Andra tidak pernah percaya pada takhayul. Baginya, jin dan setan hanyalah alasan bagi orang-orang malas untuk tidak bekerja. Sebagai seorang desainer grafis freelance yang hidup di apartemen minimalis Jakarta, ia menganggap Bukit Duri hanyalah kumpulan gang sempit dan rel kereta api, bukan sarang mistis seperti yang dikisahkan neneknya dulu. Namun, semua berubah saat surat warisan itu datang. Sebuah rumah tua di Bukit Duri, peninggalan Kakek Rahman, seorang pengusaha mebel sukses yang meninggal misterius tiga bulan lalu.
"Kakekmu itu aneh, Nda," kata Ibu dalam telepon. "Dari dulu nggak mau pindah dari rumah itu, padahal sudah kaya raya. Katanya biar dekat sama 'rezeki'."
Andra hanya tertawa sinis. Rezeki apa? Paling-paling rezeki jadi korban tawuran.
Rumah itu adalah rumah panggung kayu tua yang sudah reyot, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan mangga dan gang-gang sempit yang lembap. Aroma tanah basah dan lumut langsung menyeruak begitu Andra menginjakkan kaki di teras. Jendela-jendela berukuran besar itu selalu terbuka, seolah rumah itu enggan menutup diri dari dunia luar. Di halaman belakang, berdiri sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjalar seperti urat nadi raksasa.
Malam pertama, Andra tidur di atas kasur lipat, ditemani dengungan nyamuk dan suara kereta api yang melintas tak jauh dari rumah. Tepat pukul dua belas malam, ia mendengar suara aneh dari halaman belakang. Denting palu. Tok... tok... tok... Pelan, namun konstan. Andra mengira itu tukang bangunan yang lembur. Tapi siapa yang membangun di tengah malam?
Esok paginya, Andra mengamati sekeliling rumah. Tidak ada tanda-tanda pembangunan. Tidak ada tukang. Tapi di bawah pohon beringin tua, ada nampan berisi sesajen: kopi hitam, pisang, dan bunga melati. Andra mengernyit jijik. "Dasar orang kampung," gumamnya sambil menendang sesajen itu hingga tumpah.
Keesokan malamnya, dentingan palu itu kembali. Lebih keras, lebih mendesak. Tok! Tok! Tok! Kali ini, Andra merasa telinganya berdengung. Ia memberanikan diri membuka jendela. Ia melihat seorang kakek tua botak dengan sorban putih sedang memalu sebuah pilar kayu di bawah pohon beringin. Kakek itu memalu dengan ritme yang aneh, seolah sedang melakukan ritual.
"Pak! Malam-malam kok kerja?!" teriak Andra.
Kakek itu menoleh. Matanya merah menyala. Sebuah senyum tanpa gigi mengembang di bibirnya. "Rumah ini nggak boleh berhenti, Nak. Nanti dia marah."
Andra merinding.
Sejak saat itu, kehidupan Andra berubah menjadi mimpi buruk. Tiap malam, ia dihantui suara palu. Jika ia menutup jendela, suara itu terasa datang dari dalam dinding. Jika ia mencoba tidur, suara itu justru semakin jelas di telinganya.
Andra mulai menyelidiki. Ia mewawancarai beberapa tetangga tua yang tampak ketakutan setiap kali ia menyebut nama Kakek Rahman. Salah satunya, Mak Leha, seorang janda tua dengan gigi ompong dan tatapan kosong, akhirnya bersedia bercerita.
"Kakekmu itu... dulu miskin sekali, Nda. Rumahnya gubuk. Sampai suatu hari, ada orang pintar dari Banten datang. Mengajarkan 'Kandang Bubrah'."
"Kandang Bubrah? Apa itu?" tanya Andra, jantungnya berdebar.
"Itu pesugihan, Nak. Dia minta tumbal. Tapi bukan nyawa orang. Dia minta tumbal berupa kerja. Rumah ini, dia harus terus diperbaiki, dibongkar, dibangun lagi. Nggak boleh berhenti. Kalau berhenti... ya pemilik rumah yang jadi tumbalnya."
Andra tertawa sinis. "Tidak mungkin! Ini kan rumah tua. Wajar kalau rusak dan butuh perbaikan."
"Justru itu, Nak! Setiap kali Kakekmu dapat rezeki besar, ada saja yang rusak dari rumah ini. Genteng bocor, dinding retak, pilar lapuk. Kakekmu nggak boleh berhenti renovasi. Kalau dia berhenti, kekayaannya hilang, dan badannya yang jadi bubrah," jelas Mak Leha, matanya menerawang. "Dulu Kakekmu pernah coba berhenti. Lalu dia sakit-sakitan. Hampir mati. Setelah itu, dia nggak pernah berani berhenti."
Andra pulang dengan perasaan campur aduk. Ia tidak percaya, tapi semua kejadian aneh itu mulai masuk akal. Kakeknya memang selalu punya uang. Selalu terlihat sibuk merenovasi rumah. Dan meninggalnya... bukankah Kakek Rahman ditemukan tewas di ruang tamu, dengan kondisi rumah yang tiba-tiba ambruk sebagian?
