Kehidupan pernikahan Arlan dan Nayila tidak lagi berjalan di atas duri yang tajam, melainkan di atas hamparan kasih sayang yang kian hari kian mendalam. Namun, cinta yang dewasa bukan hanya tentang kecupan di kening atau cokelat panas di pagi hari; cinta adalah tentang bagaimana mereka berdua berjuang di tengah badai yang kembali mencoba meruntuhkan apa yang telah mereka bangun.
Memasuki tahun ketiga pernikahan, Nayila mulai menjalani masa co-assistant atau koas di sebuah rumah sakit umum daerah yang sangat sibuk. Kehidupan yang dulunya tenang di apartemen mewah kini berubah menjadi maraton fisik dan mental. Nayila sering pulang larut malam dengan kantung mata hitam dan seragam yang kusut. Di sinilah sisi menggemaskan Arlan semakin menjadi-jadi. Pria pengusaha dingin itu kini memiliki hobi baru: menjadi "ojek pribadi" dan "asisten pribadi" Nayila.
Pernah suatu kali, Nayila harus berjaga di instalasi gawat darurat selama dua puluh empat jam. Arlan, yang tidak bisa tidur tenang tanpa suara napas Nayila di sampingnya, memutuskan untuk menunggu di mobil di parkiran rumah sakit. Tengah malam, ia menyelinap masuk ke ruang jaga koas hanya untuk membawakan seporsi martabak manis kesukaan Nayila dan bantal leher yang empuk.
"Arlan, kau tidak boleh di sini. Ini area rumah sakit!" bisik Nayila panik sambil menarik Arlan ke sudut lorong yang sepi.
"Aku hanya mengantarkan asupan glukosa untuk dokter masa depanku," jawab Arlan santai, meski ia sendiri mengenakan masker dan topi rendah agar tidak dikenali. Ia kemudian menarik Nayila ke dalam pelukan singkat. "Napasmu bau kopi, Dokter. Tapi aku tetap suka."
Nayila tertawa di dada Arlan, rasa lelahnya menguap seketika. Namun, kebahagiaan itu diuji ketika sebuah kasus besar masuk ke rumah sakit. Seorang pasien korban kecelakaan lalu lintas dibawa masuk dengan luka yang sangat mirip dengan apa yang dilihat Arlan saat orang tuanya terbunuh. Arlan, yang kebetulan sedang menjemput Nayila, tanpa sengaja melihat genangan darah dan mendengar teriakan histeris keluarga pasien di lobi.
Seketika, tubuh Arlan membeku. Dunianya berputar. Suara tembakan masa lalu bergema kembali di telinganya. Ia terjatuh di lantai lobi, napasnya tersengal, dan matanya mulai kosong. Orang-orang di sekitar mulai berkerumun, mengira Arlan terkena serangan jantung.
Di tengah kepanikan itu, Nayila berlari menembus kerumunan. Ia melihat suaminya sedang berada di ambang kehancuran. Tanpa mempedulikan pandangan rekan-rekan dokternya atau pasien lain, Nayila berlutut di depan Arlan. Ia melepaskan stetoskopnya, lalu meraih wajah Arlan dengan kedua tangannya.
"Arlan! Lihat mataku! Ini Nayila!" teriaknya tegas namun lembut.
Nayila menggunakan teknik grounding yang pernah mereka pelajari. Ia menuntun tangan Arlan untuk menyentuh kain jas putihnya. "Rasakan ini, Arlan. Ini nyata. Aku di sini. Darah itu bukan milik orang tuamu. Itu pasien yang akan aku selamatkan. Kau aman denganku."
Perlahan, fokus mata Arlan kembali. Ia melihat wajah Nayila yang penuh peluh namun tampak sangat kuat. Kehadiran Nayila sebagai seorang dokter—seorang penyembuh—menjadi jangkar yang menarik Arlan dari dasar lautan trauma. Arlan memeluk pinggang Nayila erat, menyembunyikan wajahnya di balik jas putih istrinya, menangis sesenggukan sementara Nayila terus mengusap rambutnya, memberikan perlindungan yang dulu tak pernah Arlan dapatkan.
Kejadian itu menjadi titik balik terakhir bagi Arlan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi beban bagi impian Nayila. Ia mulai mengikuti terapi intensif secara lebih serius. Ia ingin menjadi pria yang bisa berdiri tegak di samping Nayila saat istrinya itu dilantik menjadi dokter spesialis nanti.
Waktu berlalu, dan hari pelantikan yang dinanti pun tiba. Nayila bukan hanya lulus, tapi ia lulus dengan predikat terbaik. Di hari wisudanya, Arlan membuat kejutan yang membekas di hati seluruh undangan. Ia menyumbangkan sebuah sayap baru di rumah sakit tersebut atas nama "Yayasan Nayila Arlan", sebuah pusat rehabilitasi trauma bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat kekerasan.
Di atas panggung, saat Nayila memberikan pidato, ia menatap Arlan yang duduk di barisan paling depan. Arlan tampak begitu tampan dengan setelan jas hitamnya, matanya berkaca-kaca penuh kebanggaan.
"Saya berdiri di sini bukan hanya karena kerja keras saya," ucap Nayila lewat mikrofon, suaranya bergetar penuh emosi. "Tapi karena ada seorang pria yang rela menghancurkan dinding ketakutannya sendiri demi menjadi pondasi bagi impian saya. Dia adalah pasien pertama saya, dan dia adalah satu-satunya diagnosa yang membuat hidup saya sempurna."
Setelah acara selesai, Arlan menghampiri Nayila di taman universitas. Ia membawa satu tangkai bunga mawar putih dan sebuah kotak kecil. Arlan berlutut di depan istrinya yang kini sudah resmi menyandang gelar dokter.
"Nayila, dulu aku membelimu dengan harta untuk menjadi istri penurut. Tapi hari ini, aku datang untuk memintamu menjadi teman hidupku selamanya karena cinta. Maukah kau memulai babak baru tanpa ada lagi rahasia dan trauma di antara kita?"
Nayila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menghambur ke pelukan Arlan, mencium suaminya dengan penuh kasih sayang di bawah hujan kelopak bunga kamboja yang jatuh tertiup angin. Mereka menyadari bahwa pernikahan yang awalnya dianggap sebagai sebuah kesalahan, ternyata adalah resep terbaik yang dituliskan semesta untuk menyembuhkan dua jiwa yang hampir mati.
Cerita mereka tidak lagi berakhir pada titik kesembuhan, melainkan pada titik pertumbuhan. Nayila menjadi dokter bedah hebat yang memiliki empati luar biasa, sementara Arlan menjadi pengusaha yang mendedikasikan hidupnya untuk kemanusiaan. Di rumah mereka, tidak ada lagi rasa dingin. Yang ada hanyalah suara tawa, diskusi medis yang rumit, dan janji-janji kecil tentang siapa yang akan mencuci piring malam ini. Mereka telah berhasil mengubah tragedi menjadi sebuah komedi romantis yang indah, membuktikan bahwa seburuk apa pun masa lalu, masa depan selalu memiliki ruang untuk sebuah kesembuhan yang manis.