Si penjelajah baru itu bernama Pandu. Ia adalah seorang pria ambisius yang menganggap horor hanyalah komoditas digital. Baginya, boneka kain berwajah Dina yang ia temukan di loker Panti Asuhan Santa Maria Dolorosa adalah "tambang emas". Ia membawanya pulang ke sebuah apartemen studio yang sempit, meletakkannya tepat di bawah lampu ring light untuk konten live streaming malam itu.
Pandu tidak tahu bahwa di dalam tubuh kain yang kasar itu, kesadaran Dina masih berdenyut.
Dina bisa merasakan segalanya. Ia merasakan setiap gesekan kasar tangan Pandu di kulit goninya. Ia merasakan dinginnya meja plastik. Namun yang paling menyiksa adalah rasa sakit yang tak kunjung henti dari jahitan di seluruh tubuhnya. Benang-benang hitam besar yang menembus dagingnya terasa seperti kawat berduri yang ditarik perlahan setiap kali boneka itu bergerak. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya yang kini berisi gumpalan rambut hanya bisa mengeluarkan suara ngik pelan yang dikira Pandu sebagai gesekan sendi boneka tua.
"Oke, guys, liat nih koleksi baru gue," ucap Pandu ke arah kamera depan ponselnya. "Boneka ini aneh banget. Teksturnya kayak kulit manusia asli yang dikeringin. Dan mukanya... gila, ekspresinya dapet banget, kayak lagi kesakitan beneran."
Pandu mendekatkan kamera ke wajah boneka Dina. Di layar ponsel, ribuan komentar mulai membanjiri:
“Kenapa matanya gerak?!”
“Itu rambut asli ya? Kok kelihatannya ada akarnya?”
Pandu tertawa. "Kalian halu. Ini cuma craftmanship tingkat tinggi."
Namun, saat Pandu membelakangi kamera untuk mengambil kopi, ia tidak melihat apa yang dilihat oleh para penontonnya. Di layar, boneka Dina mulai mengeluarkan cairan kental dari sela-sela jahitannya. Cairan itu bukan darah merah segar, melainkan nanah hitam berbau busuk yang mulai membasahi meja.
Tiba-tiba, lampu apartemen redup. Suhu ruangan merosot tajam hingga uap nafas Pandu terlihat di udara.
"Pan... du..." sebuah suara parau, seperti gesekan kertas amplas, terdengar dari arah boneka.
Pandu membeku. Ia menoleh perlahan. Boneka Dina kini tidak lagi tergeletak. Ia duduk tegak. Kepala boneka itu berputar 180 derajat ke belakang dengan suara KRETEK yang nyaring, menatap Pandu dengan mata biji buah yang kini berair.
"Gila... ini efek apa?" Pandu mencoba tetap logis, meski jantungnya hampir meledak.
Dina—atau apa pun yang kini mengendalikan tubuh kain itu—mulai bergerak. Ia melompat dari meja dengan suara gedubrak yang sangat berat. Beratnya tidak seperti kain, tapi seperti tubuh manusia dewasa yang dipadatkan ke dalam ukuran kecil.
"Kau... suka... koleksi?" bisik suara itu lagi.
Tiba-tiba, dari balik bayangan di sudut kamar Pandu, muncul sosok-sosok lain. Mereka adalah koleksi Dina yang dulu ia simpan di apartemennya. Jam dinding dari RSJ yang jarumnya dari tulang, kini jarum-jarum itu terbang dan menancap di telapak tangan Pandu, memaku pria itu ke dinding. Sisir dari panti jompo yang penuh sisa kulit kepala kini merangkak di lantai seperti kecoa raksasa, menuju ke arah kaki Pandu.
"ARRRGGGHHH!" Pandu menjerit saat jarum tulang itu menembus sarafnya.
