Suara denting palu itu kini tidak lagi berasal dari luar. Ia beresonansi di dalam rongga dada Andra, berdetak seirama dengan jantungnya yang kian melemah. Setiap kali logam berkarat itu menghantam paku, sebuah rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari ujung jari hingga ke sumsum tulang belakangnya. Andra bukan lagi seorang penghuni; ia telah menjadi mesin. Ia adalah budak dari struktur kayu dan beton yang haus akan perbaikan.
Bulan berganti, dan Bukit Duri tetaplah Bukit Duri—pengap, bising oleh suara kereta, dan penuh rahasia yang terkubur di bawah riuhnya pasar. Namun, rumah Kakek Rahman kini tampak berbeda. Dari luar, rumah itu terlihat megah, kontras dengan gang sempit di sekelilingnya. Catnya selalu baru, kayunya mengkilap. Namun, penduduk sekitar tak lagi berani melintas di depannya saat matahari terbenam. Mereka mendengar suara gergaji mesin yang menderu di jam tiga pagi, atau suara tembok yang diruntuhkan hanya untuk dibangun kembali sebelum subuh tiba.
Andra kehilangan dua puluh kilogram berat badannya. Matanya kini cekung dengan lingkaran hitam yang permanen. Ia tidak pernah lagi menyentuh laptopnya. Pekerjaan sebagai desainer grafis telah ia lupakan. Fokus hidupnya kini hanya satu: mencari celah kerusakan di rumah itu sebelum rumah itu sendiri yang menciptakan kerusakannya.
Suatu malam, saat hujan lebat mengguyur Jakarta, seorang wanita muncul di ambang pintu. Ia adalah Maya, sepupu jauh Andra yang baru saja pulang dari studi arsitekturnya di Belanda. Maya datang karena mendengar kabar burung bahwa Andra telah menjadi gila dan mengurung diri di rumah peninggalan kakek mereka.
"Andra? Buka pintunya!" teriak Maya di tengah deru hujan.
Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma aneh—perpaduan antara serbuk gergaji, melati busuk, dan bau besi yang amis. Maya terpekik melihat kondisi sepupunya. Andra berdiri dengan tangan yang hancur, jari-jarinya diperban kasar dengan kain yang sudah menghitam oleh darah kering. Di tangan kanannya, ia masih menggenggam palu milik Kakek Rahman.
"Pergi, Maya. Rumah ini sedang lapar," bisik Andra. Suaranya serak, seolah pita suaranya telah terkikis oleh debu semen.
Maya mengabaikan peringatan itu. Ia merangsek masuk, menyalakan senter ponselnya. Sebagai arsitek, ia segera melihat kejanggalan yang mengerikan. Struktur rumah itu tidak masuk akal. Pilar-pilar baru dipasang di tempat yang tidak menopang apa pun. Dinding-dinding dibangun berlapis-lapis, seolah-olah menyembunyikan sesuatu di tengahnya.
"Apa yang kamu lakukan, Nda? Ini gila! Struktur ini bisa runtuh kapan saja karena beban yang tidak seimbang!" Maya memprotes sambil menyentuh sebuah dinding kayu yang terasa hangat—terlalu hangat untuk ukuran benda mati.
Andra tertawa kecil, suara tawa yang lebih mirip sedu sedan. "Kamu tidak mengerti, May. Kalau aku tidak membangun pilar itu, langit-langit di atas kepalamu akan berubah menjadi taring dan mengunyah kita. Kakek Rahman tidak meninggalkan warisan. Dia meninggalkan kontrak."
Maya mencoba menarik Andra keluar, namun langkahnya terhenti di ruang tengah. Di sana, di bawah cahaya lampu yang berkedip-kedip, Maya melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Di salah satu dinding yang baru setengah jadi, ia melihat pola yang tidak biasa. Itu bukan urat kayu. Itu adalah rambut manusia yang terjepit di antara sambungan papan. Dan di sudut bawah, ia melihat sebuah jari manusia—kering dan mengeras seperti mumi—yang menonjol keluar, seolah-olah digunakan sebagai pengganti pasak kayu.
"Andra... apa ini?" suara Maya bergetar.
"Itu Kakek," jawab Andra datar. "Dia tidak pernah pergi. Dia menjadi fondasi. Dia berhenti membangun selama enam jam karena kehabisan paku, dan rumah ini mengklaimnya sebagai material."
