertempuran mental yang melelahkan. Rian menggunakan bahasa yang sangat sopan, istilah-istilah akademis yang rumit, dan kutipan-kutipan moral untuk membenarkan tindakannya. Ia memanipulasi narasi seolah-olah tindakannya adalah bagian dari eksperimen sosial atau bahkan bentuk kasih sayang yang menyimpang.
Penyelidikan meluas hingga ke gudang-gudang penyimpanan yang disewa Rian atas nama orang lain. Di sebuah kawasan industri yang terbengkalai, tim Aris menemukan "perpustakaan penderitaan" milik Rian. Di sana terdapat ribuan jam rekaman video, tumpukan ponsel milik korban yang masih aktif dengan ribuan pesan masuk dari keluarga yang cemas, hingga barang-barang pribadi seperti jam tangan, kalung, dan kartu identitas yang disimpan sebagai piala. Luasnya jaringan penyimpanan ini menunjukkan bahwa Rian memiliki perencanaan jangka panjang; ia tidak pernah bertindak impulsif. Setiap gerakan, setiap tetes obat bius yang ia gunakan, hingga setiap kata manipulatif yang ia ucapkan, semuanya telah dihitung dengan presisi matematika.
Dampak dari kasus ini menciptakan gelombang trauma kolektif yang luar biasa. Di seluruh dunia, orang-orang mulai meragukan kebaikan orang asing. Komunitas perantau yang tadinya saling menguatkan, kini diliputi rasa curiga. "Topeng kesalehan" yang digunakan Rian telah mencemari institusi-institusi sosial dan keagamaan tempat ia dulu bernaung. Masyarakat dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa predator paling berbahaya bukanlah mereka yang bersembunyi di gang gelap, melainkan mereka yang berdiri di mimbar, yang memenangkan beasiswa bergengsi, dan yang selalu tersenyum paling ramah di foto profil media sosialnya.
Aris bekerja hampir tanpa tidur selama berbulan-bulan, mencoba menghubungkan setiap bukti digital dengan laporan orang hilang dari berbagai negara. Ia harus berurusan dengan birokrasi internasional yang rumit, perbedaan hukum antarnegara, dan upaya pengacara Rian yang mencoba menggunakan celah hukum untuk meringankan hukuman. Namun, setiap kali Aris merasa lelah, ia teringat pada mata para korban yang menatapnya dari foto-foto di papan tulis kantornya. Ia teringat pada ribuan pesan suara di ponsel korban yang memanggil nama mereka, memohon agar mereka pulang, atau sekadar memberi kabar.
Sidang kasus Rian menjadi salah satu persidangan paling menyita perhatian dunia. Ratusan saksi dari berbagai negara memberikan testimoni melalui sambungan video. Mereka bercerita tentang bagaimana mereka merasa lumpuh, tidak berdaya, dan terjebak dalam rasa malu yang mendalam akibat manipulasi Rian. Kasus ini membuka diskusi global tentang keamanan digital, perlindungan terhadap kaum pria dari kekerasan seksual, dan bagaimana sistem hukum sering kali gagal melindungi korban karena stereotip gender yang kuat. Rian, dengan segala ketenangannya, tetap bersikukuh bahwa dirinya adalah korban dari kesalahpahaman sistem hukum.
Pada akhirnya, hukuman dijatuhkan. Namun, bagi Aris, kemenangan di pengadilan terasa hambar. Rian mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi, namun ribuan nyawa telah tergores selamanya. Trauma yang ia sebarkan telah menjangkau ribuan keluarga di seluruh dunia, menciptakan lubang yang tidak akan pernah bisa ditutup hanya dengan vonis hakim. Aris berdiri di depan gedung pengadilan, melihat kerumunan jurnalis dan keluarga korban, menyadari bahwa tugasnya telah selesai, namun luka yang ditinggalkan sang predator akan tetap ada, menjadi pengingat kelam tentang betapa mudahnya kebaikan dimanipulasi oleh kegelapan yang memakai topeng malaikat.
Aris kembali ke kantornya yang kini sepi, membereskan berkas-berkas yang selama ini menghantui hidupnya. Ia menatap sebuah folder terakhir yang berisi foto-foto korban yang identitasnya belum terungkap karena kerusakan data. Di sana, di antara ribuan wajah, ia menyadari bahwa perjuangan melawan kejahatan seperti ini bukan hanya soal menangkap pelakunya, tapi tentang bagaimana masyarakat harus belajar untuk lebih peduli tanpa menjadi naif, dan bagaimana keberanian korban untuk bersuara adalah satu-satunya cahaya yang bisa menghancurkan kegelapan sesempurna yang diciptakan oleh Rian.