Malam itu, Andra melihat retakan baru di dinding kamarnya. Sebuah retakan panjang yang sebelumnya tidak ada. Ia mencoba mengabaikannya. Tapi suara palu itu kembali, kali ini terdengar sangat jelas di dalam kamarnya. Tok... tok... tok! Seolah ada yang memukul dinding dari dalam.
Panik, Andra mengambil palu dan paku. Ia mulai memaku retakan itu, mencoba memperbaikinya. Namun, setiap kali ia memaku satu bagian, retakan lain muncul di sisi yang berbeda. Ia memaku dengan putus asa, keringat membasahi tubuhnya. Rumah itu seolah hidup, sengaja merusak diri sendiri agar ia terus bekerja.
Andra menghabiskan sisa tabungannya untuk memanggil tukang bangunan. Ia ingin merenovasi total rumah itu, menghancurkan kutukan ini. Tapi setiap kali para tukang datang, mereka hanya menemukan kerusakan-kerusakan kecil. Mereka bingung, dan Andra dianggap gila.
Waktu berlalu. Kekayaan warisan kakeknya mulai menipis karena biaya perbaikan yang tak ada habisnya. Namun, pesugihan itu tidak pernah berhenti menuntut. Setiap kali ia mendapat proyek desain grafis, ia akan mendapatkan gaji yang besar. Tapi kemudian, ada saja bagian rumah yang harus diperbaiki—genteng bocor yang tiba-tiba ambruk, lantai yang lapuk dan hampir roboh, atau pilar yang tiba-tiba digerogoti rayap dalam semalam.
Andra mulai kelelahan. Lingkaran setan ini menguras habis tenaga dan kewarasannya. Wajahnya ceking, matanya cekung. Ia seperti mayat hidup.
Suatu malam, tepat saat bulan purnama penuh, Andra mendengar suara palu itu lagi. Kali ini dari kamar kakeknya. Ia masuk dan menemukan sebuah kalender tua tergantung di dinding. Lingkaran merah melingkari tanggal kematian kakeknya. Dan di tanggal itu, ada tulisan tangan Kakek Rahman: "Kandang Bubrah tidak kenal ampun. Aku berhenti membeli kayu."
Andra menyadari bahwa kakeknya meninggal bukan karena sakit atau kecelakaan. Kakeknya meninggal karena ia kehabisan uang untuk membeli material renovasi.
Jantung Andra mencelos. Ia mengecek rekeningnya. Saldo menunjukkan angka nol besar.
Malam itu, di dalam rumah tua yang pengap, suara palu berdentang semakin keras, semakin cepat, seolah ribuan tukang gaib sedang bekerja di dalam dinding. Andra mencoba mengabaikannya, namun ia tidak bisa. Suara itu mulai menjadi detak jantungnya sendiri. Tok... tok... tok!
Andra melihat ke arah pintu kamarnya. Sebuah retakan besar muncul di sana, memanjang dari atas ke bawah. Retakan itu seolah membentuk siluet tubuh manusia yang terperangkap di dalamnya.
Ia menghela napas pasrah. Matanya menatap bayangan dirinya sendiri di cermin yang retak. Wajahnya memucat, urat-uratnya menonjol. Ia sudah bubrah.
Tok! Tok! Tok! Suara itu bukan lagi dari luar, tapi dari dalam dadanya. Jantung Andra berdegup seperti dentingan palu yang tak henti.
Ia tahu apa yang akan terjadi. Kakeknya pernah mengalaminya. Tubuh Andra mulai terasa sakit, seolah tulangnya perlahan retak, organ-organnya bubrah dari dalam. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya tercekat. Ia mencoba melawan, tapi tenaganya habis.
Andra jatuh tersungkur di lantai. Ia melihat ke arah pintu, yang kini terbuka perlahan. Di balik pintu, bukan kegelapan, melainkan cahaya rembulan yang membanjiri koridor. Dan di tengah cahaya itu, berdiri Kakek Rahman. Wajahnya tersenyum simpul, namun matanya kosong.
Kakek Rahman mengulurkan tangan. Bukan untuk menolong, melainkan untuk menyerahkan sebuah palu tua berkarat.
"Sekarang giliranmu, Nda," bisik suara Kakek Rahman dari balik kegelapan. "Rumah ini tidak boleh berhenti. Jika ia berhenti, maka seluruh kekayaan keluargamu akan bubrah. Dan kau... kau akan menjadi bagian dari dinding."
Andra tahu ia tidak punya pilihan. Ia meraih palu itu. Tangannya gemetar, namun sebuah kekuatan aneh mendorongnya untuk berdiri. Ia berjalan menuju retakan di dinding, lalu mulai memalu. Tok... tok... tok!
Denting palu itu kini bukan hanya suara, tapi juga melodi keputusasaan. Melodi yang akan terus berulang, menuntut nyawa, menuntut kerja, menuntut segalanya, di dalam rumah yang tidak pernah boleh berhenti dibangun. Andra adalah tumbal terbaru. Dan di bawah pohon beringin tua di Bukit Duri, sebuah sesajen baru akan diletakkan esok pagi, menunggu "pewaris" berikutnya yang terlalu serakah untuk tidak percaya pada takhayul.