Salju di bukit belakang kediaman pengasingan itu mulai mengeras, namun bara api di dalam paviliun kayu itu justru semakin panas. Hana duduk bersila di depan sebuah meja rendah, sementara di hadapannya, Yi-Sun sedang menatap sebuah peta taktis dengan kening berkerut. Suasana sunyi, hanya ada suara kayu bakar yang berderak di perapian kecil.
"Kenapa lo liatin peta itu terus? Nggak bakal berubah jadi Google Maps juga, Sun-ah," gumam Hana pelan. Ia sudah mulai berani menggunakan bahasa dunianya jika hanya ada mereka berdua.
Yi-Sun mengangkat kepala, menatap Hana dengan ekspresi bingung yang selalu terlihat menggemaskan di mata Hana. "Gugel Meps? Bahasa masa depanmu itu sering kali terdengar seperti mantra sihir. Tapi aku tahu maksudmu. Peta ini... tidak akurat. Jika mereka menyerang dari lembah barat, kita tamat."
Hana menggeser duduknya, mendekat ke arah sang pangeran. "Sini, biar gue kasih tahu rahasianya. Di zaman gue, kita belajar taktik perang dari film dan buku sejarah. Musuhmu, faksi Noron itu, mereka tipikal pengkhianat yang main aman. Mereka nggak bakal lewat lembah. Mereka bakal muter lewat jalur tikus di belakang air terjun."
Yi-Sun tertegun. Ia meletakkan kuasnya dan menatap Hana lekat-lekat. "Bagaimana kau bisa begitu yakin?"
"Karena gue udah baca arsipnya, Pangeran. Serangan itu terjadi malam ini, pas salju lagi kencang-kencangnya. Mereka pikir kita bakal lengah karena kedinginan."
Tiba-tiba, Yi-Sun meraih tangan Hana. Sentuhannya hangat, kontras dengan udara dingin yang merayap masuk lewat celah pintu geser. "Lalu, apakah arsipmu juga mencatat apa yang terjadi padaku malam ini?"
Hana terdiam. Ia bisa merasakan denyut nadi Yi-Sun di bawah jemarinya. Di buku sejarah, tertulis bahwa Pangeran Yi-Sun tewas dalam penyergapan di pengasingan. Tapi melihat mata cokelat yang penuh kehidupan itu, Hana merasa sejarah adalah sebuah kesalahan besar yang harus ia perbaiki.
"Di buku sejarah, lo kalah," bisik Hana jujur. "Tapi di sini, ada gue. Dan gue nggak bakal biarin lo jadi sekadar baris teks yang ngebosenin di buku sekolah."
Yi-Sun tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan Hana. "Kau sangat aneh. Berani sekali mengatur takdir seorang Pangeran Joseon."
"Zaman gue emang gitu, kita nggak suka diatur-atur takdir," jawab Hana sambil mencoba menutupi rasa saltingnya.
Malam semakin larut. Ketegangan di udara semakin pekat, sepekat tinta hitam yang mengering di atas meja. Yi-Sun berdiri, mengenakan zirah perangnya yang berat. Saat ia mengikatkan tali pelindung dadanya, Hana mendekat dan membantunya. Jemari Hana gemetar saat menyentuh logam dingin itu.
"Hana," panggil Yi-Sun lembut.
"Hmm?"
"Jika... jika malam ini benar-benar akhir dari baris teks itu, aku ingin kau tahu satu hal." Yi-Sun memegang bahu Hana, memaksa gadis itu menatapnya. "Di antara semua kemewahan istana yang pernah aku miliki, dan semua pengasingan yang menyakitkan ini, kehadiranmu adalah satu-satunya hal yang terasa seperti 'rumah'."
Hana ngerasa matanya mulai panas. "Jangan ngomong gitu, kayak mau pamit aja. Lo itu main character, Sun-ah. Main character nggak mati di tengah episode."
"Aku tidak tahu apa itu men karekter, tapi aku berjanji padamu," Yi-Sun mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Aku akan bertahan hidup, hanya untuk mendengar lebih banyak kata-kata aneh dari mulutmu."
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang depan. Suasana romantis itu pecah seketika. Panah api mulai menghujani atap paviliun. Prajurit Noron telah tiba.
"Sekarang!" teriak Yi-Sun. Ia menarik pedangnya dengan suara denting logam yang nyaring. "Jenderal Kang! Laksanakan rencana dari masa depan!"
Pertempuran pecah di tengah badai salju. Hana tidak hanya diam. Ia menggunakan pengetahuannya tentang kimia dasar untuk membuat "bom asap" sederhana dari bubuk mesiu sisa dan belerang yang ia temukan di gudang. Saat para pembunuh bayaran merangsek masuk, Hana melemparkan bola-bola tanah berisi mesiu itu ke arah obor mereka.
DUARR!
