"Gue nggak paham sama orang yang hobinya Urban Exploration atau Urbex. Itu tuh hobi paling nggak masuk akal setelah hobi koleksi struk belanja minimarket tapi nggak pernah diklaim ke kantor pajak. Ngapain coba, malam-malam, bawa senter, masuk ke bangunan tua cuma buat nyari hantu? Kalau ketemu hantu mau ngapain? Minta foto? 'Eh, permisi Kak Kunti, boleh boomerang bentar buat Instastory? Tag ya ke @KuntiCantik_666'."
Malam itu, gue—Raka—lagi berdiri di depan gerbang Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumber Waras yang udah tutup dari tahun 90-an. RSJ ini tipe bangunannya tuh yang kalau lo liat dari luar aja udah bikin lo pengen mualaf mendadak. Pintunya karatan, temboknya penuh lumut yang kayaknya punya inteligensi lebih tinggi dari gue, dan baunya? Baunya kayak perpaduan antara formalin, keringat orang stres, dan masa depan gue yang suram.
"Rak, ayolah. Cupu banget lo. Katanya mau dapet silver playbutton?"
Itu Rio. Sahabat gue yang otaknya cuma isinya konten, konten, dan konten. Rio ini tipe orang yang kalau kiamat datang, dia bukannya tobat malah bakal live TikTok sambil bilang, "Oke guys, hari ini gue mau review hujan meteor. Jangan lupa kasih gift paus ya!"
"Gue bukan cupu, Yo. Gue cuma... logis. RSJ terbengkalai jam dua pagi itu bukan tempat wisata. Ini tempat jin buang air, dan gue nggak mau jadi pembalutnya," balas gue sambil benerin posisi GoPro di kepala gue yang rasanya makin berat.
Kita akhirnya masuk. Suasana di dalam tuh bener-bener "horor-estetik". Lorongnya panjang, gelap, dan kursinya banyak yang udah kebalik. Gue jalan di depan sambil megang senter yang cahayanya kedap-kedip kayak lampu diskotik yang mau bangkrut.
"Rak, liat deh," Rio nunjuk ke sebuah pintu besi yang setengah kebuka. "Katanya di ruangan ini dulu ada eksperimen ilegal. Pasiennya disuntik pake cairan yang bikin mereka nggak bisa tidur seumur hidup. Bayangin, nggak bisa tidur! Itu mah bukan eksperimen, itu mah mahasiswa tingkat akhir!"
Gue ketawa kecil, tapi jujur jantung gue udah kayak lagi konser metal. Kita masuk ke ruangan itu. Di tengahnya ada kursi pesakitan yang masih ada tali pengikatnya. Rio, dengan gobloknya, malah duduk di situ.
"Woi, jangan duduk di situ! Entar lo kesurupan, gue males gotong lo. Badan lo gede, dosa lo banyak, berat!" protes gue.
Rio cuma nyengir. "Santai, Rak. Eh, liat nih. Gue nemu map rekam medis."
Rio ngebuka map yang udah kuning dan berdebu itu. Dia mulai baca keras-keras. "Pasien Nomor 0: Laki-laki, usia 20-an. Memiliki kebiasaan bicara sendiri. Sering menciptakan teman khayalan bernama Rio untuk menutupi trauma masa kecilnya karena selalu gagal ikut audisi stand-up comedy."
Gue diem. "Lucu banget, Yo. Sumpah. Lo bikin profil pasien yang mirip gue cuma buat nakutin gue? Kreatif lo, tapi receh."
Rio nggak jawab. Dia malah sibuk ngeliatin pojokan ruangan. "Rak, kok pintunya nggak bisa dibuka ya?"
Gue nengok ke arah pintu tempat kita masuk tadi. Pintunya ketutup. Gue coba tarik gagangnya. Nggak bisa. "Wah, klasik nih. Klise banget horor Indonesia. Pintunya macet. Harusnya kita bawa pelumas, bukan senter."
Gue coba nendang pintunya, tapi malah kaki gue yang encok. Pas gue lagi ngeringis kesakitan, gue nggak sengaja ngeliat cermin besar yang ada di dinding samping. Cerminnya retak-retak dan kotor, tapi masih cukup buat mantulin bayangan.
