Hana terbangun dengan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Rasanya kayak baru aja dilempar ke dalam freezer raksasa. Pandangannya burem, tapi yang jelas, pemandangan laboratorium restorasi di Seoul yang estetik dan penuh lampu neon itu udah ilang. Gantinya? Hutan pinus gelap yang ditutup salju tebal. Hana coba berdiri, tapi badannya lemes parah. Hoodie dan jeans yang dia pakai bener-bener nggak match sama lingkungan ini. "Gue di mana sih? Ini efek zat kimia tadi atau gimana?" gumamnya gemetar. Ingatan terakhirnya cuma gerhana bulan merah dan lukisan pangeran Joseon yang tiba-tiba berpendar pas dia sentuh.
Belum sempat dia sadar sepenuhnya, suara derap kaki kuda kedengeran makin deket. Sekelompok cowok pakai baju prajurit kuno lengkap sama pedang langsung ngepung dia. Di tengah-tengah mereka, ada satu cowok yang aura main character-nya kuat banget. Dia pakai jubah biru tua dan topi Gat hitam. Matanya tajam, cakep, tapi dingin banget. Itu Pangeran Yi-Sun. Persis kayak di lukisan yang dia restorasi.
"Siapa kau? Kenapa pakaianmu aneh begini? Kau mata-mata dari Utara?" tanya Yi-Sun sambil nodongin pedang ke leher Hana.
Hana panik. Kalau dia ngomong pakai bahasa gaul Seoul 2026, dia pasti dianggap gila atau penyihir. Akhirnya, Hana milih satu-satunya cara buat bertahan hidup: pura-pura bisu. Dia cuma geleng-geleng kepala sambil pasang muka melas paling pol. Strateginya berhasil. Alih-alih dipenggal, dia malah diseret ke rumah pengasingan Yi-Sun buat jadi pelayan dapur.
"Eh, denger ya, Myeong," panggil Yi-Sun suatu sore. Myeong adalah nama baru yang dikasih para pelayan buat Hana. "Kenapa lo—maksudku, kau—selalu natap buku-buku di perpustakaanku kayak lagi liat barang diskonan?"
Hana cuma diem, tapi tangannya nggak tahan buat nggak benerin gulungan kertas yang robek di meja Yi-Sun. Dia pakai teknik restorasi modern yang super rapi. Yi-Sun yang liat itu langsung narik tangan Hana. Jarak mereka jadi deket banget, saking deketnya Hana bisa nyium aroma kayu cendana yang maskulin banget dari baju Yi-Sun.
"Tangan pelayan kok halus begini? Dan teknik apa ini? Kau bukan orang sembarangan, kan?" bisik Yi-Sun tepat di telinga Hana.
Jantung Hana mau copot. "Aduh, please jangan blushing sekarang," batinnya. Yi-Sun nggak ngelepasin tangan Hana, malah ngajak dia duduk buat nulis kaligrafi bareng. Tangan besar Yi-Sun nindih tangan Hana yang lagi pegang kuas. Suasananya jadi awkward tapi bikin baper parah.
"Nggak usah gemeteran gitu. Gue nggak bakal gigit," goda Yi-Sun dengan nada yang sedikit lebih santai, bikin Hana kaget. Cowok ini ternyata bisa bercanda juga.
Malamnya, Yi-Sun nemuin jam tangan digital punya Hana yang jatuh. Dia ngeliatin angka-angka yang nyala di kegelapan. "Ini benda apa? Detaknya stabil banget, nggak kayak perasaan gue yang berantakan tiap liat lo," gumam Yi-Sun pelan, yang tanpa sengaja didenger Hana yang lagi lewat bawa teh.
"Pangeran..." Hana keceplosan.
Yi-Sun langsung berdiri. "Tuh kan, lo bisa ngomong! Jadi selama ini gue dikacangin?"
Hana nggak punya pilihan lain selain jujur. "Dengerin dulu. Aku dari masa depan, tahun 2026. Dan kalau menurut sejarah yang aku baca, bulan depan... kamu bakal dieksekusi karena fitnah makar. Kita harus cabut dari sini!"
Yi-Sun diem lama banget. Bukannya takut, dia malah senyum tipis. "Masa depan ya? Pantesan lo aneh. Tapi gue nggak bisa pergi, Hana. Ini tanah gue. Tapi kalau emang waktu gue tinggal sebulan, berarti gue nggak usah nahan diri lagi, kan?"
Yi-Sun narik Hana ke bawah pohon ceri yang mulai rontok. "Lo tau nggak? Di dunia lo mungkin gue cuma catatan sejarah yang ngebosenin. Tapi di sini, detik ini, lo itu satu-satunya alasan gue pengen hidup lebih lama."
Hana ngerasa matanya panas. "Sun-ah, ikut aku ke Seoul. Di sana ada AC, ada internet, dan yang paling penting, nggak ada yang bakal bunuh kamu."
Yi-Sun ketawa kecil sambil ngusap pipi Hana. "Godaannya oke juga. Tapi kayaknya gue lebih milih mati sebagai pangeran yang pernah dicintai cewek sekeren lo, daripada hidup jadi orang asing di dunia yang nggak gue kenal."
Pas gerhana bulan merah balik lagi, suasana jadi kacau. Musuh politik Yi-Sun nyerang rumah itu. Api di mana-mana. Yi-Sun dorong Hana ke arah pusaran cahaya yang muncul di balik pohon pinus. "Pergi, Hana! Jangan nengok ke belakang!"
"Nggak! Kita pergi bareng!" teriak Hana sambil nangis sesenggukan.
"Cari gue di duniamu, oke? Gue bakal nunggu lo di sana, dalam bentuk apa pun," kata Yi-Sun sambil ngasih kecupan terakhir yang rasanya campur aduk antara manis dan sakit banget.
Hana kelempar balik ke laboratoriumnya di Seoul. Semuanya balik normal, kecuali hatinya yang berasa ilang separuh. Dia langsung lari ke lukisan pangeran itu. Ajaib, wajah pangeran yang tadinya ilang sekarang kelihatan jelas banget. Dan di sampingnya, ada lukisan cewek yang pakai hoodie—itu Hana. Di bawahnya ada tulisan: 'Wait for me in the next life.'
Hana keluar dari museum dengan mata sembab. Pas dia lagi nunggu lampu merah di jalanan Seoul yang rame, ada cowok yang nggak sengaja nabrak bahunya.
"Eh, sorry... gue nggak sengaja," kata cowok itu.
Hana nengok, dan jantungnya serasa berhenti. Cowok itu pakai kemeja item, bawa kopi, tapi matanya... mata itu persis kayak Yi-Sun.
Cowok itu juga diem, dia ngeliatin Hana lama banget kayak ngerasa kenal. "Kita... pernah ketemu sebelumnya? Kok kayaknya gue ngerasa kangen banget ya pas liat muka lo?" tanya cowok itu sambil garuk tengkuknya, salting.
Hana senyum lebar, air matanya netes lagi tapi kali ini karena seneng. "Lama banget ya nunggunya? By the way, lo telat 300 tahun, tau nggak?"
Cowok itu ketawa, suara tawa yang sama yang Hana denger di bawah pohon ceri Joseon. "Masa sih? Ya udah, sebagai gantinya, mau kopi nggak? Gue traktir, seumur hidup."