Lantai marmer rumah mewah di pinggiran Jakarta itu selalu terasa dingin, seolah-olah seluruh pori-pori bangunan itu menyimpan sisa-sisa musim salju yang tak pernah ada. Bagi Nayila, setiap langkah yang ia ambil di rumah ini adalah pengingat akan sayapnya yang patah. Di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun, ia seharusnya sedang duduk di bangku kuliah kedokteran, bergelut dengan anatomi dan rumus-rumus biokimia yang sangat ia cintai. Namun, takdir dan keserakahan ayahnya menyeretnya ke dalam sebuah mahligai yang lebih mirip penjara. Ia dinikahkan paksa dengan Arlan, seorang pria berusia dua puluh delapan tahun yang memiliki kekayaan melimpah namun menyimpan rahasia di balik tatapan matanya yang sekosong jurang.
Arlan adalah seorang pria yang hidup dalam sunyi yang mencekam. Di balik jas mahal dan kesuksesannya sebagai pengusaha muda, ia adalah seorang penyintas yang hancur. Saat usianya baru tujuh tahun, ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana perampok menghabisi kedua orang tuanya. Suara tembakan dan bau mesiu adalah memori yang membeku dalam otaknya. Sejak saat itu, Arlan berhenti merasakan dunia. Ia menderita Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang sangat berat. Baginya, setiap pintu yang terbuka tiba-tiba atau suara benda jatuh adalah pemicu yang bisa membuatnya kehilangan kewarasan dalam sekejap.
Pernikahan mereka dimulai dengan kebisuan yang menyakitkan. Arlan tidak pernah menyentuh Nayila. Ia bahkan jarang menatap wajah istrinya. Namun, semua itu berubah sejak malam di mana Nayila menolong Arlan dari serangan night terror-nya. Sejak saat itu, es di antara mereka perlahan mencair, digantikan oleh kecanggungan yang justru membuat jantung Nayila sering berdegup tidak karuan.
Perubahan itu dimulai dari hal-hal kecil yang menggemaskan. Arlan, yang biasanya hanya bicara satu-dua kata, mulai menunjukkan sisi "protektif" yang kikuk. Suatu pagi, saat Nayila sedang sibuk berkutat dengan buku anatominya di meja makan, Arlan lewat sambil membawa secangkir cokelat panas. Tanpa melihat ke arah Nayila, ia meletakkan cangkir itu di samping tumpukan buku.
"Gula itu energi untuk otak. Jangan hanya minum air putih seperti ikan," gumam Arlan datar, namun telinganya tampak sedikit memerah.
Nayila tertegun, menatap punggung Arlan yang menjauh dengan cepat. Ia tersenyum kecil. Ternyata, pria kaku ini bisa memperhatikan hal sekecil itu. Cokelat itu terasa sangat manis, atau mungkin perasaan Nayila saja yang mulai berbunga.
Interaksi mereka menjadi semakin lucu ketika Arlan mulai berusaha "ikut campur" dalam studi Nayila. Suatu malam, Nayila sedang menghafal nama-nama tulang manusia menggunakan kerangka plastik kecil. Tiba-tiba Arlan duduk di hadapannya, melipat lengan kemejanya, dan mengambil tulang paha plastik tersebut.
"Ini Femur," ucap Arlan tiba-tiba.
Nayila mengangkat alis. "Kau tahu?"
"Aku punya perusahaan alat kesehatan, Nayila. Kalau aku tidak tahu nama tulang, aku sudah bangkrut sepuluh tahun lalu," jawabnya dengan nada sombong yang dibuat-buat. Namun, sesaat kemudian, ia terlihat bingung saat Nayila memintanya menunjukkan letak tulang Os Pelvis. Arlan malah menunjuk ke arah bahu.
Nayila tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes di sudut matanya. Itu adalah pertama kalinya Arlan melihat Nayila tertawa begitu lepas. Arlan terdiam, terpesona oleh pemandangan itu. "Ternyata suaramu lebih bagus saat tertawa daripada saat mengomel," bisiknya, membuat wajah Nayila seketika merona seperti kepiting rebus.
Kehidupan mereka mulai dipenuhi momen "baper" yang organik. Karena Arlan masih sering mengalami mimpi buruk, ia meminta Nayila untuk membacakannya buku sebelum tidur. Namun, bukan buku dongeng, Arlan malah meminta Nayila membacakan jurnal medis tentang sistem saraf.