Maya berbalik untuk lari, namun pintu depan telah lenyap. Bukan terkunci, tapi lenyap. Di tempat pintu itu seharusnya berada, kini berdiri sebuah dinding bata yang masih basah dengan semen merah yang berbau amis darah. Rumah itu telah menutup mulutnya.
"Kita harus terus bekerja, Maya," bisik Andra, menyerahkan sebuah gergaji tangan kepada Maya. "Kalau kamu tidak mau jadi bagian dari dinding ini, bantu aku membongkar lantai dapur. Lantainya mulai merasa lapar lagi."
Maya menangis histeris, namun sebuah kekuatan gaib yang tak terlihat mulai menarik tangannya. Ia merasakan dorongan yang tak tertahankan untuk meraih gergaji itu. Di Bukit Duri, waktu seolah berhenti. Suara kereta api yang melintas terdengar seperti raungan naga yang sedang tidur.
Puncak kengerian terjadi ketika Andra menyadari bahwa ia tidak lagi memiliki material. Uang warisan telah habis total. Kayu-kayu sisa telah digunakan. Paku terakhir telah tertanam. Keheningan mulai merayap di rumah itu—keheningan yang mematikan. Suara tok... tok... tok... dari jantung Andra berhenti sesaat, digantikan oleh suara retakan besar dari arah pilar utama.
"May, berikan tanganmu," ucap Andra dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kegilaan.
"Apa?! Tidak! Andra, sadar!"
"Rumah ini butuh pengikat, Maya. Tulang manusia adalah pengikat terbaik untuk 'Kandang Bubrah'. Jika kita tidak memberikan sesuatu sekarang, kita berdua akan ditelan bulat-bulat."
Dalam pola cerita khas Joko Anwar, adegan berpindah ke sebuah sudut pandang yang lebih luas. Kita melihat rumah tua itu dari kejauhan, di antara gang-gang sempit Bukit Duri yang gelap. Suara jeritan Maya perlahan-lahan diredam oleh suara palu yang kembali berdentang. Tok... Tok... Tok...
Kali ini suaranya lebih solid, seolah logam menghantam sesuatu yang lebih keras daripada kayu, namun lebih lunak daripada batu.
Keesokan paginya, warga Bukit Duri melihat rumah itu tampak lebih megah dari sebelumnya. Bagian depannya kini memiliki ornamen ukiran yang sangat indah, menyerupai lekuk tubuh manusia yang sedang meronta. Seorang anak kecil yang sedang bermain bola di gang tanpa sengaja menendang bolanya ke arah teras rumah itu. Saat ia berlari mengambil bolanya, ia melihat ke arah jendela yang terbuka.
Di sana, ia melihat seorang pemuda dan seorang wanita muda duduk kaku di kursi ruang tamu. Mereka tampak seperti patung, namun mata mereka bergerak, mengikuti setiap gerakannya. Wajah mereka pucat pasi, dan di leher mereka terlihat bekas sambungan semen yang kasar, seolah kepala mereka baru saja dipasang kembali ke tubuh yang terbuat dari kayu pilar.
Andra kini memiliki teman untuk membangun. Ia bukan lagi sang pewaris, ia adalah mandor dari neraka miliknya sendiri. Dan di bawah pohon beringin tua, sesajen kini tidak lagi berisi bunga melati dan kopi. Ada sebuah potongan jari manis dengan cincin emas milik seorang arsitek muda di atas nampan itu.
Kandang Bubrah telah diperbarui. Pesugihan itu telah mendapatkan "material" terbaiknya. Rumah itu akan tetap berdiri tegak, cantik, dan angkuh di tengah kemiskinan Bukit Duri, menanti pewaris atau orang asing berikutnya yang cukup bodoh untuk mengetuk pintu dan menawarkan "bantuan" perbaikan.
Denting palu itu kini terdengar seperti detak jantung sebuah kota yang sedang sekarat. Dan di kegelapan Bukit Duri, rumah itu berbisik lewat retakan dindingnya: "Jangan berhenti... atau aku yang akan menghentikanmu."
Andra mengangkat palunya kembali, bersiap memaku bayangannya sendiri ke dinding yang haus darah. Penantian akan kehancuran adalah satu-satunya hal yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. Dan di rumah ini, kematian hanyalah awal dari pekerjaan yang abadi.