Hana berdiri di depan gerbang Museum Nasional Korea, menatap deretan gedung pencakar langit Seoul yang berkilau. Di pergelangan tangannya, kain biru dari jubah Yi-Sun masih terikat, sebuah anomali sejarah yang nyata. Sudah tiga bulan sejak ia kembali dari Joseon, dan hidupnya berubah menjadi pencarian tanpa henti.
"Gue nggak gila, gue nggak gila," bisiknya pada diri sendiri sambil menyeruput iced americano ekstra shot.
Setiap hari, Hana memindai wajah setiap pria yang lewat di Gangnam, Hongdae, sampai ke kawasan perkantoran mewah di Gwanghwamun. Ia mencari sepasang mata tajam yang pernah menatapnya di bawah rintik salju. Sampai akhirnya, sebuah undangan pameran teknologi "Sagetime" mendarat di mejanya. Perusahaan itu baru saja meluncurkan AI yang bisa merekonstruksi wajah tokoh sejarah secara akurat.
CEO-nya adalah seorang pria misterius bernama Lee Sun.
"Oke, namanya aja udah mencurigakan," batin Hana.
Malam pameran itu, Hana datang dengan dress hitam simpel namun elegan. Ia masuk ke dalam aula ballroom hotel bintang lima yang aromanya... entah kenapa, sangat familiar. Bau kayu cendana dan sedikit aroma tinta mahal. Hana berjalan menuju panggung utama saat lampu tiba-tiba meredup.
"Selamat malam. Terima kasih sudah hadir," suara itu terdengar.
Hana membeku. Gelas sampanye di tangannya hampir jatuh. Suara itu berat, rendah, dan punya otoritas yang sama dengan pria yang pernah memerintah pasukan di tengah badai salju. Di atas panggung, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam slim-fit, rambutnya ditata rapi ke belakang, menunjukkan dahi yang tegas.
Itu dia. Yi-Sun. Versi 2026.
Lee Sun sedang mempresentasikan bagaimana perusahaannya bisa menghidupkan kembali memori yang hilang lewat data digital. Sepanjang presentasi, Hana tidak bisa melepaskan pandangannya. Ia merasa ada ikatan tak kasat mata yang menariknya untuk berlari ke panggung dan memeluk pria itu.
Setelah acara selesai, Hana nekat menerobos kerumunan wartawan dan pengawal. Ia berdiri tepat di jalur Lee Sun berjalan keluar.
"Pangeran!" teriak Hana spontan.
Langkah Lee Sun terhenti. Para pengawal sudah siap siaga menyingkirkan Hana, tapi Lee Sun mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka mundur. Ia berbalik, menatap Hana dengan ekspresi datar—cold CEO vibe yang sangat kental.
"Maaf? Anda memanggil saya apa?" tanya Lee Sun dingin.
Hana gemetar, ia menunjukkan pergelangan tangannya yang masih dibalut kain biru kusam itu. "Kain ini... lo yang kasih ini ke gue. Di bawah pohon pinus. Pas salju. Lo inget nggak?"
Lee Sun mengerutkan kening. Ia menatap kain itu, lalu menatap wajah Hana yang sembab. Ada kilatan aneh di matanya, tapi kemudian ia kembali dingin. "Nona, saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Mungkin Anda terlalu banyak menonton drama saeguk. Kain itu hanyalah sampah kuno. Tolong minggir, saya sibuk."
Lee Sun berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Hana yang hancur berkeping-keping. "Sialan," umpat Hana. "Masa dia beneran lupa sih? Janji manis seribu tahun cuma ghosting sejarah?!"
Tapi Hana bukan tipe cewek yang gampang menyerah. Ia tahu cara kerja restorasi: jika permukaannya kusam, kita harus membersihkannya sampai intinya terlihat kembali.
Besoknya, Hana menyelinap ke kantor Lee Sun dengan alasan ingin mendiskusikan restorasi lukisan pangeran yang kini menjadi miliknya. Saat ia masuk ke ruang kerja sang CEO, ia mendapati ruangan itu penuh dengan artefak Joseon yang sangat spesifik. Ada sebuah busur panah dan... sebuah jam tangan digital rusak yang diletakkan di dalam kotak kaca antipeluru.
Jam tangannya.
"Kenapa lo simpan itu kalau lo nggak inget gue?" Hana bersedekap di depan meja kerja Lee Sun.
Lee Sun mendongak dari tabletnya, tampak terganggu. "Itu benda koleksi. Saya menemukannya di sebuah penggalian arkeologi di Bukit Duri, terbungkus dengan kain yang sama dengan yang ada di tangan Anda."
Hana maju, mencondongkan badannya ke arah Lee Sun. "Lo tahu nggak kenapa jam itu mati? Karena baterainya habis, sama kayak kesabaran gue nunggu lo inget. Gue Hana, Sun-ah. Pelayan bisu yang lo ajarin kaligrafi. Cewek yang lo cium di bawah pohon ceri pas lo mau dieksekusi!"
Lee Sun berdiri tiba-tiba, membuat kursi kerjanya mundur kasar. Ia berjalan mendekati Hana, memojokkan gadis itu ke dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul dari lantai 50.
"Kau tahu..." Lee Sun berbisik, suaranya kini berubah. Tidak lagi dingin seperti CEO, tapi dalam dan penuh kerinduan yang tertahan. "Sejak aku bangun di kehidupan ini, aku selalu merasa ada lubang di dadaku. Setiap malam aku mimpi tentang perang, salju, dan seorang wanita yang memanggilku dengan bahasa aneh."
Lee Sun mengangkat tangannya, menyentuh rambut Hana dengan lembut. "Aku sengaja bersikap dingin tadi malam karena aku takut... aku takut kalau aku cuma gila. Tapi saat kau menyebut tentang 'bola asap' dan 'main character'..."
Lee Sun tersenyum tipis, senyuman nakal yang dulu sering ia tunjukkan di Joseon. "Gue inget semuanya, Hana. Semuanya."
Hana melongo. "Lo... lo tadi panggil gue apa? Lo pakai 'gue-lo'?"
"Gue udah belajar bahasa modern selama dua puluh tahun hidup di sini, tahu," kata Lee Sun sambil tertawa kecil. Ia menarik Hana ke dalam pelukannya yang hangat. "Makasih udah cari gue. Gue hampir nyerah dan mikir kalau lo cuma imajinasi pas gue sekarat di medan perang."
Hana membalas pelukan itu erat, menghirup aroma cendana yang kini bercampur dengan parfum mahal. "Jangan pernah berani ghosting gue lagi lewat reinkarnasi, ya!"
"Nggak akan," janji Lee Sun. Ia mengecup kening Hana. "Jadi, sekarang setelah sejarah sudah selesai... mau coba kencan di zaman yang ada internet dan makanan enak ini?"
Hana tertawa, air mata bahagianya jatuh. "Boleh. Tapi kali ini, gue yang pilih tempatnya. Kita makan tteokbokki paling pedas se-Seoul, biar lo tahu rasanya 'perang' yang sebenarnya."
Di luar, langit Seoul tampak cerah. Sejarah mungkin mencatat Pangeran Yi-Sun telah lama tiada, tapi di sebuah gedung tinggi di tengah kota, pangeran itu baru saja memulai babak baru yang tidak akan pernah berakhir di buku mana pun.
Selesai.