"Suaramu yang menjelaskan tentang sinapsis dan neurotransmiter itu lebih ampuh dari obat tidur mana pun," alasan Arlan. Jadi, setiap malam, Nayila duduk di pinggir tempat tidur, membacakan teks medis yang rumit, sementara Arlan perlahan memejamkan mata sambil memegang ujung baju Nayila—seperti anak kecil yang takut ditinggalkan ibunya.
Suatu hari, saat mereka sedang berbelanja ke supermarket—sebuah kemajuan besar bagi Arlan yang dulu takut ke tempat ramai—Nayila mencoba mengambil sereal di rak yang cukup tinggi. Tiba-tiba, ia merasakan dada bidang Arlan bersandar di punggungnya saat pria itu mengulurkan tangan mengambilkan kotak sereal tersebut. Jarak mereka begitu dekat hingga Nayila bisa mencium aroma kayu manis dan parfum mahal Arlan.
"Kenapa diam? Kau ingin aku mengambilkan raknya sekalian?" goda Arlan tepat di telinganya. Nayila menunduk, jantungnya berpacu lebih cepat dari pelari maraton. Sejak kapan pria traumatis ini pandai menggoda?
Perubahan Arlan bukan hanya soal romansa, tapi juga dukungan nyata. Arlan membangunkan sebuah ruang khusus di rumah mereka yang didesain persis seperti laboratorium klinik. Ia juga membelikan Nayila stetoskop edisi terbatas dengan grafir nama "Dr. Nayila Arlan".
Momen paling menggetarkan hati adalah saat Nayila jatuh sakit karena kelelahan belajar untuk ujian tengah semester. Arlan panik luar biasa. Pria yang biasanya tenang itu mondar-mandir di kamar sambil menelepon tiga dokter spesialis sekaligus.
"Dia hanya flu, Arlan. Tidak perlu memanggil dokter bedah jantung," protes Nayila lemas dari balik selimut.
Arlan tidak peduli. Ia dengan telaten mengompres dahi Nayila, bahkan mencoba menyuapi Nayila bubur buatannya sendiri yang... sejujurnya, rasanya terlalu asin. Namun, melihat Arlan yang biasanya dilayani kini justru sibuk mencuci piring dan mengurusnya, hati Nayila benar-benar luluh.
"Nay," panggil Arlan lembut saat ia duduk di tepi ranjang malam itu. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena tidak pergi saat aku sedang hancur-hancurnya. Karena menjadi satu-satunya orang yang berani memarahiku saat aku mulai kehilangan kendali. Kau bukan hanya istriku, kau adalah obatku."
Arlan kemudian mengecup kening Nayila lama sekali. Kecupan yang tidak lagi mengandung rasa takut, melainkan penuh dengan janji masa depan. Nayila menyadari bahwa meski impian dokterannya sempat terhambat, ia telah berhasil menyembuhkan satu pasien paling istimewa dalam hidupnya.
Cinta mereka kini tumbuh subur di tengah kesibukan Nayila mengejar gelar dokter. Arlan sering terlihat menunggu Nayila di parkiran kampus dengan mobil mewahnya, namun ia selalu turun dan membawakan tas ransel Nayila yang berat—sebuah pemandangan yang membuat mahasiswi lain iri setengah mati.
Cerita ini berujung pada sebuah sore di mana Nayila mengenakan jas putihnya untuk pertama kali saat pelantikan dokter muda. Arlan berdiri di sana, di tengah kerumunan, menatapnya dengan bangga. Saat Nayila menghampirinya, Arlan memberikan sebuah buket bunga mawar besar yang di dalamnya terselip sebuah catatan kecil: "Diagnosa hari ini: Kau sangat cantik. Resepnya: Jangan pernah lepas dari pelukanku."
Nayila tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu pria yang dulu ia benci, namun kini ia cintai lebih dari nyawanya sendiri. Operasi penyembuhan hati mereka telah sukses besar. Pasiennya sudah sembuh total, dan dokternya pun telah jatuh cinta selamanya. Di bawah langit senja, dua jiwa yang dulunya hancur itu kini melangkah bersama, siap mengobati dunia dengan cinta yang mereka temukan di tengah puing-puing tragedi.
Mereka membuktikan bahwa cinta bukan sekadar tentang menemukan orang yang sempurna, tapi tentang menemukan seseorang yang berani tetap tinggal saat melihat sisi paling gelap kita, dan bersama-sama merajut cahaya baru yang lebih terang dari sebelumnya. Rumah mereka tak lagi dingin; kini setiap sudutnya hangat oleh suara tawa dan janji-janji manis yang akan mereka tepati hingga masa tua nanti.