Asap tebal memenuhi halaman, membuat para penyerang terbatuk-batuk dan kehilangan arah. Yi-Sun memanfaatkan momen itu. Ia bergerak seperti bayangan di tengah asap, menebas setiap musuh dengan presisi yang mengerikan. Hana melihat Yi-Sun bertarung, dan ia sadar bahwa pria ini bukan sekadar pangeran yang galau, tapi seorang pejuang sejati.
Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Yi-Sun terdesak ke arah tebing di belakang kediaman. Hana berlari menyusulnya, mengabaikan rasa perih di kakinya karena berlari di atas salju tanpa alas kaki yang layak.
"Yi-Sun! Di belakangmu!" teriak Hana saat seorang pemanah membidik punggung sang pangeran.
Tanpa pikir panjang, Hana melompat dan mendorong Yi-Sun. Anak panah itu melesat, menggores lengan Hana. Yi-Sun berteriak murka, ia menghabisi si pemanah dalam satu gerakan brutal, lalu segera menangkap tubuh Hana yang limbung.
"Kau bodoh! Kenapa kau melakukan itu?!" teriak Yi-Sun, matanya penuh kecemasan.
"Gue... gue kan udah bilang, gue bakal jagain lo," ucap Hana sambil meringis menahan sakit.
Di saat yang sama, langit malam yang gelap mulai berubah warna. Bulan perlahan-lahan tertutup bayangan merah. Gerhana. Pintu waktu mulai terbuka tepat di bawah pohon pinus tempat mereka berdiri. Pusaran cahaya biru mulai muncul, menyedot udara di sekeliling mereka.
"Hana, lihat! Itu jalan pulangmu!" Yi-Sun menatap pusaran itu dengan perasaan campur aduk.
Hana melihat ke arah pusaran cahaya itu, lalu kembali menatap Yi-Sun yang berlumuran darah namun tetap terlihat gagah. "Ikut gue, Sun-ah. Sekarang! Duniamu sudah nggak aman lagi."
Yi-Sun menatap pusaran itu, lalu menatap tanah Joseon yang sedang bergejolak di bawah sana. "Aku tidak bisa, Hana. Jika aku pergi, orang-orang ini akan menderita di bawah tiran. Tapi aku berjanji..." Ia merobek sepotong kain dari jubah birunya, lalu mengikatkannya ke pergelangan tangan Hana. "Cari aku. Di duniamu yang penuh lampu itu, aku akan lahir kembali. Aku akan menemukanmu, bahkan jika aku harus menunggu seribu tahun lagi."
"Sun-ah, nggak mau! Gue nggak mau pisah!" Hana menangis histeris, mencoba memegang zirah Yi-Sun.
"Pergilah, Hana. Jadilah dokter atau apa pun yang kau impikan di masa depan. Sembuhkan dunia itu, seperti kau menyembuhkan hatiku." Yi-Sun memberikan ciuman singkat namun dalam di kening Hana, lalu dengan satu dorongan lembut, ia melepaskan Hana ke dalam pusaran cahaya.
"YI-SUNNNNN!"
Hana terlempar ke dalam kegelapan yang berputar. Suara denting pedang dan teriakan perang Joseon perlahan menghilang, digantikan oleh suara mesin pendingin ruangan dan aroma kimia laboratorium yang familiar.
Hana terjatuh di lantai keramik laboratoriumnya di Seoul. Napasnya tersengal-sengal. Ia melihat ke tangannya; kain biru dari jubah Yi-Sun masih terikat erat di sana, ternoda oleh sedikit darah sang pangeran. Ia segera menoleh ke arah lukisan yang tadinya ia restorasi.
Lukisan itu kini berubah total. Sang Pangeran tidak lagi berdiri sendirian. Di sampingnya, tergambar seorang wanita dengan pakaian modern yang samar, memegang sebuah bola asap. Dan di bagian bawah lukisan, ada tulisan kaligrafi baru yang masih tampak basah, seolah baru saja ditulis:
"Dia tidak mati dalam sejarah, karena dia hidup dalam cintamu. Sampai jumpa di Seoul, Myeong."
Hana menyentuh tulisan itu, air matanya jatuh membasahi kertas hanji. Ia sadar, tugasnya bukan lagi merestorasi masa lalu, tapi mencari masa depannya yang tertinggal di Joseon. Ia berdiri, menghapus air matanya, dan berjalan keluar museum. Di pergelangan tangannya, kain biru itu bersinar redup di bawah lampu jalanan Seoul, seolah-olah menjadi kompas yang akan menuntunnya kembali pada satu-satunya pria yang berjanji akan menantang waktu demi dirinya.
"Gue bakal cari lo, Sun-ah. Walaupun gue harus muterin seluruh Korea buat nemuin cowok yang hobi ngopi tapi aura pangeran," bisik Hana pada angin malam Seoul.