Dina selalu percaya bahwa sebuah tempat tidak benar-benar mati selama ada sesuatu yang tertinggal di dalamnya. Baginya, kegiatan Urban Exploring bukan sekadar hobi, melainkan ritual pengumpulan nyawa. Di kalangan komunitas Urbex, Dina dikenal sebagai "Sang Kolektor". Dia tidak butuh ribuan subscriber atau konten viral; dia hanya butuh aroma lapuk, debu tebal, dan satu benda kecil untuk dibawa pulang ke apartemennya yang sunyi.
Malam itu, targetnya adalah Panti Asuhan Santa Maria Dolorosa. Bangunan kolonial di pinggiran Jawa Tengah itu telah dikosongkan sejak tahun 1994 setelah sebuah tragedi yang melibatkan keracunan massal—atau begitulah yang tertulis di koran-koran lama. Kenyataannya jauh lebih berdarah.
Dina memanjat pagar berkarat, gesekan logamnya mengeluarkan suara ngilu yang membelah keheningan hutan jati. Senter taktisnya membelah kegelapan, menyorot fasad bangunan yang tampak seperti tengkorak raksasa dengan jendela-jendela yang pecah sebagai rongga matanya.
Ia melangkah masuk melalui pintu samping yang sudah lepas dari engselnya. Lantai kayu berderit, mengeluarkan bau pesing dan jamur yang menyengat. Dina berjalan melewati lorong panjang di mana sisa-sisa kursi roda kayu berserakan. Di dinding, terdapat bekas cakaran kuku yang sangat dalam, seolah-olah anak-anak di sini pernah mencoba menggali jalan keluar melalui beton.
Langkah kaki Dina berhenti di depan sebuah loker besi di ujung koridor asrama. Loker itu satu-satunya yang masih terkunci rapat, sementara yang lain telah menganga rusak. Dengan linggis kecil, Dina mencongkel pintu besi itu.
KRIEEET... BRAK!
Pintu loker terbuka, mengeluarkan bau anyir yang membuat perut Dina mual. Di dalamnya, terduduk sebuah boneka kain lusuh. Boneka itu tidak lucu. Wajahnya terbuat dari karung goni dengan jahitan kasar yang membentuk senyum lebar yang tidak simetris. Matanya bukan dari kancing, melainkan dari biji buah yang mengeras dan tampak seperti pupil manusia yang sedang melotot. Yang paling mengerikan, rambut boneka itu terasa terlalu nyata—kasar, hitam, dan panjang.
"Ketemu," bisik Dina. Ia mengambil boneka itu. Saat jemarinya menyentuh kain goni tersebut, ia merasakan sesuatu yang aneh. Kain itu terasa hangat. Lembap. Seolah-olah ada cairan yang merembes dari dalamnya.
Dina tidak peduli. Ia memasukkan boneka itu ke dalam tas ranselnya dan segera pergi. Ia tidak menyadari bahwa saat ia melangkah keluar, jejak kakinya di lantai debu tidak lagi sendirian. Ada jejak-jejak kaki kecil, berdarah, yang mengikuti tepat di belakangnya.
Sesampainya di apartemen, Dina meletakkan boneka itu di atas meja kerjanya. Apartemen Dina adalah museum penderitaan. Di sana ada jam dinding dari rumah sakit jiwa yang jarumnya terbuat dari tulang manusia, ada sisir dari panti jompo yang masih menyimpan sisa kulit kepala, dan kini, boneka goni ini.
Dina mengambil kamera DSLR-nya. Ia selalu memotret koleksi barunya sebagai dokumentasi.
CEKREK!
Lampu flash menerangi ruangan sesaat. Dina melihat hasil fotonya di layar LCD. Ia mengernyit. Di belakang boneka itu, di sudut kamarnya yang gelap, tampak sebuah bayangan kecil. Sosok anak kecil dengan leher yang miring ke samping, seolah-olah patah.
"Hanya pantulan cahaya," gumam Dina, meski tangannya mulai gemetar.
Ia mencoba memotret lagi. Kali ini dari sudut yang berbeda.
CEKREK!
Di foto kedua, sosok itu bertambah. Kini ada dua anak. Yang satu berdiri di samping meja, tangannya yang pucat dan penuh luka sayatan tampak hendak meraih ujung baju Dina. Di foto itu, boneka goni tersebut tampak sedikit berubah. Jahitan di mulutnya seolah sedikit terbuka, memperlihatkan deretan gigi manusia yang kecil dan kuning di dalamnya.