Gue nengok ke cermin. Terus gue nengok ke samping gue.
Di samping gue, Rio lagi berdiri sambil megang kamera. Tapi di cermin... gue cuma sendirian.
"Yo... Yo, lo di mana?" suara gue mulai bergetar.
"Gue di sini, Rak. Di samping lo. Lo kenapa sih? Efek kurang karbo ya?" Rio nanya dengan nada santai.
Gue liat lagi ke cermin. Tetep. Di pantulan itu, gue lagi megang GoPro, berdiri sendirian, dan tangan kiri gue lagi ngerangkul udara kosong.
"Yo, coba lo dadah ke cermin," perintah gue.
Rio dadah. "Halo cermin... lo cantik hari ini."
Di cermin, nggak ada siapa-siapa yang dadah. Cuma gue yang lagi bengong kayak orang tolol.
Gue mulai panik. Gue lari ke arah pintu dan kali ini gue hantam pake bahu sekuat tenaga. BRAK! Pintunya kebuka. Gue lari keluar lorong, nggak peduli sama Rio yang teriak-teriak manggil nama gue.
Gue lari sampe ke lobi depan. Gue ketemu sama seorang bapak-bapak penjaga malam—atau mungkin hantu yang nyambi jadi satpam, gue nggak peduli.
"Pak! Tolong Pak! Temen saya ketinggalan di dalem! Temen saya nggak ada di cermin!" teriak gue sambil narik-narik seragamnya.
Bapak itu ngeliatin gue lama banget. Matanya penuh kasihan, tipe tatapan yang lo kasih ke temen lo yang baru aja diputusin padahal baru jadian dua jam.
"Mas Raka... balik lagi?" tanya bapak itu.
Gue mengkerut. "Kok Bapak tau nama saya? Kita pernah DM-an?"
Bapak itu ngehela napas panjang. Dia ngambil sebuah papan nama dari mejanya. Di situ tertulis: RSJ SUMBER WARAS - PASIEN RAWAT JALAN: RAKA.
"Mas Raka, ini udah minggu keempat Mas Raka kabur dari bangsal, terus masuk lagi lewat pintu belakang sambil bawa GoPro mati, terus teriak-teriak manggil 'Rio'. Padahal Mas Raka tau sendiri..."
"Tau apa, Pak?" tanya gue, keringat dingin udah segede biji jagung.
"Rio itu nama kucing Mas Raka yang mati sepuluh tahun lalu. Mas Raka nggak punya temen manusia. Mas Raka itu saking pengen jadi komika, Mas Raka nyiptain dunia sendiri supaya ada yang ketawa pas Mas Raka nge-joke."
Gue diem seribu bahasa. Gue liat GoPro di kepala gue. Gue buka tempat baterainya. Kosong. Nggak ada baterainya, apalagi memorinya.
Gue nengok ke samping. Rio masih ada di sana. Dia lagi shushing ke arah gue, terus dia bisik pelan, "Jangan percaya dia, Rak. Dia cuma heckler. Ayo, kita lanjut bikin konten."
Gue narik napas dalem-dalem. Gue liat bapak satpam itu, terus gue liat Rio.
"Pak," kata gue pelan.
"Iya, Mas?"
"Kalau saya emang pasien di sini... berarti saya nggak perlu bayar pajak kan?"
Bapak itu geleng-geleng kepala. "Udah, Mas. Masuk yuk. Udah waktunya minum obat warna biru. Katanya biar Mas Raka nggak 'open mic' di tengah malam lagi."
Gue pun jalan masuk lagi ke dalem RSJ, dibimbing sama bapak satpam. Rio jalan di samping gue, masih sibuk review ubin rumah sakit yang katanya "kurang estetik buat latar transisi TikTok".
Gue sadar satu hal: Horor paling serem itu bukan ketemu hantu di RSJ terbengkalai. Horor paling serem itu pas lo sadar kalau lo adalah hantu buat diri lo sendiri, dan satu-satunya penonton stand-up lo cuma delusi lo yang nggak pernah follow back.
"Gue Raka, dan gue... kayaknya emang gila. Terima kasih!"