Malam itu, Subang seperti sedang menghembuskan nafas dingin yang berbau tanah basah dan karet terbakar. Sugeng, pria paruh baya dengan garis wajah sedalam aspal pantura, mencengkeram kemudi bus "Sinar Abadi" dengan tangan yang mulai berkeringat dingin. Di belakangnya, empat puluh penumpang—rombongan guru yang baru saja pulang dari acara perpisahan di Lembang—sedang terlelap. Suasana di dalam bus sunyi, hanya ada suara dengkur halus dan deru mesin diesel yang bekerja ekstra keras.
Biasanya, Sugeng tidak lewat sini kalau hari sudah lewat pukul dua belas malam. Tapi, jalur utama Ciater ditutup total karena ada truk mogok yang menutup jalan. Pilihannya hanya satu: melewati Tanjakan Emen.
"Sial," umpat Sugeng pelan. Ia meraba saku kemejanya, mencari bungkus rokok.
Mitos di jalur ini sudah seperti hukum alam bagi para sopir senior. Lempar rokok ke luar jendela sebelum masuk tanjakan, sebagai izin kepada si empunya jalan. Sugeng bukan orang baru. Ia tahu siapa 'Emen'. Legenda sopir pengangkut ikan yang tewas terbakar di sini tahun 1969 itu bukan sekadar bumbu obrolan di warung kopi. Banyak yang bilang, Emen tidak pernah pergi. Dia masih di sana, menunggu korek atau sekadar penghormatan kecil agar rem busmu tidak berubah menjadi bubur.
Namun, saat bus mulai memasuki jalanan yang berkelok dan menanjak tajam, tangan Sugeng gemetar. Ia baru sadar, bungkus rokoknya kosong.
"Aduh, lupa beli di warung tadi," bisiknya panik.
Ia melirik ke arah jendela samping. Pohon-pohon pinus di sisi jalan tampak seperti siluet raksasa yang sedang membungkuk, mengawasi busnya yang bergerak lambat. Lampu jalan yang remang-remang memberikan kesan kuning yang sakit pada aspal yang menghitam.
"Nggak apa-apa, Geng. Lo udah nyetir dua puluh tahun. Itu cuma cerita takhayul," Sugeng mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia memindahkan gigi ke posisi rendah. Mesin meraung, bus bergetar hebat saat mulai menanjak.
Tepat di tikungan pertama yang paling tajam, suhu di kabin kemudi mendadak turun drastis. Sugeng bisa melihat hembusan nafasnya sendiri keluar seperti uap. AC bus sudah ia matikan sejak tadi agar mesin tidak kepanasan, tapi rasa dingin ini berbeda. Ini dingin yang menembus jaket kulitnya, masuk ke dalam pori-pori, dan berhenti di tulang belakangnya.
Kring... kring...
Suara gesekan logam terdengar dari bawah kursi kemudi. Sugeng melirik spion tengah yang mengarah ke kabin penumpang. Semuanya tampak normal. Para guru masih tertidur. Tapi, di kursi paling belakang, kursi nomor 40 yang seharusnya kosong, ia melihat sesuatu.
Ada seorang pria duduk di sana.
Pria itu mengenakan pakaian kumal yang menghitam, seolah-olah baru saja keluar dari tungku pembakaran. Kepalanya tertunduk, tapi bau menyengat mulai memenuhi hidung Sugeng. Bukan bau melati, bukan bau busuk. Ini bau oli yang terbakar, bensin yang tumpah, dan daging yang terpanggang.
"Pak? Ada masalah?" Sugeng bertanya dengan suara gemetar, berharap itu hanya salah satu guru yang baru bangun.
Pria itu tidak menjawab. Ia perlahan mengangkat kepalanya. Dalam pantulan spion yang buram, Sugeng melihat wajah yang nyaris tidak berbentuk. Kulitnya melepuh, merah kehitaman, dengan mata yang menonjol keluar. Pria itu menyeringai, menunjukkan barisan gigi yang menghitam.
Glek. Sugeng menelan ludah. Ia memalingkan wajah kembali ke jalan. Ia tidak berani menoleh lagi.
"Izin, Pak Emen... izin lewat. Saya lupa tadi... saya benar-benar lupa," bisik Sugeng dengan bibir yang membiru.
Tiba-tiba, bus "Sinar Abadi" terasa sangat berat. Seolah-olah ada sepuluh ton beton tambahan yang mendadak diletakkan di atas atapnya. Mesin menderu sampai batas maksimal, jarum suhu di dasbor merangkak naik menuju zona merah secepat jarum jam.