Boneka Dina merangkak naik ke tubuh Pandu. Gerakannya patah-patah, setiap sendinya mengeluarkan suara patahan tulang. Dina merasakan dorongan dari ribuan arwah anak-anak panti yang kini bersarang di dalam perut kainnya. Mereka ingin bermain. Mereka ingin koleksi baru.
Dina mengeluarkan sebuah jarum besar yang karatan dari dalam mulutnya. Benang yang terpasang di jarum itu bukan berasal dari sutra, melainkan dari usus manusia yang dipilin tipis.
"Mari... kita... buat... kau... cantik," bisik Dina.
Pandu menangis, memohon ampun, tapi boneka itu mulai bekerja. Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, jarum itu mulai menembus kelopak mata Pandu, menjahitnya dalam keadaan terbuka lebar agar ia bisa melihat seluruh proses "transformasinya". Pandu bisa merasakan setiap tusukan jarum yang menembus dagingnya, rasa perih yang menjalar saat benang usus itu ditarik melewati kulitnya.
Selanjutnya adalah mulut. Dina menjahit mulut Pandu dengan pola silang yang sangat rapat, membungkam jeritannya hingga hanya terdengar suara erangan tertahan yang menyedihkan. Darah mulai mengucur deras, membasahi baju Pandu, tapi keajaiban terkutuk itu terjadi: luka-lukanya tidak membuatnya mati. Ia dipaksa tetap sadar.
Dina mulai merobek kulit di dada Pandu menggunakan kuku-kukunya yang terbuat dari patahan beling. Ia mulai mengeluarkan organ dalam Pandu satu per satu—paru-paru, hati, usus—dan menggantinya dengan gumpalan kapas yang sudah dicelupkan ke dalam air raksa.
"Kau... akan... abadi... di... loker... itu," suara Dina terdengar hampir seperti nyanyian pengantar tidur yang mengerikan.
Proses itu berlangsung selama berjam-jam di dalam apartemen yang terkunci. Pandu melihat sendiri bagaimana tubuhnya perlahan-lahan kehilangan bentuk manusianya. Kulitnya ditarik, dilipat, dan dijahit sedemikian rupa hingga ia mulai menyerupai bentuk boneka raksasa.
Di akhir malam, apartemen itu kembali sunyi. Kamera ponsel Pandu masih menyala, merekam sebuah adegan yang kini menjadi legenda di dark web: sebuah boneka kain berwajah wanita (Dina) berdiri di atas tumpukan daging dan kain yang baru saja selesai dijahit menjadi sosok boneka baru yang menyerupai Pandu.
Dina menatap ke arah kamera. Untuk pertama kalinya, ia merasa berkuasa. Ia bukan lagi kolektor; ia adalah kurator dari museum kematian ini. Ia mengambil ponsel Pandu, lalu mengetik sebuah pesan di kolom komentar live streaming yang masih ditonton oleh beberapa orang yang trauma:
"Siapa yang mau menjelajahi apartemen ini selanjutnya? Koleksiku masih butuh teman."
Tiba-tiba, pintu apartemen Pandu terbuka dari luar. Seorang kurir makanan berdiri di sana, bingung karena pesanan Pandu tidak kunjung diambil. Ia masuk ke dalam, mencium bau amis yang luar biasa. Saat ia melihat ke arah meja, ia menemukan dua buah boneka kain yang tampak sangat nyata sedang duduk berdampingan, seolah-olah sedang menunggunya.
Kurir itu, entah karena terpesona atau karena bisikan gaib yang masuk ke telinganya, meraih boneka Pandu.
Dina tersenyum dari dalam jahitan wajahnya. Siklus itu tidak akan pernah berhenti. Setiap penjelajah, setiap orang yang penasaran, hanyalah material baru untuk jahitan berikutnya. Dan di dalam setiap boneka, kesadaran sang korban tetap terjaga, dipaksa menyaksikan kengerian demi kengerian selamanya, tanpa bisa mati, tanpa bisa teriak.