Dina merasakan hawa dingin yang luar biasa. Ia mencium bau daging busuk yang menyengat. Tiba-tiba, terdengar suara bisikan dari bawah meja.
"Main... mau main..."
Dina terjatuh dari kursinya. Ia merangkak mundur, matanya tak lepas dari boneka itu. Tiba-tiba, boneka kain itu jatuh dari meja dengan suara gedubrak yang berat, seolah isinya bukan kapas, melainkan organ tubuh yang padat.
Boneka itu mulai merangkak. Gerakannya patah-patah, seperti serangga yang terluka. Dari jahitan di perutnya yang robek, keluar cairan kental berwarna hitam kemerahan yang berbau karat. Setiap kali boneka itu bergerak, terdengar suara tulang yang patah—krak, krak, krak.
Panik, Dina menyambar tasnya dan berlari keluar apartemen. Ia harus mengembalikan benda ini. Ia sadar, kali ini ia bukan mengambil kenang-kenangan, ia mengambil kutukan.
Dina memacu mobilnya kembali ke Panti Asuhan Santa Maria Dolorosa di tengah malam yang buta. Ia berlari masuk ke dalam lorong yang sama, nafasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar. Ia sampai di depan loker besi tadi.
"Ambil kembali! Aku tidak mau benda ini!" teriaknya sambil melempar boneka itu ke dalam loker.
Namun, saat ia hendak menutup pintu loker, tangannya tertahan. Sesuatu yang sangat kuat mencengkeram pergelangan tangannya dari dalam kegelapan loker. Itu adalah tangan-tangan mungil yang kulitnya sudah terkelupas, memperlihatkan otot dan urat yang merah membara.
Dina menjerit kesakitan saat kuku-kuku tajam anak-anak itu merobek kulit lengannya. Ia ditarik paksa mendekat ke arah loker.
"Tolong! Lepaskan!"
Di tengah kegelapan loker, Dina melihat boneka goni itu lagi. Tapi kali ini, wajah boneka itu perlahan berubah. Jahitan kain goninya meregang, membentuk fitur wajah yang sangat dikenalnya. Wajah itu... wajah Dina.
Dina menatap ke bawah, ke arah perutnya sendiri. Ia terpaku. Kulit perutnya mulai mengerut dan berubah menjadi kasar seperti kain karung. Ia melihat benang-benang hitam besar mulai menjahit kulitnya sendiri, merapat dengan paksa sementara darah segar menyemprot keluar dari sela-sela jahitan.
KRAK!
Kedua kaki Dina patah secara paksa, menekuk ke arah yang salah agar bisa masuk ke dalam ruang loker yang sempit. Rasa sakitnya begitu luar biasa hingga suaranya hilang, hanya ada erangan parau dari tenggorokan yang mulai terisi oleh gumpalan rambut hitam.
Dina akhirnya berhasil ditarik sepenuhnya ke dalam loker. Pintu besi itu tertutup dengan sendirinya. BRAK! Suasana kembali sunyi.
Keesokan harinya, seorang penjelajah Urbex lain masuk ke panti asuhan tersebut. Ia menemukan loker yang tertutup rapat dan mencongkelnya. Di dalam, ia menemukan sebuah boneka kain baru yang tampak sangat segar. Wajah boneka itu adalah wajah seorang wanita dewasa yang sedang menjerit ketakutan, lengkap dengan tahi lalat kecil di bawah mata—persis milik Dina.
Si penjelajah itu tersenyum, "Bagus untuk koleksi."
Saat si penjelajah itu pergi membawa boneka "Dina", ia tidak menyadari satu hal. Di dinding loker bagian dalam, terdapat ribuan foto yang tertempel. Semuanya adalah foto para penjelajah tempat itu sebelumnya. Dan di foto paling terbaru, tampak sosok Dina yang sedang memegang kamera, namun di belakangnya berdiri ribuan anak kecil yang sudah siap dengan jarum dan benang untuk menjahit mangsa berikutnya.
Dina tidak pernah benar-benar pergi. Dia akhirnya menjadi artefak permanen di museum penderitaan yang ia ciptakan sendiri. Bagian paling mengerikan? Ia masih sadar sepenuhnya saat tubuhnya yang kini terbuat dari kain goni dipajang di rak lemari orang asing, menunggu untuk "dimainkan" kembali.