Sugeng mencoba menginjak gas lebih dalam, tapi busnya justru melambat. Dan yang lebih mengerikan, bus itu mulai mundur.
"Lho? Lho!" Sugeng panik. Ia menginjak rem.
Blos.
Pedal rem itu masuk sepenuhnya ke lantai tanpa ada hambatan. Remnya blong.
"Astaghfirullah! Rem blong!" Sugeng berteriak, suaranya pecah.
Kegaduhan mulai terjadi di kabin belakang. Penumpang mulai terbangun karena guncangan bus yang mulai tidak terkendali. Bus itu merosot mundur dengan kecepatan yang makin gila di jalanan yang miring itu.
"Pak Sugeng! Kenapa ini, Pak?!" teriak salah satu guru dari barisan depan.
Sugeng tidak bisa menjawab. Ia menarik rem tangan sekuat tenaga, tapi tuas itu patah di tangannya seolah-olah terbuat dari biskuit. Bus meluncur mundur menuju jurang yang gelap di sisi jalan.
Di saat itulah, pria di kursi nomor 40 berdiri. Ia berjalan di lorong bus dengan langkah yang berat dan menyeret. Setiap langkahnya meninggalkan bekas kaki hitam yang berasap di karpet bus. Para penumpang yang ketakutan berteriak saat pria itu melewati mereka, tapi pria itu tidak peduli. Ia berjalan lurus ke arah Sugeng.
Sugeng membeku. Pria itu kini berdiri tepat di sampingnya. Bau daging terbakar itu sekarang begitu nyata sampai-sampai Sugeng ingin muntah.
Tangan pria yang melepuh itu terulur, perlahan menutup mata Sugeng dengan jari-jarinya yang kasar.
"Punya api?" suara itu terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. Sangat dekat di telinga Sugeng.
"Nggak ada, Pak... nggak ada..." tangis Sugeng pecah.
"Kalau nggak ada api... nyawamu saja yang jadi apinya," bisik pria itu.
Tiba-tiba, setir bus memutar sendiri dengan kekuatan yang sangat besar, mematahkan jari-jari tangan Sugeng yang mencoba menahan. Bus itu memutar arah, bukan lagi mundur ke jurang, tapi melesat maju dengan kecepatan tinggi menuju dinding tebing.
Sugeng bisa melihat wajah Emen di kaca depan, tertawa lebar di tengah kobaran api imajiner yang mulai muncul di kap mesin.
BRAKKKKK!
Suara benturan itu membelah kesunyian malam di Subang. Bus Sinar Abadi menghantam dinding tebing dengan telak. Tangki bensin pecah, dan dalam sekejap, api membumbung tinggi menyelimuti seluruh badan bus.
Anehnya, tidak ada teriakan setelah benturan itu. Hanya ada suara api yang melahap logam dan karet.
Keesokan paginya, tim SAR dan polisi mengevakuasi reruntuhan bus yang sudah hangus total. Di tempat kejadian, tidak ditemukan satu pun guru yang selamat. Namun, ada satu hal yang membuat komandan polisi setempat merinding.
Saat mereka mengeluarkan jasad Sugeng dari kursi kemudi, tangan pria itu masih mencengkeram sebuah korek api kayu tua yang sudah habis terbakar. Padahal, menurut keluarga dan rekan kerjanya, Sugeng adalah seorang perokok yang selalu menggunakan korek gas modern.
Dan di kursi paling belakang yang sudah menjadi arang, petugas menemukan sebuah jeriken bensin tua buatan tahun 60-an yang masih utuh, tidak tersentuh api sedikit pun. Di atas jeriken itu, tergeletak satu batang rokok yang masih utuh, seolah-olah baru saja diletakkan sebagai upeti.
Sejak hari itu, para sopir di jalur Subang tidak pernah lagi lupa. Mereka tidak hanya melempar rokok, tapi mereka juga memastikan korek apinya ikut disertakan. Karena di Tanjakan Emen, keselamatanmu bukan ditentukan oleh kecanggihan rem atau kepiawaian menyetir, tapi oleh seberapa ingat kau pada pria yang terbakar di kursi nomor 40.
Sampai sekarang, kalau kau lewat sana tengah malam dan mencium bau oli terbakar saat remmu terasa sedikit licin, jangan menoleh ke spion tengah. Fokus saja pada jalan, dan berdoalah semoga kau membawa apa yang dia minta.